NovelToon NovelToon
Cahaya Abadi Shatila

Cahaya Abadi Shatila

Status: tamat
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Cinta setelah menikah / Romansa / Tamat
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
​"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
​Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Janji di Atas Awan

Sesuai janji Hannan kemarin, pagi ini suasana di ndalem terasa berbeda. Tidak ada kitab-kitab berat yang terbuka di meja kerja Hannan, tidak ada jadwal rapat dengan pengurus pesantren. Sejak fajar menyingsing, Hannan sudah menyiapkan mobil SUV hitamnya dengan penuh semangat. Ia memasukkan tas berisi perlengkapan bayi Zahra dan beberapa kudapan yang disiapkan khusus oleh Ummi Salamah.

"Sudah siap, Sayang?" tanya Hannan saat melihat Amara keluar dari pintu kamar.

Amara tampil begitu anggun. Ia mengenakan gamis berwarna nude dengan jilbab lebar berwarna cokelat susu. Cadarnya terpasang rapi, namun binar matanya yang cerah menunjukkan betapa ia sangat antusias. Di pelukannya, Zahra terlelap dalam balutan jaket bayi yang tebal karena udara pegunungan akan sangat dingin.

"Sudah, Mas. Tapi... apa tidak apa-apa kita pergi seharian? Bagaimana kalau Abah butuh Mas untuk urusan pesantren?" Amara masih merasa sedikit sungkan.

Hannan tersenyum sambil mengambil alih tas perlengkapan bayi. "Abah sendiri yang menyuruh Mas untuk membawamu jalan-jalan. Beliau bilang, 'Hannan, istrimu itu bukan tawanan pesantren, dia butuh melihat dunia bersamamu'. Jadi, jangan khawatir."

Perjalanan menuju puncak bukit memakan waktu sekitar dua jam. Sepanjang jalan, Hannan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Amara, kecuali saat harus memindahkan persneling. Mereka bercengkrama tentang hal-hal ringan, mulai dari tingkah lucu Zahra semalam hingga rencana mereka menanam bunga melati di balkon kamar.

Mereka tiba di sebuah area perbukitan pribadi yang asri. Padang rumput hijau menghampar luas, dikelilingi oleh hutan pinus yang memberikan aroma terapi alami. Dari puncak itu, mereka bisa melihat kabut tipis yang menyelimuti lembah di bawahnya, seolah-olah mereka sedang berdiri di atas awan.

Hannan membentangkan permadani tebal di bawah sebuah pohon pinus yang rindang. Amara duduk sambil memangku Zahra yang baru saja terbangun. Bayi kecil itu mengerjap-erjapkan matanya, menghirup udara segar pegunungan untuk pertama kalinya.

"Indah sekali, Mas... Masya Allah," gumam Amara tak henti-hentinya mengagumi ciptaan Tuhan di depannya.

Hannan duduk di sampingnya, merangkul pundak Amara dan membawa kepala istrinya bersandar di bahunya. "Sama seperti hidup kita, Amara. Terkadang kita harus mendaki jalan yang terjal, berbatu, dan melelahkan. Tapi saat kita sampai di puncak, semua rasa lelah itu hilang digantikan oleh pemandangan seindah ini."

Hannan kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jubahnya. Bukan perhiasan mewah seperti sebelumnya, melainkan sebuah kunci perak dengan gantungan berbentuk ukiran huruf 'H' dan 'A'.

"Ini apa, Mas?" tanya Amara bingung.

"Mas sudah memulihkan sebuah paviliun kecil di sisi paling timur pesantren, yang menghadap langsung ke arah sungai. Mas ingin itu menjadi 'istana kecil' kita. Tempat di mana kita bisa membesarkan Zahra dengan privasi, tempat di mana kamu bisa melepas cadarmu dengan bebas dan menikmati taman bungamu sendiri tanpa terganggu hiruk pikuk santri," jelas Hannan.

Mata Amara berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Hannan memikirkan kenyamanannya sedalam itu. Paviliun itu adalah simbol bahwa Hannan sangat menghargai ruang pribadi Amara sebagai seorang wanita.

"Mas selalu memberiku lebih dari yang aku minta," bisik Amara haru.

"Karena kamu sudah memberikan nyawamu untuk putri kita, Amara. Itu adalah hutang yang tidak akan pernah bisa aku bayar sepenuhnya," Hannan mengecup kening Amara.

Saat itu, Zahra mengeluarkan suara tawanya yang mungil, seolah ikut merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya. Hannan mengambil Zahra dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, membuat bayi itu tertawa lebih kencang.

"Lihat, Zahra! Abi berjanji di depan langit dan bumi hari ini, Abi akan menjaga Umi dan kamu sampai rambut Abi memutih, sampai nafas Abi berhenti. Kalian adalah surgaku di dunia," seru Hannan dengan suara lantang yang bergema di perbukitan itu.

Amara tertawa melihat tingkah suaminya yang terkadang kekanak-kanakan jika sedang bahagia. Ia merasa semua luka masa lalunya benar-benar telah mengering dan rontok. Di sini, di atas awan ini, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Sore itu mereka habiskan dengan berfoto bersama

dan menikmati bekal nasi kebuli di bawah pohon pinus. Tidak ada ketakutan akan ancaman, tidak ada bayang-bayang orang ketiga. Hanya ada sebuah keluarga kecil yang sedang merajut kembali benang-benang kebahagiaan mereka yang sempat terputus.

Saat matahari mulai terbenam dan menyisakan rona merah di cakrawala, Hannan membimbing Amara kembali ke mobil.

"Mas," panggil Amara saat mereka hendak berangkat pulang.

"Iya, Sayang?"

"Aku mencintaimu... lebih dari kata-kata yang bisa aku ucapkan."

Hannan terdiam sejenak, lalu tersenyum sangat tulus. Ia mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu di balik cadar Amara. "Dan aku, mencintaimu lebih dari nafas yang aku hirup setiap detiknya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!