Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Mendampingi
Langkah kaki Maya terhenti tepat di depan pintu UGD.
Lampu putih di atas kepalanya terasa terlalu terang. Bau obat menusuk hidungnya, membuat dadanya sesak sebelum ia benar-benar melihat apa pun.
Tangannya gemetar saat menggenggam tas.
“Ya Allah…” bisiknya pelan.
Ia datang tergesa. Kerudungnya dipakai asal. Nafasnya masih belum teratur sejak menerima kabar dari Haikal—kalimat singkat, padat, dan terlalu tenang untuk sesuatu yang mengerikan.
Lian kecelakaan. Di UGD, Bunda.
Itu saja.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada nada panik.
Namun justru itu yang membuat jantung Maya seperti diremas.
Matanya mencari-cari.
Dan ia melihat mereka.
Haikal duduk di kursi plastik di samping ranjang. Punggungnya tegak. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seorang suami yang istrinya terbaring lemah.
Tangannya… menggenggam tangan Lian.
Erat.
Lian setengah berbaring. Wajahnya pucat. Rambutnya sedikit berantakan. Lututnya dibalut perban tebal. Siku kirinya juga. Lengan kanannya—dibungkus perban dengan bekas darah yang sudah mengering.
Maya menutup mulutnya dengan tangan.
Dunia seperti menyempit.
Itu anaknya.
Anak yang ia tampar.
Anak yang ia marahi tanpa mendengar.
Anak yang ia anggap kuat hanya karena tidak pernah mengadu.
Langkah Maya mendekat, pelan—seolah takut suara sepatunya akan melukai Lian lebih jauh.
“Lian…” suaranya bergetar. “Sayang…”
Lian bergerak sedikit. Kelopak matanya terbuka perlahan.
Butuh beberapa detik sebelum pandangannya fokus.
“Bunda…” panggilnya lirih.
Satu kata itu menghantam Maya lebih keras dari apa pun.
Bukan teriakan.
Bukan tuduhan.
Hanya panggilan yang tetap sama—meski ia sudah melukai.
Maya berlutut di samping ranjang tanpa peduli lantai rumah sakit yang dingin. Tangannya terangkat, berhenti di udara, ragu menyentuh.
“Maaf…” katanya pecah. “Maafin Bunda, Nak…”
Lian menatapnya lama.
Tidak ada marah di sana.
Tidak ada dendam.
Hanya lelah.
“Bunda jangan nangis…” suara Lian kecil. “Aku nggak apa-apa…”
Kalimat itu membuat Maya terisak.
Tidak apa-apa?
Anaknya terbaring dengan jahitan di lengan, perban di lutut, tubuh yang masih gemetar—dan masih berkata tidak apa-apa?
Maya akhirnya menyentuh tangan Lian yang tidak diperban. Mengusapnya pelan, seolah anak itu terbuat dari kaca.
“Kenapa Bunda selalu telat…” gumamnya di antara tangis. “Selalu telat ngerti kamu…”
Haikal berdiri.
Gerakannya tenang. Terukur.
“Bunda,” katanya pelan.
Maya menoleh.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menatap Haikal sebagai suami anaknya—bukan hanya anak sahabatnya, bukan tentara yang terlalu dingin, tapi laki-laki yang kini berdiri sebagai pelindung.
“Kondisinya stabil,” lanjut Haikal. “Lukanya sudah dijahit. Dia masih kesakitan, tapi aman.”
Maya mengangguk cepat, mengusap air mata.
“Terima kasih…” suaranya hampir tak terdengar. “Terima kasih sudah jaga Lian.”
Haikal menggeleng pelan.
“Itu tanggung jawab saya, Bunda.”
Kata itu—tanggung jawab—membuat Maya menunduk.
Ia teringat betapa sering ia melempar kata anak nakal pada Lian. Betapa mudahnya ia percaya cerita orang lain. Betapa jarangnya ia duduk dan bertanya, Kamu kenapa?
Maya meraih wajah Lian dengan dua tangan, sangat pelan, menghindari luka.
“Bunda di sini,” katanya lirih. “Bunda nggak ke mana-mana.”
Lian mengangguk kecil.
Namun jarinya—tetap menggenggam tangan Haikal.
Tidak dilepas.
Maya melihat itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa tersingkir.
Ia justru merasa… lega.
Karena anaknya tidak sendirian.
Maya berdiri perlahan. Mengusap matanya, lalu menatap Haikal dengan tatapan penuh arti.
“Boleh Bunda titipkan Lian sama kamu?” tanyanya, suara seorang ibu yang akhirnya menyerah—bukan pada keadaan, tapi pada kepercayaannya sendiri.
Haikal menjawab tanpa ragu,
“Dari awal, dia sudah saya jaga, Bunda.”
Maya mengangguk. Air matanya jatuh lagi—kali ini bukan hanya karena takut, tapi karena akhirnya… ia tahu.
Anaknya tidak keras.
Anaknya hanya terlalu sering bertahan sendirian.
Dan malam itu, di ruang UGD yang dingin, Maya duduk di sisi lain ranjang—lebih dekat dari sebelumnya—sementara Haikal tetap menggenggam tangan Lian.
Dua orang dewasa.
Satu anak yang terluka.
Dan sebuah keluarga yang perlahan belajar…
datang tepat waktu.
____
Malam sudah jatuh sepenuhnya saat Haikal memarkir mobil di depan rumah.
Lampu teras menyala redup, menyambut mereka dengan cahaya kuning yang hangat. Tidak ada suara selain mesin mobil yang dimatikan dan desir angin malam.
Haikal turun lebih dulu, mengitari mobil, lalu membuka pintu di sisi penumpang.
“Pelan-pelan,” katanya.
Lian mengangguk kecil.
Ia mencoba turun sendiri, namun lututnya langsung terasa nyeri. Wajahnya meringis, napasnya tertahan.
Haikal sigap. Satu tangannya menopang punggung Lian, yang lain mengait lengannya.
“Jangan dipaksa,” ucapnya rendah.
Tanpa banyak bicara, Haikal mengangkat Lian—tidak sepenuhnya menggendong, tapi cukup untuk meringankan beban di kakinya. Tubuh Lian kaku sesaat, lalu melemas, bersandar di dada Haikal.
Detak jantung pria itu terasa stabil di telinganya.
Rumah terasa sunyi saat pintu dibuka.
Haikal menyalakan lampu ruang tamu, lalu menuntun Lian duduk di sofa.
“Kamu duduk dulu,” katanya. “Aku ambil air dan obat.”
Lian mengangguk.
Ia memperhatikan punggung Haikal yang bergerak ke dapur. Setiap langkah pria itu terukur, seperti sedang menjalankan misi yang tidak boleh gagal.
Haikal kembali dengan segelas air, kantong obat, dan kain bersih.
“Minum dulu,” katanya sambil menyodorkan air.
Lian meneguk perlahan. Tenggorokannya masih sakit. Obat ditelannya dengan bantuan Haikal yang menunggu tanpa mendesak.
Setelah itu, Haikal berlutut di depan Lian.
“Boleh aku cek lukanya?”
Lian ragu sepersekian detik, lalu mengangguk.
Haikal mengambil kotak P3K. Gerakannya cekatan, tapi lembut. Ia membuka perban di lutut perlahan.
Lian meringis saat udara menyentuh luka.
“Sakit?” tanya Haikal.
“Sedikit…” jawab Lian pelan.
Haikal berhenti sejenak. Menunggu napas Lian stabil. Lalu membersihkan luka dengan hati-hati, mengoleskan salep, dan membalutnya kembali.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada desahan berlebihan.
Hanya fokus penuh.
Siku kiri berikutnya. Lengan kanan terakhir—jahitan hitam kecil terlihat jelas di kulit pucat.
Haikal menatapnya agak lama.
“Ini masih baru,” katanya pelan. “Beberapa hari jangan kena air.”
Lian mengangguk.
“Mas…” panggilnya tiba-tiba.
Haikal mendongak.
“Makasih…”
Satu kata.
Namun di dalamnya, ada lebih dari sekadar terima kasih.
Haikal mengangguk singkat. “Istirahat.”
Ia membantu Lian berdiri, lalu menuntunnya ke kamar.
Malam itu, Haikal tidak mematikan lampu kamar sepenuhnya. Hanya lampu tidur kecil yang menyala.
Ia membantu Lian berbaring, menyusun bantal agar lututnya sedikit terangkat.
“Kalau sakit, bangunin aku,” katanya.
Lian menatapnya. Lama.
“Kamu nggak tidur?” tanyanya.
“Aku di sini,” jawab Haikal singkat. “Tidur.”
Lian menutup mata perlahan.
Namun beberapa menit kemudian, ia mengerang pelan. Tubuhnya bergerak gelisah.
Haikal sudah duduk di tepi ranjang sebelum Lian benar-benar sadar.
“Sakit?” tanyanya.
Lian mengangguk kecil.
Haikal meraih tangannya.
Genggaman itu—tenang, hangat.
“Tarik napas,” katanya pelan. “Ikut aku.”
Lian mengikuti. Napasnya perlahan teratur.
Haikal menarik selimut, menutupinya hingga bahu.
Tanpa sadar, Lian menggenggam tangan Haikal.
Erat.
Haikal membiarkannya.
Ia duduk di sana, menjaga.
Tidak berpindah.
Tidak mengeluh.
Malam berjalan pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, rumah itu benar-benar terasa seperti rumah—bukan karena rapi, bukan karena sunyi, tapi karena ada seseorang yang pulang dan dirawat, tanpa perlu berpura-pura kuat.