NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Rebirth For Love / Kisah cinta masa kecil / Kencan Online / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:18
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keranjang Belanja

Sabtu pagi di apartemen Raka selalu dimulai dengan satu hal yang pasti: keheningan yang terlalu bising.

Tidak ada suara alarm yang memekakkan telinga seperti hari kerja. Tidak ada desakan untuk segera mandi, menyetrika kemeja, atau mengejar kereta pukul tujuh lewat sepuluh. Hanya ada dengungan pelan dari kulkas di sudut dapur dan suara samar lalu lintas Jakarta dari balik jendela yang tertutup rapat.

Raka duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai parket yang mulai berdebu. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menciptakan garis lurus yang membelah ruangan menjadi dua sisi: terang dan gelap.

Ia bangkit, menyeret kakinya menuju dapur. Kulkasnya nyaris kosong. Hanya tersisa sebotol air mineral dingin, setengah toples selai kacang yang sudah mengeras di pinggirannya, dan satu butir telur yang tanggal kedaluwarsanya meragukan. Ini adalah tanda mutlak bahwa ia tidak bisa lagi menunda rutinitas yang paling ia hindari: belanja bulanan.

Raka membenci supermarket. Bukan karena antreannya, bukan karena harganya, tapi karena tempat itu adalah museum interaktif dari kehidupan domestik yang pernah ia bayangkan—dan gagal ia pertahankan.

***

Pukul sepuluh pagi, Raka sudah berdiri di pintu masuk supermarket besar di lantai dasar sebuah mal yang berjarak dua kilometer dari tempat tinggalnya. Hembusan udara dingin dari *air conditioner* menyambutnya, bercampur dengan aroma roti yang baru dipanggang dari stan *bakery* di sisi kanan.

Ia mengambil satu troli. Roda depannya sedikit macet, berdecit setiap kali didorong maju. *Cekit, cekit, cekit.* Irama yang mengganggu, tapi Raka terlalu malas untuk menukarnya dengan troli lain.

Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi catatan. Daftarnya singkat dan efisien:

Sabun mandi

Pasta gigi

Detergen cair

Telur

Roti tawar

Kopi (wajib)

Raka mulai bergerak menyusuri lorong. Ia berjalan cepat, menghindari tatapan mata dengan SPG yang menawarkan sampel sosis goreng atau susu kalsium tinggi. Ia ingin ini selesai dalam dua puluh menit.

Di lorong kebutuhan pribadi, ia mengambil sabun cair *refill* berwarna biru tua. Wangi *ocean breeze*. Netral. Maskulin. Tidak ada kenangan di sini. Ia melemparnya ke dalam troli. Pasta gigi, ambil yang sedang diskon. Selesai.

Masalah muncul ketika ia berbelok ke lorong 4: Pembersih Rumah Tangga.

Raka berhenti di depan deretan sabun pencuci piring. Matanya menyapu kemasan hijau dan kuning yang berjejer rapi. Tangannya terulur hendak mengambil kemasan berwarna kuning—aroma lemon.

Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak tanpa permisi. Bukan ingatan romantis yang manis, melainkan ingatan tentang perdebatan bodoh.

*"Jangan yang lemon, Ka. Yang jeruk nipis,"* suara itu bergema di kepalanya, jernih seolah orangnya berdiri tepat di samping troli Raka yang berdecit.

Dalam ingatan itu, mereka berdiri di lorong yang mirip dengan ini, mungkin dua tahun lalu. Mantan kekasihnya memegang kemasan hijau dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

*"Kenapa harus jeruk nipis? Lemon baunya lebih segar. Nggak kayak bau soto,"* protes Raka waktu itu.

*"Jeruk nipis angkat lemak lebih cepat. Kamu kalau nyuci piring suka nggak bersih, masih licin. Kalau pakai lemon, nanti aku harus nyuci ulang. Mau kamu nyuciin lagi?"*

*"Ya nggak gitu juga..."*

*"Ya udah, jeruk nipis. Titik."*

Wanita itu kemudian memasukkan kemasan hijau ke dalam keranjang dengan gerakan final yang tidak bisa dibantah, lalu menggandeng lengan Raka seolah perdebatan itu tidak pernah terjadi. Raka ingat bagaimana ia mendengus kesal waktu itu, tapi diam-diam tersenyum melihat keras kepalanya wanita itu. Dia bukan yang terbaik dalam berkompromi, seringkali egois untuk hal-hal kecil, tapi Raka merindukan gesekan itu. Ia merindukan adanya suara lain yang menentang pilihan trivialnya.

Kini, Raka berdiri sendirian. Tangannya masih menggantung di udara, di antara kemasan kuning dan hijau.

Seorang ibu muda dengan balita di dalam troli melintas di belakangnya, bergumam, "Permisi, Mas."

Raka tersentak, menarik tangannya cepat seolah baru saja menyentuh panci panas. Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Dengan gerakan kaku, ia mengambil kemasan berwarna hijau—jeruk nipis.

Ia memasukkannya ke dalam troli.

Kenapa ia mengambil yang hijau? Tidak ada lagi yang akan memarahinya jika piring masih sedikit licin. Tidak ada lagi yang akan mengeluh soal lemak di wajan bekas menggoreng telur. Ia bisa membeli satu truk sabun aroma lemon dan tidak akan ada yang peduli.

Namun, Raka membiarkan kemasan hijau itu tergeletak di dasar troli, bersanding dengan sabun mandinya. Mungkin ini bukan soal fungsi, tapi soal kebiasaan yang terlanjur tercetak di otot-ototnya. Atau mungkin, ini cara Raka menghukum dirinya sendiri—membiarkan sisa-sisa keberadaan wanita itu tetap hidup dalam rutinitasnya, memvalidasi bahwa masa lalu itu nyata.

Raka mendorong trolinya lagi. *Cekit, cekit, cekit.*

Ia melewati lorong makanan ringan. Di sini lebih berbahaya. Ada biskuit cokelat yang biasa mereka makan sambil nonton film, ada keripik pedas yang membuat bibir wanita itu bengkak dan merah tapi tetap ia makan sambil mengeluh kepedesan.

Raka mempercepat langkah. Fokus pada daftar. Telur. Roti. Kopi.

Di bagian *dairy*, hawa dingin semakin menusuk. Raka mengambil satu pak telur isi sepuluh. Ia memeriksa satu per satu, memastikan tidak ada yang retak. Kebiasaan perfeksionisnya kembali mengambil alih, memberinya sedikit rasa kendali.

Saat hendak menuju kasir, matanya menangkap rak promo di ujung lorong. Susu kotak rasa stroberi. Beli dua gratis satu.

Raka tidak suka susu stroberi. Terlalu manis, rasanya artifisial. Tapi wanita itu menyukainya. Dia biasa meminumnya di pagi hari ketika sedang buru-buru, seringkali meninggalkan kotak kosongnya di meja ruang tamu apartemen Raka.

Tanpa sadar, Raka mengambil tiga kotak susu itu.

Baru setelah susu itu mendarat di dalam troli, Raka sadar apa yang ia lakukan. Ia menatap tiga kotak kecil berwarna merah muda itu dengan tatapan kosong. Untuk apa? Siapa yang akan meminumnya?

Ia hendak mengembalikannya ke rak, tapi antrean di belakangnya mulai padat karena hari semakin siang. Seorang bapak-bapak dengan keranjang penuh bir menatapnya dengan tidak sabar. Raka tidak punya energi untuk berbalik arah. Ia membiarkan susu itu tetap di sana.

Di kasir, Raka meletakkan barang-barangnya di atas *conveyor belt*.

Sabun mandi. Pasta gigi. Detergen. Sabun cuci piring jeruk nipis. Telur. Roti. Kopi. Dan tiga kotak susu stroberi.

"Ada kartu membernya, Kak?" tanya kasir wanita dengan nada datar yang sudah terlatih.

"Nggak ada," jawab Raka singkat.

"Mau tebus murah cokelatnya? Cuma tambah lima ribu."

"Nggak usah."

Raka melihat barang-barangnya dimasukkan ke dalam kantong plastik *biodegradable*. Susu stroberi itu masuk terakhir, terselip di antara roti dan telur. Total belanjaannya tiga ratus ribu rupiah lebih sedikit. Ia membayar dengan kartu debit, memasukkan PIN dengan cepat, dan mengambil struk tanpa melihatnya.

Perjalanan pulang terasa lebih berat. Matahari Jakarta sudah tinggi, membakar aspal dan menciptakan fatamorgana di kejauhan. Raka menenteng dua kantong belanjaan besar, berjalan kaki menuju apartemennya. Keringat mulai menetes di punggungnya, membuat kemeja kaus yang ia pakai terasa lengket.

Sesampainya di apartemen, Raka langsung menuju dapur. Ia membongkar belanjaannya.

Sabun mandi ke kamar mandi. Detergen ke ruang cuci. Telur ke rak kulkas.

Saat ia memegang botol sabun cuci piring jeruk nipis, ia berhenti sejenak. Ia meletakkannya di pinggir wastafel, tepat di tempat botol lama—yang juga beraroma jeruk nipis—biasa berdiri. Warnanya hijau menyolok di dapur Raka yang serba monokrom. Benda itu terlihat seperti alien, tapi juga seperti satu-satunya benda yang memiliki "nyawa" di ruangan itu.

Terakhir, tiga kotak susu stroberi.

Raka menaruhnya di barisan paling depan di dalam kulkas. Berjajar rapi seperti tentara mainan.

Ia menutup pintu kulkas, lalu menyandarkan punggungnya pada pintu dingin itu. Napasnya terhembus pelan. Apartemen kembali hening. Misi selesai. Kebutuhan hidup terpenuhi untuk satu bulan ke depan. Secara teknis, Raka "berfungsi" dengan baik. Ia makan, ia bekerja, ia berbelanja.

Tapi saat ia melirik ke arah wastafel dan melihat botol hijau itu, Raka merasakan perih yang familiar di ulu hatinya. Bukan rasa sakit yang tajam seperti saat pertama kali berpisah, melainkan rasa ngilu yang tumpul, seperti luka lama yang membekas saat cuaca dingin.

Dia bukan yang terbaik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal konyol seperti sabun cuci piring. Hubungan itu melelahkan di banyak titik. Tapi di tengah keheningan dapur yang steril ini, Raka sadar bahwa ia rela menukar ketenangan yang hampa ini dengan satu perdebatan konyol tentang jeruk nipis, asalkan ia tidak harus meminum susu stroberi itu sendirian.

Raka mengambil satu kotak susu stroberi dari kulkas, menusuk sedotannya, dan menyesap cairan manis yang membuat giginya ngilu. Rasanya persis seperti yang ia ingat: terlalu manis, artifisial, dan menyedihkan.

Ia menghabiskannya dalam tiga kali teguk, lalu melempar kotaknya ke tempat sampah.

Siang itu, Raka menghabiskan waktunya dengan membersihkan apartemen menggunakan sabun yang dipilihkan oleh kenangan, mencoba mencuci piring sebersih mungkin agar tidak ada hantu yang memarahinya.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!