Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Malam itu, suasana di kediaman Om Malik dan Tante Sandra terasa sangat hangat bagi siapa pun yang berkunjung—kecuali bagi Ayra. Ia berdiri di ambang pintu penghubung antara teras rumahnya dan teras rumah Alano dengan perasaan campur aduk.
"Ayra! Sini sayang, masuk!" seru Tante Sandra dari meja makan. "Tante masak kepiting saus padang kesukaan kamu. Mama kamu tadi bilang katanya kamu belum makan malem."
Ayra tersenyum canggung, melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah seperti rumah keduanya itu. Namun, langkahnya melambat saat melihat sosok Alano sudah duduk di meja makan. Cowok itu mengenakan kaus kutang (singlet) hitam yang memperlihatkan otot lengannya, dan ia tampak sangat fokus pada piringnya. Tidak ada sapaan, tidak ada panggilan "Ay" atau "Ayang". Alano benar-benar diam.
"Duduk, Ay. Makan yang banyak," ucap Om Malik ramah.
Makan malam itu terasa sangat aneh bagi Ayra. Biasanya, Alano akan mencuri lauk dari piringnya atau mengejek cara makannya yang lambat. Tapi kali ini, Alano hanya menatap datar ke arah depan. Suasana hening itu hanya dipecahkan oleh obrolan ringan Tante Sandra dan Om Malik.
Begitu selesai makan, Alano beranjak lebih dulu tanpa berkata apa-apa. Ia berjalan menuju sofa panjang di ruang tengah dan merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap. Ayra sempat melihat Alano merintih pelan saat punggungnya bersentuhan dengan bantal sofa.
Ayra merasa hatinya tidak tenang. Bagaimanapun juga, punggung itu terluka karena melindunginya. Ia diam-diam pulang ke rumahnya melalui pintu samping, mengambil kotak P3K miliknya, dan kembali lagi ke rumah Alano.
Tante Sandra dan Om Malik sudah masuk ke kamar untuk beristirahat. Ruang tengah kini hanya diterangi lampu gantung yang agak redup. Ayra mendekat ke arah sofa. Ia melihat Alano memejamkan mata, rahangnya mengeras, menahan nyeri yang berdenyut di punggungnya.
Ayra berdehem pelan. Alano membuka matanya sedikit, menoleh ke samping, lalu kembali memejamkan mata saat tahu itu Ayra.
"Mau ngapain lagi? Mau bahas soal keluarga lagi?" suara Alano terdengar letih.
Ayra duduk di lantai, tepat di samping sofa agar sejajar dengan posisi Alano. Ia meletakkan kotak P3K di atas meja kecil. "Boleh aku bantu obatin? Aku bawa salep pereda memar dan kompres dingin."
Alano terdiam sejenak, lalu ia terkekeh getir tanpa membuka mata. "Tumben sekretaris OSIS perhatian sama rakyat jelata kayak gue."
"Lano, plis... jangan kayak gitu. Aku beneran merasa bersalah," pinta Ayra lembut.
Alano akhirnya menghela napas panjang. Ia bangun sedikit, lalu melepas singlet hitamnya dengan gerakan perlahan yang terlihat sangat menyakitkan. Begitu bajunya terlepas, Ayra menutup mulutnya dengan tangan. Di punggung Alano yang tegap itu, terdapat memar kemerahan yang cukup besar, bekas hantaman bola basket Bima tadi sore.
"Sakit banget ya?" tanya Ayra lirih.
"Menurut lo gimana? Kena bola basket dari jarak deket itu rasanya nggak kayak dicium kupu-kupu, Ay," jawab Alano ketus, meskipun ia membiarkan Ayra mendekat.
Ayra mengambil gel pendingin dan mulai mengoleskannya ke punggung Alano. Jari-jari Ayra yang dingin bersentuhan dengan kulit Alano yang panas. Ia bisa merasakan otot punggung Alano menegang seketika saat jarinya menyentuh area memar itu.
"Pelan-pelan..." gumam Alano, suaranya kini sedikit lebih lembut.
Ayra mengangguk. Ia mengusap salep itu dengan gerakan memutar yang sangat hati-hati. Meskipun Ayra belum memiliki perasaan cinta seperti yang dirasakan Alano, ia tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa kagum melihat betapa kokohnya punggung ini melindunginya tadi siang.
"Makasih ya, Lan. Kamu selalu ada buat jagain aku, bahkan dari kecil," ucap Ayra sambil terus fokus mengobati.
Alano terdiam cukup lama menikmati pijatan lembut Ayra. "Gue jagain lo bukan karena gue harus, Ay. Tapi karena gue pengen. Sayangnya, lo selalu anggep itu sebagai kewajiban seorang kakak."
Ayra menghentikan gerakannya sejenak. Ia menghela napas. "Lano, kita bahas ini lagi? Aku bukannya nggak menghargai perasaan kamu. Tapi... semuanya terlalu mendadak. Aku nggak pernah mikir ke arah sana. Fokus aku sekarang itu sekolah dan OSIS."
"Gue tau," sahut Alano. Ia memutar tubuhnya sedikit untuk menatap Ayra. "Gue tau lo kaku. Gue tau lo pinter tapi bego kalau soal perasaan. Makanya gue milih jadi jahil, biar gue bisa deket sama lo tanpa lo ngerasa terbebani."
Alano menatap mata Ayra dalam-diam. "Tapi kejadian sama Rendy kemarin bikin gue sadar, kalau gue tetep diem, lo bakal diambil orang lain yang bahkan nggak tau apa warna kesukaan lo atau kapan lo nangis kalau denger lagu sedih."
Ayra menunduk, tidak berani membalas tatapan intens Alano. Ia menutup kembali tutup salepnya. "Selesai. Besok pagi jangan lupa dioles lagi ya."
Ayra bangkit berdiri, hendak membereskan kotak P3K-nya. Namun, tangan Alano yang besar menahan pergelangan tangan Ayra.
"Ay," panggil Alano.
Ayra menoleh. "Ya?"
"Lo nggak harus suka sama gue sekarang. Lo boleh tetep anggep gue sepupu, kakak, atau bahkan musuh lo di sekolah. Tapi jangan pernah suruh gue buat berhenti suka sama lo," ucap Alano dengan nada tegas namun penuh permohonan. "Karena sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar buat memendam satu nama."
Ayra hanya bisa terdiam. Ia menarik tangannya perlahan, memberikan senyum tipis yang terasa dipaksakan, lalu bergegas pamit pulang.
Di perjalanannya yang hanya sepuluh langkah menuju rumahnya, Ayra memegang dadanya sendiri. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia belum suka pada Alano, ia masih menganggap Alano adalah gangguan. Tapi, ia mulai sadar bahwa "gangguan" itu kini terasa jauh lebih berarti daripada sekadar kejahilan biasa.