Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Tingkah
"Tante, hidup nggak berporos pada satu orang. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang berat, tapi dunia ini masih punya banyak hal indah yang bisa kita lihat, kita rasakan, dan kita alami. Tapi sebelum Tante merasakan itu semua, Tante perlu mencintai diri sendiri lagi."
Shahinaz berbicara dengan lembut, sambil memegang lengan wanita paruh baya itu berniat untuk membawa ke kamarnya. Dia mengikuti arahan petugas medis yang sudah berjalan lebih dulu, sesekali mengelus lengan wanita paruh baya itu agar tetap tenang dan percaya padanya.
Tapi sebelum meninggalkan ruangan besar itu, tatapan matanya bertemu dengan Dreven yang sepertinya sudah lama berdiri di sana. Ada sesuatu yang mereka pancarkan di dalam pandangan mereka yang berakhir singkat itu. Yaitu sebuah pengertian yang tidak butuh kata-kata, sebelum Shahinaz kembali melanjutkan langkahnya dengan hati-hati.
"Tante tau nggak, kalau Tante berhak bahagia? Bukan cuma karena orang lain, tapi untuk diri Tante sendiri. Percayalah, ketika Tante ingin membahagiakan diri sendiri, semua beban yang Tante rasakan selama ini akan mulai lepas satu per satu." lanjut Shahinaz begitu mereka tiba di kamar. Kamar itu besar namun tampak kosong, hanya terisi oleh sebuah tempat tidur dan lemari besar di ujung ruangan. Shahinaz diam-diam menyesal tidak menggunakan lift tadi, mengetahui kalau kamar itu terletak di lantai tiga.
Wanita paruh baya itu menatap Shahinaz dengan mata yang tampak tersentuh, namun masih ada kebingungan di dalamnya. Seperti seseorang yang lama terperangkap dalam kegelapan, perlahan ia mulai melihat secercah cahaya, namun belum sepenuhnya yakin apakah cahaya itu benar-benar nyata atau hanya ilusi semata.
"Apa yang kamu tau tentang kebahagiaan?" suaranya parau, lebih tenang, tapi masih penuh oleh amarah dan luka yang belum sembuh. "Kebahagiaan itu sudah hilang... Semuanya hilang sejak dia... Mengkhianatiku..."
Shahinaz tersenyum kecil. "Tante, kebahagiaan memang bisa hilang, tapi itu bukan berarti nggak bisa ditemukan lagi. Memang sakit saat orang yang kita cintai menghancurkan hati kita, tapi hidup terus berjalan. Tante masih punya kesempatan untuk menemukan kebahagiaan lagi, bahkan dari hal-hal kecil yang mungkin Tante lupakan."
Wanita itu terdiam, wajahnya melunak sedikit, meski bayangan masa lalu masih jelas di wajahnya. "Apa yang tersisa untukku? Dia sudah mengambil segalanya... Aku tak punya apa-apa lagi..."
Shahinaz tersenyum kecil, lalu dengan lembut menggenggam tangan wanita itu, "Tante masih punya diri Tante sendiri. Tante masih punya kesempatan untuk bangkit dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Orang-orang yang menyakiti Tante mungkin nggak layak mendapatkan air mata Tante, tapi Tante layak untuk mendapatkan kebahagiaan itu lagi."
Ruangan besar yang nampak kosong dan hanya terisi tempat tidur beserta lemari besar diujung ruangan itu sejenak hening. Wanita itu tampak terdiam, merenungi kata-kata Shahinaz sedalam-dalamnya. Rasa sakit dan kebencian yang telah membebani dirinya selama bertahun-tahun mulai perlahan mengendur, meskipun luka itu masih membekas.
"Tadi Tante bilang bahwa Tante merasa nggak punya apa-apa lagi," Shahinaz melanjutkan dengan hati-hati. "Tapi apa Tante melupakan satu orang yang selalu ada buat Tante? Dreven Veir Kingsley? Dia masih ada, Tante. Dia selalu ada untuk Tante, nggak peduli Tante menganggap dia apa selama ini."
Wanita itu terhenyak sejenak, seolah baru tersadar akan sesuatu yang selama ini tertutupi oleh kabut rasa sakitnya. Nama Dreven bergema di benaknya, membawa ingatan akan anaknya, satu-satunya orang yang tetap setia di sisinya meski dirinya tenggelam dalam penderitaan.
Matanya beralih dari Shahinaz ke jendela besar di dekat tempat tidur, menatap keluar seakan mencari kembali kenangan yang telah ia buang karena kesedihan itu.
"Dreven..." suaranya lembut, hampir seperti bisikan. Nama itu terasa asing, namun juga dekat, seolah menyadarkannya akan hubungan yang hampir dia lupakan. "Dia... Pasti kesepian."
Shahinaz tersenyum lembut, masih menggenggam tangan wanita itu dengan erat. "Tante mungkin merasa kehilangan banyak hal, tapi Dreven nggak pernah pergi. Dia selalu ada di sini untuk Tante. Dia ada di sisi Tante, meskipun Tante mungkin nggak selalu melihatnya."
Mata wanita itu mulai berkaca-kaca, air mata yang selama ini tertahan akhirnya mengalir perlahan di pipinya. "Aku... aku telah menyakiti anakku. Aku terlalu terjebak dalam kesakitanku sendiri sampai lupa bahwa dia juga terluka..."
"Dreven mencintai Tante," ujar Shahinaz dengan lembut namun tegas, "Dia nggak pernah menyerah, bahkan ketika Tante mungkin merasa sudah menyerah pada hidup. Dia di sini karena dia ingin melihat Tante bahagia lagi, percaya sam Shahinaz. Karena Tante berhak untuk bahagia, bukan hanya untuk Dreven, tapi juga untuk diri Tante sendiri."
Wanita itu mengangguk pelan, seolah kata-kata itu baru pertama kali terdengar masuk akal baginya. Air matanya terus mengalir, namun kali ini terasa lebih ringan, seolah sedikit beban telah terangkat dari pundaknya.
"Bagaimana caranya?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar. "Bagaimana aku bisa mulai mencintai diriku lagi setelah semua yang terjadi?"
Shahinaz terdiam sejenak, memikirkan jawabannya dengan hati-hati. "Nggak ada cara instan untuk menghilangkan rasa sakit, Tante. Tapi Tante bisa memulainya dengan hal-hal kecil. Beri diri Tante waktu untuk menerima bahwa masa lalu nggak bisa diubah, tapi masa depan masih bisa Tante ciptakan. Mulailah dengan hal-hal yang Tante sukai dulu sebelum semuanya menjadi rumit. Satu langkah kecil saja."
Wanita itu menatap Shahinaz dengan sorot mata yang perlahan berubah dari putus asa menjadi sedikit lebih tenang, seakan ada harapan yang mulai tumbuh, meskipun kecil. "Aku... aku akan mencoba," katanya pelan.
Shahinaz tersenyum hangat, menepuk lembut tangan wanita itu sebelum bangkit dari tempat duduknya, "Itu langkah pertama, Tante. Dan jangan khawatir, Dreven dan orang-orang yang peduli sama Tante akan selalu ada untuk mendukung Tante. Sekarang, bagaimana kalau kita mulai dengan minum obat dari petugas medis? Itu bisa membantu Tante merasa lebih baik."
Shahinaz mengkode para petugas medis yang sejak tadi berada di dekat pintu, untuk segera menghampiri dengan peralatan mereka. Salah seorang dari mereka mulai berbicara layaknya orang dekat, dia tersenyum ketika wanita paruh baya itu mulai merespon obrolan mereka dan mulai mengerti. Perkembangan yang cukup pesat, meskipun itu baru langkah awal!
Shahinaz diam-diam keluar dari sana Namun ketika dia menutup pintu kamar dengan hati-hati, dia dibuat terkejut ketika Dreven ternyata berada di balik pintu. Shahinaz mengkode apakah Dreven mau masuk ke dalam sana, namun dijawab gelengan pelan oleh laki-laki itu.
"Dokter udah nunggu di bawah, kepala kamu perlu diperiksa sekarang juga." kata Dreven yang kemudian menarik tangan Shahinaz untuk di bawa ke lantai paling dasar melewati lift yang tersedia.
Shahinaz menghela nafas kesal, bukankah yang harusnya diperiksa oleh Dokter adalah Dreven sendiri? Meski setelan pakaiannya sudah berganti kemeja rapi dan terlihat baik-baik saja, Shahinaz masih mengingat dengan jelas jika bahu kanannya tertembak senjata api kemarin malam!
Shahinaz menatap Dreven dengan tajam, mencoba menghentikan langkahnya sejenak di dalam lift yang perlahan bergerak turun. "Kamu darimana aja? Terus kenapa nggak ke rumah sakit padahal baju kamu luka kemarin!"
Dreven terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Nggak ada yang perlu dikhawatirin dari aku? Mengerti?"
PlakkKK...
Shahinaz menabok bahu Dreven pelan, tapi laki-laki itu langsung meringis kesakitan. Shahinaz menatapnya dengan tajam, mencoba menghentikan langkah mereka di dalam lift yang perlahan turun.
Shahinaz melipat tangannya dengan wajah kesal, "Masih belum mengaku juga? Mau aku pukul lebih kencang lagi bahunya?"
"Pukul lagi aja, aku baik-baik aja." jawab Dreven yang masih terus membuang muka.
Mereka tiba di lantai dasar, pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Shahinaz berhenti sejenak di depan pintu lift, berkacak pinggang menatap Dreven dengan tatapan tajam namun lembut.
"Masih belum ngaku juga kalau kamu kenapa-napa? Yakin?" tanya Shahinaz sekali lagi.
Arsenio dan Keandra, yang sejak tadi sibuk mengobrol dengan yang lain, menatap keduanya dengan tatapan heran. Sedangkan Dreven menunduk sejenak, merasa semakin terpojok di depan banyak orang yang sedang menontonnya.
"Ada apa sih? Kenapa dateng-dateng pada langsung ribut? Tadi aja pada nanyain keadaan masing-masing, kenapa sekarang udah cosplay jadi kucing dan tikus aja hah?" tanya Arsenio heran.
Shahinaz mengabaikan pertanyaan Arsenio. Sebaliknya, tanpa pikir panjang, Shahinaz menarik telinga Dreven dan membawanya tanpa beban ke arah Dokter yang sejak tadi duduk di ruang tamu Mansion Dreven. Keandra dan Arsenio melotot hebat, apa Shahinaz tidak takut diamuk Dreven?
"Sayang, lepasin..." ringis Dreven sambil menahan malu. Bisa-bisanya Shahinaz sebrutal ini kepadanya. Dia hanya berniat meminta Shahinaz untuk memeriksakan luka dikepalanya saja. Apalagi Arsenio semalam menginformasikan bahwa Shahinaz pingsan dalam perjalanan pulang menuju ke Mansion.
Shahinaz tidak menggubris, alih-alih menyetujui untuk dilepas, Shahinaz membawa Dreven di depan Dokter yang katanya datang untuk memeriksanya itu, "Periksa dia dulu Dokter, bahunya kemarin ketembak. Terus bukannya pulang atau ke rumah sakit, dia nggak tau pergi ke mana dan baru pulang sekarang!"
Keandra dan Arsenio menahan tawa sambil menatap Dreven, seolah ini adalah hal baru yang baru saja mereka lihat, selama mereka menjalani hidup. Mereka jelas tak menyangka jika Shahinaz akan seberani itu, memperlakukan Dreven, manusia yang paling ditakuti oleh mereka, tanpa takut lehernya akan dipatahkan.
"Bener-bener nggak habis pikir gue. Ini kalau anggota yang lain tau kalau pemimpin mereka diperlakukan kayak kucing imut, apa mereka nggak ngakak brutal?" komentar Arsenio sambil tertawa terbahak-bahak, hilang sudah rasa takutnya karena Shahinaz.
"Hahaha, bener juga. Harusnya gue video-in tadi, kenapa nggak kepikiran ya?" balas Keandra tak kalah ngakaknya.
Berbeda dengan respon Arsenio dan Keandra, Shahinaz memiringkan kepalanya bingung, "Dreven pemimpin apa emangnya?"
"Ekhmmm, bukan apa-apa Sel." balas Arsenio sambil memalingkan muka ketika Dreven menatapnya seolah ingin membunuhnya hidup-hidup.
Shahinaz memandang Dreven dengan tatapan bingung, sementara Dreven hanya menghela napas berat, menundukkan kepala sejenak sebelum akhirnya menatap dokter yang sudah bersiap memeriksa. Dokter itu terlihat sedikit canggung di tengah situasi ini, tapi segera mengambil alih dengan sikap profesional.
"Tuan Muda, biar saya lihat bahunya lebih dulu." ujar dokter sambil meminta Dreven melepas kemejanya.
Dreven menggerutu pelan, lalu mulai membuka kemejanya dengan gerakan kaku. Luka di bahunya yang tertutup perban terlihat sudah mengering, namun masih ada tanda-tanda peradangan di sekitar luka tembak itu. Shahinaz menatap luka itu dengan sorot mata khawatir, lalu beralih ke Dreven yang sedang meringis saat dokter mulai membersihkan luka tersebut.
"Itu Vincent yang ngebalut luka kamu? Kamu nekat banget sih? Harusnya kamu langsung ke rumah sakit dulu, masalah yang lain bisa di urus belakangan!" kata Shahinaz sambil melipat tangannya di dada.
Wajah dan telinga Dreven benar-benar memerah. Mendapat perhatian dari orang tersayang, siapa yang tidak akan tersenyum bahagia. Tetapi posisinya Dreven di tempat umum, ada dua sahabatnya juga yang sedari tadi tertawa meledek ke arah dirinya. Jadi Dreven hanya bisa mendesah pelan, harusnya Shahinaz memberi perhatian ini ketika sedang berdua saja. Dia ingin sekali membawa Shahinaz kedalam pelukannya sekarang!
"Aku harus pastikan semuanya aman dulu. Lagian, luka ini nggak seberapa, aku baik-baik aja." kata Dreven sambil menundukkan kepala.
Shahinaz mendengus, "Baik-baik aja dari mana?
Lihat aja tuh lukanya! Ini nggak bisa diremehkan, Dreven!"
Arsenio dan Keandra yang sejak tadi menahan tawa akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Mereka tertawa kecil sambil saling menatap, seolah tak percaya Dreven bisa ditegur seperti itu oleh Shahinaz. Dreven, si pemimpin dan penguasa yang biasanya begitu tangguh dan tegas, sekarang terlihat begitu jinak di depan Shahinaz.
Dokter selesai memeriksa luka di bahu Dreven dan menggeleng pelan. "Tuan Muda, lukanya butuh perhatian lebih. Saya akan kasih resep antibiotik dan pereda nyeri. Pastikan Anda istirahat cukup dan tidak banyak bergerak selama beberapa hari ke depan. Untuk obat, saya akan meminta orang mengantarnya ke sini. Nanti akan ada petunjuk Dokter supaya tidak keliru."
Dreven hanya mengangguk sambil memakai kembali kemejanya. Sementara itu, Shahinaz masih menatapnya dengan tatapan tajam, "Jadi sekarang, kamu harus dengerin kata dokter. Nggak ada alasan buat nggak mentingin diri sendiri setelah ini, ngerti?"
Bisakah Dreven mengurung gadisnya itu untuk dirinya sendiri saja? Ketika marah, gadis itu terlalu menggemaskan. Apalagi mengingat Shahinaz yang berhasil memenangkan Mamahnya tadi, dia cukup bahagia karena setidaknya Mamahnya sudah mulai berpikir positif, dan itu semua berkat Shahinaz yang kehadirannya sangat berarti untuknya.
Banyak ketulusan yang diberikan gadis itu, dia bisa melihat dengan jelas lewat tatapan matanya. Namun di sisi lain, dia juga merasa sedih dengan curahan hati gadis itu yang mengharukan. Dia bersyukur karena gadis itu mampu bertahan sebelum dia berada disisinya.
Dreven mendekatkan wajahnya ke arah Shahinaz dan berbisik pelan, "Kamu khawatir banget, ya?"
Shahinaz memalingkan muka, wajahnya memerah sedikit, dan itu sukses membuat Dreven tersenyum tipis dan mencium pipinya tanpa beban. Arsenio dan Keandra berteriak heboh, seolah dia harusnya tidak berada di sana dan menjadi saksi Dreven bertindak lembut pada wanita.
"Tentu saja aku khawatir! Siapa yang nggak khawatir kalau lihat kamu ngeremehin luka parah kayak gitu!" seru Shahinaz kesal, namun membuat Dreven terenyuh dengan perhatian lebih Shahinaz.
"Mau nikah sekarang atau besok? Terus mau honeymoon kemana?" tanya Dreven yang kini berucap dengan nada santainya.
Shahinaz tertegun sejenak ketika Dreven mengatakan hal yang sampai sekarang belum pernah dia pikirkan. Wajahnya yang sudah sedikit memerah kini benar-benar seperti tomat matang. Dia ingin kabur dari sana karena malu, tapi entah kenapa Dreven berhasil menangkap tangannya, dan mau tidak mau Shahinaz harus jatuh di dalam pangkuannya.
"Dreven!" seru Shahinaz dengan suara pelan, namun cukup untuk membuat Dreven tersenyum geli.
"Apa? Luka dikapala kamu harus diperiksa dulu, dan jangan coba-coba kabur dari pengawasanku." jawab Dreven dengan nada santai, seolah-olah dia sudah terbiasa melakukan hal seintim ini di depan teman-temannya.
Arsenio dan Keandra mengangkat tangannya tanda menyerah. Sebagai kaum jomblo sejati, dia tidak bisa melihat kemesraan ini lebih lama lagi.
"Gue pamit aja deh, gue udah nggak tahan ngelihat keromantisan rumah tangga kalian ini." kata Keandra yang kemudian pergi dari sana dengan tergopoh-gopoh.
Arsenio mendelik ketika ditinggal, "Anjirrr, gue jangan ditinggalin woyyy. Bro, gue pamit balik dulu aja lah. Barangkali kalian mau bermesra-mesraan lebih lama, kita nggak mau gangguin kalian. Bye!"
Hanya tersisa sang Dokter yang tidak bisa melakukan apa-apa dan pergi begitu saja. Shahinaz yang paham dengan kecanggungan ini, segera bangkit dari pangkuan Dreven, dan menghirup napas sebanyak-banyaknya untuk meredakan wajahnya yang sejak tadi merah padam.
"Ayo Dokter, katanya mau diperiksa? Atau nggak jadi aja? Saya mau pulang ke rumah." tanya Shahinaz sambil mengipas-ngipasi wajahnya.
Dreven terkekeh kecil. Dia cukup terhibur dengan Shahinaz yang terlihat salang tingkah sekarang. Semoga saja setelah ini ada waktu untuk berduaan, Dreven sudah tidak sabar beromantis ria dengan gadisnya itu!