NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Bertarung

...SELAMAT MEMBACA!...

Dino tidak bisa, bila keluarganya terlibat dengan dunia luarnya. Ia ingin segera mengakhiri perseteruan Ultimate Phoenix dengan Wind Blaze. Apalagi, masalah ini berasal dari tingkah kekanakan seorang anggota, juga bukan soalan yang berat.

Setelah mengantar sang istri untuk tinggal sementara di rumah keluarga Norman, ayah mertuanya, Dino segera mengajak para anggota Ultimate Phoenix bergabung di rapat malam ini.

Semua harus hadir, itu yang Dino sampaikan.

"Gue gak mau kalau Ultimate Phoenix punya musuh," ujar Dino, ketika sudah berada di penutupan. "Gue juga gak mau, kalau sampai masalah kita di sini keseret sampai ngelibatin keluarga."

Hasil untuk langkah selanjutnya, sudah Dino dan anggota dapatkan, dan semuanya setuju. Ketua mereka itu sungguh dapat diandalkan, apalagi di saat kepepet seperti ini.

"Kalian pasti udah tahu, soal masalah istri gue sama Ambo," lanjut Dino, sambil menundukkan kepala. Ia jadi sedih bila mengingat nasib buruk almarhum kakak iparnya. Terlebih istrinya terlihat sangat kehilangan.

"Kita pasti bantuin lo, Bos!" ungkap Derwan, sambil menepuk pundak Dino yang duduk di sampingnya. "Kita pasti bersatu buat menang!"

"Setuju?" ujar Derwan, menatap para anggota Ultimate Phoenix.

"Setuju!" balas mereka dengan kompak.

Suara keras mereka dibawa pergi oleh hembusan angin malam. Rooftop basecamp selalu menjadi tempat bila ada urusan penting. Selain tidak akan ada yang bisa mendengarkan pembicaraan, pemandangan dari atas sini juga elok untuk dinikmati.

Area yang luas dapat menampung cukup banyak manusia. Ada sekitar 100 lelaki di sana, tetapi belum keseluruhan anggota yang sedang berada di luar kota.

Dino memijat pelipisnya, napas yang keluar dari hidungnya terdengar. Ia terlihat kelelahan. Memang, menjadi seorang ketua geng membuatnya mempunyai tanggung jawab besar. Selain mengurus, ia juga harus bijak dalam mengambil keputusan, juga melindungi kelompoknya.

Melihat Dino yang sedang kacau, menyita perhatian Derwin. Lelaki itu mendekati, ikut duduk di kursi rotan itu. "Lo pasti bisa," katanya, lantas membuat Dino menoleh. "Gue jarang ngelihat lo kacau kayak gini."

Mereka hanya berdua, bertahan di bawah langit malam yang udaranya cukup dingin. Dino merasa nyaman di sini, setidaknya sementara untuk melupakan kerinduannya kepada sang istri. "Gue takut Dara kenapa-kenapa," ungkap Dino.

"Aman. Kita juga ikut pantau sampai masalah ini selesai," tutur Derwin.

"Kalau WB gak nantangin duluan, gak akan gue ladeni." Dino berdecih, menatap dengan tatapan tajam ke depan. "Karena mereka kibarin bendera perang, gue gak segan buat arahin pasukan."

"Ini juga soal Dara. Dia udah usik ketenangan istri gue." Dino berdiri dari duduknya. Menumpu kedua tangannya di tembok yang menjadi pembatas. Lalu, dia tersenyum miring sambil melihat ke arah langit gelap itu.

"Besok malem, kita selesain ini sesuai dengan apa yang mereka mau," kata Dino.

.....

Ultimate Phoenix jarang sekali mempunyai musuh, bahkan geng lainnya segan dengan kelompok yang diketuai oleh Dino Pamungkas ini.

Deru motor para anak-anak Ultimate Phoenix menggelegar di jalanan yang longgar. Dino berada di baris paling depan, memimpin anggotanya menuju sarang musuh. Bukan maksud menantang, tetapi Dino hanya mewujudkan keinginan orang itu.

Malam ini, 25 September akan menjadi hari yang besar bagi Ultimate Phoenix, untuk pertama kalinya. Pertarungan ini akan dilakukan di sarang musuh, Dino dan para anggotanya menyerang terlebih dahulu.

Sesampainya di sana, Dino langsung memberi arahan kepada mereka para anggota Ultimate Phoenix. Jalan di sini terbilang sepi karena termasuk daerah Wind Blaze. Perlu masuk ke sebuah gang sempit untuk sampai di bangunan yang menjadi basecamp Wind Blaze.

Cahaya yang remang, lampu-lampu jalanan terlihat jarang di tempat ini. Pun tidak ada seorang pun yang melalui tempat tersebut.

Dino mengajak empat anggota inti untuk ikut bersamanya. Darwin bersama kembarannya, lelaki itu membawa kayu yang diletakkan di pundak. "Antusias banget lo," celetuk Darwin, kepada Derwan.

"Harus, dong," jawab Derwan.

Hamid tidak memakai gamis kali ini. Celana jeans hitam dan kaos putih, juga jaket milik geng membuatnya terlihat sangat keren dan tampan. Angga sampai dibuat kaget oleh penampilan anak ustadz itu.

Jangan lupakan tiga serangkai. Mahen, Bama, dan Aga berbaris di belakang para seniornya. Aga dengan wajah datarnya, berbanding terbalik dengan Mahen yang terus melebarkan senyumnya. "Jangan senyum terus lo! Awas aja kalau kalah," seloroh Bama, setelah memukul pelan kepala Mahen.

"Kalau gue kalah, lo bantuin gue!" balas Mahen.

"Sorry, gue jaga di sini. Gue gak bisa bantuin lo," seloroh Aga.

Dino tidak pernah ragu untuk melakukan hal semacam ini. Masalah yang ada akan dianggap selesai oleh geng seperti WB, jika kemauan mereka terselesaikan.

"Darwin sama Bama, gue serahin bagian ini ke kalian," ujar Dino.

"Siap, Bos," jawab Darwin.

Rupanya, Wind Blaze sudah tahu rencana Ultimate Phoenix yang akan menyerang malam ini. Ambo meletakkan beberapa anaknya di gang itu. Mereka terlihat menantikan ini sambil tersenyum miring. Dino pun tidak terkejut karena ia sudah menduganya.

"Mana ketua lo?" tanya Dino, dengan suara lantang yang keras.

Seorang lelaki yang merupakan ketua divisi satu, tersenyum miring dan berjalan menghampiri Dino sambil mengarahkan tongkat kayunya. Upek namanya. Dia terlihat tua, sekitar 32 tahun. "Akhirnya, lo mau arahin pasukan lo buat hal kayak gini," kata Upek.

"Suatu keberuntungan karena kita jadi yang pertama buat tes kemampuan kalian." Upek menurunkan tongkatnya, kemudian meletakkan tangan kirinya di pundak Dino. "Ayo! Bos gue udah siapin sambutan yang meriah buat kalian," katanya. Lalu, Upek berjalan mendahului.

Tatapan Dino tajam menghunus ke depan.

Mahen dengan jahilnya, ia berjalan sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah anggota Wind Blaze yang berjejer di seluruh gang itu. Mereka jadi seperti orang penting yang disambut. Angga dan Aga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah minus temannya.

Sampai di depan pintu basecamp itu. Di sini pun terdapat orang-orang yang berdiri tegak dengan membawa beberapa alat dari kayu, bahkan kaca. Mereka menatap tajam ke arah Dino, tetapi tidak akan ada yang mengalahkan tatapan menusuk Dino.

"Gue jadi kayak artis," celetuk Hamid. Ia sebenarnya ingin tertawa sedari berjalan menuju tempat ini. "Kegantengan gue ini selalu memikat. Bahkan para jantan pun suka." Sedangkan Derwan, berdecih dengan jijik melihat omong kosong orang gila di sampingnya.

Tidak lama Dino dan anggota inti berdiri di sana. Pintu yang awalnya tertutup, kini terbuka dan menampilkan sosok Ambo yang mengulas senyum miring. "Halo, Friend! Udah gue tunggu dari tadi," ujar Ambo. "Gimana, sambutannya?"

"Lumayan," seru Dino.

"Masuk dulu! Ada hidangannya di dalem." Ambo merangkul pundak Dino, dengan cepat cowok itu menyingkirkan tangan kotor tersebut.

Baru saja masuk, pintu itu dikunci dari luar. Tentu itu atas perintah Ambo. Dino mulai bisa membaca rencana lawannya tersebut.

"Gue gak bisa lama-lama di sini. Hawanya panas," kata Dino. Lalu, ia melepaskan jaket kebanggaannya dan memperlihatkan kaos hitam ketat, membuat tubuhnya yang berbentuk terekspos. "Gue mau cepet."

"Gak sabaran banget." Ambo duduk di sebuah sofa. Sepuluh pria lainnya berdiri tegak di belakang Ambo.

Ada 30 anggota Wind Blaze lainnya, yang berada di dalam ruangan itu. Sedangkan Dino, hanya membawa empat lelaki bersamanya.

"Lo mainnya suka rame-rame, ya," celetuk Derwan, kemudian berdiri di samping Dino.

Ambo tersenyum miring, ia menyalakan rokok dengan pematik. "Santai dulu! Kita tunggu sampai anak-anak yang di luar kalah," katanya.

Sesuai dugaan Dino. Ambo akan mengurungnya di sini, anggota Wind Blaze di luar tadi akan menyerang anggota Ultimate Phoenix terlebih dahulu. Mungkin, mereka berpikir tanpa kehadiran sang ketua UP, kelompok api itu akan kalah. Namun, salah besar.

"Kita tunggu sampai pintu ini dibuka sama Darwin, wakil ketua Ultimate Phoenix." Dino tersenyum tipis dengan percaya diri. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menatap tajam ke arah pria tua itu.

"Ini gak ada camilannya apa?" celetuk Mahen, kemudian berjongkok dan bersandar di tembok.

.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!