Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Harga Sebuah Rahasia
Udara di ruang rapat Terra Architecture terasa kering, berbau kertas baru dan kopi yang sudah dingin. Di layar proyektor, Rini menampilkan sebuah tabel sederhana namun mematikan. Itu adalah daftar mutasi rekening pribadi Siska yang berhasil dilacak lewat kenalan lama Rini di bank, dipadukan dengan data penjualan barang mewah di pasar sekunder.
"Dia menjual jam tangan Rolex Datejust yang Ayah berikan bulan lalu," kata Rini, jarinya menunjuk baris paling atas. "Harganya jatuh tiga puluh persen karena dia butuh uang tunai cepat. Tanpa kotak, tanpa sertifikat asli. Transaksi dilakukan di belakang sebuah butik di Senayan City."
Alana menatap angka-angka itu tanpa berkedip. "Lima puluh juta. Itu jumlah yang kecil untuk ukuran gaya hidup Siska sekarang. Kenapa dia butuh uang receh begitu mendesak?"
Elang, yang duduk di ujung meja sambil memutar pena mahal di jari-jarinya, menyahut, "Itu bukan untuk gaya hidup, Alana. Itu uang tutup mulut. Polanya jelas. Penarikan tunai, penjualan aset di bawah harga pasar, semuanya dilakukan di tanggal-tanggal ganjil tanpa sepengetahuan Hendra."
Alana menoleh pada Elang. Pria itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung, terlihat santai namun matanya tajam menganalisis data. "Kau pikir ini ada hubungannya dengan masa lalunya?"
"Orang seperti Siska tidak muncul dari ruang hampa," jawab Elang datar. "Dia punya sejarah. Dan sejarah itu sekarang sedang menagih utang."
Ponsel Rini bergetar di atas meja. Dia melirik layar, lalu matanya membelak. "Info dari supir pengganti di rumah Wardhana. Nyonya Siska baru saja keluar sendiri menggunakan taksi online. Dia menolak diantar supir pribadi. Tujuannya ke Grand Indonesia."
Alana segera berdiri, menyambar tas kerjanya. "Dia mau melakukan transaksi lagi."
"Aku yang menyetir," kata Elang, sudah bangkit dari kursinya sebelum Alana sempat protes. "Kalau ini benar pemerasan, situasinya bisa berubah fisik. Kau butuh saksi, bukan korban."
***
Grand Indonesia di jam makan siang adalah lautan manusia. Namun, Siska tidak menuju butik-butik di lantai dasar. Berdasarkan pelacakan lokasi ponsel yang sudah diretas tim IT Elang, Siska berada di area parkir basemen P3, sudut yang sepi dan jauh dari pintu masuk utama.
Elang memarkirkan mobil sedan hitamnya tiga baris dari posisi Siska berdiri. Mesin dimatikan, kaca film yang gelap menyembunyikan mereka berdua di dalam. Dari kejauhan, Alana bisa melihat Siska berdiri gelisah di samping pilar beton. Wanita itu mengenakan gaun hamil longgar berwarna pastel, kontras dengan suasana basemen yang suram, berdebu, dan bau asap knalpot.
"Itu dia," bisik Alana. Ia mengeluarkan ponsel, mengaktifkan kamera dengan lensa zoom.
Tak lama kemudian, seorang pria muncul dari balik deretan mobil. Pria itu kurus, mengenakan jaket kulit sintetis yang mulai mengelupas dan celana jeans robek. Rambutnya agak gondrong, wajahnya keras dengan bekas luka samar di pipi. Rico.
Alana merekam pertemuan itu. Tidak ada suara yang terdengar karena jarak, tapi bahasa tubuh mereka menceritakan segalanya. Siska tidak memeluk pria itu layaknya teman lama. Dia mundur selangkah, bahunya tegang. Tangan Siska merogoh tas tangan Hermes-nya dengan kasar, menarik sebuah amplop cokelat tebal.
Rico tertawa saat menerima amplop itu. Dia menepuk-nepuk pipi Siska dengan amplop tersebut—sebuah gestur yang merendahkan. Siska menepis tangan Rico dengan jijik, mulutnya bergerak cepat seperti sedang memaki atau memohon.
"Lihat tangannya," kata Elang, menunjuk ke arah Rico. "Pria itu mencengkeram lengan Siska. Itu bukan negosiasi bisnis. Itu intimidasi."
Alana menahan napas saat Rico tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Siska, membisikkan sesuatu yang membuat wajah Siska pucat pasi bahkan dari jarak lima belas meter. Rico kemudian melepaskan cengkeramannya, memasukkan amplop ke balik jaket, dan berjalan santai meninggalkan Siska yang gemetar sendirian di samping pilar.
"Kita punya wajahnya," kata Alana, menurunkan ponselnya. "Cari tahu siapa dia."
"Sudah dikirim ke timku," sahut Elang tenang. Ia menyalakan mesin mobil. "Kau mau pulang?"
"Tidak," suara Alana terdengar dingin. "Siska pasti akan naik ke atas untuk merapikan diri sebelum pulang. Dia tidak akan mau Hendra melihatnya berantakan seperti itu. Aku akan menyapanya."
***
Toilet wanita di lantai satu sepi, hanya ada suara keran air yang mengalir. Alana melangkah masuk, bunyi hak sepatunya menggema tajam di atas lantai marmer. Di depan wastafel, Siska sedang membungkuk, membasuh wajahnya dengan air dingin. Napasnya terdengar memburu.
Siska mendongak saat melihat pantulan Alana di cermin. Wajahnya yang basah menegang seketika. Dia buru-buru mengambil tisu, mengeringkan wajahnya dengan gerakan kasar.
"Sedang ngidam jalan-jalan ke basemen parkir?" tanya Alana santai. Ia berdiri di samping Siska, mengeluarkan lipstik dari tasnya, berpura-pura mematut diri di cermin.
Siska berbalik, punggungnya menempel pada meja wastafel seolah mencari sandaran. "Kau membuntutiku?"
"Jangan terlalu percaya diri. Jakarta ini sempit," Alana memoleskan lipstik merah gelap di bibirnya. Warnanya seperti darah yang mengering. "Aku hanya heran. Istri seorang Hendra Wardhana, calon ibu dari pewaris tunggal—katanya—kok keluyuran naik taksi online dan menemui preman di parkiran?"
Mata Siska membelalak. Pupilnya mengecil karena panik. "Kau tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu kau menjual jam tangan Ayah," Alana menutup lipstiknya dengan bunyi *klik* yang nyaring. Ia menoleh, menatap lurus ke mata Siska. "Aku tahu kau butuh uang tunai dalam jumlah besar yang tidak terlacak. Pertanyaannya, Siska... apakah bayi itu yang mahal, atau rahasia di baliknya?"
"Tutup mulutmu!" desis Siska. Tangannya terkepal di samping pinggulnya yang mulai melebar. "Mas Hendra tidak akan percaya padamu. Kau hanya anak durhaka yang dibuang."
"Mungkin," Alana melangkah maju satu langkah, menginvasi ruang pribadi Siska. Aroma parfum mahal Siska bercampur dengan bau keringat dingin yang asam. "Tapi Ayah itu pebisnis, Siska. Dia menghitung untung rugi. Kalau dia tahu kau memeras uangnya untuk membayar laki-laki lain... menurutmu berapa lama kau akan bertahan di penthouse itu?"
Siska gemetar. Bukan karena marah, tapi karena teror murni. Alana bisa melihat urat leher Siska yang menegang.
"Jaga kandunganmu," ucap Alana dingin, lalu berbalik menuju pintu keluar. "Akan sangat memalukan kalau 'aset' berhargamu itu lahir dengan wajah yang mirip preman di parkiran tadi."
Alana meninggalkan toilet itu tanpa menoleh lagi. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena adrenalin kemenangan. Dia baru saja melempar bom molotov ke dalam benteng pertahanan mental Siska.
Sepeninggal Alana, Siska merosot ke lantai toilet yang dingin. Kakinya lemas. Air matanya tumpah, bukan karena sedih, tapi karena rasa takut yang mencekik. Rico meminta lebih banyak uang minggu depan. Dan sekarang, Alana tahu.
Alana tahu semuanya.
Siska merogoh ponselnya dengan tangan gemetar. Dia menekan nomor Rico yang baru saja dia temui. Pikirannya kalut, didorong oleh insting bertahan hidup yang buas.
"Halo?" suara Rico terdengar serak di seberang.
"Dua kali lipat," bisik Siska, suaranya parau. "Aku akan bayar dua kali lipat dari yang kau minta."
"Wah, Nyonya besar sedang murah hati. Ada syaratnya?"
"Ada," mata Siska menatap pantulan dirinya di cermin—wajah yang mulai terlihat tua karena stres. "Buat Alana celaka. Aku tidak peduli caranya. Buat dia tidak bisa bicara lagi. Buat seolah-olah itu kecelakaan kerja di proyeknya."
"Kecelakaan proyek?" Rico tertawa kecil. "Beres. Siapkan uangnya."
Siska memutus sambungan telepon. Dia menghapus riwayat panggilan, lalu perlahan bangkit berdiri. Dia merapikan gaunnya, memulas bedak tebal untuk menutupi pucat di wajahnya. Dia harus pulang. Dia harus tersenyum pada Hendra. Dia harus memainkan perannya sampai akhir, karena sekarang, tidak ada jalan untuk berputar balik.