NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kabut pagi masih bergelayut di puncak bukit itu, putih tebal seperti selimut yang menolak disingkap. Suara burung jarang terdengar, hanya deru angin yang sesekali menyeruak di antara celah batu.

Liang Shan, tubuhnya yang masih kurus, berdiri dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, keringat dingin menetes deras, tapi matanya menyala dengan tekad yang lebih keras daripada batu karang di sekitarnya.

Sejak malam berdarah yang merenggut keluarganya, tanpa terasa sudah tiga tahun ia berdiam di bawah bimbingan Tuan Agung Jin. Dan tiga tahun itu bukan masa yang penuh kenyamanan, melainkan pergulatan tiada henti dengan racun yang bersarang di tubuhnya.

Hari ini, Tuan Agung Jin melemparkan sebatang cabang pohon yang masih segar ke arah muridnya. Liang Shan menangkapnya dengan kedua tangan, meski getaran sakit segera menjalar dari nadinya.

"Jurus kedua," kata sang guru, suaranya dalam dan berat, "Bayangan Sunyi di Balik Hujan."

Liang Shan terdiam dan menunggu penjelasan.

"Jurus ini bukan tentang kekuatan," lanjut Tuan Agung Jin. "Ia adalah gerakan yang datang tanpa suara dan menusuk di saat orang lain tak menduga. Seperti hujan pertama di musim kemarau—tak terlihat, tak terdengar, tapi tiba-tiba membasahi bumi."

Liang Shan menunduk hormat, lalu mulai bergerak. Cabang pohon itu ia ayunkan, tapi gerakannya masih kaku. Tubuhnya gemetar, napasnya tercekat.

"Tidak," suara Tuan Agung Jin menegur. "Kau masih bergerak dengan dendam. Jurus ini bukan tentang dendam. Ulangi!"

Liang Shan menggigit bibirnya. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya, ayahnya, dan suara tawa keluarganya yang kini hanya tinggal ingatan. Tangannya bergerak lagi, kali ini lebih tenang.

Cabang pohon itu berayun tipis, hampir tanpa suara. Sehelai dedaunan jatuh, terbelah dua sebelum menyentuh tanah.

Mata Tuan Agung Jin menyipit, sorotnya mengandung sinar puas meski wajahnya tetap datar.

Malamnya, Liang Shan terbaring di lantai gua batu. Racun di nadinya kembali memberontak. Tubuhnya panas, lalu dingin, lalu panas lagi. Darah hitam menodai bibirnya.

Namun kali ini, ia tidak menangis. Ia menahan sakit itu dengan gigi terkatup rapat, seperti menahan rahasia yang tidak boleh diketahui dunia.

Dalam kepedihan itu, ia mengulang-ulang kalimat gurunya:

"Golok bukan hanya besi. Golok adalah jiwa. Dan jiwa, bila dikuasai dendam semata, akan menjadi tumpul."

Hari-hari berikutnya, latihan Liang Shan berubah. Jurus pertama, Tebasan Luka di Ujung Senja, ia latih dengan penuh rasa pedih, setiap ayunan seperti menorehkan luka di jiwanya.

Jurus kedua, Bayangan Sunyi di Balik Hujan, ia latih dengan tenang, senyap, seakan menjadi kenangan yang tak bisa dihapuskan.

Dua jurus itu menjadi fondasi awal bagi jalan hidupnya. Satu mengingatkan bahwa luka tidak boleh dilupakan, satu lagi menegaskan bahwa serangan paling berbahaya justru datang dari kesunyian.

Suatu pagi, setelah latihan panjang, sang guru berkata pelan, "Liang Shan, racun dalam tubuhmu akan terus ada. Ia adalah kelemahanmu, tapi juga pengingatmu. Dunia persilatan penuh dengan orang yang hanya mengandalkan kekuatan. Kau jangan jadi salah satunya. Racunmu adalah belenggu, tapi belenggu itu bisa menjadi pedang bila kau tahu cara menggunakannya."

Liang Shan menatap gurunya lama, lalu mengangguk. Ia tidak lagi menanyakan kenapa, karena tahu jawabannya hanya bisa ia temukan sendiri, di jalan panjang yang kelak harus ditempuh.

###

Satu musim gugur digantikan musim dingin, lalu musim semi yang singkat sebelum kembali pada musim panas yang terik. Dalam perputaran itu, Liang Shan mulai memahami dua jurus pertama dari Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit.

Namun Tuan Agung Jin tidak pernah memberi waktu untuk beristirahat panjang. Suatu pagi, ketika suara ayam hutan bergaung dari lembah jauh, sang guru berdiri di hadapan Liang Shan dengan sorot mata yang lebih tajam dari biasanya.

"Liang Shan," katanya dengan suara yang dalam, "kau sudah melangkah ke jurus ketiga."

Liang Shan menahan napas. Tangannya yang memegang cabang pohon sedikit bergetar. Tubuhnya masih kurus, tetapi sorot matanya sudah tidak sama seperti tiga tahun lalu. Kini di balik mata itu ada ketenangan yang lahir dari penderitaan panjang.

"Jurus ketiga ini bernama Langkah Terakhir di Jalan Tak Bernama." katanya dengan ekspresi serius.

"Dengarkan baik-baik: dalam kehidupan, ada jalan yang tidak pernah tercatat, tidak punya nama, dan tidak punya arah. Orang yang berjalan di sana hanya bisa memilih terus melangkah, meski tahu ujungnya adalah jurang. Jurus ini mengandung kebingungan dan memaksa lawan tersesat di jalan yang tidak ia kenali."

Latihan jurus ketiga bukan sekadar gerakan. Tuan Agung Jin memaksanya berjalan di tepi jurang yang terjal, setiap langkah harus ringan, namun kokoh.

Angin bertiup kencang, membuat jubah tipisnya terombang-ambing. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat tubuhnya terhempas ke dasar lembah.

"Jurus ini bukan hanya tentang pedang atau golok," kata gurunya dari kejauhan. "Tapi juga tentang langkahmu. Jika kau bisa melangkah di jalan tak bernama tanpa kehilangan keseimbangan, maka kau akan mampu membuat musuhmu kehilangan jejak—bahkan kehilangan dirinya sendiri."

Hari demi hari, Liang Shan berjalan di tepi jurang itu. Kadang angin mendorongnya begitu keras hingga tubuhnya hampir terlempar. Kadang racun di nadinya tiba-tiba bergejolak, membuat penglihatannya kabur, dan kakinya gemetar.

Suatu malam, langit di atas bukit itu gelap pekat. Hujan turun rintik, menambah dingin pada udara. Liang Shan duduk bersila, tubuhnya gemetar hebat karena racun yang memberontak.

Darah hitam kembali keluar dari mulutnya dan menodai tanah basah. Tetapi ia menolak roboh.

Keesokan paginya, ketika kabut belum sepenuhnya sirna, ia kembali ke tepi jurang. Kali ini tidak ragu lagi. Setiap langkahnya ringan, namun pasti.

Angin yang berusaha mendorongnya jatuh justru seakan mengangkat tubuhnya. Racun yang membuat tubuhnya gemetar kini ia jadikan penanda—setiap denyut sakit adalah peringatan bahwa ia masih hidup.

Tuan Agung Jin memperhatikan dengan mata menyipit. Ketika Liang Shan kembali, sang guru mengangguk pelan.

"Kau telah memahami inti jurus ketiga. Ingat, Liang Shan: dunia persilatan bukan hanya tentang siapa yang paling kuat. Kadang, yang paling berbahaya adalah mereka yang mampu membuat orang lain tersesat."

Hari-hari berikutnya penuh dengan tempaan serupa. Jurus demi jurus dipelajari Liang Shan, namun selalu dengan penderitaan yang seolah tak mengenal akhir.

Jurus keempat, Serpihan Dendam di Angin Malam, ia latih dengan tubuh penuh luka, ayunan golok yang cepat dan liar seakan mewakili jiwanya yang terkoyak.

Jurus kelima, Satu Tarikan Nafas, Seribu Penyesalan, ia kuasai dengan meditasi panjang, setiap tarikan napas seperti menanggung ribuan beban yang tidak pernah bisa dilepaskan.

Dan seterusnya. Jurus-jurus itu tidak sekadar gerakan, melainkan bagian dari hidupnya. Setiap kali menguasai satu jurus, seolah ada bagian jiwanya yang terbuka, sekaligus terkunci.

Tahun-tahun berlalu. Dari bocah kurus yang selalu terbatuk darah, Liang Shan kini tumbuh menjadi pemuda yang wajahnya keras ditempa penderitaan.

Tubuhnya tidak sebesar pendekar lain, tapi otot-ototnya terasah kuat dan lentur. Matanya tajam, penuh ketenangan aneh yang hanya bisa lahir dari perjumpaan panjang dengan maut.

Setiap jurus dari Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit ia kuasai satu per satu. Tidak dengan cepat, tapi dengan kepedihan yang menoreh jiwa. Setiap jurus adalah luka, dan setiap luka adalah guru.

Ketika ia akhirnya menguasai jurus ketujuh—Langit Retak, Jiwa Terbelah—Tuan Agung Jin berdiri lama di hadapannya, wajah tua itu terlihat semakin suram.

"Liang Shan," katanya perlahan, "kau telah memikul lebih banyak daripada yang bisa dipikul seorang manusia. Ingatlah, golokmu adalah jalanmu. Tapi jangan biarkan golok itu merobek jiwamu sendiri."

Liang Shan hanya menunduk. Ia tahu gurunya menyimpan banyak rahasia, tapi ia tidak berani bertanya. Pemuda itu hanya tahu satu hal: jalan hidupnya memang tidak punya nama, dan ia harus terus melangkah.

Di malam terakhir tahun kelima belas latihannya, Liang Shan duduk sendirian di tepi tebing seraya menatap bulan purnama yang menggantung di langit.

Tangannya menggenggam Golok Sunyi, satu-satunya peninggalan nyata dari kitab yang sudah ia pelajari.

Kitab itu sendiri—atas perintah Tuan Agung Jin—sudah dibakar hingga menjadi abu, agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Yang tersisa hanyalah ingatan, luka, dan jurus-jurus yang kini menyatu dalam dirinya.

Liang Shan menarik napas panjang. Tapak Racun Sepuluh Ribu Tulang masih ada dan tetap berdenyut di nadinya.

Tapi kini ia tahu: racun itu bukan lagi sekadar kelemahan. Racun itu adalah penanda bahwa ia berbeda dari pendekar mana pun.

Ia mengangkat Golok Sunyi tinggi-tinggi, lalu menurunkannya perlahan. Bayangan jurus-jurus yang telah ia pelajari seakan berkelebat di udara.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!