Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Tinju Pemecah Takdir
Panggung Hidup Mati kini terkurung oleh kubah energi transparan. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada aturan. Hanya satu yang boleh berjalan keluar.
Wang Jian berdiri di satu sisi, pedang pusaka keluarganya, "Bilah Naga Api", menyala terang. Hawa panas yang dipancarkannya membuat udara di arena berdistorsi.
"Li Wei," Wang Jian menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya. "Kau beruntung bisa mengalahkan Luo Gang. Tapi jangan samakan langit dengan sumur. Luo Gang hanyalah batu pijakan. Aku... adalah Puncak Gunung."
Li Wei mencabut Pedang Baja Hitamnya perlahan. Bilahnya yang gelap tidak memantulkan cahaya.
"Banyak bicara," kata Li Wei dingin. "Majulah."
Keangkuhan itu merobek sisa kesabaran Wang Jian.
"MATI!"
Wang Jian menghentakkan kakinya.
[Teknik Pedang: Tarian Naga Api - Tebasan Pertama!]
Tiga ekor naga api terbentuk dari Qi-nya, melesat menerjang Li Wei dari tiga arah berbeda. Panasnya membakar lantai batu hingga menghitam.
Penonton menahan napas. Itu teknik Tingkat Tinggi!
Li Wei tidak mundur. Matanya yang memiliki pupil lima warna berputar.
"Air memadamkan Api."
Li Wei mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran. Qi biru tua elemen Air yang ia serap dari embun pagi di ladangnya memancar keluar.
Srekk!
Pedang Li Wei memotong leher ketiga naga api itu dengan presisi bedah. Api itu padam menjadi asap hitam sebelum sempat menyentuh jubahnya.
"Apa?!" Wang Jian terbelalak.
"Tanah menimbun Api," lanjut Li Wei. Ia melangkah maju, pedangnya berubah berat, diselimuti cahaya kuning. Ia menebas ke bawah.
Wang Jian menangkis dengan panik.
DANG!
Suara logam beradu memekakkan telinga. Wang Jian merasakan lututnya goyah. Berat serangan Li Wei seperti gunung yang runtuh. Pedang pusakanya bergetar hebat di tangannya.
"Bagaimana mungkin?!" batin Wang Jian menjerit. "Dia hanya Lapis 6 Awal! Aku Lapis 6 Puncak! Kenapa tenaganya lebih besar dariku?"
Ia tidak tahu tentang Tubuh Lima Elemen Li Wei yang ditempa oleh Vena Naga. Kualitas Qi dan kepadatan otot Li Wei jauh di atas manusia biasa.
Li Wei tidak memberi napas. Tusukan, tebasan, sapuan. Setiap serangan mengalir lancar, berganti elemen dari Air, Tanah, ke Logam. Wang Jian terdesak mundur langkah demi langkah. Jubah mahalnya mulai sobek di sana-sini.
Di mata ribuan penonton, yang terjadi adalah kemustahilan: Si Pelayan sedang mendominasi Tuan Muda!
"Wang Jian!" teriak Li Wei, suaranya menggelegar. "Inikah kekuatan 'langit' yang kau banggakan? Kau lemah!"
Kata "Lemah" itu menghancurkan mental Wang Jian.
Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol. Dipermalukan di depan seluruh sekte? Di depan Xiao Lan? Di depan para Tetua?
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN KALAH DARI SAMPAH SEPERTIMU!"
Wang Jian melompat mundur. Tangannya merogoh saku tersembunyi di jubahnya dan mengeluarkan sebuah pil berwarna merah darah yang berdenyut seperti jantung hidup.
Pil Pembakar Darah (Blood Burning Pill). Item terlarang yang membakar esensi kehidupan (Lifeblood) pengguna untuk meningkatkan kekuatan secara eksplosif selama 15 menit. Efek samping Penurunan kultivasi permanen atau kematian.
Tapi Wang Jian sudah tidak peduli masa depan. Ia hanya ingin Li Wei mati sekarang.
Ia menelan pil itu.
BOOM!
Ledakan Qi merah darah menyapu arena. Kubah pelindung bergetar.
Kulit Wang Jian berubah menjadi merah tua. Matanya menjadi putih total. Rambutnya berdiri tegak, berubah menjadi lidah api.
Aura kultivasinya meroket. Lapis 6 Puncak... menembus batas...Lapis 7!
"RAAAARGH!"
Wang Jian meraung bukan seperti manusia, tapi seperti iblis.
"SEKARANG SIAPA YANG LEMAH?!"
Wang Jian mengayunkan pedangnya. Kali ini bukan naga api biasa, tapi Gelombang Lautan Api Darah.
Li Wei mengangkat pedangnya untuk menangkis.
Krak!
Pedang Baja Hitam Li Wei... patah.
Senjata tingkat menengah itu tidak kuat menahan panas dan tekanan Qi Lapis 7.
Li Wei terlempar sepuluh meter ke belakang, menabrak dinding energi arena. Darah segar menyembur dari mulutnya. Baju bagian dadanya hangus terbakar, memperlihatkan kulit yang melepuh.
"Hahahaha!" Wang Jian tertawa gila, melayang di udara dengan pijakan api. "Tanpa pedangmu, kau hanyalah daging panggang! Berlututlah! Minta ampun dan aku akan memberimu kematian cepat!"
Penonton terdiam ngeri. Situasi berbalik dalam sekejap. Pil terlarang itu curang, tapi di Panggung Hidup Mati, tidak ada aturan tentang obat-obatan.
Xiao Lan di tribun berdiri, menutup mulutnya, air mata mengalir. "Li Wei..."
Li Wei perlahan bangkit dari puing-puing. Ia menyeka darah di sudut bibirnya. Ia melihat patahan pedangnya di tanah.
"Pedang patah..." gumamnya.
Ia melepaskan gagang pedang yang tersisa di tangannya.
Wang Jian menyeringai. "Menyerah? Bagus."
"Tidak," Li Wei mendongak. Matanya tidak menunjukkan ketakutan. Justru, ada kilatan buas di sana. Kilatan yang sama saat ia membunuh Raja Serigala.
"Aku baru sadar," kata Li Wei, merobek sisa baju atasannya yang hangus, menelanjangi dada bidangnya yang penuh otot padat. "Pedang hanyalah alat. Alat bisa patah. Tapi tubuh yang ditempa oleh Lima Elemen... adalah senjata abadi."
Li Wei mengaktifkan [Sutra Hati Dao Abadi: Fase Penempaan Tulang].
Wuuung...
Tulang-tulang di bawah kulit Li Wei mulai bersinar dengan cahaya keemasan redup. Kulitnya berubah warna menjadi perunggu mengkilap.
"Ayo kita lihat," Li Wei mengepalkan tinjunya. Udara meletup di genggamannya. "Apakah apimu bisa membakar emas?"
Wang Jian meraung marah. "Mati kau dengan kesombonganmu!"
Ia menerjang, pedangnya diselimuti api darah sepanjang lima meter.
Li Wei tidak menghindar. Ia tidak lari. Ia menerjang masuk ke dalam api itu.
"Apa?!" Penonton berteriak.
Tebasan pedang Wang Jian menghantam bahu Li Wei.
TANG!
Bukan suara daging terpotong. Itu suara logam menghantam logam. Kulit perunggu Li Wei tergores, darah menetes sedikit, tapi pedang itu tertahan oleh tulang emasnya!
Wang Jian membelalak ngeri. "M-Mustahil..."
Li Wei, dengan pedang lawan tertanam di bahunya, tersenyum mengerikan. Jarak mereka kini nol.
"Giliranku."
Tangan kanan Li Wei, yang bersinar dengan aura lima warna pekat, menghantam perut Wang Jian.
BUAGH!
Wang Jian memuntahkan darah campur potongan organ dalam. Tubuhnya melengkung seperti udang.
Li Wei tidak membiarkannya terbang. Tangan kirinya mencengkeram wajah Wang Jian, menahannya tetap di tempat.
"Kau membakar darahmu untuk kekuatan?" bisik Li Wei di telinga Wang Jian. "Kalau begitu, biar kupadamkan apimu."
Li Wei menghujani tubuh Wang Jian dengan pukulan jarak dekat. Kiri. Kanan. Kiri.
Setiap pukulan terdengar seperti ledakan meriam. Tulang rusuk Wang Jian hancur. Aura api darahnya berkedip-kedip, mulai padam karena dihajar oleh Qi murni Li Wei yang brutal.
Wang Jian mencoba membalas, tapi dia adalah tipe jarak jauh. Dalam jarak seperti ini, dia tidak berdaya melawan monster fisik seperti Li Wei.
"Lepas... kan..." Wang Jian merintih, matanya mulai kembali normal karena efek obatnya habis dipukuli.
Li Wei berhenti. Ia memegang leher Wang Jian dengan satu tangan, mengangkatnya ke udara seperti mengangkat ayam. Wang Jian menggantung tak berdaya, kakinya menendang-nendang udara.
Arena sunyi senyap. Darah menetes dari tubuh Li Wei dan Wang Jian, membentuk kolam merah di lantai.
"Taruhan kita," kata Li Wei dingin, suaranya bergema ke seluruh stadion. "Adalah menghancurkan Dantian."
Mata Wang Jian melebar ketakutan. "Tunggu... Ayahku adalah Tetua Wang! Jika kau melakukannya, Klan Wang akan..."
"Klan Wang tidak bisa menyelamatkanmu di sini," potong Li Wei.
Li Wei menarik tangan kanannya ke belakang. Kelima jarinya membentuk cakar, memusatkan seluruh Qi Lima Elemen ke satu titik.
"Ini untuk Luo Gang. Ini untuk semua murid miskin yang kau injak."
Dan dalam hatinya: Ini peringatan untuk siapa saja yang ingin menghalangi jalanku.
BAM!
Tinju Li Wei menghantam perut bawah Wang Jian.
Tidak ada ledakan besar. Hanya suara retak yang sangat, sangat menyakitkan. Seperti suara vas porselen yang diremukkan perlahan.
"AAAAAARGGGHHHH!!!"
Jeritan Wang Jian begitu memilukan hingga beberapa penonton menutup telinga.
Aura kultivasi Wang Jian bocor keluar dari tubuhnya seperti balon kempes. Lapis 7... Lapis 6... Lapis 3... Lapis 1... Mortal.
Dalam satu detik, Wang Jian berubah dari kultivator jenius menjadi orang cacat biasa. Dantian-nya hancur total. Dia tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya.
Li Wei melepaskan cengkeramannya.
Tubuh Wang Jian jatuh lemas ke lantai, pingsan karena syok.
Li Wei berdiri tegak di samping tubuh musuhnya yang hancur. Napasnya berat, tubuhnya penuh luka bakar dan sayatan, tapi ia berdiri kokoh seperti pilar langit.
Wasit gemetar saat mengangkat tangan.
"Pemenang... Li Wei!"
Sorakan tidak langsung terdengar. Orang-orang terlalu takut. Mereka baru saja menyaksikan kelahiran monster baru. Seorang monster yang menghancurkan jenius dengan tangan kosong.
Li Wei menatap ke tribun utama, tepat ke arah Tetua Puncak Pedang Api yang menatapnya dengan kebencian mendalam.
Li Wei tidak takut.
Hari ini, dia telah membuktikan bahwa takdir bisa diubah dengan darah dan tinju.
Pandangannya mulai kabur. Efek adrenalin habis. Li Wei terhuyung.
Sebelum ia jatuh, sesosok tubuh ramping melompat ke panggung dan menangkapnya. Aroma herbal yang lembut menyapa hidungnya.
"Aku di sini," bisik Xiao Lan sambil menangis, memeluk tubuh Li Wei yang berlumuran darah.
Li Wei tersenyum tipis dan membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya.