Pernikahan 2 anak kembar Raffa dan Kayla harus segera dilaksanakan, karena mereka sudah tidak sabar meminang putri dari sahabat mereka.
Raffa dan Kayla tidak ingin putri dari sahabatnya itu jatuh ke tangan pria yang lain.
Apakah mereka dapat membuat kedua putra kembarnya bahagia dengan pernikahan yang telah mereka rencanakan?
lanjut baca kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah itu, Kania meletakkan piring yang sudah berisi makanan di hadapan sang suami.
Sebelum dia mengambil nasi untuk dirinya, Kania mengambil gelas lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas tersebut, tidak lupa dia melakukan hal yang sebelumnya dilakukannya.
"Ayo, makan!" seru Kania setelah dia mengambil nasi dan lauk untuk dirinya.
Sepasang suami istri itu kini mulai menyantap makan malam mereka dengan lahap.
"Sayang, kamu mau nambah?" tanya Kania saat melihat nasi di piring Raja tinggal sedikit lagi.
Raja menoleh ke arah sang istri, dia masih merasa canggung dengan kata-kata yang diucapkan oleh istrinya.
Dia melihat wanita yang di sampingnya mengucapkan kata-kata itu dengan tulus.
Kini mata Raja menatap wajah cantik sang istri, wanita anggun itu semakin terlihat bersahaja dengan hijab simple yang dikenakannya.
Wajahnya yang diberi make up natural membuat aura kecantikan terpancar jelas dari wajah cantik Kania.
Kania juga menatap wajah tampan sang suami.
Wajah yang selalu dibayangkan Kania beberapa tahun terakhir, meskipun orangnya berbeda.
Mereka memang sangat mirip, tidak semua orang yang bisa membedakan mereka karena kembar identik.
"Sayang," lirih. Kania.
Suara Kania menyadarkan Raja membayangkan wajah cantik serta lekuk tubuh indah sang istri yang sudah pernah dilihatnya.
"Eh, ada apa?" tanya Raja gelagapan.
Tubuh indah istrinya kini terus saja bermain-main di benaknya.
"Kamu mau nambah enggak, Sayang?" tanya Kania pada Raja.
"Mhm, eng-enggak," jawab Raja.
"Oh," lirih Kania.
Setelah selesai makan, mereka berpindah ke ruang keluarga. Kania masih saja menempel dengan suaminya itu.
Di sana mereka menonton TV berdua, Raja memilih siaran berita agar dia tahu berita terbaru.
"Whoaam." Kania menguap karena mengantuk.
"Sayang," lirih Kania di telinga sang suami yang masih asyik menonton.
Raja menoleh ke arah istrinya.
"Aku sudah ngantuk," ujar Kania pada Raja memberitahukan pada sang suami bahwa dia ingin tidur.
"Ya sudah kamu tidur duluan saja, aku masih asyik nonton. Tanggung beritanya sebentar lagi habis," ujar Raja.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidur di sini saja," ujar Kania.
Kania merebahkan kepalanya di atas paha Raja, dia membaringkan tubuhnya di sofa.
Sontak Raja kaget dengan apa yang dilakukan oleh sang istri.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Raja pada Kania.
"Aku akan tidur di sini sambil menunggu kamu selesai menontonnya," jawab Kania santai.
Setelah itu Kania memejamkan matanya, dia pura-pura tertidur dan tunggu reaksi dari Raja.
Raja malah bingung, saat ini dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Mhm, ka-kamu tidur di ka-kamar saja jangan di sini," ujar Raja gugup.
Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdetak dengan kencang.
"Aku tidak mau ke kamar sendirian, aku mau bersama suamiku," ujar Kania membantah Raja.
"Astaghfirullah hal 'azhim," gumam Raja sambil mengusap wajahnya yang kini sudah berubah merah.
Kania dapat melihat dengan jelas, dia melirik Raja secara diam-diam.
Dia tersenyum di dalam hati.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar," ajak Raja.
Raja pun mematikan TV yang menyala, lalu mereka pun melangkah menuju kamar mereka dengan tangan Raja masih saja digandeng oleh Kania.
Saat berada di dalam kamar, perlahan Kania membuka hijabnya, dia membiarkan Raja melihat mahkotanya tergerai indah.
Mata Raja membulat saat melihat sang istri mulai memperlihatkan auratnya padanya.
Kania melangkah menuju lemari lalu mengambil sebuah piyama.
"Aku mau mengganti pakaian dulu sekaligus berwudhu, kita bersiap-siap untuk shalat isya bersama," ujar Kania.
Kania mengabaikan reaksi Raja yang terlihat jelas terpesona dengan rambut hitam miliknya tergerai indah.
Kania mengganti gamis yang dikenakannya dengan sebuah piyama lengan panjang dan celana panjang.
"Aku gerah, beberapa hari ini tidur pakai gamis," ujar Kania saat melintasi Raja yang masih tidak percaya melihat Kania dengan percaya diri membiarkan mata Raja menikmati keindahan aurat wanita itu.
"Sayang, berwudhulah, ayo kita shalat," ujar Kania sambil menyenggol lengan Raja.
Raja pun tersadar dari lamunannya, benaknya kini terisi dengan bayang-bayang tubuh indah sang istri yang dilihatnya tadi pagi.
Akhirnya dia pun melangkah menuju kamar mandi dan berwudhu.
Setelah shalat, mereka membaringkan tubuh mereka di atas tempat tidur.
Raja langsung mengambil sebuah guling lalu memeluk guling itu, dia membelakangi istrinya.
Kania tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Raja, dia pun memejamkan matanya.
****
Malam semakin larut, Raju sudah tertidur lelap di atas sofa yang ada di kamar Kanaya.
Kanaya kini tengah berbaring di atas tempat tidur, dia menatap ke langit-langit kamar.
Saat ini dia mengingat apa yang dikatakan ibunya, dia juga mengingat rencana Raja yang akan memperjuangkan cinta mereka.
Dia tidak bisa mengikuti apa yang disarankan oleh Ibunya untuk saling mengucapkan sayang pada pasangannya.
"Apakah aku harus menyusun kesepakatan dengan Raju, agar kedua orang tuanya tidak kecewa melihat kekakuan yang terlihat jelas di antara aku dan Raju?" gumam Kanaya di dalam hati.
Dia kini tengah berpikir di dalam hati, bagaimana cara lepas dari pernikahan ini tanpa melukai hati kedua orang tuanya.
Jika Raju yang menolak pernikahan ini maka, dia tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya karena Raju yang bermasalah.
"Entahlah, bagaimana cara aku membuat pria itu menolak pernikahan ini di hadapan kedua orang tuanya. Maunya dia yang meminta berpisah bukan aku," gumam Kanaya terus saja berpikir.
"Aaaaaaaa," teriak Kanaya kesal
Kanaya stress memikirkan semua ini, wajah tampan Raja terus terbayang di benaknya, janji-janji dari pria yang dicintainya itu selalu membuat dirinya yakin bahwa dia bisa lepas dari pernikahan tersebut.
Raju terbangun mendengar teriakan Kanaya.
Dia duduk lalu menoleh ke arah Kanaya yang kini masih terbaring di atas tempat tidur.
Dia melangkah lalu menghampiri Kanaya yang kini menutup wajahnya dengan selimut.
"Apa yang terjadi kenapa kamu berteriak?" tanya Raju datar pada istrinya.
Kanaya mendelikkan matanya, dia kaget saat melihat sang suami sudah berdiri tepat di samping tempat tidur.
"Astaghfirullahaladzim, kamu ngapain di sini?" tanya Kanaya kesal.
"Ada apa dia teriak-teriak di tengah malam seperti ini? kelihatannya dia baik-baik saja," gumam Raju di dalam hati.
Raju mengabaikan pertanyaan dari istrinya, dia pun melangkah menuju kamar mandi.
"Ada apa sih dengan dia? Aneh bin ajaib dasar beruang kutub. Enggak capek apa bersikap dingin seperti itu sama aku?" gerutu Kanaya setelah suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi.
Dia tidak menyangka akan menikah dengan pria sekaku dan sedingin Raju.
"Huhft, daripada aku pusing memikirkannya lebih baik aku tidur," gumam Kanaya.
Bersambung...
udh nunggu lama ini