Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJENGUK RISA BERSAMA DUA SAHABATKU
Siang harinya, aku berniat untuk segera menjenguk Risa. Kebetulan hari ini adalah hari minggu. Jadi kegiatan mengajar ngaji anak-anak di pendopo Ustadz Furqon libur.
"Pak, aku mau keluar dulu ya." kataku kepada bapak yang sedang bersantai minum kopi di teras rumah.
"Mau kemana?"
"Mau jengukin Risa Pak. Di sakit katanya. Udah tiga hari."
"Risa yang jual sayur itu?"
"Iya Pak."
"Oh, ya udah... Dimana emang rumahnya?"
"Di Desa Cagrag Pak. Gang Gotong Royong."
"Wah, agak lumayan jauh itu. Sendirian ke sana?"
"Gak sih Pak, aku juga mau ajak Dinda sama Ningrum. Mereka kan punya motor masing-masing. Ya sekalian ajak mereka jalan-jalan aja deh..."
"Oh gitu, ya udah..."
Aku berpamitan sama bapak, dan segera berjalan kaki menuju ke rumah Dinda terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah Dinda...
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." dinda tampak sedang bersantai juga di terasnya.
"Wiiih... Tumben nih, rapi banget. Mau kemana Nis?"
"Aku mau ajak kamu jalan keluar yuk... Lagi gak sibuk kan?"
"Waaah... Tumben... Ajak aku keluar. Mau kemana emang? Aku juga lagi gak sibuk kok."
"Ada deh... Yuk... Sekalian aku bonceng di motor kamu ya."
"Oke deh... Sebentar ya, aku izin sama Bapak Ibu dulu."
"Iya..."
Dinda segera masuk ke dalan rumah. Meminta izin pada kedua orang tuanya. Dan juga dia bersiap-siap untuk aku ajak keluar.
Beberapa saat kemudian, Dinda sudah siap. Dan segera menyalakan motor milik bapaknya itu.
Sebelum aku naik, aku berkata...
"Din, ke rumah Ningrum dulu ya."
"Mau ajak dia juga Nis?"
"Iya dong. Kasian. Masa cuma kita berdua aja yang jalan keluar."
"Okeee... Naik lah."
Aku segera naik, dan Dinda tancap gas menuju rumah Ningrum dulu.
Alhamdulillahnya, Ningrum juga sedang ada di rumah, dan juga sedang tak sibuk. Dengan segera dia juga bersiap dan minta izin kepada kedua orang tuanya. Sama-sama membawa motor milik bapaknya seperti Dinda.
Akhirnya kami bertiga segera tancap gas. Mereka berdua pun sudah tahu dimana Gang Gotong Royong itu saat kujelaskan maksudku mengajak mereka berdua siang ini.
Setelah hampir lima belas menit perjalanan menggunakan sepeda motor, sesampainya di jalan gang itu, aku meminta Dinda berhenti dulu sebentar tepat di depan sebuah pos ronda.
"Din, Din, berhenti dulu, aku mau tanya alamatnya si Risa."
Dinda berhenti, dan Ningrum juga berhenti di depannya. Aku segera turun. Bertanya kepada tiga orang bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol di sana.
"Assalamu'alaikum... Permisi Pak..."
"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka berbarengan.
"Maaf Pak, mau tanya, kenal yang namanya Risa gak Pak?"
"Risa? Risa siapa ya?" tanya salah satu di antaranya.
"Em... Risa yang dagang sayur di pasar Pak." jawabku.
"Risa yang dagang sayur?" mereka bertiga tampak saling pandang.
"Iya Pak, yang jaga lapak sayur di pasar itu Pak."
"Wah, kalo itu saya gak tau Mbak..." jawab salah satunya yang sedang duduk.
"Oh, gak kenal ya Pak?"
"Iya... Kalo Risa yang lain saya kenal. Itu yang jadi janda montok." jawab si bapak yang berdiri dekat tiang pos ronda.
"Yeeeh... Dasar kamu! Janda aja terus yang diinget!" jawab salah satunya lagi sambil menepuk pundaknya.
"Coba aja Mbak tanya orang lain. Emang alamatnya di sini orang yang Mbak cari?"
"Iya Pak, katanya alamatnya ya di Gang Gotong Royong ini."
"Oh gitu, coba aja Mbak jalan lagi, lurus terus, nanti ada pos lagi di ujung pertigaan sana. Tanya aja. Siapa tau di sana ada yang kenal."
"Oh, iya Pak, terima kasih ya Pak... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Aku kembali baik ke motor Dinda. Dan segera berjalan lagi mengikuti alur jalan gang ini.
"Gak ada yang kenal tadi mereka Nis?" tanya Dinda sambil terus menjalankan motornya. Ningrum tampak mengikuti dari belakang.
"Gak ada Din."
"Lah, gimana sih? Kata kamu alamatnya di sini, masa gak ada yang kenal?"
"Ya bisa aja kan emang gak kenal."
Kami bertiga terus mengikut alur jalan. Sampai beberapa waktu kemudian, sampailah kami di pos ronda kedua, tepat berada di pinggir petigaan jalan desa.
Di sana tampak ada seorang Kakek-kakek yang sedang beristirahat. Kembali ku pinta Dinda dan Ningrum untuk berhenti. Aku turun.
"Assalamu'alaikum... Kakek, permisi, numpang tanya..."
"Wa'alaikumsalam... Iya Dek?"
"Kakek kenal yang namanya Risa gak?"
"Risa mana ya Dek? Di sini banyak yang namanya Risa soalnya."
"Risa yang dagang sayur di pasar Kek, masih muda orangnya."
"Oooh... Risa yang anak sepupunya Pak Yono ya?"
"Nah... Iya Kek, betul... Alamat rumahnya di sebelah mana ya Kek?"
Akhirnya aku merasa lega karena si Kakek mengenal Risa yang kumaksud.
"Dari sini, Adek jalan terus ke kanan, lurus sampe mentok lagi pertigaan. Adek ambil ke sebelah kiri. Nah habis itu, ikutin aja terus jalannya sampe ke area kebun jati."
Aku mencoba mengingat semua arahan si Kakek.
"Nah nanti pas udah sampe di area kebun jati, ada jalan setapak ke sebelah kiri. Lurus aja, rumahnya ada paling ujung dia."
"Oooh... Iya Kek. Terima kasih ya Kek."
"Iya, sama-sama Dek."
Aku hendak menuju ke motor Dinda, tapi terhenti langkahku saat si Kakek kembali bertanya,
"Adek temannya Risa bukan?"
"Eh, iya Kek, saya temannya. Biasa belanja sama dia di pasar."
"Oh gitu... Pasti mau jenguk ya?"
"Iya Kek. Betul."
"Iya deh, kasian dia. Udah sakit gak normal tiga hari."
Seketika ucapan Kakek itu membuatku agak bingung. Aku menatap ke arah Dinda dan Ningrum yang juga sama terlihat bingung.
"Maksudnya sakit gak normal gimana Kek?"
"Ya nanti juga tau Dek." jawab si Kakek singkat. Seolah menyuruhku untuk melihat sendiri kondisi Risa itu.
"Ya sudah Kek, kami lanjut dulu ya. Terima kasih Kek... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Kami bertiga segera lanjutkan perjalan mengikuti arahan si Kakek tersebut.
Selama di jalan itu, Dinda berkata,
"Nis, tadi maksud si Kakek itu apa ya?"
"Yang mana?"
"Itu yang tadi dia bilang sakit gak normal..."
"Ya mana aku tau Din, kita aja belom sampe rumahnya." jawabku.
Selang beberapa saat, mengikuti arahan jalan si Kakek, sampailah kami di jalan setapak di tengah kebun jati yang dimaksud oleh si Kakek tadi.
Kami bertiga menyusuri jalan setapak itu, di kanan dan kirinya penuh pohon jati yang sudah lumayan besar-besar dan tinggi.
Membuat sinar terik matahari siang ini menjadi terhalang, dan lumayan teduh. Tak merasa panas seperti sebelumnya.
Dan benar ternyata si Kakek, diujung jalan itu, ada sebuah rumah sederhana.
Aku semakin yakin bahwa itu adalah rumah Risa, karena aku melihat sebuah motor terparkir di samping rumah. Motor yang sama persis di bawa oleh Risa saat main ke rumahku malam itu. Helmnya sama. Dan plat nomornya pun sama persis.
Kami bertiga berhenti. Dan segera turun, menaruh helm masing-masing.
Dari dalam rumah, keluar seorang ibu-ibu paruh baya. Sepertinya itu adalah ibunya Risa.
"Assalamu'alaikum... Permisi Bu... Ini rumahnya Risa?"
"Wa'alaikumsalam... Iya bener..."
"Saya Nisa Bu, dan ini sahabat saya, Dinda sama Ningrum." kami bertiga pun salaman dengan si ibu.
"Oh... Ini Dek Nisa yang bawa pulang anak hilang itu bukan? Yang katanya diculik jin?"
Sontak aku langsung menatap ke arah si ibu, bertukar pandang dengan Dinda dan Ningrum juga.
Lalu Dinda tanpa basa-basi, langsung menjawab, "Iya Bu, bener. Yang bisa liat alam ghoib juga Bu."
"Heh! Ngawur kamu kalo ngomong!" responku sambil sedikit berbisik dan menepuk tangan Dinda pelan.