Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan 2
"Naik ke mobilku, Emma. Ngapain mau ikut sama si duda tua itu? Mobilnya juga bau itu," seru Luis saat melihat Emma akan masuk ke dalam mobil Kakek Regan.
Emma tampak bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan sedari tadi ia hanya diam, begitu juga dengan Aiko. Bocah cilik itu sudah mengantuk dan enggan mengomentari perdebatan yang terjadi. Kepalanya sudah bersandar pada bahu kokoh Kakek Regan.
Sedangkan Luis masih tak terima jika Emma dan Aiko ikut mobil milik Kakek Regan. Ada rasa cemburu yang tak bisa ia jelaskan saat ini. Namun ia enggan mengakuinya kalau sudah tertarik pada janda anak satu itu. Rasanya Luis tidak bisa jauh dari Aiko dan Emma. Kakek Regan tersenyum sinis melihat raut wajah kesal dari Luis.
"Walaupun duda tua begini juga masih perkasa dan mampu menghidupi istri muda kalau Emma mau," ucap Kakek Regan dengan santainya malah membuat Luis semakin kepanasan.
"Kakek, jangan bercanda ya. Pokoknya Em..."
"Aku dan Aiko akan pulang bersama Tuan Kim saja. Kasihan Aiko, dia sudah mengantuk. Jika Tuan-Tuan ingin lanjut berdebat, kami tidak mau mengganggu." sela Emma saat mendengar perdebatan antara Luis dan Kakek Regan tidak selesai-selesai.
"Tidak boleh," seru Kakek Regan dan Luis secara bersamaan.
"Perasaanku kok nggak enak begini ya? Sepertinya sebentar lagi aku akan dikirim ke kutub utara sama si bos gara-gara Nona Emma mau pulang dengan mobilku," gumam Kim sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bahkan kini tatapan tajam Kakek Regan dan Luis tertuju pada Kim. Ketua pengawal Luis itu tak menyangka jika kini dianggap saingan oleh dua anggota keluarga Gena itu. Padahal ia tak bersalah sama sekali. Ini murni dari Emma yang ingin pulang bersamanya. Terus apa salah dirinya? Kok langsung dipelototi oleh dua bosnya ini.
"Baik lah, kalau begitu aku naik taksi saja." ucap Emma yang langsung mengambil Aiko dari gendongan Kakek Regan.
"Aiko sedali tadi pusing. Dilempal-lempal mulu kaya balang. Pada ndak ikhlas ini gendong Aiko," ucap Aiko dengan pelan.
"Iya, soalnya kamu berat." bisik Emma tepat pada telinga Aiko sambil terkekeh geli.
"Pulang sama aku aja sini. Gratis, nggak usah bayar taksi." ucap Luis tiba-tiba yang langsung menarik tangan Emma.
"Dasar cucu nggak ada akhlak. Enak saja main bawa anak orang," seru Kakek Regan yang kesal karena tidak jadi membawa Emma dan Aiko pergi bersamanya.
"Bodo amat. Sama yang lebih muda harus mengalah. Sudah tua juga, masih mau bawa daun muda." seru Luis yang kini meledek Kakek Regan dengan menjulurkan lidahnya.
"Dasar kekanak-kanakan," gumam Kakek Regan yang kemudian memilih masuk ke dalam mobilnya.
Namun Kakek Regan diam-diam tersenyum setelah bisa berinteraksi hangat dengan Luis. Hubungan Kakek Regan dan Luis sempat renggang karena pria tua itu menuntut cucunya segera menikah. Namun Luis yang tak suka diatur-atur memilih untuk menjaga jarak.
"Hubungan keluarga ini harus semakin erat dan harmonis. Jangan sampai renggang hanya karena masalah tidak jelas," gumam Kakek Regan sambil menghela nafasnya pelan.
***
"Papa, jadinya gimana ini? Warisan itu akan segera dibagikan, namun Luis belum punya pasangan." ucap Mama Lea memberitahu suaminya agar melakukan sesuatu.
"Terserah Luis saja. Papa yakin kalau sebenarnya dia itu sudah mengincar seorang perempuan untuk jadi pendamping hidupnya," ucap Papa Lucas dengan santainya.
Papa Lucas tak mau ikut campur mengenai pendamping hidup Luis. Jika memang anaknya satu itu tidak mendapatkan warisan dari Kakeknya, ia tak masalah. Baginya, yang penting kebahagiaan Luis. Tidak lupa jika dia juga punya kekayaan sendiri untuk diwariskan pada anaknya.
"Luis itu suka sama janda, Pa. Mama tidak akan membiarkan itu terjadi," seru Mama Lea tiba-tiba.
"Janda? Jadi Mama tahu kalau Luis punya calon istri dan dia seorang janda? Kemarin waktu Papa tanya, Mama bilang nggak tahu lho." seru Papa Lucas yang terkejut dengan ucapan istrinya.
Eh...
Mama Lea merutuki bibirnya yang asal bicara itu. Alhasil dia keceplosan dan membuat Papa Lucas curiga dengannya. "Ini hanya ucapan asal dari yang kemarin Papa bilang itu,"
"Mama tuh kebanyakan alasan," ucap Papa Lucas dengan tatapan sinisnya.
"Ingat ya, Ma. Papa paling tidak suka dengan kebohongan. Sekecil apapun kebohongan itu, Papa tak akan segan memberi pelajaran." lanjutnya memberikan ancaman.
Deg...
"Apa sih, Pa? Emang Mama nggak tahu kok. Kan kemarin yang menduga Luis suka sama janda itu Papa, makanya Mama jadi ikut-ikutan." ucap Mama Lea mencoba menutupi kegugupannya.
"Ya,"
Papa Lucas memilih pergi karena malas untuk berdebat. Lagi pula orang suruhannya sedang mencari banyak informasi tentang istrinya ini. Ia yakin kalau istrinya itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Aku tahu Papa pasti akan memata-matai Mama. Tapi akan Mama pastikan kalau Papa tidak akan pernah mendapat apapun. Aku juga harus gerak cepat agar sekretaris Luis itu ditendang dari perusahaan," gumam Mama Lea yang saat ini begitu was-was dengan sekitarnya.
***
Emma...
Gimana kencannya sama si kaum rainbow itu?
Baru saja Emma membuka pintu rumahnya, Celine langsung menodongnya dengan pertanyaan menyebalkan. Beruntung Luis langsung pergi setelah mendapatkan telfon dari Kakek Regan. Sehingga Luis tidak mendengar seruan dari Celine itu.
"Bibilna Tante Celine minta dijahit itu, Ma. Belisik sekali," ucap Aiko yang terbangun karena mendengar seruan dari Celine.
"Iya, nanti kita beli benang jahit buat menjahit bibirnya Tante Celine." ucap Emma menyetujui keinginan dari Aiko.
"Sembarangan. Bibir seksi ini masa mau dijahit. Ntar kalau ci..."
"Celine, kalau ngomong disaring dulu. Ada anak kecil di sini," sela Emma membuat Celine seketika bungkam.
Celine tak mau Emma memarahinya sehingga memilih diam dahulu. Sedangkan Aiko sudah memberi kode pada Celine kalau nanti akan menceritakan kejadian hari ini. Celine menganggukkan kepalanya mengerti. Celine pasti akan mendapatkan informasi karena sudah mengajari Aiko bagaimana bergosip.
"Aiko mau langsung ke kamar atau gimana? Mama mau mandi dan istirahat di kamar," tanya Emma pada Aiko yang berada di dalam gendongannya.
"Aiko mau nonton pololo, Mama." jawab Aiko membuat Emma membawa anaknya ke ruang keluarga.
"Kalau begitu, Mama ke kamar dulu." ucap Emma setelah membawa Aiko duduk di sofa ruang keluarga. Emma pun pergi meninggalkan Aiko dan Celine di sana.
Mama dilebutkan sama dua olang cowok. Om bos dan Kakek donatul utama,
Kakek donatur utama? Siapa?
Kakekna Om bos, sudah putih lambutna tapi kaya laya. Lebih kaya dali Om bos,
Apa? Kakek-Kakek? Mamamu direbutkan dua orang cowok?
Celine, jangan racuni pikiran polos anakku.
Ups...
Enggak kok. Ini lagi cerita pororo,
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂
Cie Luis berharap jadi pasangan suami istri 🤭