NovelToon NovelToon
Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Aku Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Anime / Harem / Action / Romantis / Fantasi
Popularitas:544
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Begitu Wakasa tiba di penginapan,cahaya lampu hangat menyinari lobi kecil yang sunyi. Aroma teh herbal masih tercium samar.

“Oh, Wakasa… akhirnya pulang juga,” sapa Ibu Russi, pemilik penginapan, dengan wajah lega. “Kau pergi dua hari penuh. aku mulai khawatir, tahu?”

Wakasa menunduk sopan.

“Maaf membuat mu cemas.”

Ibu Russi menyilangkan tangan, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.

“Kau selalu bilang begitu,” katanya setengah mengomel, setengah lega. “Setidaknya kau masih berdiri di sini.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Wakasa tenang.

Ibu Russi menghela napas, lalu tersenyum lembut.

“Syukurlah. Apa kau sudah makan.”

“eeem aku sudah makan , kalo begitu aku ke kamar ku dulu ya.”

Ibu Russi mengangguk pelan.

“Baiklah. Istirahat yang cukup ya.”

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Wakasa langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Kasur itu berderit pelan menahan berat tubuhnya.

“Hah… sangat melelahkan,” ucapnya lirih sambil menatap langit-langit kamar.

Tangannya terlipat di atas dada, napasnya perlahan mulai teratur.

“Kira-kira… bagaimana kondisi Fenrir itu.”

Kelopak matanya menutup perlahan.

Kesadarannya tenggelam, suara dunia nyata menjauh, digantikan oleh keheningan yang dalam. Saat ia membuka mata kembali, Wakasa sudah berdiri di sebuah ruang luas tanpa batas—hamparan kabut gelap, tanah hitam seperti obsidian, dan langit merah keabu-abuan yang berdenyut pelan.

Di hadapannya, sebuah sosok raksasa perlahan muncul.

Tiga kepala serigala dengan mata menyala biru pucat menatapnya dari kegelapan.

Fenrir.

“Ada apa Kau kemari, Wakasa.”

Suara itu menggema dari segala arah, berat dan penuh tekanan.

Wakasa berdiri tenang, meski aura di sekeliling Fenrir begitu menekan.

“Ya. Aku hanya ingin memastikan kondisimu.”

Salah satu kepala Fenrir menyeringai tipis.

“Kau khawatir pada monster yang kau segel? Menarik.”

“Aku bertanggung jawab atasmu,” jawab Wakasa datar.

Kepala kedua mendekat, tatapannya tajam.

“Dua hari kau bertarung tanpa henti. Aura manusia di tubuhmu menipis.”

“Namun kau masih bisa merasakannya,” balas Wakasa.

Fenrir tertawa rendah, membuat kabut bergetar.

“Segel milikmu kuat… untuk saat ini. Tapi aku juga merasakan sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

Kepala ketiga menatap langsung ke mata Wakasa.

“Keraguan. Dan kelelahan.”

Wakasa terdiam sejenak.

“…Mungkin.”

“Kau menahan dirimu terlalu keras. Bahkan bagi seseorang sepertimu.”

Wakasa menghela napas pelan.

“Jika aku lengah, pasti terjadi sesuatu kepada mereka berdua.”

Fenrir mendengus.

“Kau berbeda dari manusia lain. Kau bertarung bukan karena haus darah… tapi karena beban.”

“Dan kau berbeda dari monster lain,” balas Wakasa pelan. “Kau tidak mencoba menghancurkan segalanya.

Keheningan sesaat menyelimuti ruang bawah sadar itu.

“Aku terikat pada kehendak mu,” ucap Fenrir akhirnya. “Selama kau tidak runtuh, aku pun akan terkendali.”

Wakasa menatap sosok raksasa itu tanpa gentar.

“Kalau begitu… tetaplah seperti ini. Aku belum berniat memanggil mu”

Fenrir tersenyum samar—senyum yang lebih hangat.

“Beristirahatlah, Wakasa. Jika kau jatuh… dunia ini akan lebih berisik dari Spinokiller.”

Wakasa menutup matanya sekali lagi.

“Selamat malam, Fenrir.”

Kabut mulai menelan segalanya.

Wakasa membuka matanya sepenuhnya. Cahaya pagi sudah memenuhi kamar. Ia menghela napas pelan lalu bergumam sendiri.

“Aku belum benar-benar mengecek statusku… seharusnya ada sedikit perubahan.”

Matanya kembali berkilat halus saat sistem dipanggil.

“Status.”

Panel transparan muncul perlahan di hadapannya.

Penghilang Keberadaan 100/100 (MAX)

Deteksi Sihir 60/100 (+10)

Wakasa menyipitkan mata sedikit.

“…Naik.”

Pandangan Wakasa turun ke bagian bawah panel, lalu alisnya terangkat tipis.

“Tunggu dulu… ada skill baru lagi?”

Ia membaca ulang dengan saksama.

7 Pedang Dewa

Menembus Objek

Wakasa mengangkat tangannya, memegang dagunya sambil berpikir.

“…Nama yang merepotkan.”

Ia tidak merasakan dorongan berbahaya, tidak juga beban aneh. Skill itu terasa diam—seperti pedang yang masih bersarung.

“Ah… biarlah,” ucapnya akhirnya. “Aku akan mencobanya nanti.”

Panel status menghilang. Wakasa bangkit, merapikan pakaiannya, lalu membuka pintu kamar dan menuruni tangga kayu menuju lantai bawah.

Di bawah, Ibu Russi sedang merapikan beberapa barang di meja . Begitu melihat Wakasa, ia langsung menoleh.

“Oh? Selamat pagi,” katanya sambil tersenyum. “Kupikir kau akan tidur lebih lama setelah dua hari misi.”

Wakasa mengangguk sopan.

“Tubuhku sudah cukup pulih.”

Ibu Russi menatapnya sebentar, lalu tertawa kecil.

“Kau ini selalu terlalu serius. Hari ini kau tidak pergi misi, kan?”

“Tidak,” jawab Wakasa. “Hari ini aku ingin berjalan-jalan di ibu kota.”

“Oh?” Ibu Russi tampak senang. “Baguslah. Sesekali kau perlu bersantai.”

Wakasa tersenyum tipis.

Setelah percakapan itu ia pamit ke ibu Russi untuk pergi.

“Kalo begitu aku pergi dulu.”

Ibu itu melambaikan tangan ringan sambil tersenyum.

Wakasa berjalan santai menyusuri alun-alun kota. Suasana ramai namun hangat, suara pedagang bercampur tawa warga membuat hatinya terasa ringan. Matanya bergerak dari satu toko ke toko lain, senyum kecil terukir tanpa ia sadari.

Langkahnya berhenti di sebuah toko kecil yang dipenuhi botol-botol ramuan.

“Permisi.”

Seorang penjual berusia paruh baya langsung mendekat.

“Selamat datang, Tuan Wakasa.”

Wakasa sedikit terkejut.

“E-eh? Kau tahu namaku?”

“Tentu saja,” jawab penjual itu sambil tersenyum. “Banyak petualang yang beli ramuan di sini sering membicarakan mu.”

“Eeem… begitu ya,” Wakasa mengangguk pelan, sedikit malu.

“Jadi, ada yang bisa saya bantu?”

“Aku belum tahu mau beli apa.”

Penjual itu mengambil sebuah botol kecil berisi cairan hijau.

“Kalau begitu, bagaimana dengan ramuan ini? Bisa menyembuhkan luka ringan. Cukup berguna untuk perjalanan.”

Wakasa menatap botol itu sebentar.

“Sepertinya… bakal kepakai,” gumamnya.

Tak lama kemudian, Wakasa membayar lalu keluar dari toko.

“Terima kasih sudah mampir.”

Baru beberapa langkah berjalan, pandangan Wakasa tertuju pada sosok yang familiar. Starla sedang memilih buah di sebuah lapak, wajahnya tampak serius tapi tetap lembut.

“Starla?”

Starla menoleh dan tersenyum.

“Ah, Wakasa-kun.”

“Kau belanja juga?” tanya Wakasa.

“Iya, beli buah buat persiapan nanti,” jawab Starla sambil mengangkat kantong kecil. “Tapi masih kurang.”

“Kalau begitu, aku temani,” ucap Wakasa.

Starla mengangguk kecil.

“Terima kasih, Wakasa-kun.”

Mereka berjalan bersama, berpindah dari satu lapak ke lapak lain. Obrolan ringan mengalir begitu saja—hal sederhana, tapi terasa nyaman. Wakasa sendiri tidak sadar sejak kapan langkahnya selalu menyesuaikan langkah Starla.

Saat melewati sebuah lapak aksesoris, Starla tiba-tiba berhenti.

“Waaah… indah sekali.”

Berbagai kalung dan perhiasan kecil berkilau di depan mereka.

Penjualnya langsung tersenyum lebar.

“Wah, cocok sekali kalian berdua. Mau cari aksesoris pasangan, ya?”

Starla langsung tersipu.

“B-bukan begitu…”

Wakasa terdiam, lalu mengalihkan pandangan, sedikit canggung.

“Hehehe, kalian pasangan yang lucu,” kata penjual itu. “Tapi kalau hadiah dari pria untuk wanita spesial, pasti berkesan.”

Wakasa melirik salah satu kalung—sederhana, dengan liontin kecil yang memantulkan cahaya lembut. Tanpa banyak bicara, ia membelinya.

Starla terlihat terkejut saat Wakasa menyerahkan sebuah kotak kecil.

“Wakasa-kun…?”

“Ini… buatmu,” kata Wakasa pelan. “Entah kenapa, aku merasa kalung itu cocok denganmu.”

Starla membuka kotak itu perlahan. Matanya berbinar.

“Cantik sekali…”

Ia menggenggam kalung itu dengan hati-hati.

“Terima kasih, Wakasa-kun. Aku suka.”

Wakasa tersenyum kecil.

“Begitu ya , syukurlah kalau begitu.”

Di tengah ramainya alun-alun, suasana di antara mereka terasa tenang—hangat dengan cara yang sederhana.

Starla masih memandangi kalung itu di tangannya. Jemarinya menyentuh liontin kecil tersebut dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.

Kenapa… rasanya hangat sekali?

Padahal ini hanya sebuah kalung sederhana, tapi dadanya terasa berdebar lebih cepat dari biasanya. Bukan karena kilau perhiasannya—melainkan karena orang yang memberikannya.

Ia melirik Wakasa dari sudut mata.

Wakasa-kun… selalu seperti ini. Tiba-tiba melakukan hal yang membuatku tidak siap.

Starla menelan ludah pelan, lalu menggenggam kotak kalung itu lebih erat.

“Aku… benar-benar akan menjaganya,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh keramaian.

Wakasa hanya tersenyum kecil, tapi senyum itu cukup membuat Starla kembali menunduk karena pipinya terasa panas.

Saat suasana mulai terasa canggung namun hangat—

“Heee~ jadi di sini rupanya.”

Suara ceria itu langsung memecah momen.

Starla dan Wakasa menoleh bersamaan.

Diana berdiri di belakang mereka, tangan terlipat di dada, senyum usil terpampang jelas di wajahnya.

“Baru ditinggal sebentar, sudah belanja aksesoris berdua,” lanjut Diana. “Aku ganggu nggak, nih?”

“D-Diana?!” Starla refleks memegang kalung itu.

“I-ini bukan seperti yang kau pikirkan!”

Diana mendekat, matanya langsung tertuju pada kalung di tangan Starla.

“Oho~ hadiah ya? Wah, Wakasa… kau ternyata romantis juga.”

Wakasa langsung salah tingkah.

“B-bukan begitu… cuma kebetulan saja.”

Diana tertawa kecil.

“Kebetulan yang manis, kalau menurutku.”

Ia lalu mendekat ke Starla, berbisik pelan tapi sengaja terdengar.

“Cocok sekali, Starla. Kau kelihatan senang.”

Starla terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil.

“…Iya.”

Diana menyeringai puas.

“Wah~ akhirnya ngaku juga.”

Starla langsung menoleh cepat.

“A-aku bukan—!”

Namun Diana sudah tertawa lebih dulu.

“Aduh, wajahmu merah sekali. Tenang saja, aku tidak akan mengganggu lebih jauh… mungkin.”

Wakasa menghela napas kecil, tapi tanpa sadar ia melirik Starla sekali lagi. Melihat Starla masih menggenggam kalung itu erat, dadanya terasa sedikit lega.

Syukurlah… dia benar-benar menyukainya.

Starla sendiri menunduk pelan, senyum tipis menghiasi bibirnya.

Kalau bersama Wakasa-kun… rasanya aku ingin waktu berjalan lebih lambat sedikit saja.

Keramaian alun-alun perlahan mereka tinggalkan. Langit mulai berubah jingga, cahaya senja menyelimuti jalanan kota dengan tenang.

Diana meregangkan bahu.

“Hmm… sepertinya cukup untuk hari ini. Udah mulai capek juga.”

“Iya,” jawab Wakasa. “Lebih baik besok saja ke kantor petualang. Biar persiapan lebih matang.”

Starla mengangguk kecil.

“Setuju.”

Di persimpangan jalan, mereka akhirnya berhenti. Arah penginapan Wakasa berbeda dengan arah rumah Starla dan Diana.

“Kalau begitu, sampai besok,” kata Wakasa sambil tersenyum.

“Iya,” jawab Diana ringan. “Jangan telat, Wakasa.”

Starla melangkah sedikit ke depan, lalu berhenti. Tangannya menyentuh kalung di lehernya, ragu sejenak sebelum bicara.

“Terima kasih lagi… untuk kalungnya, Wakasa-kun,” ucapnya pelan. “Aku suka.”

Wakasa terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil.

“Aku senang dengarnya.”

Diana melirik mereka berdua sambil menyeringai.

“Wah, pamitnya manis sekali. Kalau begini, aku jadi merasa mengganggu.”

“Diana…” Starla memalingkan wajahnya, pipinya memerah.

Wakasa tertawa kecil.

“Besok… sampai jumpa.”

“Iya,” jawab Starla. “Hati-hati di jalan.”

Wakasa pun berjalan ke arah penginapan, sementara Starla dan Diana berbelok ke arah rumah mereka.

Di perjalanan pulang, suasana terasa lebih sunyi.

Starla kembali memegang kalung itu. Cahaya senja terakhir memantul lembut di liontin kecil tersebut.

Rasanya… masih hangat.

Ia menarik napas perlahan.

Diana melirik sekilas.

“Kau benar-benar menyukainya, ya.”

Starla terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil.

“…Iya.”

Diana tersenyum tipis, kali ini tanpa nada menggoda.

“Kalau begitu, simpan baik-baik.”

Sesampainya di rumah, malam pun turun perlahan.

Di kamarnya, Starla duduk di depan jendela. Ia melepas kalung itu sebentar, lalu memandanginya.

Besok mulai misi…

Aku harus fokus.

Namun sebelum menyimpannya, ia kembali mengenakan kalung itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!