NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kegelapan malam itu seolah menjadi jubah pelindung bagi tiga sosok yang melesat cepat menembus gang-gang sempit Kota Menara Langit.

Liang Shan, meski napasnya tersengal dan dadanya terasa panas membara, tetap memaksakan lweekang (ilmu meringankan tubuh) tingkat tinggi.

Di punggungnya, Han Xiang menyandarkan kepala dengan lemas, sementara Yue Niang melompat dengan lincah di sampingnya, matanya terus waspada mengawasi bayangan di balik atap-atap rumah.

Setelah melewati gerbang air di sisi barat kota yang tidak terjaga ketat, mereka mulai memasuki kawasan hutan bambu yang rimbun.

Perjalanan ini singkat namun melelahkan, mendaki lereng perbukitan yang terjal menuju sebuah tempat yang dikenal sebagai Kuil Awan Tua.

Kuil ini sudah lama ditinggalkan, dindingnya yang kusam tertutup lumut, seolah-olah waktu telah melupakan keberadaannya.

Sesampainya di halaman kuil, Liang Shan segera menurunkan Han Xiang di atas bangku batu. Gadis itu merintih pelan, luka di lengannya akibat sabetan pedang pengawal istana mulai membiru, tanda adanya racun jahat yang menyertai senjata lawan.

"Xiang-er, bertahanlah," bisik Liang Shan parau.

Yue Niang segera mendekat. Wanita bisu itu merogoh sesuatu dari balik bajunya, sebuah peluit kecil dari tulang. Ia meniupnya, namun tidak ada suara yang terdengar oleh telinga manusia biasa. Hanya frekuensi tinggi yang menggetarkan udara.

Inilah cara komunikasi rahasia kelompok pemberontak Matahari Hitam yang dulu dipimpin oleh mendiang Liang Qi.

Liang Shan duduk bersila, mencoba mengatur sinkang (tenaga dalam) di tubuhnya. Namun, sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.

Dua permata di dadanya dan selembar sutra kuning di tangan Han Xiang mulai beresonansi. Cahaya merah darah dan kuning keemasan berpendar, menciptakan medan energi yang menyakitkan.

Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang di tubuhnya bereaksi secara ganas. Racun itu biasanya terasa dingin, namun kali ini mendidih, seolah-olah dipaksa keluar dari persembunyiannya oleh kekuatan artefak tersebut.

"Ughh ...!" Liang Shan memuntahkan darah hitam.

Kulitnya mulai menonjolkan urat-urat kebiruan yang bergerak-gerak mengerikan.

Melihat hal itu, Han Xiang dengan sisa tenaganya mencoba merayap mendekat.

"Liang Shan, jangan gunakan tenaga dalammu untuk melawan racun aneh itu, kau harus menyerapnya ..."

Gadis tersebut mengambil jarum perak dari balik ikat pinggangnya. Dengan tangan gemetar, ia menusukkan jarum-jarum itu ke dua titik nadi di dada Liang Shan.

"Ayah pernah mengajariku bahwa racun yang paling ganas sekalipun bisa menjadi obat jika disatukan dengan energi yang selaras."

Yue Niang segera mengambil kecapinya yang tadi sempat diselamatkan. Dengan jari-jari yang gemetar namun pasti, ia mulai memetik senar yang tersisa.

Nada-nada yang keluar terasa seperti aliran air yang sejuk, seakan mencoba memadamkan api yang membakar nadi Liang Shan.

Di saat Liang Shan sedang berada dalam titik paling kritis antara hidup dan mati, sebuah suara tawa yang dingin dan tipis terdengar dari atap kuil.

Tawa itu tidak keras, namun mengandung kekuatan sinkang yang mampu membuat daun-daun bambu di sekitar kuil rontok seketika.

"Menarik ..., sungguh menarik. Pewaris tunggal keluarga Liang sedang berjuang melawan ajalnya di sebuah kuil tua yang bau."

Sesosok pria berpakaian serba hitam, dengan cadar yang hanya menyisakan mata sedingin es, berdiri tegak di atas atap kuil. Sosok itu tidak membawa pedang, melainkan sebuah suling perak panjang yang berkilau di bawah cahaya rembulan.

"Bayangan Kaisar!" desis Yue Niang melalui gerakan bibir yang tak bersuara, matanya membelalak penuh ketakutan.

Inilah tokoh legendaris yang hanya muncul dalam bisikan ketakutan para pendekar. Ia adalah algojo paling rahasia milik istana, seseorang yang kekuatannya konon setara dengan mendiang kakek guru Liang Shan.

"Serahkan ketiga pecahan itu," ujar Bayangan Kaisar sambil melayang turun.

Gerakannya begitu ringan, seolah-olah tubuhnya tidak memiliki berat sama sekali.

"Atau aku akan mengubah kuil ini menjadi peti mati kalian bertiga."

Liang Shan membuka matanya yang kini berwarna merah pekat. Kekuatan luar biasa namun menyakitkan meluap dari tubuhnya.

Dia berdiri perlahan sambil memegang Golok Sunyi Mengoyak Langit.

"Jika ingin mengambilnya, maka kau harus melangkahi mayatku!" seru Liang Shan.

Bayangan Kaisar mendengus. Ia menggerakkan suling peraknya. Seketika, suling itu mengeluarkan jarum-jarum halus yang melesat secepat kilat.

TINGG!!! TINGG!!! TINGG!!!

Liang Shan memutar goloknya, membentuk lingkaran pertahanan yang rapat. Namun, serangan Bayangan Kaisar sangat aneh. Setiap gerakan sulingnya menciptakan gelombang suara yang menyerang pendengaran dan mengacaukan konsentrasi.

Liang Shan melancarkan serangan balasan. Goloknya menebas dengan kekuatan yang mampu membelah batu besar, namun Bayangan Kaisar hanya bergeser sedikit, seolah-olah sudah tahu ke mana arah serangan itu sebelum Liang Shan melakukannya.

"Lambat!" ejeknya.

Bayangan Kaisar menusukkan sulingnya dan mengincar titik lemah di bawah ketiak Liang Shan.

Pemuda itu memutar tubuhnya di udara dan melakukan salto berkali-kali untuk menjaga jarak. Tetapi, musuhnya mengejar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Inilah adalah ikmu meringankan tubuh Bayangan Mengejar Angin yang melegenda.

Di sisi lain, Han Xiang berteriak memperingatkan,

"Liang Shan! Jangan gunakan serangan langsung! Gunakan hawa dingin dari racunmu untuk membekukan udara di sekitarnya!"

Liang Shan mengerti. Ia berhenti menyerang secara membabi buta, lalu membiarkan hawa dingin dari Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang keluar melalui pori-pori kulitnya.

Seketika, halaman kuil itu dipenuhi oleh uap dingin yang membekukan embun di dedaunan.

Bayangan Kaisar sedikit terkejut. Gerakannya yang tadi secepat kilat mulai melambat karena udara yang mendadak membeku.

Liang Shan melihat celah. Ia mengumpulkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke ujung golok.

"Mati kau!"

Golok hitam itu melesat lurus, membelah uap dingin dan mengarah tepat ke dada Bayangan Kaisar.

Sang algojo terpaksa menangkis dengan suling peraknya menggunakan seluruh kekuatan sinkang-nya yang berwarna keunguan.

BOMMM!!!

Benturan dahsyat tersebut menghancurkan altar batu di dalam kuil. Bayangan Kaisar terdorong mundur lima langkah, sementara Liang Shan jatuh berlutut dengan napas yang terputus-putus.

Topeng Bayangan Kaisar retak, memperlihatkan sedikit bekas luka bakar di pipinya.

"Kau benar-benar luar biasa," ujar Bayangan Kaisar. "Sayangnya tenagamu sudah habis!"

Baru saja Bayangan Kaisar hendak melancarkan serangan terakhirnya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah hutan bambu.

Belasan sosok berpakaian hitam dengan lambang Matahari Hitam muncul dari balik kegelapan, dipimpin oleh seorang pria tua yang membawa tongkat berkepala naga.

Melihat bala bantuan musuh tiba, Bayangan Kaisar mendecak kesal. Dia bersungut, "Hari ini kalian beruntung. Tapi ingat, di mana pun ada bayangan, di situ aku akan ada!"

Dengan satu lompatan dahsyat, Bayangan Kaisar menghilang di kegelapan malam, meninggalkan suasana kuil yang mencekam dan penuh dengan debu pertarungan.

Bersamaan setelah itu, Liang Shan ambruk tak sadarkan diri di pelukan Han Xiang, tepat saat ketiga pecahan tersebut bersatu sepenuhnya di bawah sinar rembulan.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!