NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Tersenyum Bukan Untukku

Suasana sarapan di ruang makan yang megah itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Jika dulu Ria akan berdiri di sisi meja, memastikan kopi Arya berada di suhu yang tepat dan rotinya terpanggang sempurna, kini Ria duduk santai di kursinya sendiri. Tangannya lincah menari di atas layar ponsel, mengabaikan piring sarapannya yang baru tersentuh sedikit.

Arya berulang kali berdehem, sengaja menimbulkan suara denting sendok dan garpu yang keras, namun Ria tidak bergeming. Pengabdian yang dulu terasa membosankan bagi Arya, kini setelah hilang, justru menjadi sesuatu yang sangat ia rindukan. Ia merindukan bagaimana Ria menatapnya penuh perhatian, bukan menatap benda kotak di tangannya dengan binar mata yang hidup.

Ria sedang mengetik pesan untuk dr. Heru:

“Dok, bisakah kita bertemu di kafe kecil di seberang rumah sakit saja? Saya khawatir ada yang mengikuti saya. Saya butuh tempat yang lebih privat untuk membicarakan rencana saya.”

Tak butuh waktu lama, ponsel Ria bergetar. Balasan dari dr. Heru muncul: "Baik, Nona Ria. Saya mengerti. Saya akan menunggu Anda di sana pukul satu tepat."

Membaca itu, sebuah senyuman manis—senyum yang benar-benar tulus dan lega—mengambang di bibir Ria. Ia merasa selangkah lebih dekat dengan kebebasannya.

"Siapa yang mengirim pesan sampai kau tersenyum seperti itu?" suara Arya terdengar berat dan penuh selidik. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan kasar hingga cairannya sedikit terpercik.

Ria mendongak, sisa senyum itu masih ada, namun langsung memudar saat menatap Arya. "Bukan siapa-siapa, Mas. Hanya urusan kecil."

"Urusan kecil tidak membuat orang tersenyum seperti itu, Ria. Sejak kapan kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Arya merasa harga dirinya terluka. Senyum itu sangat cantik, namun ia sadar senyum itu bukan dipicu oleh keberadaannya.

Ria tidak menjawab ocehan Arya. Ia justru meletakkan ponselnya dan menatap Arya dengan tatapan yang sangat pragmatis, seolah sedang bernegosiasi dengan rekan bisnis.

"Mas, aku butuh uang tambahan. Cukup banyak," ujar Ria tanpa basa-basi.

Arya menghentikan gerakannya. Selama dua tahun pernikahan, Ria tidak pernah meminta uang selain uang bulanan yang selalu tersisa banyak karena ia jarang berbelanja. "Uang? Untuk apa? Bukankah kartu kreditmu masih aktif?"

"Aku butuh tunai," jawab Ria singkat. Ia butuh dana darurat untuk biaya pengobatan paliatif tanpa meninggalkan jejak transaksi bank yang bisa dilacak Arya, juga untuk persiapan perjalanan yang ia rencanakan. "Anggap saja ini bonus karena aku sudah menjadi istri yang baik selama dua tahun ini."

Arya merasa dadanya sesak. Cara Ria meminta uang terasa sangat transaksional, seolah-olah hubungan mereka memang benar-benar hanya kontrak yang akan segera berakhir. Namun, karena rasa bersalah dan keinginan untuk membeli kembali kepatuhan Ria, Arya merogoh dompetnya dan mengeluarkan selembar cek.

"Tulis berapa pun yang kau mau," kata Arya dingin, mencoba mempertahankan wibawanya. "Tapi ingat, setelah ini, aku ingin kau kembali menjadi istri yang tahu cara menghargai suaminya saat sarapan."

Ria mengambil cek itu, melipatnya dengan tenang. "Terima kasih, Mas. Tapi soal menjadi 'istri yang dulu', sepertinya stok kesabaranku sudah habis. Aku pergi dulu."

Ria bangkit berdiri, meninggalkan Arya yang terpaku menatap kursinya yang kosong. Arya mengepalkan tangan di bawah meja. Ia merasa semakin ia mencoba menggenggam Ria, semakin wanita itu licin seperti air yang mengalir di sela-sela jarinya. Ia tidak tahu bahwa uang yang ia berikan sebenarnya adalah dana yang akan digunakan Ria untuk merencanakan kepergian yang tak akan pernah bisa ia kejar.

Taksi yang membawa Ria berhenti di depan sebuah kafe kecil dengan nuansa kayu di seberang rumah sakit. Ria turun dengan perlahan, tangannya mencengkeram tas erat-erat. Di dalamnya tersimpan cek dari Arya yang telah ia cairkan sebagian. Ia tidak menyadari, di balik sebuah mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari sana, seorang pria dengan kamera berlensa panjang sedang mengabadikan setiap langkahnya.

Pria itu adalah orang suruhan Arya. Baginya, tugas ini sederhana: potret siapapun yang ditemui Nyonya Wiradhinata. Namun, saat ia melihat seorang pria muda tampan dengan kemeja rapi menyambut Ria di sudut kafe yang remang, imajinasinya mulai bekerja liar. Di mata sang informan, interaksi itu terlihat terlalu akrab untuk sekadar teman lama.

Di dalam kafe, dr. Heru menatap Ria dengan tatapan yang dipenuhi keprihatinan mendalam. Ia adalah dokter yang idealis, dan melihat pasien dengan potensi sebesar Ria menyerah begitu saja adalah hal yang menyakitkan baginya.

"Nona Ria, saya mohon... pikirkan lagi," ucap dr. Heru suara rendah namun mendesak. "Leukemia ini agresif, tapi bukan berarti tidak ada harapan. Jika kita mulai kemoterapi minggu ini, kita bisa menekan penyebaran selnya."

Ria menggeleng pelan, ia mengaduk teh hangatnya yang sudah mendingin. "Saya sudah memutuskan, Dok. Saya tidak ingin menghabiskan sisa hari saya di atas ranjang rumah sakit dengan selang yang menusuk tubuh saya. Saya ingin bebas."

"Tapi Anda harus menghargai hidup Anda sendiri! Anda masih muda," dr. Heru sedikit memajukan tubuhnya, wajahnya terlihat sangat tulus. "Jangan lakukan ini demi orang lain, lakukan ini demi diri Anda. Anda berhak untuk sembuh, anda berhak bahagia, Nona Ria."

Dari luar jendela, sang informan menekan tombol rana kamera berkali-kali. Dari sudut pandangnya, posisi dr. Heru yang condong ke arah Ria terlihat seperti seorang kekasih yang sedang memohon cinta.

Ria hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepasrahan yang tenang. Ia tidak menjawab ajakan pengobatan itu. Sebaliknya, ia mengeluarkan beberapa botol vitamin yang diberikan oleh dokter pribadi Arya semalam.

"Dok, saya ingin tanya satu hal," potong Ria mengalihkan pembicaraan. "Apakah vitamin penambah gizi ini aman jika saya konsumsi bersamaan dengan obat pereda nyeri yang Dokter berikan? Saya ingin tetap terlihat 'sehat' dan bertenaga di depan suami saya... setidaknya sampai semuanya siap."

Dokter Heru tertegun. Ia menatap botol-botol vitamin itu dengan miris. "Ini hanya vitamin biasa, Nona. Tidak akan menyembuhkan kanker Anda, hanya memberi energi semu. Tapi secara klinis, aman jika dikonsumsi bersamaan. Tapi Nona, membohongi keluarga Anda tentang kondisi ini hanya akan—"

"Keluarga saya sudah lama menganggap saya tidak ada, Dok," sela Ria tenang. "Membohongi mereka adalah cara terakhir saya untuk melindungi diri saya sendiri dari gangguan mereka."

Dr. Heru hanya bisa terdiam, ia merasa iba melihat gadis cantik di depannya itu harus memikul penderitaan yang berat. Terlihat jelas wajah Ria yang tampak murung tak bersemangat.

Dua jam kemudian, di ruang kerjanya yang luas, Arya menerima sebuah amplop cokelat. Ia membukanya dengan tangan bergetar karena amarah yang sudah ia pendam sejak pagi.

Foto-foto itu berhamburan di atas meja. Foto Ria yang sedang tersenyum manis pada dr. Heru. Foto dr. Heru yang seolah sedang memegang tangan Ria (padahal hanya sedang menekankan poin pembicaraan di atas meja). Dan foto mereka yang keluar dari kafe bersama-sama dengan raut wajah yang sangat emosional.

"Laporan: Nyonya Ria bertemu dengan seorang pria muda di kafe. Mereka berbicara sangat intens selama satu jam. Pria itu tampak sangat perhatian, dan Nyonya Ria terlihat sangat bergantung padanya," tulis sang informan dalam laporannya.

BRAK!

Arya memukul meja kerjanya hingga vas bunga terjatuh dan pecah berkeping-keping.

"Jadi ini alasanmu meminta uang tunai? Untuk membiayai laki-laki ini?!" raung Arya pada ruangan yang kosong.

Egonya yang setinggi langit merasa terinjak-injak. Ia merasa dikhianati, namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa sakit yang lebih dalam dari sekadar harga diri. Ia merasa takut—takut bahwa senyuman tulus Ria yang ia lihat pagi tadi memang benar-benar bukan miliknya, dan tidak akan pernah menjadi miliknya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!