“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06. Peringatan Untuk Menjauh
“Dia memang mengetahui yang terjadi di kehidupan sebelumnya”
Begitu keduanya pergi, ekspresi Ragnar berubah sepenuhnya. Wajahnya mengeras, aura dingin menyelimuti ruangan. Ragnar menatap pintu yang telah tertutup itu cukup lama. Tatapan itu tajam, menusuk, seakan menyingkap lapisan-lapisan ingatan yang seharusnya terkubur. Bukan sekadar curiga. Dia bahkan mengingatnya dengan jelas.
“Theron,” panggilnya singkat.
“Perintah, Tuanku.”
“Selidiki perempuan itu,” kata Ragnar tanpa ragu.
“Kakak dari ratuku. Semua. Riwayat hidupnya. Bahkan hal-hal yang tidak tercatat.”
Theron mengangguk. “Dan tentang sang ratu?”
Ragnar menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup, seolah masih bisa merasakan keberadaan Ivory.
“Pastikan,” katanya pelan namun mengandung ancaman, “tanda itu… apakah memang ada padanya.”
Ia mengepalkan tangannya perlahan. “Tanda yang hanya dimiliki oleh reinkarnasi ratuku…
segel jiwa yang tak bisa disembunyikan, meski ingatannya terkunci.”
Theron tersenyum tipis. “Jika tanda itu benar muncul padanya…”
“Maka takdir memang telah memilihnya kembali,” potong Ragnar. “Dan siapa pun yang berusaha menjauhkannya dariku—”
Matanya berkilat merah darah.
“… akan berhadapan dengan Raja vampir yang telah kehilangan ratunya sekali, dan tidak akan membiarkannya terjadi untuk kedua kalinya.”
...****************...
Di luar ruangan, Ivory berjalan tergesa di samping Elena, jantungnya masih berdebar tak karuan. Ia tidak tahu bahwa sejak langkah itu, hidupnya dan rahasia yang tertidur di dalam darahnya kini telah resmi menjadi target pencarian. Tidak hanya dari bangsa vampire, tetapi juga dari bangsa lain yang setara dengannya.
Pintu ruang CEO tertutup dengan bunyi klik yang tajam, namun Ivory bahkan belum sempat menarik napas lega ketika sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya pergi semakin menjauh dari tempat itu.
“Kak, lepaskan!” bisiknya tertahan, nyaris berlari mengejar langkah kakaknya yang panjang dan tergesa.
Mereka berhenti di lorong darurat yang sunyi. Elena berbalik tiba-tiba, mendorong Ivory hingga tanpa sengaja membuat punggungnya membentur dinding dingin. Ivory jelas terkejut dengan apa yang baru saja kakaknya lakukan padanya.
“Apa sebenarnya masalahmu?!” Ivory meledak lebih dulu. “Kau menyeretku keluar dari ruangan CEO seperti aku melakukan kejahatan!”
Elena terdiam sesaat. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. “Bukan kau yang melakukan kejahatan, tapi dia!”
“Ivory, aku tidak punya waktu untuk menjelaskan saat ini.” sambungnya.
“Tidak punya waktu, atau tidak mau?” suara Ivory pecah. “Sejak kapan kau bersikap seperti ini, Kak? Kau melarangku mendekat padanya aku bisa mengerti, tapi setidaknya berikan aku alasan yang jelas.” Matanya memerah. “Ada apa dengannya? Kenapa kau takut setengah mati jika aku berada di dekatnya?”
Namun, Elena malah semakin menutup mulutnya. Sudah jelas sekali ia tidak ingin memberikan jawaban yang Ivory inginkan. Akan tetapi, Ivory tidak ingin menyerah begitu saja untuk menemukan kebenaran dengan apa yang terjadi dengan perubahan sikap kakaknya yang menjadi sangat over protektif kepadanya.
“Jawab aku,” desak Ivory. “Dia manusia, kan? Atau… jangan-jangan apa yang dia katakan itu benar?”
“Memang apa yang dia katakan?” Elena semakin terlihat gugup.
Hening menekan mereka. Lampu darurat berdengung pelan. Elena menatap Ivory lekat, jemarinya mencengkeram lengan jasnya sendiri, seolah menahan diri agar tidak runtuh. Sorot matanya terus bergerak gelisah menanti jawaban sang adik.
“Dia bukan manusia,” ucapnya akhirnya, nyaris tak bersuara. “Benarkah dia seorang vampir?”
Darah Elena terasa surut dari wajahnya. “Apa?”
“Bukan sekadar vampire biasa, tapi raja vampir,” kata Ivory, kini menatapnya lurus-lurus. Ada sorot penuh rasa penasaran di matanya. “Dan anehnya, dia juga mengatakan bahwa aku Ratunya? Jika aku ratunya, maka aku juga bukan manusia ‘kah?”
Elena tertawa pendek, lebih memaksa untuk tertawa. “Apa yang kau katakan, Ivory? Vampir? Raja?” Tawanya terhenti ketika ia melihat ekspresi Ivory yang sama sekali sedang tak bercanda.
“Bahkan mengira kau adalah Ratu vampir,” bisiknya, “Dia pasti orang gila atau orang stress?”
Pertanyaan itu segera dibenarkan oleh Ivory.
“Mmm, aku juga berpikir dia sudah gila. Padahal wajahnya sangat tampan… ck, sayang sekali!”
Elena kembali memejamkan mata, ketika mendengar pujian yang Ivory lontarkan. “Itulah mengapa aku melarangmu agar tidak terlalu dekat dengannya,” katanya lirih. “Kau mudah terperdaya dengan wajah tampan. Kakak tidak ingin kau ikut gila sepertinya.”
Amarah Ivory seketika terpancing, tidak terima dengan penuturan sang kakak. “Aku memang sangat menyukai wajah tampan, Kak? Tapi kalau gila sepertinya, jelas aku tidak mau? Kau tenang saja, aku akan menjaga jarak sejauh mungkin.”
“Bagus, kau memang adikku!” suara Elena penuh kelembutan. “Dan ingat untuk selalu menutupi tanda yang ada dibelakang telingamu ini! Jangan biarkan siapapun mengetahui tentang tanda itu. Mengerti?”
“Tanda?” Ivory terdiam.
Tangannya refleks bergerak menyentuh belakang telinga kanannya yang memang terdapat sebuah tanda atau tato berbentuk bulan sabit dan bunga Ryder Red Lily.
Elena segera menangkap pergelangan tangan itu, menghentikan Ivory yang tanpa sadar memberitahukan tentang tanda yang dia miliki.
Sentuhannya gemetar, namun kuat. “Dengarkan aku,” katanya penuh desakan. “Apa pun yang terjadi, siapa pun yang kau temui… jangan pernah biarkan tanda itu terlihat. Tutupi selalu. Janjikan padaku, Ivory!”
“Aku janji, Kak!” ucapnya pelan sembari mengangguk patuh.
Elena lantas menghela napas panjang, seolah baru saja menahan dunia agar tidak runtuh. Namun dari balik ketenangan semu itu, satu hal jelas bagi Elena bahwa keberadaan tentang tanda itu akan segera terungkap cepat atau lambat.
“Biarlah tetap seperti ini untuk sementara waktu. Jika tidak bisa menghindari, baru aku pikirkan cara untuk membawa Ivory pergi sejauh mungkin dari tempatnya berada,” ucap Elena dalam hatinya.
...****************...
Setelah selesai dengan pesta penyambutan untuk karyawan baru. Mereka kembali ditugaskan untuk kembali bekerja seperti biasanya. Elena mulai sibuk dengan pekerjaannya, sementara Ivory sibuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan pertamanya.
Elena sibuk di mejanya, lain halnya dengan Ivory yang sibuk berlalu lalang untuk melaksanakan tugas yang diberikan para seniornya yang masih mengira bahwa Ivory adalah kekasih dari Ceo mereka. Karena itulah, tugas dari para seniornya membuatnya harus bolak balik ke ruangan Ceo untuk menyerahkan berkas yang diminta oleh Ragnar.
Lorong lantai tujuh selalu terasa lebih panjang setiap kali Ivory berusaha menghindarnya. Ini adalah hari pertamanya bekerja setelah sekian tahun menganggur, ia sengaja mengakrabkan diri dengan rekan kerja maupun seniornya.
Selagi belum diputuskan mengenai pekerjaan utamanya, Ivory pun diperintahkan untuk membantu para seniornya begitu juga karyawan baru lainnya.
Sayangnya, semesta tampaknya memiliki selera humor yang kejam. Ivory telah berjanji pada sang Kakak untuk sebisa mungkin menghindari bos gilanya itu, tetapi para seniornya malah memberikan pekerjaan yang memaksanya untuk menemui pria yang ia beri panggilan khusus yaitu ‘Bos Gila’.
“Ivory, tolong berikan berkas laporan ini kepada Tuan Rowan di ruangannya.”
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔