NovelToon NovelToon
Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Cloudet : Kenangan Masa Lalu Sang Hellhound

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Romansa Fantasi / Cinta Terlarang / Obsesi / Perperangan / Dark Romance
Popularitas:833
Nilai: 5
Nama Author: HOPEN

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suasana Damai

Calix kembali memejamkan mata, berusaha menenggelamkan keberadaan Kael dari kesadarannya sepenuhnya. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma hutan yang lembap, bau lumut, dan sisa-sisa embun pagi memenuhi paru-parunya. Ia berharap dengan mengabaikan pria ular sinting itu, Kael akan merasa bosan, berhenti memprovokasi, dan pergi dengan sendirinya mencari mangsa lain untuk diganggu.

Sayangnya, Kael bukan tipe makhluk yang mengenal kata berhenti atau tahu kapan sebuah lelucon telah melewati batas. Ketekunannya dalam mengganggu sama besarnya dengan nafsu makannya terhadap tikus hutan.

“Jadi…” suara itu kembali terdengar, rendah, serak, dan berbahaya, disertai bunyi gesekan sisik halus yang merayap di atas kulit kayu ek tua. Kael merangkak lebih dekat, gerakannya lincah seperti air yang mengalir.

Calix mendecih pelan tanpa membuka kelopak matanya. Ia bisa merasakan intensitas aura Kael berubah, menjadi lebih tajam dan penuh selidik. Ah… ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.

Kael bersandar santai di dahan seberang, satu kaki manusianya ditekuk dengan gaya yang angkuh, sementara ekor ularnya yang panjang menggantung malas ke bawah, berayun pelan seperti pendulum maut. Ia menyipitkan mata kehijauannya yang memiliki pupil vertikal, dan sebuah senyum tipis namun penuh arti terukir di wajah pucatnya.

“Istri pertama ayahmu yang cantik itu kudengar, dia sudah mati?” tanyanya ringan, seolah sedang menanyakan cuaca atau sekadar basa-basi tanpa bobot. Namun, bagi telinga Calix, pertanyaan itu seperti percikan api yang dijatuhkan ke atas bensin.

Calix tidak membuka mata, tapi rahangnya mengeras seketika. Sebuah kedutan kecil muncul di pelipisnya. Dari mana Kael tahu? Pertanyaan bodoh. Tentu saja dia tahu. Di dunia yang dihuni makhluk-makhluk berumur panjang, berita tentang kejatuhan seorang penjaga jiwa menyebar secepat wabah.

Nivera bukan sekadar hellhound biasa. Ia adalah representasi dari kasta paling langka, paling diburu oleh para kolektor mistis, paling dipuja oleh mereka yang mendambakan penebusan, namun juga paling dikutuk oleh tatanan neraka yang keras. Sebagai penjaga jiwa dan penggiring roh, Nivera adalah jembatan hidup antara neraka, surga, dan dunia roh yang tak berujung.

Mengikat kontrak dengan hellhound putih berarti mendapatkan keberuntungan mutlak, sekaligus mengundang kehancuran karena iri hati entitas lain.

Dan Nivera, ia memang terlalu suci dan terlalu cantik untuk dunia mana pun yang pernah ia injak. Kematiannya bukan sekadar kehilangan, itu adalah guncangan pada fondasi tatanan dunia bawah yang membuat para penyihir hitam, roh-roh penasaran, dan entitas kuno yang tertidur mulai menggeliat dalam diam, mencari celah dari jalur roh yang kini goyah.

Calix menghela napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap datar, seolah-olah topik ini sama sekali tidak membebani jiwanya. Ia memilih untuk tetap diam, memberikan keheningan sebagai jawaban.

Kael tidak tampak terganggu oleh penolakan Calix untuk berdialog. Justru, ia tersenyum lebih lebar, menyingkapkan taring kecilnya yang mengandung bisa. Ia menikmati ketegangan yang mulai merayap di udara.

“Apakah dia berhasil melahirkan seorang penerus sebelum cahayanya padam?” lanjut Kael, nada suaranya kali ini bergeser dari provokatif menjadi penuh rasa penasaran yang haus akan informasi.

Calix membuka satu matanya perlahan, menatap dedaunan hijau di atasnya yang kini tampak sedikit buram karena emosi yang tertahan. “Ya,” jawabnya akhirnya. Singkat. Tanpa emosi. “Tapi anak itu sangat lemah. Sebuah kegagalan biologis jika kau ingin tahu.”

Nada suaranya terlalu datar untuk seseorang yang membicarakan tentang darah dagingnya sendiri dan kehilangan yang begitu besar. Itu adalah mekanisme pertahanan, Calix tidak ingin menunjukkan titik lemahnya kepada predator seperti Kael.

Kael menyipitkan mata, senyum kecil yang aneh dan penuh perhitungan muncul di bibirnya.

“Hmmm… aku ragu dia adalah kegagalan. Dengan genetik seperti itu, aku yakin anak itu sangat cantik. Murni dan rapuh, seperti kelopak bunga di tengah badai neraka.”

Ia memiringkan kepala sedikit, membiarkan rambut hitam kehijauannya jatuh menutupi bahu telanjangnya. Tatapannya berubah menjadi sangat intens, hampir lapar

“Bolehkah aku bertemu dengannya? Aku ingin melihat sendiri sisa-sisa keagungan Nivera dalam diri makhluk kecil itu.”

Tak.

Sebelum Kael sempat mengeluarkan satu kata pun lagi, sebuah ranting kering berukuran sedang melesat dengan kecepatan peluru dan menghantam tepat di tengah dahinya.

“Ah!\~”

Kael terpekik secara dramatis, tubuhnya terhuyung mundur seolah-olah baru saja dihantam palu godam. Ia jatuh terduduk di dahan dengan ekspresi berlebihan, satu tangannya memegang dahi sementara matanya menatap Calix dengan pandangan dikhianati yang dibuat-buat.

“Kasar sekali! Kau melukai wajahku yang rupawan dan hatiku yang rapuh!”

Calix kini sudah sepenuhnya terjaga. Ia duduk tegak di dahan, tangan disilangkan di depan dada, wajahnya setenang dan sedingin es kutub. Namun, matanya terbuka penuh, kuning menyala dengan intensitas yang mengerikan, memancarkan aura predator yang siap menerkam.

“Jangan coba-coba menyentuhnya, Kael. Jangan berpikir untuk berada dalam radius satu mil darinya,”

ucap Calix dengan suara pelan namun memiliki ketajaman yang bisa mengiris kulit. “Aku tidak hanya akan membunuhmu, aku akan mencabik-cabik esensimu hingga tidak ada satu sisik pun yang tersisa untuk bereinkarnasi.”

Tidak ada gertakan di sana. Kael bisa merasakannya melalui pori-pori kulitnya. Udara di sekitar mereka mendadak menjadi panas dan berat, terisi oleh niat membunuh yang murni dari seorang putra hellhound hitam.

Untuk sesaat, Kael terdiam. Senyum main-mainnya lenyap tanpa bekas, digantikan oleh tatapan yang lebih dalam dan penuh kewaspadaan. Ia menatap Calix cukup lama, seolah sedang melakukan kalkulasi ulang terhadap tingkat bahaya yang dihadapi.

Lalu, ia tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih tulus namun tetap licik.

“Haha… tenanglah, harimau kecil.” Kael mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda menyerah yang pura-pura. “Aku hanya bercanda. Aku masih cukup menghargai nyawaku, kau tahu. Berurusan denganmu saat sedang marah adalah tiket satu arah menuju kehampaan.”

Ia berdiri kembali, melangkah mendekat namun menjaga jarak aman di dahan pohon yang berbeda. Sosok manusianya kini terlihat lebih dominan, meski ekornya tetap bergerak-gerak gelisah.

“Lagipula,” lanjutnya dengan nada ringan yang dipaksakan, “aku bisa mencium bau ikatan darah yang sangat kuat menyelimutimu. Kau telah menandainya sebagai milikmu, bukan? Anak itu jelas sangat berarti bagimu, lebih dari yang kau akui.”

Calix tidak menjawab. Ia tahu Kael hanya sedang melakukan hobinya, mengorek untuk melihat seberapa cepat hal itu bisa membuat target nya berdarah kembali. Kael senang mengamati reaksi, senang melihat retakan pada topeng ketenangan orang lain. Dan Calix telah bersumpah tidak akan memberinya kepuasan itu lagi.

Angin hutan kembali berembus, mendinginkan suasana yang sempat memanas. Daun-daun berdesir lembut, seolah-olah hutan Scotra itu sendiri sedang berusaha menenangkan amarah sang hellhound.

“Kira-kira apa yang sedang dilakukan Cloudet sekarang?” pikir Calix tiba-tiba, fokusnya teralih dari Kael menuju mansion di kejauhan.

Di Sisi Lain Kediaman Grozen

Irina duduk santai di kursi taman besi yang besar di halaman belakang kediamannya yang luas. Kursi itu ditempatkan secara strategis menghadap hamparan bunga lily putih dan lavender ungu yang tertata rapi, memberikan pemandangan yang menyejukkan mata. Pepohonan ek dan mapel yang tinggi di sekeliling taman memberikan bayangan teduh yang sempurna dari matahari pagi yang mulai terik. Angin berhembus lembut, memainkan ujung gaun sutranya yang panjang dan rambut pirang pucatnya yang tergerai indah.

Tangannya yang putih bersih terus mengelus perutnya yang membuncit dengan gerakan melingkar yang pelan dan penuh kasih. Ia seolah sedang menjalin komunikasi rahasia dengan kehidupan yang sedang tumbuh di dalam rahimnya, mencoba menenangkan kegelisahan yang terkadang muncul saat memikirkan masa depan.

Di bawah kakinya, tepat di atas rumput hijau yang dipotong rapi, Cloudet duduk diam. Sangat diam.

Tubuh kecil Cloudet tampak kaku, seolah ia takut jika ia bergerak sedikit saja, ia akan menghancurkan keindahan momen tersebut. Telinga hellhound hitamnya yang biasanya lincah mengepak, kini terkulai lemas di sisi kepalanya. Ia menatap Irina dengan mata kuning besar yang polos dan jernih, tanpa berkedip sedikit pun. Wajahnya datar, tidak menunjukkan emosi yang jelas, namun di balik itu ada rasa ingin tahu yang sangat besar yang tertahan oleh rasa takut akan hal-hal baru. Ia tidak tahu harus berbicara apa, tidak tahu bagaimana cara bersosialisasi dengan manusia yang begitu lembut, dan tidak tahu apakah ia benar-benar diterima di sini.

Ia hanya duduk di sana, menjadi pengamat yang sunyi, menunggu instruksi atau isyarat apa pun.

Irina memperhatikan perilaku Cloudet dengan cermat. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat setiap detail kecil dari anak itu. Ia baru benar-benar menyadari betapa rapuhnya Cloudet. Ini bukan kepolosan yang dibuat-buat untuk menarik simpati, ini adalah kemurnian yang berasal dari ketidaktahuan total akan kasih sayang. Cloudet adalah lembaran putih yang selama ini hanya tersentuh oleh aura dingin dan kesedihan samar yang ia warisi dari ibunya.

Irina mencondongkan tubuhnya sedikit, mencoba menjembatani jarak fisik di antara mereka. Ia menatap mata Cloudet dalam-dalam.

“Ah…” gumam Irina dengan suara yang nyaris tak terdengar, penuh dengan rasa takjub.

Cloudet benar-benar merupakan reinkarnasi fisik dari Nivera. Bentuk rahangnya, garis halus di pipinya, hingga caranya menatap, semuanya adalah bayangan dari sang hellhound putih.

Meskipun rambut Cloudet berwarna hitam pekat warisan Jover, tekstur dan kilaunya sama persis dengan ibunya. Rambut itu tampak sangat lembut, seperti sutra yang akan buyar jika disentuh dengan kasar. Jika Nivera dahulu adalah personifikasi dari cahaya pagi yang menyilaukan, maka Cloudet adalah representasi dari malam pekat yang tenang dan berbintang.

Sebuah paradoks visual yang indah, kebalikan dalam warna, namun berasal dari esensi yang sama.

Tatapan Irina kemudian mengikuti arah pandang Cloudet yang mendadak berubah. Anak itu tidak lagi menatap wajahnya. Mata kuning besar itu kini terpaku pada perut Irina yang buncit. Tatapannya penuh dengan rasa heran, sedikit bingung, dan ada semacam pengakuan instingtual terhadap energi kehidupan yang terpancar dari sana.

Irina tersenyum kecil, sebuah senyuman yang penuh dengan pemahaman.

“Oh,” bisiknya lembut, menyadari rasa penasaran anak kecil itu. “Kau ingin tahu apa yang ada di dalam sini, ya?”

Cloudet tidak memberikan jawaban verbal. Namun, telinga hellhound-nya tiba-tiba bergerak kecil, sebuah refleks tanpa sadar yang menunjukkan ketertarikannya.

Irina tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng kecil yang terbawa angin. Ia menepuk-nepuk perutnya dengan gerakan ringan, mengundang Cloudet untuk mendekat secara non-verbal. Ia merendahkan suaranya, menggunakan nada bicara yang hangat, tipe suara yang hanya digunakan oleh seorang ibu kepada anaknya.

“Di sini…” katanya sambil menunjuk perutnya.

“Ada seorang bayi kecil yang sedang tertidur lelap. Dia sedang bermimpi tentang dunia luar.”

Cloudet membelalakkan matanya, pupilnya membesar karena terkejut.

“Ba… yi?” ulangnya dengan suara yang terbata-bata. Lidahnya masih terasa kaku untuk membentuk kata-kata dalam bahasa manusia secara sempurna, namun ia berusaha keras.

Irina mengangguk dengan antusiasme yang tenang. “Iya. Bayi kecil. Seperti kau dulu, tapi dia masih sangat mungil.”

Dengan gerakan yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan agar tidak menakuti Cloudet, Irina meraih tangan mungil anak itu. Ia membimbing tangan Cloudet dan meletakkannya tepat di atas puncak perutnya. Kulit perut Irina terasa sangat hangat, dan Cloudet bisa merasakan denyut kehidupan yang kuat di bawah telapak tangannya.

Beberapa detik berlalu dalam kesunyian. Tiba-tiba, terjadi gerakan kecil, sebuah tendangan lembut dari dalam rahim Irina yang mengenai tepat di telapak tangan Cloudet.

Cloudet tersentak hebat, bahunya terangkat, dan ia menarik tangannya sedikit karena kaget. Ia menatap telapak tangannya sendiri seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang menakutkan, lalu kembali menatap perut Irina dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Hm?…” gumamnya, suara kecil yang penuh tanda tanya.

Irina tertawa kecil, matanya berkaca-kaca melihat reaksi murni tersebut. “Jangan takut. bayinya sedang menyapamu. Dia tahu kau ada di sini, dan dia sangat senang. Sebentar lagi, saat waktunya tiba, dia akan keluar untuk menemuimu.”

Cloudet kembali menatap perut itu, namun kali ini rasa takutnya telah digantikan oleh rasa takjub yang mendalam. Ia mulai memahami bahwa ada kehidupan lain yang sedang dipersiapkan untuk dunia ini.

Irina melanjutkan bicaranya, menjaga agar setiap katanya sederhana dan mudah dicerna oleh pikiran Cloudet yang masih berkembang.

“Nanti, setelah bayi ini lahir,” katanya sambil mengelus puncak kepala Cloudet dengan lembut, menyisir rambut hitamnya yang halus dengan jari-jarinya.

”Kau akan menjadi pelindungnya. Kau akan menjadi temannya yang paling berani.”

Cloudet menoleh cepat ke arah Irina, matanya mencari kepastian di dalam bola mata biru wanita itu.

“Teman?” tanyanya pelan, mencoba merasakan bobot dari kata tersebut. Baginya, kata 'teman' adalah konsep abstrak yang belum pernah ia alami secara nyata selain dengan Calix.

Irina mengangguk mantap. “Iya. Teman bermain di taman ini. Teman bicara saat kau merasa sedih. Teman yang akan tumbuh bersamamu. Kau tidak akan pernah merasa sendirian lagi di dunia yang luas ini, Cloudet. Kalian akan saling menjaga.”

Cloudet terdiam untuk waktu yang cukup lama, memproses janji besar yang baru saja ia dengar. Tangannya perlahan kembali meraih ujung gaun Irina, kali ini mencengkeramnya dengan lebih erat dan penuh kepastian. Ada kehangatan baru yang menjalar di dadanya, sesuatu yang membuatnya merasa ringan, sebuah perasaan penerimaan yang selama ini ia rindukan di kedalaman neraka.

Ia menundukkan kepalanya sedikit, membiarkan telinga hellhound-nya menutupi sebagian wajahnya, lalu berbisik dengan suara yang sangat lirih, hampir seperti desisan angin.

“Aku… benar-benar boleh… menjadi temannya?”

Irina tertegun. Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana, namun di dalamnya terkandung luka dari seorang anak yang merasa dirinya tidak pantas untuk dicintai atau memiliki sesuatu yang berharga. Hati Irina terasa seperti diremas, ia menyadari betapa dalam trauma yang dibawa anak ini dari dunia asalnya.

Irina perlahan-lahan turun dari kursinya, berlutut di atas rumput agar posisinya benar-benar sejajar dengan Cloudet. Ia memegang kedua bahu kecil anak itu dan menatap langsung ke dalam mata kuningnya dengan kesungguhan yang tak tergoyahkan.

“Tentu saja kau boleh, Cloudet. Kau sangat, sangat boleh,” jawab Irina dengan penekanan di setiap kata. “Kau adalah berkat bagi rumah ini. Bayiku akan sangat beruntung memiliki teman sepertimu.”

Cloudet tidak meledak dalam tawa atau tersenyum lebar seperti anak-anak pada umumnya. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang khidmat. Namun, di saat itu juga, telinga hellhound-nya mulai mengepak-ngepak pelan dan cepat, sebuah ekspresi kegembiraan alami dan kepuasan batin yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. Untuk pertama kalinya, Cloudet merasa bahwa ia memiliki tempat yang nyata di bawah matahari.

Bersambung

1
Im_Uras
🤭🤭
Im_Uras
😍
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
lucu itu.. namanya juga masih masa pertumbuhan🤭🙏
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
wah.. pasti cakep banget
j_ryuka
namanya juga anak-anak
Tulisan_nic
ikut aku aja cloudet
Tulisan_nic
unyu banget,🫣
chrisytells
Kalau nggak keras, bukan kepala namanya 🤭😄
chrisytells
Udah otot kawat, tulang besi dari sononya nih si Cloudet
chrisytells
Gimana rasanya tuh, ditempelin? 🤣
Panda%Sya🐼
Benar kamu harus tumbuh jadi kuat
Diem Lu Move On Ege!
Cloudet masih masa pertumbuhan dan bimbingan orang dewasa, dan seusia dia lagi Lucu-lucunya
Vanillastrawberry
kasian nggak tau wajah ibunya 😥
Mentariz
siapp ntar kamu akan jatuh hati padanya😁
Mentariz
Kekuatannya emang gak main-main yaa 😂
Mentariz
Wuuiihh pasti cantik banget nih cloudet😄
j_ryuka
nyebelin tapi lucu
chrisytells
Iseng banget sih🤣
chrisytells
Udah nakutin, body shaming lagi😄
chrisytells
Nggak kebayang gimana karakternya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!