Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Rahasia di Balik Luka Devan
Pelukan di parkiran kampus itu menjadi titik balik bagi Lia. Ia menyadari bahwa melarikan diri dari Devan sama saja dengan melarikan diri dari separuh jiwanya. Meskipun ketakutan akan dunia hitam itu tetap ada, rasa takut kehilangan Devan jauh lebih mendominasi. Namun, kembali ke pelukan sang ketua geng berarti ia harus siap menghadapi konsekuensi yang lebih besar.
Setelah kejadian di kantin, Devan membawa Lia ke sebuah rumah kecil yang tersembunyi di pinggiran kota. Rumah itu tampak asri dengan taman bunga yang tak terurus, sangat kontras dengan imej Devan yang sangar.
"Ini rumah ibuku," kata Devan pelan sambil membuka pintu kayu yang berderit. "Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan anggota gengku sekalipun. Di sini aman."
Lia masuk dengan ragu. Di dalam, ia melihat banyak bingkai foto lama. Ada foto seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum ceria tanpa beban, berdiri di samping seorang wanita cantik yang tampak lembut. Lia terpaku. Anak itu adalah Devan.
"Apa yang terjadi, Devan? Kenapa kamu... memilih jalan ini?" tanya Lia sambil menyentuh salah satu foto.
Devan menghela napas panjang, ia duduk di sofa lama yang tertutup debu tipis. "Ayahku dulu adalah seorang polisi yang jujur. Terlalu jujur sampai ia dijebak oleh rekan-rekannya sendiri yang bekerja sama dengan kartel. Dia tewas dalam tugas yang sudah diatur untuk membunuhnya. Ibuku sakit karena tekanan itu dan meninggal tak lama kemudian."
Lia merasakan sesak di dadanya. Ia mendekat dan duduk di samping Devan.
"Dunia yang 'teratur' mengkhianati keluargaku, Lia," lanjut Devan, matanya menatap kosong ke lantai. "Aku membangun Black Roses bukan untuk menjadi penjahat. Aku membangunnya agar anak-anak yang senasib denganku punya tempat untuk pulang. Agar tidak ada lagi orang jujur yang ditindas oleh sistem yang korup."
Lia baru menyadari bahwa di balik jaket kulit dan tato itu, ada luka masa kecil yang begitu dalam. Devan bukan sekadar pemimpin geng; ia adalah seorang pelindung yang lahir dari rasa kehilangan yang luar biasa.
"Maafkan aku, Devan. Aku selama ini hanya melihatmu dari permukaannya saja," bisik Lia lembut. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Devan yang penuh bekas luka perkelahian.
Devan membalikkan tangannya, menyatukan jemarinya dengan jemari lentur Lia. "Itulah kenapa aku sangat takut saat kamu memintaku pergi. Kamu adalah satu-satunya hal 'murni' yang tersisa dalam hidupku. Melihatmu membaca buku di perpustakaan hari itu... itu memberiku harapan bahwa dunia yang tenang itu masih ada."
Momen emosional itu terganggu oleh suara deru motor yang mendekat ke arah rumah. Devan seketika waspada. Ia menarik Lia ke belakang tubuhnya, tangannya merogoh sesuatu di balik pinggangnya.
"Tetap di sini," perintah Devan dengan suara yang kembali dingin dan tegas.
Pintu terbuka kasar. Ternyata itu adalah Baron, orang kepercayaan Devan. Wajahnya tampak panik, keringat bercucuran di pelipisnya.
"Bos! Gawat! The Vipers tidak main-main kali ini. Mereka tahu tentang hubunganmu dengan Nona Lia," lapor Baron dengan napas terengah-engah.
"Aku sudah tahu itu, Baron," jawab Devan kesal. "Itu alasan aku membawanya ke sini."
"Bukan itu saja, Bos. Mereka tidak hanya mengincar Nona Lia di kampus. Mereka mulai mendekati ayahnya di kantor," kata Baron pelan, takut akan reaksi Devan.
Lia membelalakkan matanya. "Ayahku? Ayahku tidak tahu apa-apa!"
Dunia Lia seakan berputar. Ayahnya adalah seorang pegawai kantoran biasa yang tidak pernah bersentuhan dengan kekerasan. Jika The Vipers mulai melibatkan keluarganya, maka situasi ini sudah jauh di luar kendali.
Devan memukul tembok di sampingnya dengan keras. "Brengsek! Mereka melanggar aturan tak tertulis. Jangan pernah melibatkan keluarga!"
"Apa yang harus kita lakukan, Devan?" Lia mulai terisak. Ketakutan yang ia coba tekan kini meledak kembali. "Aku tidak mau ayahku kenapa-kenapa."
Devan berbalik dan memegang kedua bahu Lia, menatapnya dengan intensitas yang sangat kuat.
"Dengarkan aku, Lia. Aku akan mengirim separuh anggotaku untuk menjaga ayahmu secara diam-diam. Dan untukmu, kamu harus tetap berada di bawah pengawasanku 24 jam. Mulai detik ini, tidak ada lagi perpustakaan, tidak ada lagi jalan sendirian."
Lia mengangguk pasrah. Ia tahu kebebasannya kini telah hilang, namun ia lebih memilih kehilangan kebebasan daripada kehilangan ayahnya atau Devan.
Malam itu, Devan tidak membiarkan Lia pulang. Ia menyuruh Lia tidur di kamar lamanya, sementara ia dan Baron berjaga di ruang tamu dengan senjata di tangan. Lia berbaring di tempat tidur Devan yang sudah tua, menghirup aroma yang masih tertinggal di bantal itu.
Dari balik pintu, ia mendengar bisikan Devan pada Baron. "Jika sesuatu terjadi padaku dalam perang ini, Baron... pastikan Lia dan ayahnya keluar dari kota ini. Jangan biarkan mereka terluka sedikit pun. Itu perintah terakhirku jika aku tidak kembali."
Air mata Lia jatuh membasahi bantal. Ia menyadari bahwa cinta yang baru saja mekar ini sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang kematian. Ia ingin berlari keluar dan memeluk Devan, melarangnya melakukan hal gila, namun ia tahu Devan adalah seorang ketua. Dan seorang ketua tidak akan pernah mundur dari peperangan yang sudah di depan mata.