NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Keberangkatan.

Dua tahun enam bulan.

Waktu itu tidak datang sekaligus.

Ia datang pelan—hari demi hari—hingga tanpa sadar, angka itu berubah menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan dengan ringan.

Awalnya, Lian menghitung hari.

Hari pertama.

Hari ketiga.

Hari ketujuh.

Ia masih bangun pagi dengan harapan sederhana: membuka ponsel dan menemukan satu pesan singkat.

Aku aman.

Mas pulang.

Namun pesan itu tidak pernah datang.

Hari-hari berubah menjadi minggu. Minggu menjadi bulan. Dan tanpa ia sadari, kalender di dinding rumah Haikal telah diganti berkali-kali.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan.

Haikal menghilang seperti ditelan bumi.

Bukan gugur—tidak ada kabar duka.

Bukan kembali—tidak ada jejak.

Bukan juga hidup biasa—karena ia tidak pernah muncul di mana pun.

Statusnya hanya satu:

Dalam tugas.

Kata itu dingin.

Kosong.

Dan tidak menjawab apa pun.

Lian tetap tinggal di rumah itu.

Rumah Haikal.

Rumah yang awalnya terasa asing, lalu menjadi tempat ia menunggu.

Setiap pagi, ia menyapu teras. Menyiram tanaman yang dulu Haikal tanam sendiri—meski tidak pernah ia rawat dengan serius, tapi selalu ia perhatikan.

Setiap sore, ia memasak dua porsi.

Satu ia makan.

Satu lagi… ia dinginkan. Kadang dibuang diam-diam keesokan harinya. Kadang disimpan lebih lama dari seharusnya—seolah rasa itu masih bisa bertahan.

Kamar mereka tetap rapi.

Sisi ranjang Haikal tidak pernah ia pindahkan. Bantalnya masih di sana. Selimutnya masih terlipat dengan cara yang sama.

Lian tidak berani mengubah apa pun.

Seolah jika ia menggeser satu barang saja,

Haikal benar-benar tidak akan pulang.

Bunda Maya datang hampir setiap minggu.

Awalnya dengan langkah hati-hati. Lalu dengan wajah khawatir yang tidak lagi disembunyikan.

“Lian…” kata Maya suatu sore, duduk di sofa yang sama sejak dulu. “Pulang sama Bunda saja, Nak.”

Lian tersenyum kecil.

“Belum, Bun.”

“Sudah lama sekali,” suara Maya bergetar. “Kamu sendirian terus di sini.”

Lian menggeleng pelan. “Aku nggak sendirian.”

Maya menatap sekeliling rumah yang sunyi.

“Masih menunggu?” tanyanya pelan.

Lian mengangguk.

Tidak dramatis.

Tidak menangis.

Hanya mengangguk—seperti menjawab sesuatu yang sudah pasti.

Maya mencoba lagi di lain waktu.

Dengan alasan keamanan.

Dengan alasan kesehatan.

Dengan alasan sebagai ibu.

Namun jawabannya selalu sama.

“Aku tunggu di sini, Bun.”

Maya tidak lagi membantah.

Karena ia melihat sesuatu di mata Lian yang tidak bisa dipatahkan oleh logika—bukan keras kepala, melainkan keyakinan.

Malam-malam Lian panjang.

Ia duduk di teras dengan secangkir teh yang sering keburu dingin. Menatap jalanan kosong. Mendengar suara kendaraan lewat, lalu berlalu.

Setiap suara mesin membuatnya menoleh.

Setiap langkah kaki membuatnya berharap.

Namun yang datang hanya angin.

Ia tidak menangis setiap hari.

Air mata itu sudah habis di bulan-bulan pertama.

Sekarang yang tersisa hanya rasa—

yang diam, berat, dan tidak pergi.

Kadang, Lian membuka lemari Haikal. Mengambil salah satu kemeja. Mencium aromanya yang hampir pudar.

“Mas…” bisiknya. “Aku masih di sini.”

Tidak ada jawaban.

Namun ia tetap bicara.

Karena menunggu bukan tentang dibalas—

melainkan tentang tidak menyerah.

Di kalender, ia menandai tanggal-tanggal penting.

Tanggal pernikahan mereka.

Tanggal Haikal pergi.

Tanggal ulang tahun Haikal—yang ia rayakan sendiri dengan doa panjang dan lilin kecil.

Dua tahun enam bulan.

Janji beberapa hari telah berubah menjadi waktu yang tidak bisa ia ukur lagi.

Namun Lian tidak pergi.

Ia tetap di rumah itu.

Menjaga lampu teras menyala setiap malam.

Karena di hatinya, masih ada satu keyakinan yang tidak pernah mati—

Bahwa suatu hari,

di jalan yang sama,

akan ada langkah kaki yang kembali.

Dan saat itu terjadi,

Haikal tidak akan menemukan rumah kosong.

Ia akan menemukan seseorang

yang masih menunggu.

Dua tahun telah mengubah banyak hal.

Yang paling terlihat—

rambut Lian.

Kini rambut itu panjang, hitam, jatuh lurus hampir menyentuh pinggangnya. Setiap kali ia berjalan, helaian itu bergerak pelan mengikuti langkah—tenang, anggun, tidak lagi liar seperti dulu.

Padahal dulu, Humairah Liandra—mahasiswi Teknik Mesin yang terkenal barbar, senggol bacok, dan bermulut tajam—adalah manusia yang paling anti rambut panjang.

“Ribet.”

“Panas.”

“Ganggu gerak.”

Itu alasan klasiknya.

Ia lebih suka rambut pendek asal, praktis, siap untuk bengkel, siap untuk tawuran, siap untuk apa pun yang datang tiba-tiba.

Namun sekarang—

ia membiarkannya tumbuh.

Tanpa alasan yang jelas.

Tanpa rencana.

Seolah rambut itu tumbuh bersama waktu yang ia habiskan untuk menunggu.

Lian berdiri di depan cermin kamar Haikal, menyisir rambutnya perlahan. Wajahnya lebih tenang. Tatapannya tidak lagi liar—melainkan dalam, seperti seseorang yang sudah terlalu lama berbicara dengan dirinya sendiri.

Ia masih Lian.

Masih keras kepala.

Masih berani.

Namun ada sesuatu yang melunak.

Ia mengikat rambutnya setengah, mengambil tas, lalu keluar rumah. Lampu teras ia matikan seperti biasa—namun tidak lupa menyalakannya kembali sebelum pergi, kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan.

Di kampus, suasana berbeda.

Spanduk besar terbentang di aula utama.

PROGRAM SUKARELAWAN MAHASISWA

PENGABDIAN DI DAERAH TERPENCIL

Mahasiswa berkumpul. Suara ramai. Antusias.

Lian berdiri di barisan mahasiswa Teknik Mesin. Jaket almamaternya rapi. Rambut panjangnya diikat sederhana.

Beberapa pasang mata melirik.

Ada yang terkejut.

Ada yang tidak mengenali.

“Eh… itu Lian, kan?” bisik seseorang.

“Serius? Cantik banget sekarang…”

“Dulu dia galak, ya?”

Lian tidak peduli.

Ia menatap ke depan.

Dosen koordinator maju, membacakan nama-nama mahasiswa yang terpilih—dipilih berdasarkan rekam akademik, ketahanan mental, dan rekomendasi fakultas.

“Dari Teknik Mesin,” suara dosen menggema, “Humairah Liandra.”

Ada jeda.

Lian mengedip.

Beberapa mahasiswa menoleh ke arahnya. Ada yang bertepuk tangan kecil. Ada yang terdiam, seolah nama itu tidak cocok dengan sosok yang kini berdiri tenang di sana.

Lian mengangkat tangan. “Hadir, Pak.”

Suaranya mantap.

Tanpa ragu.

Ia terpilih.

Mewakili jurusannya.

Program sukarelawan itu akan berlangsung beberapa minggu. Lokasinya berada di daerah terpencil, masih asri, jauh dari kota. Tidak ada sinyal. Tidak ada internet. Akses terbatas.

Tempat yang—

sunyi.

Tempat yang—

jauh.

“Keberangkatan besok pagi,” lanjut dosen. “Mohon persiapan fisik dan mental.”

Besok pagi.

Lian pulang ke rumah dengan langkah pelan.

Di rumah Haikal, ia membuka lemari. Mengeluarkan ransel. Mengemas pakaian secukupnya. Obat. Buku catatan. Mukena.

Tangannya berhenti saat melihat satu benda di laci.

Cincin nikahnya.

Masih ia pakai.

Ia menggenggamnya pelan.

“Aku pergi sebentar ya, Mas,” bisiknya pada rumah yang sunyi. “Bukan ninggalin… cuma jalan sedikit.”

Malam itu, ia duduk di teras lebih lama dari biasanya. Rambut panjangnya tergerai, disentuh angin malam.

Tidak ada pesan masuk.

Tidak ada kabar.

Namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun enam bulan, Lian tidak merasa bersalah karena akan pergi.

Karena menunggu bukan berarti berhenti hidup.

Dan pagi esok—

ia akan berangkat

membawa dirinya yang baru,

namun tetap dengan satu janji yang sama:

Ia akan pulang.

Dan jika Haikal kembali—

ia ingin masih menjadi seseorang

yang layak ditunggu,

dan juga mampu menunggu.

Pagi masih muda saat rombongan mahasiswa berkumpul di bandara.

Tas ransel besar berderet di lantai. Jaket almamater dikenakan rapi. Wajah-wajah penuh semangat bercampur gugup dan antusias.

Lian berdiri sedikit terpisah.

Rambut panjangnya diikat rendah. Jaketnya tertutup rapat. Cincin di jarinya berkilat pelan terkena cahaya lampu bandara.

Ia menatap papan keberangkatan tanpa benar-benar membacanya.

Penerbangan mereka hanya dua jam.

Singkat—

namun terasa seperti langkah awal menjauh dari dunia yang ia kenal.

Saat pesawat lepas landas, Lian menutup mata sejenak. Tangannya mencengkeram sandaran kursi, bukan karena takut terbang, melainkan karena perasaan aneh di dadanya—campuran antara lega dan rindu yang belum sempat tumbuh.

Ia tidak menyalakan musik. Tidak membaca. Ia hanya menatap awan dari balik jendela kecil.

Putih. Luas. Sunyi.

Dua jam berlalu.

Setibanya di bandara kecil daerah tujuan, udara terasa berbeda—lebih segar, lebih dingin. Tidak ada hiruk-pikuk kota. Tidak ada gedung tinggi. Hanya landasan dan langit yang terasa lebih dekat.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan bus.

Bus tua berwarna kusam menunggu di luar bandara. Kursinya keras. Jendelanya bisa dibuka sedikit.

“Perjalanan kita sekitar lima belas jam,” kata koordinator dengan nada bercanda. “Anggap saja wisata alam.”

Tawa meledak.

Bus mulai berjalan.

Awalnya, suasana masih rapi. Semua duduk tenang. Beberapa membuka ponsel. Beberapa memotret.

Namun satu jam berlalu—

dua jam—

dan kebosanan mulai datang.

Seseorang menyalakan musik dari ponsel. Lagu-lagu lawas diputar. Ada yang ikut bernyanyi, ada yang menepuk-nepuk kursi mengikuti irama.

Tawa terdengar.

Cerita-cerita mulai bermunculan. Tentang kampus. Tentang dosen killer. Tentang cinta.

Bus menjadi ramai.

Namun di dekat jendela sebelah kiri, Lian tetap diam.

Ia bersandar, dagunya bertumpu di telapak tangan. Pandangannya lurus ke luar—ke jalan yang semakin menyempit.

Aspal berubah kasar. Lampu jalan semakin jarang.

Rumah-rumah berkurang.

Digantikan sawah. Bukit. Pohon-pohon tinggi.

Seseorang menyapanya, “Lian, ikut nyanyi dong.”

Lian tersenyum kecil. “Nanti.”

Namun ia tidak ikut.

Ia terus memandangi jendela.

Seolah di balik pepohonan itu, ada sesuatu yang ia tinggalkan.

Atau sesuatu yang sedang ia cari.

Saat bus berbelok tajam dan masuk ke jalanan yang lebih sempit lagi, pemandangan berubah drastis.

Kanan.

Kiri.

Hutan.

Pohon-pohon tinggi menjulang rapat. Daunnya lebat. Cahaya matahari terpotong-potong oleh kanopi alam.

Bus melaju perlahan.

Dan benar saja—

ponsel Lian yang sejak tadi berada di tangannya tiba-tiba bergetar pelan.

Satu garis.

Lalu—

Tidak ada sinyal.

Ia menatap layar itu lama.

Tidak panik.

Tidak kaget.

Hanya menarik napas pelan.

“Sudah masuk area hutan,” suara koordinator terdengar dari depan. “Sinyal bakal hilang. Kalau mau ngabarin keluarga, sudah nggak bisa.”

Beberapa mahasiswa mengeluh kecil. Ada yang tertawa.

Lian menekan layar ponselnya sekali, lalu mematikannya.

Ia menyelipkan ponsel ke dalam tas.

Di luar, hutan membentang luas—sunyi, asri, dan terasa seperti dunia lain.

Jauh dari kota.

Jauh dari waktu.

Jauh dari Haikal.

Bus terus melaju, membawa mereka semakin masuk ke pedalaman.

Dan di balik kaca jendela, Lian menatap lurus ke depan—

diam,

namun tidak kosong.

Karena meski jalan itu menjauhkan segalanya,

ia tahu satu hal:

menunggu tidak berarti berhenti melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!