NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Rumah Hantu dan Air Panas

(POV: Noah)

Kunci besar berkarat itu macet di lubang pintu. Aku harus menghentakkan bahuku ke daun pintu kayu ek yang tebal itu agar mau terbuka.

Brak!

Pintu itu terbuka paksa, menimbulkan suara engsel yang menjerit panjang, memecah kesunyian bukit.

Krieeet...

Bau apek langsung menyambar hidungku. Bau debu tua, kayu lapuk, dan udara yang tidak bergerak selama bertahun-tahun. Gelap gulita di dalam. Cahaya sore yang mendung dari luar hanya mampu menerangi satu meter ke arah lorong masuk.

Aku meraba dinding di sebelah kiri, mencari saklar lampu.

Klik. Klik.

Tidak ada reaksi. Mati total.

"Kau bilang lampunya berkedip," kataku tanpa menoleh. "Ini sih mati total namanya."

Di belakangku, Alice berdiri mematung di teras. Dia memeluk dirinya sendiri lebih erat.

"Tadi memang menyala..." suaranya terdengar ragu. "Sebentar, lalu mati. Lalu ada suara letupan."

"Kemungkinannya ini korsleting," simpulku cepat.

Aku menyalakan senter dari saku celana kerjaku. Sinar putih tajam membelah kegelapan. Debu-debu beterbangan di udara seperti sebuah salju yang kotor. Ruangan ini luas, langit-langitnya tinggi, dengan perabot yang ditutupi kain putih. Persis seperti sebuah set film horor murahan.

"Jangan jauh-jauh dariku," gumamku sambil melangkah masuk. "Lantainya mungkin ada yang lapuk. Kalau kau terperosok, aku malas untuk mengangkatmu."

Alice tidak menjawab, tapi aku mendengar langkah kakinya yang cepat mengikuti di belakangku. Dia berjalan sangat dekat. Aku bahkan bisa mencium aroma parfum vanilanya yang samar, berusaha melawan bau apek rumah ini.

"Kotak sekringnya ada di mana?" tanyaku.

"Aku... tidak tahu."

Aku mendengus. Tentu saja dia tidak tahu. Putri seorang raja tidak akan pernah mengurus hal seperti ini.

"Di bawah tangga. Biasanya sih di bawah tangga atau di dapur."

Aku mengarahkan senter ke lorong. Cahaya senterku menyapu lukisan-lukisan tua yang menatap kami dengan mata melotot.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kami bergema. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang.

Aku menemukan kotak sekring tua di dinding dekat dapur. Pintunya sudah berkarat. Aku membukanya dengan paksa menggunakan ujung obeng.

Cklik!

Sarang laba-laba di mana-mana. Ada bangkai kecoa kering tersangkut di antara kabel.

"Pegang ini," perintahku sambil menyodorkan senter ke arah Alice.

Dia menerimanya dengan ragu. Tangan kami bersentuhan sekilas. Dingin. Kulitnya sedingin es.

"Arahkan ke sini. dan berhentilah gemetar," kataku tegas.

Aku mulai bekerja. Mencabut sekring yang hangus, menggantinya dengan kawat darurat yang kubawa di kotak peralatan. Ini solusi sementara, tapi cukup untuk malam ini.

"Kau akan tinggal sendirian di sini?" tanyaku sambil memutar baut. Bukan karena aku peduli, aku bertanya hanya untuk memecah kesunyian yang mencekam ini.

"Ya."

"Berani juga kau."

"Itu karena aku tidak punya pilihan."

Jawabannya cepat dan defensif. Aku meliriknya sekilas. Cahaya senter yang dia pegang memantul ke wajahnya, membuat bayangan di bawah matanya terlihat lebih gelap. Dia tidak terlihat seperti orang yang 'tidak punya pilihan'. Dia punya uang, dia punya mobil (mungkin), dia punya pakaian yang bagus. Orang kaya selalu punya pilihan. Mereka hanya suka mendramatisir keadaan.

"Selesai," kataku sambil menekan tuas utama.

Cetrek!

Terdengar suara dengungan listrik mengalir. Sedetik kemudian, lampu kristal berdebu di lorong berkedip-kedip, lalu menyala redup kekuningan.

Cahaya itu membuat ruangan terlihat sedikit lebih hidup, tapi juga memperlihatkan betapa kotornya tempat ini. Lantai kayunya tertutup lapisan debu super tebal.

Alice menghela napas lega. Bahunya turun. Dia mematikan senter dan mengembalikannya padaku.

"Terima kasih," bisiknya.

"Jangan terimakasih dulu, ini belum selesai. Sekarang dimana pemanas airnya?"

"A-Aku tidak tau."

"Hahh... Kemungkinannya ada di basement."

(POV: Alice)

Dia melihat punggung Noah yang lebar bergerak menjauh menuju ruang bawah tanah.

Alice benci ruang bawah tanah. Gelap, lembab, dan sempit. Tapi dia lebih benci ditinggal sendirian di ruang tamu yang luas ini. Lukisan-lukisan di dinding seolah menertawakannya. Lihat si gadis bodoh yang lari dari istana emasnya menuju gubuk berhantu.

Alice memaksakan kakinya melangkah, mengikuti Noah menuruni tangga kayu yang berderit menuju basement.

Krieeet...

Di bawah sana, bau besinya lebih kuat. Ada tangki air besar yang terlihat seperti monster logam di sudut ruangan.

Noah berjongkok di depan tangki itu. Baju kerjanya yang kotor terlihat menyatu dengan lingkungan ini. Alice merasa seperti seorang alien karena pakaiannya yang tidak masuk dengan basement ini.

Dia memperhatikan Noah bekerja. Pria itu sangat cekatan. Tangannya yang kasar dan penuh bekas luka bergerak lincah memutar kunci inggris, memukul pipa, dan menyambungkan kabel.

Ada sesuatu yang... menenangkan dari cara Noah bekerja. Dia tidak banyak berbasa-basi. Dia tidak berpura-pura menjadi orang yang sopan. Dia hanya melakukan tugasnya.

Di dunia Alice, semua orang memakai topeng. Tunangannya tersenyum manis tapi matanya dingin. Ayahnya memberinya segalanya kecuali kebebasan. Ibu tirinya memeluknya di depan kamera tapi mencubitnya saat tidak ada orang.

Tapi pria ini... dia adalah orang yang jujur. Dia kasar, dia bau oli, tapi dia terasa lebih seperti seorang manusia.

"Solarnya habis," suara Noah membuyarkan lamunan Alice.

Alice tersentak. "Apa?"

Noah berdiri, mengelap tangannya yang hitam ke celana. "Pemanas ini butuh solar. Tangkinya kosong. Pantas saja tidak mau menyala."

"Jadi... tidak bisa diperbaiki?" Kepanikan mulai merayap di dada Alice. Mandi air dingin? Di suhu sedingin ini? Dia bisa mati karena beku.

"Bisa diperbaiki. Aku punya jerigen cadangan di truk. Tapi akan ada biaya tambahan."

Alice langsung merogoh tasnya lagi. "Ambil saja. Berapa pun."

Noah menatapnya dengan tatapan aneh itu lagi. Tatapan yang membuat Alice merasa seperti anak kecil yang bodoh yang sedang membuang-buang uang jajannya.

"Simpan dompetmu untuk saat ini, bayarnya nanti saja," kata Noah ketus, lalu berjalan melewatinya menaiki tangga. "Tunggu di sini. Aku ambil solarnya."

"Jangan lama-lama," kata Alice refleks. Suaranya terdengar terlalu memelas.

Noah berhenti di anak tangga ketiga. Dia menoleh ke belakang, menatap Alice yang berdiri kedinginan di ruang bawah tanah yang suram.

"Aku tidak akan meninggalkan mu, Nona. Trukku masih ada di depan."

(POV: Noah)

Satu jam kemudian.

Pemanas air sudah menderu pelan. Suara air mengalir terdengar di pipa-pipa tua dinding rumah.

Glug... Glug... Sssshhh...

Aku membereskan perkakas, memasukkannya kembali ke dalam kotak besi. Tugasku selesai. Listrik menyala, air panas mengalir. Meskipun rumah ini masih tetap menyeramkan dan penuh debu, setidaknya sudah bisa ditinggali oleh manusia.

Aku berjalan kembali ke ruang tamu. Alice sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap ke luar. Ke arah lautan gelap yang tidak terlihat karena kabut malam.

"Sudah beres," kataku. "Air panasnya butuh waktu sepuluh menit untuk naik."

Alice berbalik. Dia terlihat sedikit lebih tenang sekarang.

"Berapa semuanya?" tanyanya.

Aku menyebutkan angka. Angka yang cukup besar untuk biaya hidupku selama dua minggu. Tapi Alice tidak menawarnya. Dia mengeluarkan uang itu dan meletakkannya di tanganku. Tangannya masih gemetar sedikit.

"Terima kasih, Noah," katanya. Kali ini dia menyebut namaku. Terdengar aneh di lidahnya.

"Sama-sama." Aku memasukkan uang itu ke saku. "Satu saran gratis dsriku... kunci pintu depan. Jendela di lantai dua juga kuncinya longgar, ganjal saja pakai kursi."

Aku mengangkat kotak peralatanku, siap untuk pergi. Siap untuk meninggalkan gadis aneh ini dan kembali ke duniaku yang normal.

Tapi langkahku terhenti saat mendengar suara aneh.

Kruuuk...

Suara perut yang berbunyi nyaring.

Aku menoleh. Wajah Alice memerah padam sampai ke telinga. Dia memegang perutnya dengan malu.

"Kau belum makan sesuatu?" tanyaku.

Dia menunduk, menggeleng pelan. "Aku... lupa beli makanan tadi Dan toko sepertinya sudah tutup."

Aku menghela napas panjang. Sangat panjang. Sampai rasanya paru-paruku kosong.

Aku melihat jam tangan murahku. Pukul tujuh malam. Toko kelontong di desa memang sudah tutup. Dan gadis ini ada di puncak bukit, tanpa makanan, di rumah kosong.

Logika di kepalaku berteriak... Pulang, Noah. Itu bukan urusanmu. Kau sudah dibayar jadi pulang saja.

Tapi kakiku tidak mau bergerak.

"Di trukku ada dua bungkus roti isi ikan sisa tadi siang. Masih layak untuk dimakan, cuma agak dingin," kataku datar.

Alice mengangkat wajahnya. Matanya berbinar, seolah aku baru saja menawarkannya hidangan bintang lima.

"Kau... mau menjualnya padaku?"

Aku mendengus tertawa. Gadis ini benar-benar berpikir semuanya harus dibeli.

"Tidak. Anggap saja bonus layanan untuk pelanggan."

Aku meletakkan kotak peralatanku lagi. "Tunggu sebentar. Aku ambilkan."

Sialan. Kenapa aku jadi sebaik ini? Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya kelaparan. Atau mungkin... karena aku tidak tega meninggalkan seseorang sendirian di rumah sebesar ini dengan perut kosong.

Apapun itu, aku tahu ini adalah awal dari sebuah masalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!