Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Pusat perbelanjaan di pusat kota siang itu cukup ramai untuk ukuran hari kerja. Aroma pengharum ruangan khas mall dan musik latar yang ceria seolah mencoba mengusir beban berat yang menyelimuti pundak Amara. Sudah hampir dua minggu ia berkutat dengan latihan soal UTBK—dari Penalaran Umum hingga Pengetahuan Kuantitatif yang membuatnya merasa otaknya hampir berasap.
"Ifa, lihat ini. Warnanya bagus tidak? Atau yang model begini saja supaya bisa dipakai kondangan?" Bunda menunjukkan sebuah tas kulit berwarna cokelat tua.
Amara mengerjapkan mata, berusaha fokus pada tas itu meskipun di kepalanya masih terbayang rumus integral. "Bagus, Bun. Apa saja yang Bunda suka pasti cocok kok."
Bunda terkekeh pelan, menyadari anak bungsunya itu hanya raga yang hadir, sementara pikirannya entah di mana. "Kamu ini... kalau stres belajar jangan dipaksa. Ya sudah, kamu melipir saja dulu cari jajanan. Bunda mau agak lama di sini, sekalian mau lihat-lihat dompet buat Ayah."
Amara mengembuskan napas lega. "Beneran, Bun? Ifa boleh ke area makanan?"
"Boleh, Sayang. Nanti Bunda telepon kalau sudah selesai."
Amara melangkah menuju gerai es krim premium di lantai yang sama. Ia mengantre sebentar sebelum memesan ukuran jumbo dengan tiga varian rasa: dark chocolate, mint chocolate chip, dan sea salt caramel. Pilihan yang menurutnya sangat pas untuk mendinginkan saraf-saraf kepalanya yang tegang.
Ia menemukan kursi kosong di sudut area makan yang menghadap langsung ke arah atrium mall. Amara duduk di sana, menyendok es krimnya dengan tenang. Sensasi dingin dan manis itu menyentuh lidahnya, memberikan rasa nyaman yang instan.
"Itung-itung buat ngademin otak," gumamnya pelan, sambil menatap kerumunan orang di bawah sana.
Ia teringat kejadian beberapa hari lalu di sofa. Nicholas. Pria itu membantu mengerjakan soal limitnya dengan sangat tenang, lalu pergi begitu saja tanpa menagih apa pun. Sejak saat itu, Amara merasa ada sesuatu yang hilang. Tidak ada lagi pesan singkat yang bertanya "Sudah makan?" atau "Belajar sampai jam berapa?". Nicholas benar-benar menghilang sesuai permintaannya.
"Kenapa gue malah mikirin dia sih?" Amara mengaduk es krimnya yang mulai meleleh sedikit. "Bukannya ini yang gue mau? Tenang. Nggak ada yang ganggu."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Amara tahu bahwa "tenang" yang ia rasakan saat ini terasa sangat hambar.
Baru saja ia hendak menikmati sendokan es krim berikutnya, sebuah bayangan jangkung menutupi cahaya lampu di atas mejanya. Amara mendongak, menyangka itu mungkin Bunda yang sudah selesai belanja.
Namun, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Di depannya, berdiri seorang pria mengenakan kaos hitam polos dan celana kargo gelap. Rambutnya sedikit acak-acakan, khas Nicholas yang sepertinya baru saja selesai praktikum atau berkutat di bengkel kampus. Nicholas berdiri di sana memegang satu cup kopi hitam yang hampir habis.
Amara terpaku. Ia tidak menyangka akan bertemu Nicholas di sini, di tempat umum, di saat ia baru saja memikirkan pria itu.
Nicholas tampak sama terkejutnya, namun ia dengan cepat mengendalikan ekspresinya menjadi datar dan tenang. "Sendirian?" tanya Nick singkat.
"S-sama Bunda. Bunda lagi beli tas," jawab Amara terbata. "Kak Nick ngapain di sini?"
"Cari komponen buat tugas maket Ryan di toko hobi lantai atas," jawab Nick. Ia melirik cup es krim jumbo di depan Amara. "Makan es krim segitu banyak nggak takut sakit gigi?"
Amara mendengus, mencoba mengembalikan sikap defensifnya. "Biarin. Otak aku butuh yang dingin-dingin gara-gara soal UTBK."
Nick menarik kursi di seberang Amara—namun ia tidak langsung duduk. Ia menatap Amara seolah sedang meminta izin secara tersirat. Mengingat kejadian terakhir, ia tidak ingin lagi bersikap lancang.
Amara mengangguk pelan. "Duduk aja, Kak. Nggak ada yang punya kursinya."
Percakapan yang Berbeda
Nicholas duduk. Tidak ada paksaan, tidak ada klaim "milik gue", dan tidak ada aura dominan yang menyesakkan. Pria itu hanya duduk diam, menyesap kopinya sambil membiarkan Amara menyelesaikan es krimnya.
"Soal limit kemarin... sudah paham?" tanya Nick memecah keheningan.
"Udah. Ternyata emang aku yang kurang teliti di bagian penguadratan," jawab Amara jujur. "Makasih ya, Kak."
Nick mengangguk. "UTBK sebentar lagi. Jangan terlalu dipaksa. Lo pinter, lo cuma perlu lebih rileks."
Amara tertegun mendengar pujian tulus dari Nicholas. Biasanya pria ini hanya akan mengejeknya "bocah" atau "lemot". Perubahan sikap Nick yang menjadi lebih tenang dan menghargai batasannya justru membuat Amara merasa... aneh. Ada rasa rindu yang menyelinap secara ilegal ke dalam hatinya.
"Kak Nick..."
"Hmm?"
"Kenapa Kakak tiba-tiba jadi... diem banget?" tanya Amara akhirnya. "Biasanya Kakak hobinya bikin aku emosi."
Nicholas menatap mata Amara dalam-dalam. "Lo bilang gue nggak dewasa, kan? Gue lagi belajar caranya jadi orang dewasa buat lo, Amara. Gue belajar buat nggak maksa, gue belajar buat nggak selalu ada di depan muka lo kalau lo nggak mau."
Ia menjeda ucapannya sejenak, menatap ke arah keramaian mall. "Tapi jujur, itu hal tersulit yang pernah gue lakuin seumur hidup gue. Lebih susah daripada ngerjain kalkulus tingkat lanjut."
Amara terdiam, sendok es krimnya menggantung di udara. Ia merasa dadanya sedikit sesak, tapi bukan karena dinginnya es krim, melainkan karena pernyataan Nicholas yang begitu jujur.
"Iffa!" suara Bunda memecah momen di antara mereka.
Bunda berjalan mendekat dengan beberapa kantong belanjaan. Ia tersenyum lebar saat melihat siapa yang duduk bersama anaknya. "Eh, ada Nicholas? Ketemu di sini, Nak?"
Nick langsung berdiri dan menyalimi tangan Bunda dengan sopan. "Iya, Tante. Kebetulan lagi cari bahan buat tugas."
"Wah, pas sekali. Bunda sudah lapar ini. Nicholas, makan siang bareng Tante sama Iffa yuk? Bunda yang traktir sebagai terima kasih sudah sering bantu jagain Ifa," ajak Bunda semangat.
Amara melirik Nicholas, berharap pria itu menolak agar hatinya tidak makin kacau. Namun, Nicholas justru menatap Amara, seolah bertanya, 'Boleh gue ikut?'
Melihat tatapan memohon yang samar itu, Amara akhirnya menghela napas dan mengangguk kecil.
"Boleh, Bun. Kak Nick kayaknya juga belum makan," sahut Amara.
Nicholas tersenyum tipis—kali ini bukan seringai kemenangan, tapi senyum lega yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih hangat. Sore itu, di tengah hiruk-pikuk mall, Amara menyadari bahwa tembok yang ia bangun susah payah perlahan-lahan mulai retak oleh kesabaran seorang Nicholas yang sedang mencoba berubah demi dirinya.