NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30 : Keputusan keluarga

Malam itu Arinta langsung menyusul ke rumah orang tuanya Alena. Semua orang sudah berkumpul di sana bagai algojo yang siap menghakiminya bagai seorang terdakwa.

Langkahnya terasa berat ketika memasuki rumah itu. Ada rasa kekhawatiran yang tak mampu terelakkan.

Begitu masuk benar saja, semua pandangan jijik dan merutuki tertuju ke arah dirinya, juga kekecewaan yang berasal dari kedua orang tua Alena.

Di sana ia melirik sang istri dengan mata sembab, wajah yang memerah. Tatapan wanita itu memandang jauh darinya, seolah ia tak Sudi lagi untuk melihat Arinta.

"Bu, Yah, maafkan Arinta!" Pria itu dengan cepat bersujud, bersimpuh di depan kedua orang tua Alena yang sudah menitipkan anaknya ke tangan Arinta tapi akhirnya ia patahkan juga hatinya.

"Kenapa, kamu lakukan ini kepada Alena??? Kenapa??? Apa salah Putri Ibu ke kamu!!"

Ibunya Alena sudah tak bisa menahan diri. Ia membungkuk mengguncangkan kedua bahu Arinta. Suaranya terdengar perih begitu melontarkan pertanyaan itu.

"Kamu tega memperlakukan Alena seperti itu! Apa tidak cukup penderitaannya saat kamu bawa dia ke Jakarta dan harus hidup seadanya!? Sekarang kamu malah berani bermain dengan wanita lain, di mana kamu pakai hati dan otak kamu!" Ayahnya Alena tak kalah emosi. Ia bahkan sampai menunjuk-nunjuk Arinta dengan sengit.

"Sungguh, maafkan saya. Saya khilaf!" Hanya itu pembelaan yang dapat dilakukan Arinta. Ya, alasan klise yang terlalu mudah dan sederhana, bahkan tanpa makna. Khilaf. Apalagi?

Pandangan matanya beralih ke arah Alena yang masih memalingkan wajah. Ia kemudian menggeser kedua lututnya, mendekati sang istri, bersimpuh di depannya.

"Len, tolong maafin aku..., kenapa tiba-tiba kayak gini?" Dia benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mendadak jadi seperti ini.

"Kamu masih bisa pura-pura di depan aku? Setelah melakukan perbuatan menjijikkan itu?" Ia menatap tajam ke arah Arinta. Mata itu memancarkan luka yang teramat pedih, terbaca dengan jelas siapapun yang melihatnya.

Arinta menelan ludahnya. Dia tau, dia memang melakukan perbuatan hina itu, namun satu hal yang masih berusaha ditepisnya adalah fakta kalau perbuatan itu memang sudah terbongkar.

"Put!" Alena melirik ke arah sang sepupu.

Putri segera menyodorkan ponsel yang pegang nya kepada Arinta dengan kasar.

"Lihat saja sendiri!!" Ujar Putri segera memberikan ponsel itu.

Arinta mengecek ponsel milik Alena tersebut dan membuka pada bagian pesan di mana ia melihat adanya satu buah pesan video masuk. Firasat buruk langsung bergelayut dalam hati.

"Buka, kenapa diam saja?" Tukad Putri dengan nada kesal.

Dia tak punya pilihan dan akhirnya membuka video itu.

Kedua-mata Arinta langsung melebar, raut wajahnya berubah, ekspresinya berubah tajam. Sialan, sejak kapan Melinda merekam perbuatan ini?

Video itu berdurasi lima menit dengan adegan Melinda dan Arinta sedang bercumbu mesra di kamar hotel tanpa pakaian. Itu sudah sangat jelas, tanpa sensor.

Wanita sialan itu!!!

Ia menggeram dalam hati tak menyangka Melinda berani mengkhianatinya sekalipun mereka sudah melakukan perjanjian.

Ah, tidak. Itu bukan salah Melinda sepenuhnya. Dia yang bodoh percaya dengan wanita licik seperti rubah itu. Tapi bukan itu yang harus dipikirkan sekarang.

Bagaimana caranya dia mengatasi persoalan ini dengan keluarganya Alena? Astaga, kepalanya benar-benar terasa sakit seperti ditusuk ribuan jarum pada satu titik yang sama.

"Aku mau kita bercerai," ucap Alena dengan tegas.

Semua orang terdiam mendengar penuturan Alena termasuk Arinta. Mereka gak menyangka kalau Alena bakal membuat keputusan secepat itu.

"Len? Kamu gak mau memikirkan ulang, Len?" Arinta tampak masih berusaha membujuk sang istri untuk berubah pikiran.

"Maaf, tapi kayaknya aku enggak bisa lagi menahan semua ini, aku capek...," jawab Alena dengan rasa tertekan.

Wanita itu kemudian berusaha untuk bangun dari kursi ruang tamu dengan dibantu oleh Putri dan Wahyu yang berdiri di kiri dan kanannya.

"Lebih baik, aku gak mau ketemu kamu dulu untuk saat ini dan aku sekarang mau istirahat," ujarnya berusaha untuk bersikap tegar.

Arinta hanya bisa terdiam. Ia masih berlutut di lantai sambil melihat kepergian Alena yang dibawa oleh Wahyu dan Putri ke dalam kamarnya yang sudah disiapkan oleh sang bunda.

"Len, tolong kasih aku kesempatan! Alena!"

Pria itu segera berdiri, berteriak, masih memohon sebuah pengampunan tapi Alena tetap pergi tanpa menoleh. Ketika kakinya hendak mengejar, tubuhnya tertahan. Pak Arif berdiri di depan, menghalangi jalan.

"Mau apa lagi kamu? Cepat pergi! Anak saya sudah gak mau melihat kamu lagi! Cepat pergi atau saya panggilkan keamanan di sini!" Wajah pria itu murka, dia bahkan tak segan menegaskan dengan otoritas setempat.

"Saya akan pergi, tapi bukan berarti saya akan menyerah!!" Ujar Arinta dengan emosi yang akhirnya meledak.

Tepat setelah itu ia berbalik, meninggalkan rumah menuju pintu keluar sambil mengepalkan tangan dengan amarah di dada karena keadaan.

Alea yang melihat Arinta pergi malah berlari.

"PAPIIIHHH!!" Ia berteriak memanggil sang ayah yang sudah keluar pintu rumah.

"Eh, Alea jangan ke sana! Sini sama Nene." Ibunya Alena dengan cepat menangkap tubuh si mungil lalu menggendongnya erat.

"Papih! Kenapa Papih pergi?? Kenapa Papih diusir Kake!!??" Anak kecil itu menangis sejadi-jadinya. Dia masih terlalu kecil untuk menyadari masalah orang dewasa.

Arinta sempat berhenti saat mendengar tangisan Alea, namun kaki-kakinya terasa berat untuk melangkah kembali masuk ke rumah itu.

"Papih jangan pergi! Ayo temani Mamih sama-sama!! Mamih lagi sedih, Papih!"

Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa Alea mengerti permasalahan yang sebenarnya dan mengira Arinta akan menjadi pengobat luka hati Alena.

Maafin Papih, Alea....

Meski dengan perasaan yang begitu berat, Arinta mencoba untuk terus berjalan, melangkah pergi tanpa menoleh sekalipun tangisan Alea semakin keras ketika ayahnya memutuskan pergi dan melihatnya meninggalkan halaman rumah dengan mobil.

"Papihhhh!!!" Alea menjerit di pelukan sang nenek dan meminta untuk diturunkan.

Sang nenek yang kewalahan akhirnya menurunkan tubuh Alea.

Gadis kecil itu berlari keluar berharap ayahnya masih ada di sana, masih bisa terkejar, namun yang di dapatnya hanya halaman kosong. Mobil itu sudah pergi jauh tentunya.

"Kenapa Kakek suruh Papih Alea pergi!!!?"

Alea akhirnya duduk di jalanan sambil menangis tantrum. Hal yang tak pernah biasa ia lakukan sebelumnya.

"Bi, buruan bawa Alea masuk!" Ujar ibunya Alena kepada Yani.

Yani bergegas berlari ke halaman depan dan berusaha untuk menggendong Alea yang malah memukul-mukul dirinya.

Putri yang melihat Yani kewalahan akhirnya bergerak, ikut membantu untuk menenangkan gadis kecil itu.

"Alea jangan gitu, katanya mau temenin Mamih? Emangnya Alea gak sayang ya, sama Mamih?" Ucapnya dengan nada lembut sambil berjongkok di depan Alena yang masih cemberut dan menangis. Namun, ucapan dari Putri berhasil membuatnya terdiam.

"Alea sayang sama Mamih, tapi Alea mau nemenin Mamih sama Papih," jawabnya masih sedikit terisak.

"Papihnya lagi ada kerjaan dulu, nanti juga kemari lagi. Yuk, kita masuk dulu ya, temenin Mamih. Katanya gak mau bikin Mamih sedih?"

Bujukan Putri berhasil. Alea mengangguk patuh. Ia malah berdiri dengan sendiri dan berjalan masuk kembali ke rumah sambil digandeng oleh Putri ke dalam. Semua orang langsung bernapas lega, setidaknya Alea bisa tenang.

Tapi sampai kapan masalah ini bisa ditutupi kepada Alea? Cepat atau lambat gadis kecil itu pasti menyadari ada yang salah dari hubungan kedua orangtuanya nanti.

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!