Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 : Permohonan untuk Alea
Hari itu juga Arinta langsung pulang ke Bandung tanpa keluarganya yang seakan langsung kabur begitu saja meninggalkan Arinta karena telah membuat malu keluarga besar dengan dua skandal sekaligus. Perselingkuhan dan Video mesum.
Arinta tidak peduli dengan semua itu. Hal yang terpikirkan dalam pikirannya saat ini hanyalah Alea. Dia ingin bertemu dengan putri kecilnya. Ingin memeluk, sekedar melepas rindu atau bahkan diberi kesempatan melihatnya dari jauh saja tak masalah. Kerinduannya sudah sangat tidak tertahan tapi Alena dengan kejam tak membiarkan ia untuk melihat Alea bahkan untuk satu detik, karena saat di persidangan Alea ditinggal di dalam mobil bersama Yani, jadi mereka tidak bisa bertemu.
Tujuan utamanya sekarang jelas, pergi ke rumah Alena untuk bertemu Alea. Sebagai seorang ayah dia merasa masih memiliki hak untuk itu. Alea anak, darah dagingnya sendiri. Dia gak akan membiarkan satu orang pun mencabut hak itu dari dirinya termasuk Alena sendiri.
Sepanjang perjalanan pikirannya hanya terfokus pada Alea. Dia mendengar gadis itu menangis di dalam mobil saat pergi dari pengadilan. Dia dan Alena boleh bercerai tapi hubungannya dengan Alea tidak akan pernah bisa putus.
Sementara Alena dan keluarga baru saja sampai di rumah. Tubuh wanita itu kurus dan lelah karena lamanya waktu yang terbuang selama mengurus perceraian. Dia langsung memilih untuk istirahat.
Alea yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi masih sesenggukan dan mencari-cari Arinta. Tak ada yang menggubris bahkan Alena sendiri sudah pergi ke kamar.
"Alea, sama Nene yu...." Wanita tua itu bersimpati mencoba menghibur cucu perempuan dari anak pertamanya itu.
"Gak mau, Alea mau sama Papih, hiks...." Si kecil kembali terisak dan menolak bujukan sang nenek.
"Alea, tapi Papihnya lagi gak di sini, nanti ya kita ketemu Papih?" Putri ikut membantu mencoba membujuk sambil mengelus belakang kepala Alea yang masih merajuk.
"Gak mau! Alea gak mau! Alea gak mau nanti!!" Alea menghentak-hentakkan kedua kakinya di lantai dengan keras sebagai ekspresi kemarahan.
Alena yang merasa sangat letih dan suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, merasa terganggu dengan ocehan dan tuntutan sang anak yang berteriak-teriak di luar hingga suaranya terdengar sampai ke dalam kamar.
Entah kenapa saat itu ia langsung terpancing emosi. Ia bergegas bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar dengan raut wajah kesal.
"ALEA!" Ia membentak keras membuat semua orang terkejut. Termasuk ibunya sendiri yang was-was. Ia khawatir Alena sampai lepas kendali.
"Alea berapa kali Mamih bilang, jangan minta ketemu sama Papih?!!" Tatapannya tajam bahkan untuk ke anaknya sendiri. "Kamu ngerti gak kalau dibilang nanti, ya nanti?" Tegasnya tanpa bertele-tele.
Sayang sekali saat itu Alea tampaknya juga keras kepala tidak seperti biasanya.
"Alea bilang enggak mau nanti!!" Anak kecil itu bertolak-pinggang. Tatapannya juga menyorot tajam meski sarat akan makna kepolosan ke arah Alena. "Soalnya kalau nanti, nanti, bakal kaya waktu itu di rumah Tante Nini!" Ungkapnya yang ternyata merekam dan mengingat semua kejadian saat Alena mengungsi sementara di rumah Andini dan membuat Alea sangat sulit bertemu dengan Arinta karena Alena selalu melarang.
"Alea! Masuk kamar!" Alena tak bisa merespon. Sebenarnya ia terkejut dari dalam, tidak menyangka kalau anaknya akan berbicara seperti itu. Pada akhirnya ia hanya bisa mencoba membungkam sang anak dengan menyuruhnya pergi ke kamar.
"Alea marah sama Mamih!!" Dengan wajah cemberut dia berlari masuk ke dalam ruangan kamarnya dengan diikuti oleh Yani, menyusul untuk menjaga Alea.
"Alena...." Ibunya Alena berdiri dan berjalan mendekati putrinya itu. Ia menatap teduh Alena, mencoba untuk tidak menghakimi akan sikapnya barusan.
"Kamu seharusnya tidak terlalu keras kepada Alea," ujarnya sambil memegang kedua bahu lelah anak pertamanya itu. "Alea, masih kecil, dia butuh diberi penjelasan dengan lembut...."
"Gak tau lah, Bu. Alena lagi pusing..., mau tidur...." Alena memijat keningnya sendiri. Pikirannya sedang kacau, tidak fokus. Termasuk emosinya yang naik-turun.
"Hhh, ya sudah..., kamu istirahat saja...." Sang bunda tak dapat berkomentar banyak. Ia menghela napas sambil berharap anaknya itu mendengarkan apa yang dikatakannya barusan.
Namun, baru saja Alena mengharapkan ketenangan. Suara deru mobil terdengar di depan pintu pagar. Sekilas Alena jelas dapat mengenali itu mobil Arinta yang sudah berhenti, terparkir begitu saja.
"Astaga mau apa lagi dia kemari?" Putri mendengus, emosinya langsung naik. Cepat-cepat ia keluar.
"Udah, Len kamu masuk ke kamar saja. Biar Ibu sama yang lain bicara sama Arinta." Ia segera mendorong tubuh sang anak untuk masuk ke dalam kamar.
Putri sudah berjalan duluan ke depan halaman rumah dengan disusul oleh ibunya Alena, juga Wahyu yang berjalan di paling belakang.
Arinta sudah terlihat berdiri di depan pintu pagar karena terkunci ia tak bisa masuk dan hanya celingak-celinguk melihat ke arah dalam, memastikan keluarga itu sudah ada di dalam rumah.
"Mau apa lagi kamu kemari?" Suara ibunya Alena sudah menggelegar di area halaman. Tatapannya begitu tajam penuh rasa tak suka. Baginya Arinta adalah orang yang telah merusak hidup anaknya.
"Saya kemari cuma mau ketemu sama Alea, tolong. Aku hanya ingin bertemu, karena sudah lama sekali aku tak melihat Alea," ucap Arinta memohon. Ia bahkan tidak masalah kalau harus merendahkan diri demi Alea, selagi ia bisa diberi kesempatan untuk melihat anaknya itu.
"Alea lagi gak bisa ditemui," pungkas wanita itu dengan dingin.
"Bu, tolong!" Balas Arinta secara reflek. Gejolak hatinya mulai terusik. "Saya sudah lama tidak ketemu, hanya ingin melihat dan mendengar suaranya saja, tidak apa-apa meski sebentar, tolonglah Bu. Saya masih Ayah kandungnya!" Arinta tidak menyerah dan mencoba.
Wanita itu pun terdiam, termasuk Putri dan juga Wahyu. Sebenarnya mereka memahami bagaimana perasaan Arinta yang ingin bertemu dengan Alea. Tapi masalahnya Alena tidak mengijinkan. Kalau mereka membiarkan Arinta bertemu dengan Alea, bukankah itu seperti menyakiti, mengkhianati Alena? Keraguan pun muncul di wajah ketiga orang itu. Mereka saling memandang seolah meminta pendapat satu sama lain.
"Bu, aku dan Alena boleh berakhir dan bercerai, tapi ikatan ku dengan Alea, tidak akan pernah putus. Sampai kapanpun dia tetap anak kandungku, dan tidak ada istilah mantan anak 'kan Bu?" Ujar Arinta lagi.
Namun, belum sempat wanita itu memberi jawaban. Alea yang memang mengenali suara mobil sang ayah sudah berlari dari dalam kamar menuju luar.
"PAPIIIHHHHHH!"
Alea berlari-lari cepat dengan kedua kaki kecilnya yang mungil sambil mengulurkan tangan ke depan.
Ia kemudian berdiri tepat di depan pagar di mana Arinta berdiri lalu berjongkok sambil mengusap kepalanya.
"Alea kangen banget sama Papih!" Alea memeluk leher pria itu dari dalam pagar.
"Papih juga kangen nih, sama Alea," balas pria itu dengan lembut.
"Alea mau ikut sama Papih, soalnya Mamih jahat. Kalau Alea di sini nanti Alea gak bisa ketemu sama Papih dong." Kata-kata itu meluncur begitu saja dengan polos dari bibir kecil Alea, mengungkapkan rasa tidak puasnya karena larangan Alena.
Arinta tidak dapat membalas ucapan Alea. Sejujurnya dia pun agak kesal dengan Alena yang berusaha keras seperti mau memisahkannya dengan Alea.
"Kenapa kamu kemari!??? Alea, cepat masuk!!"
Benar saja, tentu Alena mendengar teriakan Alea barusan. Dia sudah berdiri di depan pintu masuk. Dengan nada tegas, ia mengusir dan menyuruh Alea kembali ke dalam.
Apakah Alea dapat dengan mudah menuruti perkataan Alena? Atau dia malah semakin merasa tidak aman dengan Mamihnya sendiri?
.
.
Bersambung....
rubah sifatmu lena jng sampai calon suamimu jg merasa tertekan oleh sifatmu