DUREN SAWIT (duda keren sarang duwit)
Menceritakan seorang duda yang mati-matian mengejar cinta seorang remaja delapan belas tahun yang bernama Rianti. Gadis sederhana yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang sang istri.
Hayu kepoin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adisty Rere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir saja
Shinta memarkirkan sepeda motor di garasi kost tempat ia tinggal. Ia melihat bu Anita yang membawa sebuah paket berjalan ke arahnya.
"Nak Shinta, ini ada kiriman buat kamu." Bu Anita pun berlalu pergi setelah memberikan paket berukuran sedang.
Shinta yang menerima paket itu melihat siapa yang mengirim dan beberapa kali menggoyangkan kotak yang berwarna coklat muda.
Hmm dari Sandriana, tapi siapa itu Sandriana? Perasaan aku gak punya temen ato keluarga yang bernama itu.
Shinta pun melanjutkan langkahnya menuju kamar. Ia membuka kotak itu dan melihat isinya.
"Waahh cantik banget ... Ini kan heels yang aku incar," ucapnya sambil mengingat kejadian waktu di Mall.
"Cuma harganya mahal jadi aku pikir buat nabung dulu. Eee sekarang malah ada di sini. Siapa sih yang baik hati ngasih ini?" imbuhnya lagi sambil tersenyum riang.
Shinta mencoba memakai high heels yang berwarna silver tersebut sambil berjalan lenggak-lenggok bak model yang berjalan di atas catwalk dan melambaikan tangan mengikuti gaya putri Indonesia. Setelah selesai dengan selebrasi hayalan, ia melepaskan heels tersebut sambil tertawa senang.
"Waahh aku merasa jadi orang paling cantik," gumamnya.
Tingg.
Masuk 1 notifikasi chat di ponselnya.
083145776288.
Bagaimana? kamu suka hadiah dariku.
Shinta.
Iya, aku suka. Tapi kakak ini siapa? Apa kita kenal? Kenapa ngasih aku heels?
Hampir 5 menit Shinta menunggu balasan dari si pengirim pesan. Ia coba telepon tapi nomornya sudah tidak aktif.
Kenapa gak di bales-bales ya?
"Ah peduli amat lah.. si Amat aja gak peduli. Toh orangnya sampe kirim pesan segala buat mastiin aku suka apa tidak. Itu artinya sepatu ini memang buat aku."
Shinta pun berlalu meninggalkan heels itu di atas kasur, dan menyambar handuk, menuju kamar mandi.
"Aahhh lelahnya... " gumam Shinta yang sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur tercintanya itu. Ia melirik jam di dinding.
"Udah hampir maghrib rupanya. Pantesan aja ni cacing udah demo," ucap Shinta sambil memegang perutnya. Ia pun beranjak dari kasur dan mengambil dompet dan ponselnya.
Tingg.
Satu lagi notifikasi chat masuk di ponselnya.
Rianti.
Lagi apa, Neng? Udah makan?
Shinta pun langsung membalas pesan tersebut.
Shinta.
Nih lagi OTW nyari makan, Mak.
Shinta tertawa cekikikan sambil berjalan keluar kamar.
Rianti.
Idiihh ... ogah aku jadi emak kamu.
Shinta.
Ya kan gak lama lagi bakalan jadi emak-emak. BTW, kamu masih M?
Rianti.
Udah bersih, bentar lagi mau mandi wajib.
Shinta.
Hahahah ... aku tuh gak habis fikir. Bisa-bisanya dateng bulan pas lagi pemanasan. Ngakak so hard aku tuh. Wkwkwkwk ....
Rianti.
Ya bisalah ... namanya juga tamu bulanan mana ada yang ngetuk pintu duluan, ngasih tau kalo mau datang.
Shinta yang sedang berjalan menyusuri lorong di kost tak henti-hentinya tertawa cekikikan membaca pesan dari Rianti.
"Mau kemana Nak Shinta?" tanya ibu kost.
"Mau keluar Bu, nyari makan."
"Gak pake motor?"
"Gak perlu Bu, deket sini aja," sahut Shinta sambil tersenyum pada ibu kost dan berlalu pergi.
Shinta.
Terus perlakuan suami kamu selama semingguan ini bagaimana?
Rianti.
Duh ... kalo itu aku merasa beruntung tau gak dapat suami kaya mas Ardi. Aku udah kaya artis Nia Radhani yang gak di bolehin sama suaminya kedapur. Hahaha ... jangan ngiri ya ...
Shinta.
Itu beneran? Bukan hoax ... ii baper aku tuh.
Rianti.
Iya beneran Shinta ... aku aja kaget waktu awal-awal di perlakukan bak putri begitu. Sarapan selalu dia yang bikinin, makan siang dia yang pesan lewat online, trus kalo dia pulang kerja ... dia selalu ngajak dinner yang super romantis gitu.
Shinta.
Wah ... beruntung kamu, Ri. Sepertinya predikat si duren sawit gak salah ya. Dia bener-bener duda keren sarangnya duit.
Rianti.
Ho oh. Klepek-klepek aku tuh.
Shinta.
Iyah ... aku yang denger aja jadi baper. Apa lagi kamu. Siap-siap aja, ntar kamu pasti di makan ... trus kalo di makan, jangan ngelawan.
Rianti.
Heheh ... udah ah ... jangan bahas itu lagi. BTW, kamu udah dapat kerjaan belom? Besok kan udah gajian.
Shinta.
Belom. Tapi aku tetep mau berenti kerja. Aku udah gak nyaman. Senyuman pak haikal udah gak ada manis-manisnya, malah udah kaya om om hidung belang.
Rianti.
Aku setuju. Berenti kayaknya pilihan terbaik. Soal kerja nanti aku coba ngomong sama mas Ardi.
Shinta.
Ok. Eh udahan dulu ya ... aku mau nyebrang jalan, mau beli makan. Dada yu babay.
Shinta pun memasukkan ponsel ke dalam saku piyamanya. Saat ia baru mulai menyebrang tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari arah kanan.
Titttt!!!!
Shinta yang tidak tau kalau ada mobil yang melaju kearahnya sontak kaget dan terjatuh.
Hyuff ... hampir saja, batin Shinta.
Jantungnya berdebar cepat dan la pun mengusap-usap dadanya berharap jantungnya kembali normal.
Shinta mencoba berdiri, namun terlihat kesusahan karena lututnya terluka saat terjatuh tadi, bahkan celana piyama Shinta ikut robek.
"Kamu tidak apa-apa?" ucap seseorang yang turun dari mobil dan menghampiri Shinta.
Seketika itu juga mata Shinta melotot dan aliran darahnya mendidih. Ia melihat orang yang hampir menabraknya adalah Veno, mantan pria idolanya.
Veno juga tak kalah kaget, ia tidak menyangka kalau si gadis vulgar adalah orang yang hampir ia tabrak.
"Maaf, aku gak sengaja, tadi aku gak fokus nyetir ... kamu gak apa-apa, kan?" Veno memegang tangan Shinta.
"Aww ...."
Shinta terlihat meringis kesakitan karena di telapak tangannya juga terluka terkena gesekan aspal.
"Aku tidak apa-apa," jawab Shinta seraya menepis tangan Veno.
Shinta pun berjalan terpincang-pincang masuk kerumah makan padang.
Veno yang melihat keadaan Shinta menjadi khawatir dan merasa bersalah. Ia menunggu Shinta keluar.
Tidak lama kemudian Shinta keluar membawa kantong kresek berwarna hitam. Shinta mendengus kesal, karena orang yang di bencinya masih berada di sana.
Shinta pun berjalan melewati Veno seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Namun langkah Shinta terhenti saat Veno menghadang jalannya.
"Ayo kerumah sakit!" ucap Veno dengan nada sedikit memerintah.
"Gak perlu."
Melihat penolakan dari shinta tak membuat Veno menyerah. Ia rangkul tubuh kecil gadis itu lalu ia tuntun memasuki mobilnya dengan paksa dan memesangkan seat belt.
"Diem!!!" Ancam Veno dengan mata yang melotot.
Sekitar 3 menit berkendara mereka sampai di rumah sakit dan langsung memasuki ruang IGD. Shinta langsung di tangani dan Veno menunggu di kursi tunggu.
Seorang perawat menghampiri Veno.
"Mas tolong isi data-data ini ya," ucap perawat itu dengan ramah seraya menyerahkan selembar kertas dan langsung berlalu pergi melanjutkan tugasnya.
Veno mengernyitkan dahi.
Bagaimana aku bisa mengisinya? Aku bahkan tidak tau namanya.
,Heran aku..Gitu aja udah luluh aja..