"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."
Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.
Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.
Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.
Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Bayang-bayang Anita
Rumah yang biasanya menjadi benteng kedamaian itu kini terasa seperti medan perang yang dingin. Kehadiran Anita Sasmira yang semakin intens, didukung penuh oleh restu Mama Rosa, menjadi bayang-bayang hitam yang mengikuti setiap langkah Nida. Anita tidak lagi sekadar berkunjung; ia mulai datang membawa kotak-kotak makanan, mengatur ulang letak vas bunga di ruang tamu dengan alasan "biar suasana lebih segar," hingga mencoba mengambil peran dalam urusan sekolah anak-anak. Semua itu dilakukan dengan senyum manis di depan Fandy, namun penuh dengan tatapan meremehkan saat ia hanya berdua dengan Nida.
Sore itu, Nida sedang duduk di teras belakang, mencoba menikmati semilir angin untuk mengalihkan rasa mual akibat efek obat-obatan yang mulai ia konsumsi. Anita tiba-tiba muncul tanpa diundang, membawa nampan berisi teh herbal. Ia duduk di kursi seberang Nida tanpa menunggu dipersilakan.
"Kak Nida kelihatan makin pucat ya hari ini? Duh, aku jadi khawatir. Kalau Kakak capek, biar aku saja yang jemput Syabila les sore ini. Kasihan Mas Fandy kalau harus bolak-balik kantor-sekolah-rumah," ujar Anita sambil menyesap tehnya dengan gaya yang sangat percaya diri.
Nida menatap wanita di depannya. Anita adalah definisi dari ambisi yang terbungkus kecantikan lahiriah. Riasan wajahnya selalu sempurna, pakaiannya selalu mengikuti tren terbaru, namun ada sesuatu yang gersang di matanya—sesuatu yang memberitahu Nida bahwa wanita ini tidak akan pernah mengerti arti pengabdian yang tulus.
"Terima kasih, Anita. Tapi Mas Fandy sudah berjanji akan menjemput mereka. Dia tidak merasa direpotkan oleh anak-anaknya sendiri," jawab Nida tenang, meski di dalam dadanya ada api yang mulai menyulut rasa sesak.
Anita terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak tulus di telinga Nida. "Kakak terlalu keras kepala. Mas Fandy itu CEO, Kak. Waktunya sangat berharga. Bayangkan berapa banyak kerugian perusahaan kalau dia harus terus-terusan mengurus hal-hal domestik seperti ini karena... yah, karena kondisi Kakak yang sekarang."
Kalimat "kondisi Kakak yang sekarang" menggantung di udara seperti vonis mati kedua bagi Nida. Nida tahu apa yang sedang dilakukan Anita: ia sedang menanamkan benih rasa bersalah di hati Nida, sekaligus memposisikan dirinya sebagai solusi yang paling efisien bagi Fandy.
"Keluarga bukan soal untung rugi, Anita. Mas Fandy tahu itu," Nida membalas, matanya menatap tajam ke arah Anita. "Dan aku pun tahu, apa yang sedang kamu harapkan."
Senyum di wajah Anita membeku sesaat, namun ia segera menguasai diri. "Aku hanya ingin membantu, Kak. Mama Rosa juga bilang, Mas Fandy butuh pendamping yang kuat, yang bisa mengimbangi mobilitasnya. Bukan seseorang yang... maaf, hanya bisa berbaring dan menjadi beban pikiran."
Nida merasakan nyeri yang hebat di panggulnya, namun ia menolak untuk menunjukkan rasa sakit itu di depan Anita. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Di saat itulah, Fandy pulang. Ia masuk ke teras belakang dengan wajah lelah, terkejut melihat Anita masih ada di sana.
"Loh, Anita? Belum pulang?" tanya Fandy singkat. Ia langsung menghampiri Nida, mencium kening istrinya dengan lembut—sebuah tindakan yang membuat rahang Anita sedikit mengeras.
"Baru mau pamit, Mas. Tadi cuma mau memastikan Kak Nida sudah minum obatnya. Habisnya, Kak Nida susah sekali kalau disuruh istirahat," Anita kembali ke mode 'malaikat penolong'. Ia bangkit, membetulkan letak tas tangannya yang mahal. "Oh ya, Mas, jangan lupa undangan makan malam di rumah Mama minggu depan ya. Mama bilang ada hal penting soal proyek properti yang mau didiskusikan dengan Mas."
Setelah Anita pergi, suasana kembali sunyi. Fandy duduk di samping Nida, memijat pelipisnya. "Mama terus-terusan meneleponku, Nida. Dia bilang Anita banyak membantu di rumah ini. Apa itu benar?"
Nida menatap suaminya. Inilah dilemanya. Jika ia mengatakan yang sejujurnya bahwa Anita adalah ancaman bagi kedamaian batinnya, Fandy mungkin akan semakin tertekan. Namun jika ia diam, Anita akan semakin merasa memiliki jalan yang lapang.
"Dia memang sering datang, Mas. Tapi jujur, kehadirannya justru membuatku merasa semakin asing di rumahku sendiri," Nida akhirnya berterus terang. "Mas, kamu lihat kan bagaimana cara dia memandangmu? Dan bagaimana cara dia memandang anak-anak? Dia tidak mencintai Syabila dan Syauqi. Dia hanya mencintai bayangan kesuksesanmu."
Fandy menghela napas panjang. "Aku tahu, Nida. Aku tidak buta. Tapi Mama terus mendesakku. Mama bilang, aku tidak boleh egois membiarkan anak-anak tanpa asuhan yang layak jika... jika sesuatu terjadi padamu." Fandy tidak sanggup mengucapkan kata 'mati'.
Nida meraih tangan Fandy. "Itulah sebabnya aku ingin kita yang memegang kendali, Mas. Bukan Mama, bukan Anita. Jika kita tidak memilih sekarang, maka orang lain yang akan memilihkan untukmu. Dan orang itu pasti Anita."
Nida kemudian membuka buku catatan kecilnya yang mulai penuh dengan coretan. "Aku sudah membuat kriteria, Mas. Aku tidak mencari model, aku tidak mencari sosialita. Aku mencari wanita yang dalam salat malamnya ada nama Syabila dan Syauqi disebut. Aku mencari wanita yang tidak keberatan tangannya kotor untuk memasak makanan kesukaanmu, dan yang bibirnya tidak pernah kering dari zikir."
Fandy menatap buku itu dengan pedih. Baginya, buku itu adalah bukti nyata bahwa istrinya sudah mulai 'berkemas' untuk pergi. "Nida, bisakah kita fokus pada pengobatanmu dulu? Jangan paksa aku melakukan seleksi gila ini. Aku merasa seperti sedang menggali kuburanku sendiri setiap kali kita membicarakan ini."
"Ini bukan kuburanmu, Mas. Ini adalah taman bunga yang sedang kusiapkan agar kamu dan anak-anak tidak tersesat di padang gurun yang gersang," Nida berbisik, air matanya jatuh membasahi halaman buku catatan itu.
Malamnya, Nida tidak bisa tidur. Ia mendengar percakapan telepon Fandy dengan Mama Rosa di ruang kerja. Suara Mama Rosa terdengar keras dan menuntut. Mama Rosa secara terang-terangan menyebut bahwa Nida seharusnya sadar diri dan memberikan jalan bagi Fandy untuk memiliki kehidupan yang "normal" kembali. Mama Rosa memuji-muji Anita sebagai menantu idaman yang bisa mengangkat derajat keluarga mereka di lingkungan sosial.
Nida menangis dalam diam di bawah selimut. Rasa sakit fisiknya kini diperparah oleh rasa terhina. Namun di tengah kepedihan itu, ia justru merasa semakin yakin. Ia tidak boleh menyerah pada penyakitnya sebelum ia menemukan perisai bagi keluarganya. Anita adalah bayang-bayang yang mengancam akidah dan kebahagiaan anak-anaknya. Jika Nida harus menjadi "makelar jodoh" bagi suaminya sendiri demi menjauhkan Anita dari hidup mereka, maka ia akan melakukannya dengan segenap sisa napasnya.
Ia mengambil ponselnya, mulai mencari kontak lama. Sahabat-sahabat lamanya di kantor penerbitan, komunitas pengajian, siapa pun. Ia teringat pada seorang penulis muda yang pernah ia bimbing, seseorang yang memiliki ketulusan luar biasa dalam setiap tulisannya. Namanya mulai muncul di benak Nida.
Di sisi lain rumah, Fandy berdiri di balkon, menatap kegelapan malam. Ia merasa terjepit di antara dua wanita yang sangat ia hormati: ibunya yang menuntut praktis, dan istrinya yang menuntut pengorbanan spiritual yang mustahil. Namun, bayangan Anita yang mencoba mengatur rumahnya tadi sore mulai memberinya rasa ngeri. Ia menyadari satu hal: Nida benar. Jika ia tidak mengikuti rencana Nida, maka ia akan hanyut dalam rencana ibunya yang jauh lebih mengerikan.
Bayang-bayang Anita bukan lagi sekadar gangguan, melainkan sebuah alarm bagi Fandy. Bahwa kepergian Nida nanti—jika memang itu takdirnya—bukan hanya soal kehilangan cinta, tapi soal mempertahankan martabat sebuah keluarga yang telah dibangun di atas sajadah doa. Nida, dengan segala "ide menyakitkannya", sebenarnya sedang mencoba menyelamatkannya dari jurang yang lebih dalam.
"Ya Allah, kuatkan aku," bisik Fandy pada langit malam yang tak berbintang. Di dalam kamar, Nida baru saja menuliskan satu nama di daftar kriterianya: Hana. Nama yang berarti kasih sayang. Nida menutup bukunya, memeluknya erat, dan mulai menyusun rencana pertemuan yang akan mengubah sejarah hidup mereka selamanya.