NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Malam puncak perayaan ulang tahun ke-50 Aditama Group diadakan di sebuah ballroom hotel bintang lima termewah di pusat Jakarta. Acara ini bukan sekadar perayaan, melainkan ajang pamer kekuasaan, koneksi, dan kekayaan bagi keluarga Aditama di hadapan ratusan kolega bisnis dan pejabat penting.

Sebagai anggota keluarga inti, kehadiran Citra tentu saja diwajibkan oleh Pak Aditama.

Di dalam Mansion Aditama sejak sore, suasana sudah sangat sibuk. Putri dan Kinan telah menyewa makeup artist dan hairstylist profesional ke rumah. Keduanya turun dari tangga dengan penampilan yang luar biasa mencolok. Putri mengenakan gaun merah menyala berbelahan dada rendah yang dipenuhi payet kristal, sementara Kinan memakai gaun emas ketat yang memantulkan cahaya. Berlian berkilauan di leher, telinga, dan pergelangan tangan mereka. Mereka benar-benar menuntut untuk menjadi pusat perhatian malam ini.

Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kedua adik iparnya, Citra bersiap sendirian di kamar utama.

Ia tidak berani menyentuh kartu debit suaminya lagi untuk membeli gaun pesta puluhan juta. Sebagai gantinya, ia memakai salah satu gaun sutra hitam vintage berlengan panjang milik mendiang ibu mertuanya yang dihibahkan oleh Pak Aditama padanya bulan lalu. Gaun itu sederhana, tertutup rapat hingga ke leher, namun potongannya jatuh sempurna memeluk tubuh ramping Citra.

Citra memoles wajahnya senatural mungkin. Ia hanya memakai pelembap, bedak tipis, perona pipi samar, dan lipstik berwarna nude. Rambut panjang hitamnya ia sanggul rendah dengan rapi, tanpa hiasan apa pun. Tidak ada sebutir berlian pun yang menempel di tubuhnya.

Meski sangat sederhana, kecantikan alami Citra justru memancar kuat. Kesederhanaannya membuatnya terlihat sangat elegan dan misterius, kontras dengan kemewahan berlebihan yang dipamerkan Putri dan Kinan.

Namun, saat Putra melihat Citra melangkah keluar dari kamar, rahang pria itu langsung mengeras.

Di mata Putra yang terbiasa dengan keglamoran sosialita, penampilan Citra terlihat seperti pelayat yang salah masuk ke acara pesta. Ketiadaan perhiasan di tubuh istrinya seolah meneriakkan pada dunia bahwa CEO Aditama Group itu pelit dan menelantarkan istrinya.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil menuju hotel, Putra diam membisu dengan aura membunuh yang sangat pekat. Ia duduk sejauh mungkin dari Citra, menatap keluar jendela dengan tangan bersedekap.

Setibanya di ballroom, penderitaan Citra baru benar-benar dimulai.

Lampu kristal raksasa benderang, musik orkestra mengalun mewah, dan aroma parfum mahal bercampur champagne memenuhi udara. Pak Aditama sibuk menyapa para menteri, sementara Putri dan Kinan langsung berbaur dengan kelompok sosialita mereka, tertawa keras dan memamerkan perhiasan.

Putra berjalan cepat mendahului Citra, seolah menjaga jarak aman agar tidak terlihat bersama wanita itu. Ketika beberapa kolega bisnis menghampiri dan menanyakan siapa wanita berbaju hitam sederhana di belakangnya, Putra hanya menjawab singkat dengan senyum kaku, "Istri saya." Lalu ia segera mengalihkan pembicaraan ke topik saham.

Citra dibiarkan berdiri mematung di sudut ballroom dekat pilar besar. Ia seperti pajangan yang tak diinginkan. Tatapan meremehkan dari istri-istri kolega Putra, bisik-bisik pelan saat ia lewat, dan tawa sinis dari kejauhan menjadi makanan pembukanya malam itu.

Namun, Citra sudah terbiasa mematikan perasaannya. Ia mengambil segelas air putih dari nampan pelayan dan berdiri tenang di sana, mengamati kemunafikan ratusan manusia bergelimang harta di ruangan itu.

Dua jam berlalu. Suasana ballroom semakin riuh. Citra, yang merasa sedikit sesak dengan udara ruangan yang dipenuhi wangi parfum tajam, memutuskan untuk mencari udara segar. Ia melangkah keluar melalui pintu kaca samping yang terhubung langsung ke sebuah taman kecil berhiaskan air mancur dan lampu remang-remang.

Udara malam Jakarta yang hangat menyapu wajahnya. Citra menarik napas panjang, menikmati keheningan yang jauh dari hingar-bingar musik.

Namun, ketenangannya hanya bertahan lima menit.

Terdengar langkah kaki berat yang tergesa-gesa menghampirinya. Citra menoleh dan mendapati suaminya berdiri di sana dengan wajah memerah menahan amarah yang meledak-ledak.

"Apa yang kamu lakukan di luar sini?!" desis Putra tajam, suaranya tertahan agar tidak terdengar ke dalam ballroom. Pria itu mencengkeram lengan atas Citra dengan kasar, membuat Citra sedikit meringis.

"Saya hanya mencari udara segar, Mas. Di dalam terlalu pengap," jawab Citra berusaha melepaskan lengannya, namun cengkeraman Putra terlalu kuat.

"Udara segar?!" bentak Putra tertahan. "Kamu tahu betapa malunya saya malam ini?! Istri para direktur lain memakai gaun desainer dan perhiasan miliaran, sementara istri CEO Aditama Group berdiri di pojokan memakai baju hitam loakan tanpa sebutir pun berlian! Kamu sengaja ingin mempermalukan saya di depan kolega Papa?!"

"Mas Putra sendiri yang melarang saya menggunakan uang Mas untuk hal-hal yang kampungan menurut Mas," balas Citra lugas, menatap lurus ke mata Putra. "Dan saya tidak punya perhiasan."

Jawaban rasional itu justru semakin menyulut ego Putra.

"Jangan membantah!" geram Putra, mempererat cengkeramannya hingga kuku-kukunya menancap di lengan Citra. "Penampilanmu malam ini meneriakkan kata 'miskin' dan 'gembel'. Kamu hanya merusak pemandangan dan merusak nama baik saya. Lebih baik kamu pulang sekarang!"

Citra menahan napas. "Tapi acara intinya belum selesai, Mas. Kalau Papa mencari saya—"

"Saya yang akan urus alasan ke Papa!" potong Putra kasar. Ia melepaskan lengan Citra dengan sentakan keras hingga tubuh Citra sedikit terhuyung ke belakang, menabrak bibir kolam air mancur. "Pulang. Sekarang. Naik taksi, jangan pakai sopir keluarga. Jangan sampai ada kolega saya yang melihatmu keluar dari sini."

Setelah memberikan perintah usiran yang sangat merendahkan itu, Putra langsung berbalik dan melangkah masuk kembali ke dalam ballroom, meninggalkan Citra sendirian di taman yang remang-remang.

Citra berdiri mematung. Lengannya berdenyut nyeri. Ia menunduk, menatap pantulan dirinya di air kolam yang beriak. Usiran kasar itu seharusnya membuat hatinya hancur, namun ia hanya tersenyum tipis nan getir.

Tepat saat Citra hendak membalikkan badan untuk mencari jalan keluar menuju lobi utama, sebuah suara bariton yang asing menghentikan langkahnya.

"Nona... Anda tidak apa-apa?"

Citra mendongak terkejut. Dari balik bayangan pilar batu di sudut taman, melangkah keluar seorang pria jangkung dalam balutan jas abu-abu gelap. Wajah pria itu sangat tampan, dengan garis rahang tegas dan tatapan mata yang memancarkan kehangatan, sangat kontras dengan tatapan dingin Putra.

Pria itu adalah Morgan, sahabat Putra sejak kuliah yang baru saja kembali dari mengurus bisnis di London.

Morgan kebetulan sedang menelepon klien di sudut taman dan tanpa sengaja menyaksikan seluruh adegan kasar itu dari awal hingga akhir. Ia melihat bagaimana Putra mencengkeram, membentak, dan mengusir wanita berbaju hitam ini seperti mengusir anjing liar.

Morgan melangkah mendekat, matanya menatap lengan Citra yang pasti memerah di balik kain sutranya. Ia sangat terkejut melihat perlakuan Putra yang terkenal elegan ternyata bisa sebrutal itu pada seorang wanita. Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah ketegaran luar biasa di mata wanita itu. Tidak ada air mata, hanya ada keheningan yang menyakitkan.

"Maaf saya tidak sengaja melihat kejadian barusan," ucap Morgan dengan nada penuh simpati dan rasa bersalah, ia melepaskan jas abu-abunya dan menyodorkannya pada Citra. "Malam ini cukup berangin. Anda mau saya antar pulang? Sangat tidak aman bagi seorang wanita mencari taksi sendirian di jam segini."

Citra menatap jas yang disodorkan dan wajah pria asing itu bergantian. Untuk pertama kalinya di malam yang dingin dan penuh hinaan ini, seseorang menatapnya sebagai manusia yang layak dihormati.

Mohon berikan like, komen dan bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ 🙏

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!