"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IBU BIARKAN AKU BERNAPAS
"Kayanya aku gabisa soal ajakan itu, aku juga mau mas jangan berharap lebih soal hubungan ini"tulis Kanaya berat di pesannya
Pagi itu, suasana di rumah Kanaya terasa jauh lebih menyesakkan daripada malam sebelumnya. Maya tidak lagi berteriak, namun keheningan yang ia ciptakan jauh lebih mengintimidasi. Ia duduk di kursi kayu ruang tamu, matanya yang sembap menatap kosong ke arah pintu depan, sementara tangannya terus memilin ujung taplak meja dengan gerakan gelisah. Kanaya tahu, ibunya sedang dalam fase "mati rasa" setelah ledakan amarah, sebuah kondisi yang membuat siapa pun yang mendekat akan merasa seperti berjalan di atas hamparan pecahan kaca.
Kanaya keluar dari kamar dengan langkah sangat pelan, berusaha tidak memicu perhatian. Ia berjalan menuju dapur untuk meneguk segelas air, namun suara parau Maya menghentikannya tepat di ambang pintu. "Sudah kamu putuskan hubungan dengan laki-laki itu?" tanya Maya tanpa menoleh. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung ancaman yang pekat. "Atau kamu lebih memilih melihat Ibu mati perlahan karena memikirkanmu yang mau saja dibodohi pengkhianat?"
Kanaya terdiam, mencengkeram gelas di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Kalimat Hendri yang menjanjikan akan selalu ada kapan pun ia siap kembali terngiang, menjadi satu-satunya kekuatan yang membuatnya tidak langsung menyerah pada tekanan Maya. "Aku sudah bilang aku tidak akan pergi, Bu," jawab Kanaya lirih, mencoba memberikan jawaban yang paling "aman" bagi telinga ibunya. Ia telah mengorbankan keinginannya untuk makan malam hari Sabtu nanti, tapi ia tidak sanggup jika harus benar-benar menghapus Hendri dari hatinya.
Maya hanya mendengus sinis, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya yang pucat. "Bagus. Karena kalau kamu pergi, jangan pernah berharap pintu ini akan terbuka lagi untukmu. Ibu tidak butuh anak yang lebih mementingkan kepuasan sesaat daripada nyawa ibunya sendiri." Maya kemudian bangkit, berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Kanaya sendirian di dapur yang terasa sangat dingin dan asing.
Kanaya menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap matahari pagi yang mulai masuk melalui celah jendela. Cahaya itu terlihat sangat indah di luar sana, menyinari dedaunan yang masih basah oleh embun, namun bagi Kanaya, cahaya itu seolah tidak diizinkan masuk ke dalam rumahnya. Ia merasa seperti seorang tawanan yang baru saja memperpanjang masa hukumannya sendiri demi menjaga perasaan sipirnya. Ia sangat merindukan kebebasan, namun rasa kasih sayang yang bercampur dengan rasa bersalah kepada Maya terus-menerus menariknya kembali ke dalam kegelapan.
Di saat ia merasa benar-benar kehilangan harapan, sebuah ketukan terdengar di pintu depan. Ketukan itu sopan, namun berwibawa. Kanaya tersentak, pikirannya langsung dipenuhi rasa takut jika itu adalah penagih utang atau tetangga yang ingin mengeluhkan suara amukan Maya tadi pagi. Namun, saat ia mengintip dari balik gorden, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah Hendri. Ia berdiri di sana dengan kemeja rapi, membawa sebuah bingkisan kecil, dan wajah yang penuh ketenangan seolah ia siap menghadapi badai apa pun yang ada di balik pintu itu.
Kanaya menatap piringnya yang masih menyisakan separuh nasi. Selera makannya telah mati bersamaan dengan amukan Maya pagi tadi. Di kepalanya, sebuah rencana mulai tersusun dengan nekat. Ia menyadari bahwa selama ia masih bernapas di bawah atap yang sama, selama ia masih bisa dijangkau oleh suara Maya, ia tidak akan pernah benar-benar bisa sembuh. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan kewarasannya, sekaligus menyelamatkan Maya dari kebenciannya sendiri, adalah dengan menciptakan jarak yang tak bisa ditembus hanya dengan sekali naik angkutan kota. Ia harus pergi jauh. Bukan untuk memutus hubungan, tapi untuk sekadar bisa bernapas tanpa merasa bersalah setiap kali ia menghirup udara.
Siang itu, setelah memastikan Maya tertidur di kamarnya karena kelelahan setelah mengamuk, Kanaya duduk di pojok ruang tamu yang gerah. Ia membuka laptopnya dan mulai mengetikkan kata kunci pencarian di berbagai situs lowongan kerja. Jarinya dengan sengaja melewati loker-loker di Jakarta atau Bandung. Ia mengarahkan kursornya pada daerah-daerah luar Jawa, atau setidaknya kota-kota kecil yang membutuhkan waktu tempuh belasan jam.
Sesaat kemudian, Maya keluar dari kamar dengan wajah bantal dan mata yang masih bengkak. Ia berjalan ke dapur, meneguk air, lalu berdiri di belakang Kanaya dengan tatapan menyelidik.
"Lagi apa kamu? Sibuk sekali kelihatannya," tanya Maya, nadanya ketus namun terselip rasa ingin tahu yang posesif.
Kanaya tidak menutup layarnya. Ia merasa sudah saatnya ia jujur, setidaknya tentang niatnya untuk bekerja. "Lagi cari kerja, Bu. Tadi ada beberapa tawaran di luar kota yang kelihatannya bagus untuk lulusan baru seperti Naya."
Maya seketika menegang. Ia menarik kursi di samping Kanaya dan duduk dengan hentakan keras. "Luar kota mana? Kenapa harus jauh-jauh? Di sini juga banyak kantor. Kamu mau kabur, ya? Kamu mau meninggalkan Ibu sendiri di sini supaya kamu bisa bebas pacaran?"
Kanaya menghela napas, ia memutar kursinya menghadap Maya, mencoba menatap mata ibunya dengan ketenangan yang dipaksakan. "Bu, ini bukan soal kabur. Naya sudah sarjana. Jenjang karier di luar sana lebih luas. Lagipula, kalau Naya dapat posisi yang bagus, Naya bisa kirim uang lebih banyak untuk Ibu. Kita bisa perbaiki wastafel yang bocor, kita bisa cat ulang rumah ini. Ibu tidak perlu pusing lagi soal uang tiap bulan."
"Halah! Alasan!" Maya memotong sambil mengibaskan tangan. "Uang itu bisa dicari di mana saja. Kamu itu sengaja, kan? Kamu mau menjauh supaya Ibu tidak bisa mengawasimu. Kamu mau jadi seperti Ayahmu, yang pergi dengan alasan kerja tapi ternyata cuma mau lepas tanggung jawab!"
"Naya bukan Ayah, Bu," suara Kanaya naik satu nada, namun ia segera menekannya kembali. "Ayah pergi karena dia tidak mau menghadapi masalah. Naya pergi justru supaya kita berdua punya ruang. Ibu sering bilang kalau Naya itu beban, kalau gara-gara mengurus Naya hidup Ibu jadi hancur. Mungkin kalau Naya jauh, beban Ibu berkurang. Ibu bisa istirahat, Naya juga bisa fokus kerja tanpa kita harus berteriak setiap pagi."
Maya terdiam sejenak, wajahnya mengeras. "Jadi kamu menyalahkan Ibu? Kamu merasa Ibu ini penghambat? Kurang ajar kamu, ya. Ibu sudah berkorban tidak menikah Kanaya menutup laptopnya perlahan, menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan hanya akan memicu luka lama Maya yang belum kering. Ia menatap ibunya yang berdiri dengan napas memburu di depannya. Maya bukan hanya sekadar pahit karena dikhianati ayahnya, tapi ia merasa seluruh hidupnya telah dihabiskan untuk menjadi "penjaga" bagi orang lain tanpa pernah memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
"Naya tidak membuang Ibu," suara Kanaya melembut, mencoba meredam ketegangan. "Naya hanya ingin mandiri. Apakah salah kalau seorang anak ingin bekerja?"
"Mandiri katamu?" Maya tertawa getir, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah foto tua Mbah Akung dan Mbah Uti di dinding. "Ibu ini tidak menikah lagi bukan cuma karena takut kamu dapat ayah tiri yang jahat, Naya! Ibu memilih tetap sendiri karena Ibu harus mengurus Mbah Akung dan Mbah Uti sampai mereka meninggal. Ibu habiskan masa muda Ibu di rumah ini, menyuapi mereka, membersihkan kotoran mereka, sementara adik Ibu—Ayahmu itu—malah pergi dan meninggalkan kamu jadi beban tambahan buat Ibu!"
Kanaya terdiam. Ia selalu diingatkan bahwa ia adalah anak dari adik Maya yang "bermasalah", sebuah titipan yang dianggap Maya sebagai tanggung jawab terakhir yang merantai hidupnya.
"Ibu sudah cukup berkorban, Naya! Setelah mengurus orang tua, sekarang Ibu harus mengurus anak dari adik yang tidak tahu diri itu. Ibu tidak punya hidup! Dan sekarang, saat kamu sudah besar, kamu mau pergi begitu saja? Kamu mau membiarkan Ibu tua sendirian di sini setelah semua pengabdian Ibu?" lanjut Maya dengan suara yang mulai serak karena tangis.
"Justru itu, Bu," sela Kanaya pelan. "Ibu sudah terlalu lama mengurus orang lain. Ibu mengurus Mbah, lalu mengurus Naya. Mungkin ini saatnya Ibu punya ruang untuk diri sendiri. Naya pergi untuk bekerja, supaya Naya bisa kirim uang dan Ibu tidak perlu capek lagi. Naya tidak mau jadi beban Ibu selamanya."
"Halah! Kamu cuma mau lari!" Maya membanting pintu kamarnya, meninggalkan Kanaya yang terpaku di ruang tamu.
Kanaya kembali membuka laptopnya. Tangannya sedikit gemetar saat melihat lowongan pekerjaan di perkebunan luar pulau itu. Ia merasa sangat bersalah karena tahu betapa berat beban yang dipikul Maya selama ini sebagai tulang punggung keluarga besar, tapi ia juga tahu bahwa jika ia tetap tinggal, ia hanya akan menjadi objek pelampiasan atas seluruh rasa lelah yang Maya simpan selama puluhan tahun. Ia harus pergi, bukan karena tidak tahu berterima kasih, tapi karena ia tidak ingin pengorbanan Maya berakhir dengan kebencian yang mendalam di antara mereka.
, tapi sekarang kamu malah mau membuang Ibu seperti sampah."
Kanaya menutup laptopnya perlahan, menyadari bahwa diskusi ini tidak akan pernah mencapai titik temu jika ia menggunakan logika. "Naya tidak membuang Ibu. Naya hanya mau bekerja. Apakah salah kalau seorang anak ingin mandiri? Apakah Ibu mau Naya terus di sini, melihat Ibu mengamuk tiap hari sampai kita berdua gila? Naya capek, Bu. Naya cuma mau istirahat dari semua teriakan ini."
Maya berdiri, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang bercampur dengan rasa takut kehilangan kontrol. "Silakan! Pergi saja! Pergi ke tempat paling jauh yang kamu bisa! Tapi ingat ya, Kanaya, jangan pernah menangis kalau nanti kamu sadar dunia di luar sana lebih kejam dari ibumu sendiri. Jangan cari Ibu kalau laki-laki di luar sana menghancurkanmu seperti ayahmu menghancurkanku!"
Maya membanting pintu kamarnya kembali, meninggalkan Kanaya dalam kesunyian yang mencekam. Kanaya kembali membuka laptopnya. Tangannya sedikit gemetar, namun tekadnya sudah bulat. Ia mengeklik tombol 'Apply' pada sebuah lowongan di sebuah perkebunan di Kalimantan. Baginya, hutan yang sunyi dan jarak ribuan kilometer jauh lebih menjanjikan daripada rumah yang penuh dengan jeritan masa lalu.