"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan aneh
Layar ponsel Yasmin menyala dengan bunyi getaran yang keras, membuyarkan kecemasannya tentang sang suami yang tak kunjung pulang ke rumah. Tulisan di layar membuat dokter cantik itu menarik napas dalam.
"Dok, Yunita infeksi parah dan pendarahan hebat. Segera ke Rumah Sakit." isi dari pesan tersebut.
Yasmin terkejut, tubuhnya membeku sejenak. Beberapa jam yang lalu, Yasmin baru selesai mengoperasi pengangkatan kista pada Yunita, gadis yang selalu tersenyum meskipun sedang sakit.
Yasmin segera mengganti gaun malam yang ia kenakan menjadi seragam dokter, mengambil tas kerjanya, kemudian melesat keluar rumah. Yasmin sengaja memilih menaiki sepeda motor untuk menghindari kemacetan.
Sepeda motor maticnya melesat melewati jalanan Jakarta yang padat, angin meniup rambutnya yang terikat rapi. Hanya satu pikiran di benaknya. Menyelamatkan Yunita dengan segera.
***
Sesampainya di rumah sakit, Yasmin di sambut dengan suara tangisan seorang pria paruh baya dengan rambut keputihan, serta seorang wanita yang wajahnya sudah pucat semua. Mereka adalah Bapak dan Ibu Surya, orang tua Yunita, putri satu-satunya yang menjadi harapan hidup mereka, kini nasibnya ada di tangan dokter Yasmin.
"Dok... tolong, selamatkan Yunita!" teriak Bapak Surya, suaranya bergetar. Ibu Surya hanya bisa menangis, matanya penuh harapan dan ketakutan.
Yasmin mendekati mereka, tangannya menekan bahu Ibu Surya dengan lembut. "Tenang, Bu. Saya akan lakukan yang terbaik. Percayakan padaku." ucap Yasmin.
Tanpa menunggu lagi, dokter cantik itu segera memasuki ruang ICU. Tim medis lain sudah menunggu kedatangannya di dalam sana. Perawat sibuk memeriksa alat, dokter muda memantau parameter vital Yunita yang memburuk. Yasmin segera mengambil alih, memeriksa laporan, memutuskan langkah tindakan dengan cepat dan tegas.
Jam terasa seperti menit ketika Yasmin sedang bekerja keras, menyesuaikan obat, menangani pendarahan, mengobati infeksi. Setelah satu jam yang penuh debaran, akhirnya monitor menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Denyut jantung Yunita kembali stabil, tekanan darah juga mulai membaik.
Yasmin menghela napas lega, keringat menetes di alisnya. Dokter cantik itu kemudian keluar ruang ICU untuk memberitahukan kabar baik tersebut kepada orang tua Yunita.
"Yunita sudah kembali stabil sekarang, Pak, Bu. Tapi ia butuh istirahat untuk pulih sepenuhnya," ujar Yasmin.
"Dan tolong jangan berikan Yunita makanan yang berbahan dasar dari laut dulu. Hal itu merupakan pemicu infeksi pada bekas operasi Yunita." lanjut dokter cantik itu.
"Baik dok, terima kasih." tangis bapak dan ibu Surya pecah lagi, tapi kali ini tangisan kebahagiaan.
"Terima kasih, Dok. Anda adalah malaikat penyelamat bagi putri kami!" Seru Ibu Surya seraya memeluk Yasmin dengan erat.
"Sama-sama bu, itu sudah jadi kewajiban saya." Yasmin tersenyum tulus, salah satu sumber kebahagiaannya adalah melihat wajah bahagia dari keluarga pasien yang ia tangani.
"Kami punya hadiah untuk Anda, Dok. Tolong diterima," kata Bapak Surya dengan mata berbinar.
"Kami punya vila di pinggiran kota, di daerah yang sejuk, dekat dengan danau. Vila itu kami hadiahkan untuk Anda, sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan putri kami." lanjut pria berusia 50 tahunan itu.
Yasmin terkejut, kepalanya menggeleng cepat. "Tidak usah, Pak. Ini adalah tugas saya sebagai seorang dokter. Saya tidak mengharapkan imbalan apapun." Yasmin menolak vila pemberian dari keluarga Surya.
"Tetapi kami memaksa, Dok! Tolong jangan di tolak. Kalau anda menolaknya, kami akan merasa berhutang budi seumur hidup." tegas Bapak Surya.
Yasmin melihat wajah mereka yang terlihat tulus. Yasmin tahu bahwa dirinya tak akan bisa menolak lagi. Ia hanya bisa mengangguk dengan terharu.
Setelah memastikan Yunita dalam kondisi aman, Yasmin memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu, pikiran tentang Jacob kembali muncul. Sudah seharian Yasmin tidak mendengar kabar dari sang suami. Langkah kaki Yasmin membimbingnya menuju ruang kerja Jacob, kebetulan mereka bekerja di rumah sakit yang sama.
"Dokter Yasmin!"
Namun sesaat sebelum Yasmin membuka pintu ruang kerja Jacob, terdengar suara seseorang memanggil namanya.
Yasmin berbalik, di hadapannya berdiri dokter Sarah, rekan kerjanya yang berusia lebih muda darinya.
"Maaf, Dok, maaf karena telah mengganggu waktu anda. Tapi saya butuh konsultasi cepat tentang pasien saya. Bisakah kita minum kopi sejenak di kantin sambil membahasnya?" kata dokter Sarah dengan napas terengah-engah. Bagaimana tidak, karena dokter Sarah berlarian mengejar dokter Yasmin sejak dari ruangan tempat Yunita dirawat.
Yasmin melihat pintu ruang kerja Jacob, lalu melihat wajah Sarah yang terlihat khawatir. Ini sudah biasa bagi Yasmin, sebagai dokter senior, Ia sering dimintai saran oleh rekan-rekan kerjanya yang lain.
"Baiklah. Ayo ke kantin." Yasmin sudah memutuskan, mengenai Jacob bisa mereka bicarakan di rumah nanti.
Yasmin memalingkan pandangan dari pintu ruang kerja sang suami yang lampunya masih menyala, entah kenapa ada perasaan yang aneh. Tapi Yasmin abaikan perasaan itu karena ada pasien lain yang membutuhkan perhatiannya.
Kaki Yasmin mulai melangkah menuju kantin, tapi hatinya masih terbebani akan Jacob.
Bersambung...