Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Lautan Tulang dan Niat Pedang Kuno
Lorong giok hitam itu bergema dengan suara klepak-klepak yang menyakitkan telinga—suara tulang-belulang kering yang beradu dengan lantai batu.
Di hadapan Ye Chen, dua lusin Penjaga Makam bergerak maju serentak. Mereka adalah kerangka prajurit kuno dengan tinggi rata-rata dua meter, mengenakan sisa-sisa baju zirah berkarat. Di rongga mata mereka yang kosong, menyala api biru pucat yang dingin—Api Jiwa.
Mereka tidak bersuara, tidak bernapas, dan tidak mengenal rasa takut.
"Datanglah!"
Ye Chen tidak menunggu dikepung. Meskipun tulang rusuknya masih nyeri setiap kali ia menarik napas, adrenalin pertempuran menekan rasa sakit itu.
Ia menyeret pedang Pemecah Gunung di lantai, menciptakan percikan api, lalu mengayunkannya ke atas dengan gerakan uppercut yang brutal.
WUUUNG!
Pedang seberat 500 kilogram itu menghantam dagu Penjaga Makam terdepan.
PRAK!
Tidak ada perlawanan berarti. Tengkorak kerangka itu hancur menjadi serbuk kapur. Tulang lehernya patah, dan kepalanya terlempar ke langit-langit lorong.
Tubuh kerangka itu ambruk seketika, kehilangan tenaga penggeraknya.
Namun, Ye Chen tidak sempat merayakan. Tiga pedang berkarat dari kiri dan kanan menebas ke arahnya.
Trang! Trang!
Ye Chen menggunakan sisi lebar pedangnya sebagai tameng. Getaran benturan itu membuat luka dalamnya kembali berdenyut, tapi Tubuh Guntur-nya yang baru terbentuk menahan dampak terburuknya.
"Hancur!"
Ye Chen berputar. Pedang raksasanya menyapu kaki para kerangka itu.
Krak! Krak! Krak!
Seperti memotong tebu kering, tulang kaki lima kerangka hancur lebur. Mereka jatuh merangkak. Tapi mengerikannya, meski tanpa kaki, mereka tetap merayap maju menggunakan tangan tulang mereka, mencoba menggigit kaki Ye Chen.
"Makhluk sialan..." Ye Chen mendecih. "Mereka tidak mati selama Api Jiwanya masih ada!"
Ye Chen menyadari bahwa menghancurkan tubuh saja tidak cukup. Dia harus memadamkan api biru di tengkorak mereka.
Dia melompat mundur, menciptakan jarak.
"Mutiara Penelan Surga... bisakah kau memakan hantu?"
Ye Chen memutuskan untuk mencoba sesuatu yang berisiko.
Saat satu kerangka melompat ke arahnya, Ye Chen tidak memukulnya dengan pedang. Dia menjulurkan tangan kirinya, langsung mencengkeram wajah tengkorak itu.
Jari-jarinya menembus rongga mata, menyentuh api biru di dalamnya.
Dingin!
Rasanya seperti memegang es kering. Jiwa Ye Chen menggigil. Ini adalah Qi Kematian (Death Qi). Bagi kultivator biasa, energi ini adalah racun yang bisa merusak fondasi kehidupan.
Tapi Sutra Hati Asura tidak membeda-bedakan energi. Asura adalah dewa yang berdiri di antara hidup dan mati.
"TELAN!"
Whuush!
Api biru di tengkorak itu tersedot seketika ke telapak tangan Ye Chen. Kerangka itu langsung menjadi abu, hancur total.
Di dalam tubuh Ye Chen, energi dingin itu mengalir ke Dantian, lalu naik ke Lautan Kesadaran (Mind Palace) di otaknya.
Mata Ye Chen terbelalak. Rasa sakit di kepalanya akibat tekanan mental Han Yun sebelumnya... perlahan memudar!
"Api Jiwa ini... bisa memulihkan kekuatan mental?!"
Ini adalah penemuan besar! Kekuatan fisik dan Qi bisa dipulihkan dengan pil, tapi kekuatan mental (jiwa) sangat sulit dipulihkan tanpa obat langka.
Ye Chen menyeringai lebar. Senyuman iblis kembali menghiasi wajahnya.
"Maafkan aku, Tuan-Tuan Tengkorak. Sekarang kalian terlihat seperti makanan lezat di mataku."
Ye Chen menyimpan pedang beratnya di punggung. Dia tidak butuh pedang untuk ini. Dia butuh kecepatan dan sentuhan langsung.
Langkah Kilat Hantu!
Ye Chen menghilang menjadi bayangan. Dia menari di antara sabetan pedang berkarat.
Grab! Hisap!
Grab! Hisap!
Setiap kali tangan Ye Chen menyentuh kepala kerangka, satu nyawa mayat hidup padam. Ye Chen bergerak semakin cepat, semakin lincah, seolah energi kematian itu memberinya sayap.
Dalam waktu sepuluh menit, lorong itu sunyi. Dua lusin tumpukan abu berserakan di lantai.
Ye Chen berdiri di tengahnya, menarik napas dalam-dalam. Matanya bersinar jernih dan tajam. Kelelahan mental akibat pertarungan berturut-turut telah hilang sepenuhnya. Indranya kini dua kali lebih tajam dari sebelumnya.
"Terima kasih atas hidangannya," gumam Ye Chen.
Dia melirik ke ujung lorong yang gelap. Ada cahaya samar berwarna perak di sana.
Sementara itu, di bagian lain reruntuhan.
Han Feng sedang berlari ketakutan di sebuah koridor yang penuh dengan jebakan panah.
Sret!
Sebuah anak panah menggores pipinya yang baru diperban.
"Sialan! Sialan! Di mana jalan keluarnya?! Kakak! Kakak Kedua!" teriak Han Feng panik.
Dia sendirian. Peta ada pada Ye Chen, jadi dia buta arah. Setiap langkah yang dia ambil memicu jebakan baru. Lantai berduri, semburan api, gas beracun.
Han Feng, sang Tuan Muda yang manja, kini menangis seperti anak kecil. Jubah mewahnya hancur, kakinya pincang.
Di tempat lain yang jauh.
DUARR!
Sebuah dinding batu tebal hancur berantakan.
Han Yun melangkah keluar dari debu. Rantai hitam di tangannya berlumuran cairan hijau—darah dari Laba-laba Batu raksasa yang baru saja dia bunuh.
Dia tidak peduli dengan jebakan. Dia tidak peduli dengan jalan yang benar.
"Jalan buntu?" Han Yun menyeringai gila, menatap dinding di depannya. "Kalau begitu buat jalan baru."
Dia memutar rantainya dan menghantam dinding itu lagi.
BOOM!
Dia menghancurkan struktur reruntuhan itu secara paksa, bergerak lurus menuju pusat energi yang dia rasakan.
"Tunggu aku, Asura. Aku bisa mendengar detak jantungmu."
Kembali ke Ye Chen.
Dia sampai di ujung lorong dan memasuki sebuah ruangan kubah yang sangat besar. Langit-langitnya setinggi lima puluh meter, dipenuhi stalaktit yang bercahaya.
Di tengah ruangan itu, tidak ada harta karun emas atau permata.
Hanya ada sebuah kolam batu selebar dua puluh meter.
Kolam itu tidak berisi air. Kolam itu berisi ribuan pedang tua yang patah, berkarat, dan tertancap berantakan.
Makam Pedang (Sword Mound).
Di tengah kolam pedang itu, terdapat sebuah pulau batu kecil. Di atasnya, tertancap satu bilah pedang yang masih utuh.
Pedang itu ramping, berwarna perak kusam, dan terlihat sangat biasa. Namun, di sekeliling pedang itu, udara terdistorsi. Tidak ada debu yang berani mendekat dalam radius tiga meter darinya.
"Pusat reruntuhan," bisik Ye Chen.
Dia melangkah maju mendekati pinggir kolam.
Tiba-tiba, tekanan tak kasat mata menghantamnya.
Bruk!
Lutut Ye Chen goyah. Rasanya seperti ada gunung yang diletakkan di pundaknya. Kulit wajahnya terasa perih seolah disayat ribuan pisau cukur kecil.
Niat Pedang (Sword Intent).
Ini adalah sisa tekad dan pemahaman pedang yang ditinggalkan oleh pemilik makam ini. Niat Pedang yang begitu kuat hingga memadat menjadi tekanan fisik, meski pemiliknya sudah mati ribuan tahun lalu.
"Kuat sekali..." Ye Chen menggertakkan gigi, memaksa kakinya tegak kembali. "Hanya berdiri di pinggir saja sudah seberat ini. Bagaimana cara mengambil pedang di tengah itu?"
Ye Chen melihat ke sekeliling kolam. Dia melihat ada beberapa kerangka manusia di pinggir kolam—mungkin petualang masa lalu yang berhasil sampai sini tapi mati karena tekanan Niat Pedang.
Di dekat salah satu kerangka, ada tulisan cakar ayam di batu:
"Langkah pertama memotong kulit. Langkah kesepuluh memotong daging. Langkah keseratus memotong jiwa. Kembali, atau mati."
Ye Chen menatap pedang perak di tengah pulau. Jaraknya sekitar seratus langkah.
Jika dia mundur sekarang, dia akan selamat. Tapi Han Yun sedang dalam perjalanan. Tanpa kekuatan baru, Ye Chen akan mati di tangan si Jagal Rantai itu.
"Memotong jiwa?" Ye Chen tertawa sinis. "Jiwaku sudah pernah hancur sekali. Apa yang perlu ditakuti?"
Ye Chen mengambil langkah pertama masuk ke dalam kolam pedang.
Srrrt!
Pakaiannya robek. Sebuah luka gores halus muncul di pipinya. Tidak ada angin, tidak ada benda fisik. Itu adalah Niat Pedang yang menyerang.
Ye Chen mengabaikannya. Langkah kedua.
Srrrt! Srrrt!
Lengan dan kakinya tergores. Darah mulai menetes.
Langkah ketiga. Keempat. Kelima.
Tekanan semakin berat. Pedang Pemecah Gunung di punggungnya mulai bergetar dan berdengung, seolah ketakutan—atau mungkin, tertantang.
Saat langkah kesepuluh, Ye Chen berhenti. Seluruh tubuhnya sudah penuh luka sayatan halus. Darahnya menetes ke lantai kolam, meresap ke tanah.
Tiba-tiba, Mutiara Penelan Surga bereaksi.
Biasanya, mutiara itu melahap energi fisik atau Qi. Tapi kali ini, mutiara itu bergetar dengan frekuensi yang aneh. Ia seolah ingin... belajar.
Ye Chen memejamkan mata. Alih-alih melawan tekanan Niat Pedang dengan Tubuh Guntur-nya, dia mencoba membuka pikirannya.
"Niat Pedang adalah kehendak. Kehendak untuk memotong. Kehendak untuk menghancurkan. Kehendak untuk melindungi."
Ye Chen membiarkan Niat Pedang kuno itu masuk ke dalam kesadarannya. Rasanya sakit luar biasa, seperti otak ditusuk jarum.
Tapi di dalam lautan kesadarannya, bayangan pedang raksasa mulai terbentuk.
"Sutra Hati Asura: Adaptasi Pertempuran."
Ye Chen membuka matanya. Warna merah di matanya memudar, digantikan oleh kilatan perak yang tajam.
Dia mengambil langkah kesebelas.
Kali ini, tidak ada luka baru. Aura di sekitar tubuh Ye Chen telah berubah. Dia meniru frekuensi Niat Pedang itu, menyelaraskan dirinya dengan lingkungan.
Langkah 20... Langkah 30...
Ye Chen berjalan semakin cepat.
Namun, saat dia mencapai langkah ke-50, tepat di tengah perjalanan, suara ledakan besar terdengar dari pintu masuk ruangan kubah.
BOOOOM!
Pintu batu raksasa hancur berkeping-keping.
Debu mengepul. Dari balik debu, sesosok raksasa berjalan masuk sambil menyeret rantai hitam.
Han Yun telah tiba.
Dia melihat Ye Chen yang berdiri di tengah kolam pedang.
"Hahaha! Ketemu kau, tikus kecil!" Han Yun tertawa menggelegar.
Tapi saat Han Yun mencoba melangkah masuk ke area kolam, wajahnya berubah.
Srrrt!
Rantai besinya tergores dalam. Pipi Han Yun tersayat.
"Niat Pedang?" Han Yun mundur selangkah. "Sialan, tempat ini berbahaya."
Han Yun tidak bisa masuk sembarangan seperti Ye Chen yang telah menyelaraskan diri. Tingkat kultivasi Han Yun terlalu tinggi dan brutal, sehingga Niat Pedang di kolam itu bereaksi agresif menolaknya.
"Hei, Asura!" teriak Han Yun dari pinggir kolam. "Kau pikir kau aman di sana? Aku mungkin tidak bisa masuk, tapi aku bisa menghancurkan tempat pijakanmu!"
Han Yun memutar rantainya. Qi merah Tingkat 9 memadat di ujung rantai.
"Teknik Rantai: Penghancur Langit!"
Han Yun melempar rantai itu bukan ke arah Ye Chen, tapi ke arah pilar-pilar batu di langit-langit gua, tepat di atas kepala Ye Chen.
DUM! DUM!
Stalaktit raksasa runcing patah dan jatuh menghujam ke arah Ye Chen seperti hujan meteor batu.
Ye Chen mendongak. Di atas hujan batu. Di depan Niat Pedang yang menindas. Di belakang Han Yun yang memblokir jalan keluar.
Situasi putus asa.
Tapi Ye Chen justru tersenyum. Dia mencabut Pedang Pemecah Gunung dari punggungnya.
"Han Yun, terima kasih sudah membantuku!"
"Apa?" Han Yun bingung.
Ye Chen tidak menghindar. Dia mengangkat pedang hitamnya lurus ke atas.
Dia menggunakan tekanan Niat Pedang di kolam ini untuk menekan Pedang Pemecah Gunung-nya sendiri, memaksanya berevolusi. Dan sekarang, dia akan menggunakan hujan batu itu sebagai palu tempa.
"Teknik Pedang Asura: Penempaan Langit!"
Ye Chen memukulkan pedangnya ke arah batu-batu yang jatuh itu.
BLARR! BLARR! BLARR!
Setiap benturan menghancurkan batu, tapi juga mengirimkan getaran murni ke dalam pedang dan tubuh Ye Chen.
Di tengah hujan batu dan debu, Ye Chen berdiri kokoh. Dan di saat itulah, dia merasakan sesuatu pecah di dalam dirinya.
Bukan tulang. Melainkan penghalang kultivasi.
Energi dari Niat Pedang, sisa Inti Beruang Guntur, dan tekanan kematian... semuanya menyatu.
Ranah Pemadatan Qi... Tingkat 4!
Aura Ye Chen meledak, menciptakan pilar cahaya yang menembus atap gua.
(Akhir Bab 22)