NovelToon NovelToon
Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Putri Yang Terlupakan Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Romansa / Fantasi Wanita
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Riichann

Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Yang Tak Sendiri

Setelah selesai makan malam. Rowan mengantarkan makanan untuk kakek yang sudah disiapkan oleh Sophie. Sementara itu, Lumi mengajak Maerin untuk melihat kamarnya dan menunjukkan beberapa koleksi batu-batu berharga milik Lumi (Sebenarnya batu-batu kecil biasa, namun menurut Lumi bentuknya bagus dan lucu mirip kucing atau kelinci). Lior beristirahat di kamarnya. Sophie pun memulai menceritakan kejadian beberapa tahun yang disebutkannya saat di klinik sebelumnya, "Jadi kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu itu adalah..." Sophie berhenti sejenak dan menarik napas panjang seolah sedang mempersiapkan diri "...karena mendengar ada dokter di desa kecil ini, desa sebelah yang di pimpin oleh kepala desa yang sama seperti sekarang, yah waktu itu dia baru menjadi kepala desa. Jadi rasa ingin merasa yang paling unggul sangat tinggi, Yah walaupun sekarang juga masih sama sih. Tak ada yang berbeda, hanya usianya saja yang sudah bertambah. Dia datang ke desa ini dan meminta dokter Wendy menjadi dokter di desanya saja."

"Maksudmu itu kepala desa yang sama yang anaknya merundung putramu?" Tanya Theo.

"Benar. Usianya tak jauh beda dengan suamiku. Dia benar-benar kepala desa terburuk yang pernah kutau. Oke, kulanjutkan ceritaku. Jadi dokter Wendy menolak dengan sopan dan mengatakan jika desa sebelah membutuhkan pertolongan medis, beliau bersedia membantu. Hanya saja beliau hanya ingin tinggal dan menetap di sini. Si kepala desa sialan itu murka karena penolakan dokter Wendy. Lalu dia memerintahkan pengawal bayarannya untuk menyeret paksa dokter Wendy. Namun ayahku yang saat itu adalah kepala desa ini, melindungi dokter Wendy dengan cara menghalangi mereka mendekati dokter Wendy. Karena jumlah mereka banyak, terjadilah perkelahian yang berujung ayahku..." Sophie menarik napas panjang "...terbunuh. Tidak berhenti sampai di situ, mereka membakar rumah-rumah warga. Saat itu Rowan berjuang mati-matian melawan mereka dan berhasil menghabisi setengah dari mereka, hingga mendapat kesempatan saat kepala desa sialan itu lengah dan Rowan bisa mendekatinya, lalu berhasil meringkus serta menodongkan belati di lehernya. Karena terdesak, dia memerintahkan pengawal bayarannya itu mundur dan mengatakan tak menargetkan dokter Wendy lagi, namun dokter Wendy harus menyetujui untuk mengobati warga desanya jika sakit. Dokter Wendy pun menyetujuinya." Kenang Sophie.

"Jadi kepala desa itu sebenarnya takut dengan suamimu?" Tanya Theo.

"Tak hanya takut, dia itu hanyalah pengecut yang hanya bermodal banyak uang." Jawab Sophie dengan raut wajah yang kesal.

"Di setiap tempat selalu saja ada jenis manusia seperti itu." Gumam Theo.

"Dia sudah tak pantas lagi disebut sebagai manusia. Selama ini aku selalu mengutuknya supaya membusuk di neraka." Ucap Sophie.

Sophie menunjukkan kamar yang bisa dipakai Theo untuk beristirahat, saat hendak menunjukkan kamar untuk Maerin. Sophie melihat bahwa Maerin dan Lumi telah tertidur di kamar Lumi. Jadi Sophie membiarkannya.

Saat Theo sendirian di kamar, dia merenungkan cerita Rowan dan Sophie. Dia merasa bahwa penderitaan yang dialami Theo hanyalah penderitaan tak berarti, ada banyak orang yang ternyata lebih menderita darinya. Dia benar-benar merasa malu hanya karena gak mendapat pengakuan dari ayahnya, seolah hidupnya tak berarti. Dia membuka matanya dan menyadari bahwa hidup bukanlah sekadar butuh pengakuan. Hidup itu tak sesederhana itu. Tiba-tiba dia merasa merindukan Victor, kakaknya. Namun, dia telah memilih jalan ini. Dia harus bertanggung jawab dengan pilihannya ini. Sekarang dia tak lagi sendirian.

***

Hari berganti, kesehatan nenek makin membaik. Theo pun melakukan banyak pekerjaan mulai dari memotong rumput pekarangan warga sekitar, membantu mencari tanaman obat di hutan bersama Lior, merawat ternak warga, membantu panen di ladang, dan masih banyak perkejaan lainnya. Itu semua dilakukannya demi mendapatkan uang untuk melunasi biaya pengobatan nenek.

Karena cukup lama sekitar tiga mingguan menetap di desa itu, keberadaan Theo diketahui mata-mata yang telah diperintahkan Victor. Perintah Victor hanya untuk mengawasi Theo dan menolongnya jika dia mengalami masalah. Theo tak menyadari sama sekali jika dia diawasi. Mata-mata itu mengirimkan laporan berkala pada Victor tentang Theo. Dan ya, perintah Victor tetap sama dan tak berubah sama sekali. Mengetahui kabar dan keadaan Theo, membuat Victor sangat lega.

Genap sebulan rombongan Theo berada di desa itu, dan masih tak menyadari jika diawasi mata-mata suruhan Victor. Nenek sudah sepenuhnya sembuh dan biaya pengobatannya sudah lunas. Mereka memutuskan untuk bersiap melanjutkan perjalanan yang telah tertunda untuk waktu yang lama itu. Mereka mengatakan tujuannya pada Rowan dan Sophie yang sudah dianggapnya seperti keluarga. Saat berpamitan, semua warga desa yang mengenal mereka mengantarkan kepergian mereka dengan ekspresi sedih yang berusaha disembunyikan. Lumi lah satu-satunya yang menangis histeris tak ingin berpisah. Kejadian ini juga tak terlepas dari pengawasan mata-mata, sehingga Victor menerima laporan ini. Victor benar-benar bangga bahwa adiknya itu telah berkembang melampaui ekspektasi Victor. Adiknya itu benar-benar telah mampu berdiri di kakinya sendiri, bahkan berani mengambil tanggung jawab besar untuk melindungi orang-orang berharga di sekitarnya.

Perjalanan mereka menuju kampung halaman kakek dan nenek benar-benar lancar tanpa kendala, sebab semua kendala semacam bandit atau hal-hal lain sudah diselesaikan oleh mata-mata kiriman Victor. Theo dan rombongan sedikit merasa janggal sebab tak menjumpai kendala atau hambatan sama sekali, namun di sisi lain juga sangat bersyukur bahwa perjalanan lancar dan aman. Tepat sebulan perjalanan yang ditempuh mereka. Tibalah mereka di kampung halaman kakek dan nenek, kakek dan nenek merasakan cukup banyak perubahan di jalan serta area yang familiar bagi mereka. Dan akhirnya pintu gerbang kampung halaman kakek dan nenek. Awalnya penjaga bersikap waspada, sebab tak banyak pendatang yang singgah di desanya. Hanya petugas pengambil pajak saja yang datang.

Penjaga itu menanyakan banyak pertanyaan pada Theo, namun pertanyaan berakhir dengan ucapan kakek, "Kau Jack kan?"

Penjaga itu melihat ke arah kakek sambil mengernyitkan dahinya seolah mengingat siapa kakek. Lalu tak lama dia mengatakan, "Anda paman Henry?" Ucapnya yang sedikit ragu-ragu.

"Rupanya kau masih mengingatku, nak!" Kata Kakek.

Jack menghampiri dan memeluk erat kakek, serta menyapa nenek. Dia seolah masih tak percaya bisa bertemu lagi dengan kakek dan nenek. Saking senangnya dia bahkan mengumumkan pada orang-orang sekitar bahwa kakek dan nenek kembali ke desa. Dalam sekejap warga desa berkerumun untuk melihat langsung. Sementara keberadaan Theo dan Maerin seolah tersingkir. Namun mereka terlihat bahagia, sebab kakek dan nenek mendapatkan sambutan sehangat ini di kampung halamannya. Tak lama kemudian kepala desa yang merupakan sahabat kakek juga muncul di antara kerumunan dan langsung memeluk kakek. Suasana haru sangat terasa saat itu. "Selamat datang kembali, sahabatku! Kukira aku tak akan pernah bertemu lagi denganmu." Kata kepala desa.

"Maaf terlambat kembali, kami pulang." Ucap kakek. Mendengar ucapan kakek barusan, tiba-tiba membuat nenek menangis. Nenek merasa bahwa ini adalah pilihan tepat yang telah diambilnya.

Kepala desa membubarkan kerumunan dan meminta warga desa kembali beraktivitas seperti biasa. Toh nanti bisa lanjut lagi jika ingin melepas rindu pada kawan lama. Kepala desa mengajak rombongan kakek untuk singgah di rumahnya. Setibanya di sana, mereka disambut istri dan anak-anak kepala desa yang sudah menjadi orang dewasa. Kakek mengenalkan Theo dan Maerin. Kemudian mereka berbincang hingga lupa waktu. Lalu tiba-tiba kepala desa berkata, "Dengar, Henry. Kau jangan terkejut ya. Dan kau bisa berterima kasih padaku nanti."

"Apa itu? Terdengar mencurigakan." Jawab kakek.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!