NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang membeku

Aku pun pulang ke rumahku. Sepanjang perjalanan, bunga yang tadi kubawa tetap kugenggam, seperti satu-satunya pengingat dari hari yang terasa tidak nyata itu. Angin malam menampar pelan wajahku, namun tak ada yang mampu mengusir perasaan campur aduk yang terus membara di dadaku.

Setibanya di rumah, aku menaruh bunga itu di meja ruang tamu, namun pandanganku tetap tertuju pada kelopak lembutnya yang seolah menyimpan semua yang baru saja terjadi. Ibu berdiri di dapur, matanya menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Ayah duduk di ruang tamu, diam. Hening. Terlalu hening.

Lalu ibuku berbicara, suaranya pelan tapi tegas:

“Zahra… kau tahu kan seperti apa wajahnya tadi?”

Aku menunduk, tidak menjawab. Kata-kata ibu membuat dadaku bergetar. Aku mencoba menenangkan diri, namun rasa aneh itu tetap bertahan—campuran antara kagum, takut, dan… sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa definisikan.

Ibuku melangkah lebih dekat, tangannya menempel ringan di bahuku. “Tidak mungkin kau tidak suka dengannya, Zahra. Lihat bagaimana matanya saat menatapmu. Tenang… tapi kuat. Penuh perhatian tanpa harus memaksa. Kau pasti merasakannya juga.”

Aku menelan ludah, tetap diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Ada perasaan yang membuatku sesak, namun aku tidak mau mengakuinya—bukan karena sombong, tapi karena ini benar-benar asing bagiku. Selama ini aku tidak pernah membiarkan diriku merasakan ketertarikan seperti ini pada seorang pria, apalagi pada seseorang seperti Schevenko.

Ayahku akhirnya angkat suara, suaranya berat namun tenang.

“Ibu benar,” katanya. “Dan aku melihat dari tadi… ini bukan sekadar perasaan sesaat. Tapi kau harus berpikir dengan kepala dingin. Apa yang ia tawarkan tidak hanya menyangkutmu, tapi seluruh hidup kita.”

Aku menatap ayahku, mencoba mencerna kata-katanya. Kepala ini seperti berputar, pikiran dan perasaanku bercampur aduk. Ada sesuatu tentang Schevenko yang berbeda dari semua orang yang pernah kutemui. Dia… menakutkan dalam ketenangannya, tapi juga… membuatku merasa tertarik, entah bagaimana.

Ibuku duduk di kursi di depanku, wajahnya masih serius.

“Zahra,” katanya lagi, “kau tidak harus terburu-buru. Tapi jangan menolak perasaanmu sendiri. Kau melihatnya di atas panggung, kau merasakannya saat ia menyerahkan bunga itu… Aku tahu, kau merasakannya.”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tapi setiap kali aku menutup mata, wajah Schevenko muncul begitu jelas. Tatapannya, cara ia berbicara, cara ia duduk—tenang tapi berwibawa—semuanya menempel di pikiranku.

“Bagaimana aku bisa berpikir jernih, Bu?” tanyaku akhirnya, suaraku hampir berbisik. “Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kurasa. Dia… berbeda. Sangat berbeda dari semua orang yang pernah aku temui.”

Ibuku tersenyum tipis, namun matanya tetap serius.

“Ya, itu yang aku maksud. Kau harus sadar, Zahra. Ini bukan kebetulan. Ia memilihmu, dan cara ia menghormatimu… itu menunjukkan niat yang sungguh-sungguh. Tidak semua orang memiliki keberanian dan ketenangan seperti dia.”

Aku memalingkan wajah, mencoba menahan perasaan yang mulai naik. Hatiku terasa berat, tapi aku juga… penasaran. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku ingin tahu lebih banyak. Tapi sekaligus… aku takut. Takut pada apa yang akan terjadi jika aku membiarkan diriku terlibat lebih jauh.

Ayahku menatap kami berdua, lalu berbicara lagi.

“Kita akan menunggu. Tidak ada keputusan yang harus dibuat malam ini. Ini tentang pertimbangan, bukan terburu-buru. Tapi yang jelas… Zahra, kau harus mengerti. Ia bukan sembarang pria. Kesopanannya, ketenangannya, dan apa yang ia tawarkan—bukan hal yang bisa kita anggap enteng.”

Aku menunduk sebentar, mencoba mencerna kata-kata ayah.

“Beberapa hari lalu, aku menemuinya,” lanjut ayah, “dan kami… tidak hanya mengobrol tentang hal-hal sepele.”

Aku langsung tersentak dan menatapnya.

“Apa, ayah?” tanyaku, penasaran sekaligus sedikit was-was.

Ayah tersenyum tipis, namun matanya serius.

“Pasti kamu berpikir tentang agamanya, kan? Saat pertama kali kau melihatnya?”

Aku mengangguk, sedikit gugup. “Iya, ayah. Bagaimana, ayah?”

Ayah menarik napas pelan, lalu berbicara dengan nada yang menenangkan tapi tegas:

“Dengar baik-baik ya, Nak. Kemarin aku sempat mengetesnya saat membaca Al-Quran. Dan… di situ, dia benar-benar sangat pintar. Tidak ada kesalahan sama sekali. Bahkan… aku merasa kamu—kau jauh di bawahnya.”

Aku tersentak, bukan karena tersinggung, tapi karena campuran rasa kagum, penasaran, dan sedikit cemburu.

“Bukankah dia orang luar, ya, Yah?” tanyaku ragu.

Ayah menatapku dan tersenyum tipis. “Nanti kamu tanyakan sendiri padanya.”

Aku mengerutkan dahi. “Ayah ih… pinjam HP dong, aku mau nyari tau sendiri!”

Ibu yang duduk di samping tersenyum nakal, tangannya menyentuh lenganku.

“Kamu suka kan sama dia? Hayoo ngakuuu…”

Aku langsung menunduk, wajahku panas.

“Bu! Jangan goda aku!”

Ibu hanya tertawa pelan, suaranya menenangkan tapi juga menggoda.

“Zahra, ini jelas terlihat. Matamu tidak bisa berbohong.”

Aku menatap bunga yang tadi kubawa. Kelopaknya yang lembut seperti menegaskan apa yang kurasa—aku tidak bisa mengelak. Perasaanku kepada Schevenko… mulai terasa nyata. Tapi di sisi lain, aku juga takut. Terlalu takut.

Ayah menepuk bahuku lembut. “Nak, aku tidak akan memaksa. Tapi aku ingin kau sadar, ini bukan sekadar ketertarikan. Ia orang yang sangat berpendidikan, berakhlak, dan… ia serius. Itu terlihat dari caranya menghormatimu, dari kesopanannya, dan cara ia menyampaikan maksudnya. Semua itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap enteng, Zahra.”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang terasa berdetak terlalu cepat. Setiap kata ayah menambah campuran rasa kagum dan cemas dalam hatiku. Aku bahkan merasa dunia ini tiba-tiba menjadi jauh lebih besar dan rumit daripada yang pernah kubayangkan.

Ibu menambahkan lagi, dengan nada lebih lembut kali ini:

“Zahra, malam ini jangan memutuskan apa pun. Tapi jangan menipu dirimu sendiri. Rasakan saja perasaanmu. Kau bebas berpikir dan menilai. Tapi jangan mengabaikan apa yang kau rasakan.”

Aku menatap ibu, menunduk sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Bu… aku bingung. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

Ibu menggelengkan kepala pelan, tetap tersenyum. “Itu wajar, Nak. Semua orang akan bingung di posisi ini. Tapi percayalah… yang kau rasakan bukan hal yang salah. Itu normal.”

Ayah mengangguk, menambahkan dengan tegas tapi lembut, “Besok kau bisa mulai berpikir lebih jernih. Kita akan mendiskusikan semuanya dengan kepala dingin. Tapi ingat, Nak… keputusan itu tetap harus datang dari dirimu sendiri.”

Aku menatap bunga itu lagi. Kelopak yang lembut, harum, dan rapuh. Ia mengingatkanku pada Schevenko. Cara ia duduk di kursi tadi, ketenangannya, kesopanannya… semuanya. Terasa hampir terlalu sempurna, dan entah kenapa, membuatku merasa tertarik sekaligus takut.

Aku menunduk dan menarik nafas panjang. Suara jam di kamar terdengar lebih keras dari biasanya. Detiknya seolah menandai setiap detik dari malam yang membeku ini, di mana aku mulai merasakan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya—campuran kagum, takut, penasaran, dan… sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Ibu menepuk lembut tanganku, “Tidur dulu, Zahra. Besok kita pikirkan semuanya lagi. Malam ini… cukup diam dan rasakan saja.”

Aku mengangguk, tetap memegang bunga itu.

Malam itu… terasa panjang. Sunyi. Dan penuh pertanyaan yang belum bisa aku jawab.

Aku menutup mata, namun wajah Schevenko tetap menempel di pikiranku. Tatapannya yang menenangkan tapi tegas, senyum tipisnya, bunga yang ia berikan… semua terasa nyata.

Dan aku tahu satu hal:

Setelah malam ini, hidupku…

tidak akan pernah sama lagi.

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!