Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5
4 TAHUN KEMUDIAN
Mobil hitam mewah jenis Roll Royce yang tak semua orang sanggup miliki, masih terparkir rapi tak jauh dari sebuah kafe yang cukup ramai. Kafe itu sederhana, tidak terlalu terkenal, hanya menyajikan minuman manis, kopi, dan beberapa pilihan dessert.
Di hari-hari biasa, pengunjungnya tak pernah benar-benar ramai. Namun bagi para karyawan kantor dan pelajar sekitar, tempat itu cukup dikenal, nyaman, murah, dan tak banyak menarik perhatian.
Tepat di belakang mobil utama yang terparkir sejak pagi, sebuah mobil lain berhenti tak berjarak jauh. Posisinya jelas bukan kebetulan. Seolah kendaraan itu berjaga, mengawasi, melindungi, sekaligus siap bergerak kapan pun dibutuhkan.
Di dalam mobil utama, Jay duduk dengan menyilangkan kakinya yang panjang di atas lututnya, tubuhnya tegak namun santai. Usianya kini hampir 29 tahun. Tingginya menjulang hampir 190cm, dengan postur yang membuat ruang di sekitarnya terasa lebih sempit dari seharusnya.
Dari balik kaca gelap, tatapannya terkunci pada satu sosok di dalam kafe. Tenang. Dalam. Tanpa emosi yang terbaca. Tatapan milik seseorang yang terbiasa mengamati, menilai, lalu memutuskan.
Seperti biasa, Jay mengenakan setelan jas serba hitam, jatuh sempurna di tubuhnya. Tak ada aksesori berlebihan, tak ada gestur sia-sia. Ketampanannya terlalu rapi, terlalu dingin, nyaris tak manusiawi.
Jay bukan tipe pria yang mencari perhatian.
Perhatianlah yang selalu, tanpa diminta, tertarik padanya.
Dan pagi itu, di kafe kecil yang tampak biasa saja, Jay Van O’Connor kembali memastikan satu hal, tidak ada tempat yang benar-benar aman, jika ia sudah memutuskan untuk memperhatikan. Tapi kegiatan kali ini nampak berbeda.
Drew telah bekerja melayani Jay selama kurang lebih empat tahun. Dalam kurun waktu itu, ia menyaksikan sendiri bagaimana aura Jay tumbuh dan berkembang, berubah menjadi sesuatu yang jauh berbeda, jauh lebih menekan dari hari-hari awal mereka bertemu.
Jay yang sekarang bukan lagi pria muda yang sekadar cerdas dan ambisius. Ia telah menjelma menjadi sosok yang dingin, terkendali, dan nyaris tak tersentuh.
Saat berada di perusahaan, Jay hampir tak pernah tersenyum. Wajahnya datar, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Satu kesalahan kecil cukup untuk menghancurkan karier seseorang, tanpa ampun, tanpa kompromi. Jay tidak suka menatap sembarang orang, seolah sebagian besar manusia tak layak menyita perhatiannya terlalu lama.
Bahkan sekretaris pribadinya pun tak pernah bertahan lama. Hampir setiap bulan selalu ada wajah baru. Bukan karena mereka tidak kompeten, melainkan karena tak sanggup menahan tekanan dari cara kerja Jay yang dingin dan menuntut kesempurnaan mutlak.
Semua itu menjadikan nama Jay sebagai momok di dalam lingkup perusahaan.
Tak ada yang berani mendekat tanpa alasan penting. Tak ada yang berani berbicara lebih dari yang diminta. Setiap rapat yang dipimpin Jay terasa seperti medan perang, sunyi, tegang, dan menyesakkan. Para eksekutif yang terbiasa berhadapan dengan risiko miliaran pun mendadak kaku, seolah satu kalimat keliru bisa menjadi vonis mati bagi karier mereka.
Drew sudah hafal suasana itu. Ia tahu, di balik ketenangan Jay yang tampak sempurna, ada sisi gelap yang terus tumbuh, dingin, kejam, dan semakin sulit dikendalikan.
Dan Drew juga tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun di perusahaan:
Jay tidak menjadi seperti ini tanpa alasan.
Begitupun saat Jay berada di pelabuhan. Sifatnya tak berbeda jauh, ketika ia meninjau barang-barang yang akan dikirim ke pasar gelap melalui pelabuhan.
Di sana, ia hampir tak pernah berbicara. Langkahnya tenang menyusuri deretan kontainer, tatapannya tajam menyapu setiap detail, nomor segel, posisi peti, hingga ekspresi orang-orang di sekitarnya. Jay tidak membutuhkan banyak kata. Kehadirannya saja sudah cukup membuat udara terasa berat dan mencekik.
Namun ketika ia menemukan sesuatu yang tidak berada pada tempatnya, satu kesalahan kecil, satu ketidaksesuaian data, keheningan itu langsung berubah menjadi vonis.
Jay hanya memberi isyarat singkat.
Tanpa tanya. Tanpa penjelasan.
Pengawalnya bergerak cepat, menarik orang yang bersangkutan menjauh dari pandangan. Tak ada teriakan, tak ada drama. Hanya penghilangan yang rapi dan final.
Dilenyapkan. Tanpa jejak.
Bagi Jay, kesalahan di dunia ini bukan untuk dimaafkan, melainkan dihapus. Ia tidak mengenal belas kasihan, apalagi kesempatan kedua. Di pelabuhan itu, nyawa manusia tak lebih dari angka yang bisa dicoret jika mengganggu keseimbangan.
Drew berdiri beberapa langkah di belakangnya, menyaksikan semua dengan wajah datar. Ia sudah terbiasa, meski dadanya tetap terasa dingin setiap kali menyadari satu hal yang tak pernah berubah:
Jay bukan hanya CEO kejam di balik meja rapat.
Ia adalah penguasa senyap dunia gelap, dan sekali ia memutuskan, tak ada jalan kembali.
Lama-kelamaan perilaku Jay yang dulu selalu memilih cara-cara aneh menyelesaikan masalah untuk memuaskan rasa penasarannya. Kini berubah dengan cara yang instan dan tidak merepotkan. Bersih dan rapi.
Selama 4 tahun ini bekerja di bawah perintah Jay, Drew belum juga bisa mengerti semua sifat aneh tuannya tersebut.
Dan selama 4 tahun ini pun yang paling tidak di mengerti Drew adalah, ia selalu mengantar dan menemani Jay ke tempat-tempat yang menurutnya di luar nalar.
Seperti sekarang ini, mereka hanya akan duduk di dalam mobil, berada di sana dan Jay hanya memantau sesuatu, duduk diam, di dalam mobilnya dengan tenang dan sesekali tersenyum kecil. Drew masih tetap heran, ada sesuatu kah di dalam cafe tersebut hingga membuat tuannya yang tidak pernah tersenyum menampakkan sisi lain yang berbeda.
Setelah dari Cafe, Drew akan menemani Jay ke sebuah hotel berbintang 3, hotel kelas rendahan, berbeda dari sebelumnya, kali ini Jay akan turun dan duduk lama di bagian Bar. Anehnya Jay tidak memesan alkohol, pria dingin itu tidak pernah kedapatan minum atau pun merokok, Drew sangat heran, seorang anak mafia yang akan mewarisi gelar ayahnya tidak meminum alkohol bahkan tidak merokok, selain sesekali memakan permen karet Jay hanya memesan jus semangka atau jus lainnya.
Drew sempat tertawa geli di dalam hatinya, karena mereka berada di Bar beberapa jam lamanya namun tidak minum-minuman, atau tidak berpesta dengan wanita, hanya duduk dan diam saja, setelah dari hotel Jay akan meminta di antarkan ke minimarket 24 jam, dan seperti waktu di cafe, tempat pertama Jay datang, pria itu hanya akan duduk lama di dalam mobil nya dengan mengamati sesuatu.
Saat pukul 12 malam, Jay akan meminta kembali ke apartmen.
Rutinitas itu di lakukan 3 kali dalam seminggu, atau kadang setiap hari Jay menyempatkan pergi ke salah satu tempat dari 3 tempat yang selalu ia kunjungi, dan semua hal itu sudah ia lakukan selama kurang lebih 4 tahun ini.
Namun hari ini ada yang membuat Drew akhirnya mengerti meski belum sepenuhnya paham. Ketika sesuatu terjadi dan Jay mengerahkan pengawalnya.
“Kirim beberapa preman untuk mengurus pria gendut itu.” Kata Jay memberi isyarat dengan dagunya, sembari menekan kecil telunjuknya yang panjang di sudut bibirnya. Sikunya masih bersender di meja marmer bar.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr