Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Gudang tua di pinggir hutan itu lembap dan berbau karat. Lampu gantung berayun pelan, memantulkan bayangan yang bergerak seperti hantu di dinding beton.
Di tengah ruangan Enzo terikat di kursi besi.
Wajahnya lebam. Bibirnya pecah. Kemejanya penuh darah kering. Sudah lebih dari satu jam dia disiksa oleh anak buah Serigala Putih, demi mendapatkan informasi penting.
Di depannya, duduk seorang pria berjas abu-abu terang dengan sarung tangan kulit putih bersih. Hugo, pemimpin Serigala Putih. Wajahnya tegas. Rambut tersisir sempurna. Senyumnya terlalu ramah untuk tempat seperti itu.
“Enzo, Enzo ....” Hugo menghela napas seolah sedang menasihati anak kecil. “Kita ini orang dewasa. Tidak perlu drama.”
Enzo meludah ke lantai. “Kau culik aku, lalu bicara soal dewasa?”
Hugo tersenyum tipis. Ia mengambil sapu tangan putih, membersihkan sedikit noda darah di pipinya bukan darahnya sendiri.
“Aku hanya ingin tahu satu hal sederhana.” Hugo mencondongkan tubuh. “Seberapa besar sebenarnya kekuatan Alecio?”
Enzo diam. Mulut tertutup rapat dan mata menatap tajam.
Hugo melanjutkan, suaranya santai. “Berapa banyak orang yang ia miliki?”
Enzo masih diam. Dia tidak akan pernah mengkhianati Alecio.
“Di mana gudang emasnya? Siapa pemasok utamanya?”
Hugo menghela napas panjang. Dia menahan kesal karena Enzo tetap diam. “Dan ....” Dia menyipitkan mata. “Apa kelemahannya?”
Tatapan Enzo berubah.
Hugo menangkap perubahan sekecil apa pun. “Ah,” katanya pelan. “Ada sesuatu rupanya.”
Enzo tersenyum miring meski bibirnya berdarah. “Kelemahan Alecio?” ia berbisik serak. “Dia terlalu baik hati.”
Hugo tertawa kecil. “Oh, aku suka humor gelap.”
Ia berdiri, memberi isyarat pada dua anak buahnya. Suara logam ditarik terdengar. Beberapa menit kemudian teriakan Enzo menggema di dalam gudang.
Namun, satu hal tetap sama. Ia tidak berbicara.
Sementara itu, di ruang kerja utama milik Alecio,
Patrick berdiri di depan meja besar. Alecio membaca sebuah pesan yang baru saja diterima. Wajahnya tanpa ekspresi.
“Hugo mengirim video,” kata Patrick pelan.
Di layar tablet, terlihat Enzo dalam keadaan terikat. Suara Hugo terdengar dari balik kamera.
“Halo, Alecio. Aku tidak ingin perang panjang. Aku hanya ingin transaksi sederhana.”
Video berhenti.
Patrick melanjutkan, “Dia mau bertemu. Dia akan mengembalikan truk itu dan Enzo.”
Alecio tidak menjawab.
“Sebagai gantinya dia minta ....” Patrick menarik napas. “Tiga ratus batang emas. Masing-masing seribu gram.”
Ruangan langsung terasa seperti membeku. Beberapa anak buah yang ada di sana saling pandang.
“Tiga ratus kilo?” Salah satu bergumam.
“Itu bukan jumlah kecil,” tambah yang lain.
Alecio meletakkan tablet dengan pelan. “Tiga ratus batang,” ulangnya tenang.
Patrick mengangguk. “Itu sekitar tiga kwintal.”
Alecio berdiri perlahan. “Kira-kira,” katanya dengan nada sangat datar, “dia pikir aku ini bank sentral?”
Beberapa anak buah menunduk, menahan diri agar tidak tertawa.
Alecio berjalan ke arah jendela. “Dia menyerang pengirimanku. Membunuh orang-orangku. Mencuri trukku.” Ia menoleh. “Lalu meminta emas sebagai kompensasi?”
Patrick mengangguk kecil. “Hugo memang terkenal tidak tahu malu.”
Alecio tersenyum tipis. “Tidak. Dia tahu persis apa yang dia lakukan.”
Alecio menatap semua orang. “Dia sedang menguji apakah aku cukup peduli pada anak buahku untuk membayar.”
Sunyi. Karena semua orang tahu jawabannya. Alecio selalu peduli dan itu bisa jadi kelemahan.
Di balik pintu yang sedikit terbuka Sandrina berdiri dengan napas tertahan. Ia sebenarnya hanya ingin pergi dapur, mungkin mencari camilan.
Namun, entah kenapa berubah jadi sinetron mafia. Dia malah mendengar semua pembicaraan itu.
Sandrina mengerjap. “Tiga ratus kilo emas?” gumamnya pelan. “Itu kalau dijual bisa beli satu kampung.”
Sandrina mengerutkan kening. Kalau dibayar, mereka rugi besar. Kalau tidak dibayar, Enzo bisa mati.
Sandrina menggigit bibir. Lalu, matanya berbinar. Dalam otaknya tiba-tiba terbersit sebuah ide. Ide yang sangat tidak waras.
“Siapa di sana?!” teriak Alecio melihat ke arah pintu karena melihat bayangan di sana.
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka. Semua kepala menoleh. Sandrina berdiri di sana dengan wajah serius.
Beberapa anak buah langsung refleks berdiri.
Alecio menatapnya datar. “Kau menguping?”
Sandrina tersenyum polos. “Bukan menguping. Cuma, kebetulan lewat dan telinga saya terlalu sehat, sehingga pembicaraan kalian kedengaran.”
Patrick menutup mulut, hampir tertawa.
Alecio menghela napas. “Ini bukan urusanmu.”
“Justru ini urusan saya,” sahut Sandrina cepat. “Kalau kalian perang, saya ikut kena dampaknya. Jadi saya berhak berkontribusi.”
Beberapa anak buah saling pandang. “Kontribusi?”
Alecio menyilangkan tangan. “Kau punya tiga ratus kilo emas?”
“Tidak.” Sandrina menggeleng mantap. “Tapi saya punya ide.”
Semua mendadak waspada. Biasanya kalau Sandrina bilang “ide”, hasilnya antara bencana atau mukjizat.
“Katakan apa itu?” tanya Alecio.
Sandrina melangkah masuk. “Kita kasih dia emas.”
Ruangan hening. Patrick mengangkat alis.
“Tapi?” tanya Alecio pelan.
Sandrina tersenyum lebar. “Emasnya bukan emas.”
Beberapa orang langsung berbisik. “Maksudnya?”
“Kita buat batang emas palsu,” Sandrina menjelaskan penuh semangat. “Lapisi luarannya dengan emas tipis asli. Dalamnya? Besi.”
Patrick tercengang. Salah satu anak buah hampir tepuk tangan.
Alecio menatapnya lama. “Kau menyuruhku menipu Hugo?”
Sandrina mengangguk. “Dia duluan yang nipu. Dia bilang mau transaksi damai padahal jelas-jelas ini pemerasan.”
Alecio menyipitkan mata.
Sandrina makin bersemangat. “Kita kasih dia tiga ratus batang. Beratnya tetap seribu gram. Kita atur supaya terlihat asli. Dia tidak akan langsung cek satu-satu.”
Patrick mulai terlihat tertarik.
“Dan saat dia sadar?” tanya Alecio.
Sandrina tersenyum lebih lebar. “Pada saat dia sadar, kalian sudah tahu lokasi markasnya.”
Semua orang pun terdiam. Ide itu memang gila. Sangat berisiko, tetapi brilian.
Alecio berjalan mendekat, menatap wajah Sandrina. “Kau sadar kalau ini bisa memicu perang besar?”
Sandrina mengangguk pelan. “Tapi kalau bayar tiga ratus kilo emas asli, kau juga tetap dianggap lemah.”
Patrick menatap Alecio. “Dia tidak salah.”
Alecio menatap Sandrina beberapa detik lagi. “Kau ini sebenarnya siapa?” gumamnya pelan.
Sandrina mengangkat bahu. “Kan, sudah aku bilang, aku ini Raja Anak Jalanan.”
Beberapa anak buah tak bisa lagi menahan tawa kecil.
Alecio akhirnya terkekeh pelan. “Kau sadar kalau Hugo itu kejam?”
Sandrina menatap balik tanpa gentar. “Dan kau juga bukan malaikat.”
Ruangan mendadak sunyi lagi. Alecio tersenyum tipis.
“Patrick,” kata Alecio pelan tanpa melepaskan tatapan dari Sandrina, “siapkan pengrajin logam terbaik.”
Patrick mengangguk.
“Kita buat tiga ratus batang emas,” titah Alecio. Lalu, dia menoleh lagi ke Sandrina. “Dan kalau rencanamu gagal–”
Sandrina cepat menyela, “Saya pura-pura tidak kenal kalian.”
Beberapa orang tertawa keras kali ini.
Alecio bahkan sampai menggeleng. “Kau ini benar-benar gila.”
Sandrina tersenyum puas. “Terima kasih.”
Di tempat lain, Hugo duduk santai di kursinya, menyesap anggur. Ia yakin dirinya unggul. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menantang orang yang salah.
Lalu, sekarang ia juga akan berhadapan dengan satu perempuan yang idenya lebih berbahaya daripada peluru.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu