Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran Tentang Rodrigo
Suasana berganti drastis. Mobil hitam Sky memasuki halaman luas kediaman Menteri Pertahanan yang kini dikepung garis polisi. Lampu biru-merah dari mobil patroli menyambar-nyambar dinding mansion yang megah namun terasa mencekam.
Sky dan Shyla turun dari mobil. Bram, detektif senior sekaligus anak buah Shyla, langsung menghampiri mereka dengan wajah canggung saat melihat Shyla-- wanita yang dia sukai dan selalu menolak nya.
Bram mendekat. "Kata pelayan... dia menemukannya sekitar pukul 05.30 pagi tadi, Detektif. Niat nya hanya ingin mengantarkan kopi rutinnya sebelum rapat kabinet. Tapi saat dia masuk, Menteri Pertahanan sudah... dia tidak bergerak lagi."
Shyla mengangguk pelan, sarung tangan lateksnya sudah terpasang. Ia melirik ke arah Sky, kakaknya yang berdiri sedikit di belakang dengan tatapan tajam yang sedang memindai setiap sudut rumah.
"Baru beberapa hari berita duka tentang istri dan anak beliau dalam insiden ledakan di mall itu, Bram. Secara statistik, kematian berturut-turut dalam keluarga pejabat tinggi dalam kurun waktu dekat bukanlah sebuah kebetulan."
Sky mengangguk, wajah nya masih datar. "Terlalu rapi untuk disebut kebetulan, Shyla. Mari kita lihat apa yang ditinggalkan 'pembunuh' ini di dalam."
Mereka melangkah masuk. Ruang kerja itu luas, dipenuhi rak buku setinggi langit-langit dan aroma kayu cendana. Di tengah ruangan, sang Menteri Pertahanan duduk merosot di kursi kebesarannya. Kepalanya terkulai ke samping, matanya terbelalak menatap kosong ke arah jendela.
Di bawah meja kerjanya, sebuah genangan darah segar yang cukup luas membasahi karpet persia dan lantai marmer putih.
Shyla mendekat dan memeriksa tubuh korban. "Aneh. Lihat ini, Kak Sky. Darah ini... ada di mana-mana. Menggenang di lantai seolah-olah ada arteri besar yang putus. "
Shyla mulai memeriksa leher, dada, hingga telapak tangan sang Menteri dengan sangat teliti. Ia mengerutkan dahi, lalu menatap kakaknya dengan ekspresi bingung. "Tidak ada luka, Kak Sky. Tidak ada bekas tusukan, tidak ada lubang peluru, bahkan tidak ada goresan kecil pun di permukaan kulitnya. Tapi darah ini... tidak mungkin milik orang lain."
Sky berjongkok di dekat genangan darah, memperhatikan pola percikannya."Itu dia letak keganjilannya. Darah sebanyak ini tidak mungkin keluar tanpa adanya trauma fisik yang nyata. Kecuali jika darah ini tidak keluar dari luar, melainkan dari dalam lewat pori-pori atau saluran yang tidak terlihat secara kasat mata."
Sky melangkah mendekat, aura di sekitarnya mulai mendingin. "Jaga pintu. Jangan biarkan siapapun masuk."
Sky berlutut di kepala sang Menteri. Dia menarik napas dalam, membiarkan kebisingan dunia luar memudar. Perlahan, dia meletakkan telapak tangannya di dahi sang menteri yang sudah dingin. Dari ujung jarinya, muncul pendaran cahaya biru pucat yang merambat seperti akar pohon—sebuah aliran sihir Chronos-Echo untuk mengambil sisa memori terakhir yang tersimpan di saraf otak.
Sky bergumam pelan dengan mata terpejam.
"Tunjukkan padaku... detik-detik saat napasmu terhenti. Tunjukkan wajah yang kau lihat sebelum kegelapan menjemput..."
Suasana hening seketika. Shyla menahan napas, memperhatikan kakaknya yang biasanya selalu tenang kini mulai berkeringat dingin. Namun, raut wajah Sky yang semula fokus berubah menjadi kebingungan, lalu berubah menjadi ketakutan yang murni.
Napas Sky tersengal, dia menarik tangannya dengan kasar seolah tersengat listrik. "Mustahil..."
Shyla segera menghampiri. " Kak Sky! Apa yang kau lihat? Siapa pelakunya?"
Sky membuka mata, pupilnya bergetar hebat.
"Kosong, Shyla. Benar-benar kosong. Saat aku masuk ke dalam memorinya, tidak ada rekaman kejadian, tidak ada bayangan pembunuh, bahkan tidak ada kegelapan. Semuanya... hampa. Seolah-olah seluruh keberadaan dan ingatan pria ini telah dihapus paksa dari garis waktu sebelum dia mati. Seseorang tidak hanya membunuhnya, mereka 'menghapus' eksistensinya."
Shyla baru saja hendak melontarkan pertanyaan tentang bagaimana hal itu mungkin terjadi, namun Sky memotongnya dengan suara yang lebih rendah, nyaris seperti bisikan yang mencekam. "Tapi ada sesuatu yang lebih mengerikan dari kekosongan itu. Aura sihir yang tertinggal di sini... Aku mengenalnya. Itu bukan milik orang asing. "
Sky menatap darah di lantai, lalu menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aura ini sihir sama... rasanya seperti milik kita. Seolah-olah pelakunya bukan hanya mengenal kita, tapi memiliki bagian dari diri kita di dalam sihirnya. Kita tidak sedang memburu orang luar, Shyla. Kita sedang memburu bayangan kita sendiri."
Di balik kebingungan mereka, sang pelaku yang sesungguhnya tengah bergerak dalam bayang-bayang, melakukan kekejian tersebut bukan demi dendam, melainkan sebagai upaya terakhir yang terdistorsi untuk menyelamatkan masa depan keluarga mereka dari kehancuran yang jauh lebih mengerikan.
•
•
Sementara di tempat lain, udara dingin di dalam laboratorium itu terasa mencekik, membawa aroma tajam bahan kimia dan logam steril yang membeku dalam sunyi yang ganjil.
Di tengah keheningan yang menusuk, Rodrigo berdiri mematung di depan layar televisi yang baru saja menyiarkan kabar kematian Menteri Pertahanan. Amarahnya meledak seketika-- dengan satu hentakan penuh dendam, ia menendang layar itu hingga hancur berkeping-keping, menyisakan percikan listrik yang meredup di lantai beton yang dingin.
Dia tahu persis siapa di balik pembunuhan ini—sosok dari tahun 2072, masa depan yang juga menjadi asal-usulnya sendiri.
Sang pelaku, orang yang sangat ia kenal, kini tengah menenun alur waktu yang berdarah demi menyelamatkan keluarganya dengan cara melenyapkan siapa pun yang terhubung dengan Rodrigo.
Di bawah temaram lampu neon yang berkedip, Rodrigo menyadari bahwa perang dingin antar penjelajah waktu ini bukan lagi soal sejarah, melainkan tentang siapa yang akan bertahan dalam kehampaan ruang yang membeku ini.
"Kau pikir dengan membunuhnya, masa depan kalian akan berubah, hah?!" teriak Rodrigo pada kekosongan ruangan. "Kau pikir dengan menghabisi setiap orang yang pernah berjabat tangan denganku di sini, kau bisa menyelamatkan keluarga mu di tahun 2072?"
Dia berjalan mendekati meja laboratorium, jemarinya yang gemetar menyentuh permukaan logam yang membeku."Kalian membunuh orang-orang yang membantuku di sini, mengira itu akan menghentikan langkahku. Bodoh. Aku meninggalkan tahun 2072 bukan untuk melarikan diri, tapi untuk memastikan kalian bertiga tidak pernah menghirup udara dunia ini. Jika aku bisa mencegah kelahiran kalian di masa lalu ini, maka kekaisaran kalian yang sombong itu hanya akan menjadi debu dalam catatan sejarah yang tak pernah ditulis. "
Dia tertawa parau, sebuah tawa yang terdengar hampa di ruangan yang sunyi itu. "Kalian mengacaukan rencanaku hari ini, tapi sejarah adalah milik siapa yang bertahan paling lama. Selamat datang di masa lalu, Yang Mulia. Mari kita lihat siapa yang akan terhapus lebih dulu dari garis waktu ini."
Langkah kaki ringan bergema di lantai porselen dingin. Viona muncul dari balik bayang-bayang mesin kriogenik.
"Ayah, sebenarnya aku sangat penasaran... Kenapa kau sangat membenci mereka? Kenapa kita harus melintasi waktu, mempertaruhkan eksistensi kita sendiri hanya untuk menghentikan kelahiran tiga orang yang bahkan belum ada di zaman ini?"
Rodrigo tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih dingin dari suhu ruangan itu. "Kau melihat mahkota di kepala mereka, Viona. Tapi aku? Aku melihat nanah dari luka lama yang tak pernah kering. Kau tak pernah mengenal nenekmu, Dania. Dia bukan sekadar nama di batu nisan yang sepi. Dia adalah wanita yang dunianya diruntuhkan oleh keserakahan Angel dan Langit."
Rodrigo melangkah mendekati tabung eksperimen, jemarinya menyentuh kaca yang berembun. "Mereka menghancurkannya dengan fitnah yang begitu kejam hingga kebenaran pun malu untuk menampakkan diri. Ibuku tewas di penjara, sementara keluarga mereka membangun singgasana di atas air mata wanita yang mereka labeli pembunuh. Kekaisaran yang kau lihat di masa depan itu dibangun dengan fondasi kehancuran ibuku."
Rodrigo menatap penuh kebencian. "Jika mereka datang dari tahun 2072 untuk menyelamatkan masa depan mereka, maka aku di sini untuk memastikan masa depan itu tidak pernah lahir. Aku tidak sedang membunuh manusia, Viona... Aku sedang menghapus sebuah kesalahan sejarah yang bernama garis keturunan mereka. Biarlah ruangan dingin ini menjadi saksi, bahwa dendam Ibuku akan tuntas, bahkan jika aku harus membekukan waktu itu sendiri."
Rodrigo datang untuk memastikan ketiga pewaris itu tidak pernah lahir ke dunia, demi membalas setiap detik penderitaan ibunya di balik jeruji besi.
Namun, kemunculan mereka di lini masa ini telah mengacaukan segalanya, mengubah laboratorium yang dingin ini menjadi medan perang antara dua masa depan yang saling berbenturan demi sebuah penebusan yang berdarah.
•
•
•
BERSAMBUNG