kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Malam itu, kamar utama kediaman Suhadi terasa seperti medan perang yang membeku. Kirana duduk di tepi ranjang dengan napas yang memburu, sementara Alendra baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan celana kain panjang dengan tubuh bagian atas yang masih basah.
Saat Alendra hendak mengambil kaus di lemari, Kirana bangkit. Matanya yang tajam bak elang menangkap sesuatu di cermin.
Kirana melangkah mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh punggung Alendra, lalu turun ke arah bahunya. Di sana, terdapat bekas cakaran halus yang banyak , sudah mengering dan beberapa tanda Cinta, jejak perjuangan Patricia yang kehilangan kesadaran semalam saat mencoba melepaskan diri dari siksaan obat tersebut.
Suara Kirana bergetar, penuh racun "Mas... selama delapan bulan kita menikah, kamu selalu memperlakukanku seperti porselen yang mudah pecah. Lembut, hati-hati, bahkan terkesan... hambar."
Alendra mematung. Ia mencoba menarik bahunya, namun Kirana justru mencengkeramnya lebih kuat.
"Tapi lihat ini... jejak-jejak ini... Kamu melakukannya dengan brutal padanya, kan? Sesuatu yang bahkan tidak pernah kamu berikan kepadaku seujung kuku pun!"
Alendra berbalik, menatap mata Kirana yang sudah berkaca-kaca karena amarah dan rasa rendah diri yang meledak.
"Kiran, cukup! Itu bukan karena aku menginginkannya! Dia dalam kondisi medis yang kritis, sarafnya bisa rusak kalau tidak segera dikeluarkan! Aku terpaksa melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya!"
Kirana berteriak histeris "Terpaksa?! Kebohongan macam apa itu, Alen! Kamu laki-laki normal! Jangan bilang padaku kalau di tengah kegelapan itu kamu tidak menikmatinya! Kamu menyentuh wanita yang masih virgin, sesuatu yang selalu kamu agung-agungkan, sementara aku... aku hanya istri bekas orang yang kamu pungut demi harga diri ku.
Alendra mengambil napas panjang, mencoba meredam emosi" Kirana. Aku mencintaimu. Tapi apa yang terjadi semalam adalah takdir yang paling buruk dalam hidupku. Aku harus melakukan itu atau dia mati di tanganku!"
Kirana mendorong dada Alendra dengan kedua tangannya. Isak tangisnya pecah. Selama ini, Kirana merasa Alendra terlalu menjaga jarak secara fisik dengannya, selalu beralasan ingin menghormatinya atau menunggu waktu yang tepat untuk lebih jauh. Namun sekarang, ia mendapati suaminya justru melepaskan sisi liarbitu pada wanita asing di sebuah gudang kotor.
"Kamu jahat, Mas... Kamu memberinya kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan, sementara kamu memberiku rasa haus akan perhatianmu. Kamu menjadikannya istri kedua, tapi di mataku, kamu baru saja memberikan seluruh dirimu padanya semalam!"
Kirana merosot ke lantai, menutupi wajahnya. Ia merasa kalah telak sebagai seorang wanita. Kecantikan dan hartanya seolah tidak berarti dibandingkan pengalaman yang baru saja dilalui Alendra dengan Patricia.
Alendra berlutut di depan Kirana, mencoba meraih bahu istrinya, namun Kirana menepisnya dengan kasar. Alendra merasa sangat hancur; di satu sisi ia merasa berdosa pada Kirana, namun di sisi lain, bayangan tangis Patricia dan aroma tubuh gadis itu semalam terus membayanginya, sebuah memori yang kini ia sadari berasal dari wanita yang sama yang ia puja dua tahun lalu.
"Kiran, aku akan tetap menjadi suamimu. Aku tidak akan membiarkan Patricia menggeser posisimu. Tapi tolong, jangan minta aku untuk tidak bertanggung jawab padanya."
Kirana mendongak dengan mata merah "Bertanggung jawablah. Belikan dia rumah di ujung dunia agar aku tidak perlu melihat wajahnya! Tapi jangan harap aku akan menerimanya sebagai madu di rumah ini!"
Malam itu berakhir dengan mereka tidur membelakangi satu sama lain. Alendra menatap kegelapan, merasakan denyut di bekas luka cakaran di bahunya yang seolah menjadi pengingat permanen tentang Patricia.
Sementara di rumah sakit, Patricia terjaga dalam tangisnya, merasakan sakit yang sama di tubuhnya, sebuah rasa sakit yang menjadi awal dari ikatan berdarah antara dirinya, Alendra, dan Kirana.
___
Keesokan harinya Kirana akhirnya mengambil keputusan yang paling berisiko dalam hidupnya. Alih-alih membuang Patricia ke ujung dunia, ia memilih untuk menarik ancaman itu tepat di depan matanya. Baginya, lebih baik musuh terlihat di ruang tamu daripada bergerilya di balik pintu apartemen rahasia Alendra.
Pagi itu, di meja makan yang dingin, Kirana meletakkan cangkir porselennya dengan denting yang sengaja dikeraskan. Alendra yang sedang mengancingkan manset kemejanya terhenti, menatap istrinya dengan dahi berkerut.
orang tuan ,kakek,serta Ardiansyah sedang berada di rumah sakit karena Najwa melahirkan..
Kirana menatap lurus ke mata Alendra, dagunya terangkat elegan "Bawa dia ke sini, Mas. Bawa Patricia tinggal di paviliun samping. Aku tidak mau kamu punya alasan untuk terus-menerus keluar rumah dengan dalih menanggung jawabinya."
Alendra tertegun, matanya membelalak. "Kiran? Kamu serius? Kamu tidak perlu melakukan ini kalau hatimu tidak siap."
Kirana tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya "Aku siap. Aku ingin melihat sendiri, sehebat apa gadis yang bisa membuat suamiku berubah menjadi pahlawan kesiangan dalam semalam."
"""
Sore harinya, mobil Alendra memasuki pelataran rumah. Patricia turun dengan langkah yang sangat pelan, dibantu oleh Tono di sisi kanannya dan di sisi kiri ada Selena yang memang sudah sakit-sakitan. Ia mengenakan gamis sederhana pemberian Rukayyah dan khimar panjang yang menutupi wajah pucatnya.
Begitu kakinya menginjak lantai marmer teras, Patricia langsung menunduk dalam. Ia merasa seperti domba yang masuk ke kandang singa betina.
Kirana sudah berdiri di ambang pintu, bersedekap. Ia sengaja memakai dress sutra merah yang kontras, menunjukkan kelasnya sebagai nyonya rumah. Namun, saat Patricia mendongak sedikit untuk memberi salam, Kirana terpaku.
Di bawah cahaya sore yang keemasan, wajah Patricia yang tanpa riasan justru terlihat sangat memukau. Kulitnya yang halus, bulu matanya yang lentik alami, dan aura kemudaan yang terpancar darinya membuat Kirana merasa... tua.
Kirana membatin dengan rahang yang mengeras "Sial. Dia jauh lebih cantik dari yang kulihat di rumah sakit. Pantas saja Alendra bertindak brutal kemarin malam."
"Assalamualaikum...M-Mbak Kirana... terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di sini. Saya... saya ke sini atas permintaan tuan Alendra"
Kirana melangkah mendekat, mengitari Patricia seolah sedang memeriksa barang belanjaan "Ow... baguslah kalau begitu".
Kirana menyentuh bahu Patricia, sedikit menekan pada bagian yang ia tahu masih terasa sakit. Patricia meringis kecil, tubuhnya refleks mengecil, namun ia tidak melawan. Ia hanya menunduk, air matanya mulai menggenang.
"Kirana! Cukup. Pak Tono Bu Selena, silakan bawa Patricia ke paviliun. Semua kebutuhannya sudah disiapkan di sana."
patricia dan kedua orang tuanya di antar ke paviliun mewah milik keluarga Suhadi oleh pelayan. Lalu beberapa saat kemudian Tono dan Selena pamit untuk pulang atas permintaan Patricia, Patricia tidak mau membebani orang tuanya atas apa yang sedang di alaminya.
" Mama...Papa, hati-hati di jalan, insyaallah di sini Cia baik-baik saja" ucap Patricia tersenyum tulus namun penuh luka.
" iya nak,kami permisi dulu, nak Alen tolong jaga putri kami satu-satunya, kalau anda sudah tidak menerima nya, kembalikan putriku saya dengan cara baik-baik " ucap Tono dengan sendu.
" Patricia istri saya sekarang pa, Cia sekarang tanggung jawab saya, saya akan memperlakukan Patricia sebagai mana seorang suami pada istrinya" jawab Alendra dengan mantap membuat Kirana mendengus.
setelah kepergian mertuanya, Alendra berbalik.
Alendra berdiri di antara kedua istrinya. Gestur tubuhnya serba salah. Ia ingin merangkul Patricia untuk menguatkannya, namun ia tahu itu akan menjadi vonis mati bagi perasaaan Kirana.
Saat Patricia berjalan melewati Alendra menuju paviliun, ujung khimarnya sempat menyentuh tangan Alendra. Alendra memejamkan mata sejenak, merasakan sengatan listrik yang sama seperti malam itu. Kirana yang melihat kilasan ekspresi itu langsung membuang muka, matanya merah menahan emosi.
**
Malam harinya, rumah besar itu terasa mencekam. Kirana sengaja meminta pelayan untuk tidak mengantarkan makan malam ke paviliun.
"Kalau dia memang sudah bertaubat dan tahu diri, dia pasti akan datang ke meja makan ini untuk melayaniku dan suamiku. Dia istri kedua, kan? Biar dia tahu posisinya." ucap Kirana dengan ketus.
Alendra hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu, hidup satu atap ini bukan akhir dari masalah, melainkan awal dari drama yang akan menguras air mata. Ia mencintai Kirana, tapi ia terobsesi untuk melindungi Patricia, wanita yang diam-diam telah memiliki hatinya sejak dua tahun lalu, dan kini telah ia miliki seutuhnya di atas gudang tua itu.