Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Aku merasakan tubuhku terhempas ke permukaan yang keras. Rasa sakit menjalar dari punggung hingga ke ujung kepala, membuat pandanganku berkunang-kunang. Aku terbatuk, memuntahkan sisa debu yang sempat terhirup saat kami jatuh dari lantai makam yang runtuh.
Di sampingku, He Ran masih terbaring lemah. Wajahnya yang pucat pasi terlihat sangat kontras dengan noda merah yang membasahi pakaiannya. Aku segera merangkak mendekatinya, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk tulang rusukku.
"He Ran, bangun!" seruku sembari mengguncang bahunya perlahan.
He Ran mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit, namun fokusnya tidak tertuju padaku. Ia menatap ke arah sosok wanita berambut putih yang kini berdiri beberapa langkah di depan kami. Wanita itu tampak begitu anggun sekaligus mengerikan, seolah-olah ia adalah perwujudan dari keindahan yang mematikan.
"Ibu?" gumam He Ran sekali lagi dengan suara yang hampir menghilang.
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung, menatap kami dengan mata biru laut yang tidak memiliki emosi. Rambut putih panjangnya terurai hingga menyentuh lantai, bergerak perlahan meskipun tidak ada hembusan angin di tempat ini.
"Siapa sebenarnya dia, He Ran?" tanyaku sembari menarik tubuh He Ran agar bersandar di dadaku.
"Dia adalah alasan kenapa aku membawamu ke sini, Han Wol," sahut sebuah suara yang sangat kukenal dari arah kegelapan.
Aku menoleh dan melihat Han Gwang, kakekku, berjalan keluar dari balik bayangan pilar yang besar. Zirah peraknya sudah hancur di beberapa bagian, namun auranya masih terasa sangat menekan. Ia menatap wanita berambut putih itu dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan sekaligus kebencian.
"Jadi kau berhasil bertahan hidup di bawah sini, Lin," ucap Han Gwang sembari menghentikan langkahnya tepat di samping wanita itu.
Wanita yang dipanggil Lin itu akhirnya bergerak. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Han Gwang dengan tatapan yang sangat asing. "Han Gwang? Nama itu terasa sangat jauh di dalam ingatanku."
"Kau sudah terlalu lama menjadi penjaga makam ini, Lin. Kau lupa siapa yang pertama kali memberimu kekuatan Asura ini?" tanya Han Gwang sembari menyentuh bahu wanita itu.
Lin segera menepis tangan Han Gwang dengan gerakan yang sangat cepat. "Kekuatan ini adalah kutukan, bukan pemberian. Dan sekarang, kau membawa keturunan terakhir kita ke sini untuk apa?"
Han Gwang tertawa pendek. Ia menunjuk ke arahku dengan ujung jarinya yang masih bersisik perak. "Dia adalah kunci untuk menyempurnakan garis keturunan kita. Dia adalah Vanguard yang berhasil melampaui sistem buatan manusia itu."
Aku merasakan amarah kembali memuncak di dalam dadaku. "Aku bukan barang yang bisa kau gunakan untuk eksperimen gilamu, Pak Tua!"
"Han Wol, kau tidak mengerti," potong Lin sembari berjalan mendekatiku. "Darah yang mengalir di tubuhmu adalah racun yang akan menghancurkanmu jika kau tidak segera menemukan wadah yang tepat."
"Wadah? Apa maksudmu?" tanyaku sembari mempererat pelukanku pada He Ran.
Lin berhenti tepat di hadapanku. Ia berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. Aku bisa melihat pantulan diriku di matanya yang biru jernih. Tidak ada tanda-tanda monster di wajahnya, namun aku bisa merasakan energi Asura di dalam tubuhnya yang jauh lebih besar dari milik Han Gwang.
"He Ran adalah wadah itu," jelas Lin sembari membelai pipi He Ran yang dingin. "Itulah sebabnya aku melahirkannya. Untuk menampung luapan energi dari Vanguard sepertimu agar dunia ini tidak hancur."
"Kau melahirkannya hanya untuk menjadi alat?" tanyaku dengan nada suara yang bergetar karena emosi.
"Itu adalah takdir setiap anggota keluarga Han, Nak," sahut Han Gwang sembari mendekat. "Kita lahir untuk menjadi monster, atau menjadi tempat bagi monster itu beristirahat."
He Ran tiba-tiba mencengkeram lengan bajuku. Ia menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. "Jadi selama ini... kau hanya menungguku datang ke sini untuk mati?"
Lin tidak menjawab. Ia hanya menatap putrinya dengan tatapan kosong. Namun, aku melihat tangannya yang gemetar kecil saat menyentuh rambut He Ran. Di balik kedinginan wajahnya, ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dirinya.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya," tandasku sembari bangkit berdiri dengan menggendong He Ran di lenganku.
"Kau pikir kau punya pilihan, Cucu?" tanya Han Gwang sembari menghunuskan belati kecil dari balik zirahnya.
"Pilihan selalu ada, selama aku masih bernapas," jawabku sembari memicu energi hitam di sekujur tubuhku.
Seketika, guratan hitam di lenganku menyala terang. Sayap hitamku kembali tumbuh, namun kali ini ukurannya jauh lebih besar dan kuat. Aku merasakan kekuatan yang murni mengalir dari jantungku, tidak lagi terhambat oleh keraguan atau ketakutan.
"Lin, bantu aku menangkapnya!" perintah Han Gwang sembari menerjang ke arahku.
Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Lin justru menghalangi jalan Han Gwang dengan menciptakan dinding air yang membeku secara instan. Han Gwang terpental ke belakang, menatap istrinya dengan wajah yang penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan, Lin?" raung Han Gwang.
"Sudah cukup banyak nyawa yang kau korbankan untuk ambisimu, Gwang," ucap Lin sembari berdiri tegak di depanku. "Biarkan anak ini menentukan jalannya sendiri."
"Kau berkhianat?" tanya Han Gwang sembari merendahkan posisi tubuhnya.
"Aku hanya melindungi apa yang tersisa dari kemanusiaanku," balas Lin sembari mengumpulkan energi biru di telapak tangannya.
Aku menatap punggung Lin dengan perasaan yang campur aduk. Wanita yang baru saja kulihat sebagai ancaman kini berdiri sebagai perisaiku. Namun, aku tahu bahwa Han Gwang tidak akan menyerah begitu saja. Di balik kegelapan makam, aku mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak kembali mendekat.
"Aliansi Murim tidak akan membiarkan kita keluar dari sini hidup-hidup, Lin!" teriak Han Gwang sembari menunjuk ke arah tangga.
"Maka kita akan bertarung sampai akhir," sahut Lin sembari menoleh ke arahku. "Pergilah, Han Wol. Bawa He Ran keluar melalui jalur sungai di bawah sini. Aku akan menahan mereka di sini."
"Tapi Ibu..." lirih He Ran sembari berusaha menggapai tangan ibunya.
"Pergilah, Sayang. Hiduplah sebagai manusia, bukan sebagai wadah," ucap Lin sembari memberikan senyum tipis yang sangat hangat.
Aku ragu sejenak. Namun, saat melihat rombongan tetua aliansi mulai muncul dari kegelapan, aku tahu bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan kami. Aku mengangguk pelan ke arah Lin, lalu melompat ke arah lubang yang menuju ke aliran sungai bawah tanah.
"Aku berjanji akan menjaganya," janjiku sembari menghilang ke dalam kegelapan.
Tepat saat aku terjun ke bawah, aku mendengar suara ledakan besar dari atas. Cahaya biru dan ungu beradu, menciptakan guncangan yang meruntuhkan sisa-sisa makam tersebut. Aku memeluk He Ran erat-erat, membiarkan tubuh kami terbawa oleh arus air yang sangat deras.
Setelah beberapa menit terombang-ambing di dalam air, kami akhirnya terdampar di pinggiran sungai yang berada di luar hutan mati. Matahari mulai terbit, menyinari permukaan air yang tenang. Aku menyeret tubuh He Ran ke daratan, lalu merebahkan diri di atas rumput yang lembap.
"Kita selamat," gumamku sembari mengatur napas yang tersengal.
He Ran tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah makam yang kini sudah tertutup oleh reruntuhan bukit. Air mata mengalir di pipinya, membasahi luka yang sudah mulai mengering. Aku meraih tangannya, mencoba memberikan sedikit kekuatan.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Han?" tanya He Ran sembari menoleh ke arahku.
"Kita akan pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh aliansi atau keluargamu," jawabku sembari menatap ke arah cakrawala.
Namun, baru saja aku hendak berdiri, aku merasakan sebuah kehadiran yang sangat kuat di belakang kami. Aku segera berbalik dan melihat Jin Seo berdiri di sana dengan pedang peraknya yang sudah berlumuran darah.
"Kalian pikir bisa pergi semudah itu?" tanya Jin Seo sembari menyeringai.
Di belakang Jin Seo, puluhan murid Sekte Langit Hitam muncul dari balik pepohonan, mengepung kami dari segala arah. Aku menyadari satu hal yang mengerikan. Selama ini, Jin Seo bukan hanya mata-mata, ia adalah orang yang merancang seluruh pelarian ini agar kami keluar dari perlindungan makam.
"Kau benar-benar tidak punya rasa bosan ya?" tanyaku sembari bersiap untuk bertarung kembali.
Jin Seo tertawa kecil. Ia mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan merah menyala. "Nyonya He Ran sudah menunggu kalian. Dan dia tidak suka jika barang miliknya terlambat datang."
Aku melirik ke arah He Ran, lalu kembali menatap Jin Seo. Energiku sudah hampir habis, namun aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh He Ran sedikit pun. Tepat saat aku hendak menerjang, tanah di bawah kaki Jin Seo tiba-tiba meledak, mengeluarkan sesosok monster yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kulihat sebelumnya.
Monster itu memiliki kulit yang menyerupai baja dan mata yang menyala seperti api neraka. Ia langsung menerkam Jin Seo, membuat seluruh murid Sekte Langit Hitam lari kocar-kacir.
"Siapa lagi itu?" tanya He Ran dengan nada putus asa.
Aku menatap monster itu dan menyadari sesuatu yang sangat kukenal pada aromanya. Itu bukan aroma monster biasa. Itu adalah aroma dari sistem 'Night Crawler' yang seharusnya sudah hancur.
Monster itu berbalik menatapku, lalu mengeluarkan suara yang sangat kukenal di dalam kepalaku.
[Proses pemulihan modul selesai. Menunggu perintah dari tuan yang baru.]
Aku terpaku di tempatku berdiri. Sistem itu tidak hancur. Ia hanya berevolusi menjadi bentuk fisik yang memiliki kehendaknya sendiri. Dan sekarang, ia menungguku untuk memberikan perintah pertama untuk menghancurkan dunia ini.
"Han Wol, jangan dengarkan dia!" teriak sebuah suara dari arah hutan.
Aku menoleh dan melihat Jang Mi berdiri di sana bersama seorang pria bertopeng yang membawa sabit besar. Kekacauan ini sepertinya benar-benar tidak akan pernah berakhir.
[Tuan, apakah Anda ingin menghapus mereka semua?] tanya suara di kepalaku.
Aku menatap He Ran, lalu menatap monster di depanku. Keputusan yang akan kuambil sekarang akan menentukan apakah aku akan menjadi pahlawan yang mereka butuhkan, atau monster yang selama ini mereka takuti.