"Cinta adalah akting terbaik, dan kebenaran adalah kemewahan yang tidak mampu mereka beli."
Di tengah gemerlapnya Paris Fashion Week dan eksklusivitas jet pribadi, Serena Rousseau Mane, sang supermodel yang beralih menjadi aktris, memiliki satu aturan emas: jangan pernah berurusan dengan Nicholas Moreau Feng.
Nicholas bukan hanya aktor papan atas dengan reputasi predator di depan kamera, tetapi juga pria yang menghancurkan hatinya di masa SMA mereka. Kembalinya Nicholas ke dalam hidup Serena lewat proyek film jutaan dolar bukan sekadar reuni profesional, melainkan sebuah permainan kekuasaan. Di balik setelan bespoke dan perhiasan berlian yang mereka kenakan, tersimpan dendam lama tentang pengkhianatan masa lalu dan ketakutan Serena akan "ciuman mematikan" Nicholas yang sanggup menghancurkan kariernya—atau lebih buruk, kembali mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Kamar: Ratu yang Hancur
Dunia seolah berkonspirasi untuk meruntuhkan pertahanan Serena Rousseau. Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam setelah malam di puncak tebing itu, narasi media telah berubah total. Nicholas Feng tidak lagi dikenal sebagai pria yang merana karena putus cinta, ia kini menjadi bagian dari “The Golden Match” abad ini.
Nicholas Feng dan Valerie Han
Layar televisi di kamar Serena yang redup terus menampilkan foto-foto eksklusif dari makan malam pribadi tersebut. Nicholas tampak sangat serasi dalam balutan jas midnight blue, berdiri bersandar pada mobilnya sembari membukakan pintu untuk Valerie yang tersenyum manis.
Paris Match: "Lupakan Artis, Nicholas Kembali ke Akar Dinastinya. Valerie Han, Sang Pewaris Perbankan, Adalah Pilihan Sempurna Tuan Feng."
Daily Mail: "Resmi? Nicholas Feng Terlihat Menemani Valerie Han di Galeri Seni. Kukira Akan Clbk dengan Serena Rousseau, apa sekarang Hanya Masa Lalu?"
Di dalam kamarnya yang luas dan megah, suasana terasa seperti kuburan. Tidak ada lagi keangkuhan Ratu Es yang biasanya terpancar. Serena duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidurnya. Gaun couture yang seharusnya ia kenakan ke sebuah acara gala tergeletak begitu saja di lantai seperti kain tak berharga.
Kedua tangannya gemetar saat memegang ponsel. Ia terus menggulir berita tentang Nicholas dan Valerie. Setiap foto yang memperlihatkan kedekatan mereka terasa seperti sayatan pisau yang lebih tajam daripada semua hinaan Nicholas selama syuting.
"Kau menginginkan ini, Serena," bisiknya pada diri sendiri, suaranya pecah dan parau. "Kau yang menyuruhnya menjadi asing. Kau yang memberinya ciuman perpisahan itu."
Namun, logikanya tidak mampu meredam rasa sakit di dadanya. Ia merasa dikhianati oleh rencananya sendiri. Ia pikir dengan memberikan hadiah ulang tahun berupa ciuman itu, ia bisa melepaskan Nicholas dengan tenang. Ternyata, ia justru menyerahkan Nicholas pada wanita lain di atas nampan perak.
Serena meraba lehernya. Tanda merah yang diberikan Nicholas semalam mulai memudar, namun rasanya masih terbakar. Ia teringat bagaimana Nicholas menangis di lehernya, bagaimana pria itu memohon padanya. Dan sekarang? Nicholas tampak begitu tenang di foto itu, seolah air mata di puncak tebing itu hanyalah bagian dari akting hebat lainnya.
"Pembohong," desis Serena.
Tiba-tiba, ia melempar ponselnya ke arah cermin rias yang mahal hingga retak. Suara dentuman itu memicu tangisannya yang sejak tadi ia tahan. Serena meringkuk, memeluk lututnya, dan menangis sesengukan di tengah kegelapan. Ia telah memenangkan peperangan ego, tapi ia kehilangan satu-satunya pria yang pernah melihat sisi rapuhnya.
Keesokan harinya, Nicholas benar-benar melakukan apa yang paling ditakuti Serena. Ia datang ke lokasi syuting untuk sesi dubbing terakhir dengan membawa Valerie.
Nicholas berjalan melewati Serena di lorong studio. Ia tidak lagi menatap Serena dengan benci atau cinta, ia hanya menatapnya dengan kekosongan yang mengerikan.
"Serena, perkenalkan, ini Valerie," ujar Nicholas dengan nada yang sangat formal, seolah-olah mereka benar-benar baru saling kenal kemarin. "Valerie ingin melihat bagaimana proses dubbing berlangsung."
Valerie tersenyum tulus, senyuman yang membuat Serena merasa semakin kotor. "Halo, Serena. Nicholas banyak bercerita tentang betapa hebatnya aktingmu. Aku sangat kagum."
Serena berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas. Ia mengenakan syal sutra tebal untuk menutupi sisa tanda merah di lehernya tanda yang kini terasa seperti sebuah aib.
"Terima kasih, Valerie," jawab Serena dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "Nicholas memang aktor yang sangat ahli dalam... meyakinkan orang lain tentang hal-hal yang tidak nyata."
Mata Nicholas sedikit berkilat mendengar sindiran itu, namun ia tetap tenang. Ia meraih pinggang Valerie dengan lembut tepat di depan mata Serena. "Ayo masuk, Val. Kita tidak punya banyak waktu sebelum makan siang dengan ayahmu."
Nicholas melangkah pergi tanpa menoleh. Serena berdiri mematung di lorong, merasakan hatinya hancur berkeping-keping untuk yang kesekian kalinya. Ia baru sadar, menjadi asing bagi Nicholas ternyata berarti menjadi mati bagi pria itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍