Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan orang tua ke sekolah
Seperti biasa, meja makan kembali hening, tidak ada yang memulai pembicaraan, Helena pun memang tidak banyak bicara walaupun sudah berbaikan dengan suaminya, rasanya memang Helena sudah muak berada di dalam rumah, tapi mau bagaimana lagi, Rumah Farhan satu-satunya tempat yang aman untuk dirinya dan juga bayi yang berada di dalam kandungannya.
"Papa," panggil Freya di tengah-tengah makannya.
Farhan mendongak dan menatap putrinya lembut, "Ada apa? Freya butuh sesuatu, hmm?" tanya Farhan.
"Besok pagi ada undangan orang tua ke sekolahan Freya dan Kenzo, sekolah mewajibkan orang tua untuk datang, baik keduanya atau salah satunya, yang penting harus ada wali yang datang ke sekolah," beritahu Freya.
Farhan mengangguk, "besok, kan acaranya? atau kapan?" tanya Farhan lagi memastikan.
"Besok, pa," bukan Freya yang menjawab, tapi Kenzo yang sudah menyelesaikan makannya.
"Baiklah, Besok papa dan mama akan datang ke sekolah, jam berapa memangnya?"
Freya dan Kenzo mengerutkan dahinya,"Mama siapa?" celetuk Kenzo sedikit melirik Helena yang masih fokus makan, tidak terganggu sama sekali dengan perbincangan papa dan anak.
"Mama Helena lah, memangnya siapa lagi?" tanya Farhan ikut mengerutkan keningnya bingung.
"Tidak," teriak Freya langsung memukul meja kencang, bahkan sampai berdiri dari duduknya.
Nael yang sedang makan terkejut dan langsung menangis, Helena hanya diam saja, memasang wajah datar seperti biasa, bahkan tidak memperdulikan Nael yang langsung di tenangkan oleh Widya.
"Loh, kenapa? Papa tidak mungkin membawa mama kalian, jangan aneh-aneh Freya, istri papa sekarang menjadi mama kalian juga, sudah setengah tahun lebih, tapi kalian tidak ada yang berubah sama sekali," akhirnya Farhan malah mengomeli anak-anaknya yang masih tidak bisa menerima Helena.
Helena tidak masalah, yang penting ia berhasil membuat Farhan jatuh cinta kepadanya, maka semuanya akan lebih mudah.
"Pokoknya aku tidak mau jika dia yang ikut, lebih baik papa saja yang datang, tidak perlu orang lain lagi," balas Freya tetap tidak mau jika Helena sampai ikut menjadi walinya di sekolah.
"Selagi kita berdua bisa, mengapa harus papa saja yang datang?"
Freya menggeleng keras, "pokoknya aku tidak mau, titik," setelah mengatakan hal itu, Freya langsung pergi meninggalkan makannya yang masih tersisa setengah.
Farhan menghela napas lelah, Freya memang benar-benar tidak mudah menerima orang baru, tapi kadang sikap putrinya itu sangat berlebihan kepada Helena, hanya saja Farhan, tidak bisa terlalu keras kepada putrinya, ia tidak bisa membentak putrinya.
Farhan menoleh, "maaf dengan sikap Freya yang belum bisa menerima kamu,"
Helena tersenyum dan menggeleng, "tidak perlu minta maaf mas, aku bisa memakluminya, wajar saja, Freya juga pasti belum bisa menghilangkan mama kandungnya dengan pengganti yang lain,"
"Jangan membahasnya di sini, aku tidak mau mendengar namanya," ucap Farhan di luar dugaan Helena.
Kenzo menatap papanya sinis, ia memang tidak tau mengapa mama dan papanya sampai bercerai, Kenzo tidak pernah di beritahu alasannya, tapi bukankah sangat berlebihan jika papanya sampai sebenci itu dengan mantan istrinya. Kadang Kenzo tidak paham mengapa papanya sampai tidak mau melihat atau bahkan mendengar nama mamanya di sebut.
"Papa memang sebenci itu dengan mama?" tanya Kenzo.
Farhan menoleh dan menggelengkan kepalanya.
"Nanti Kenzo akan tahu mengapa sikap papa sampai seperti ini kepada mama kalian,"
Kenzo hanya mengangguk, lalu izin pergi ke kamar duluan kepada papanya, sedangkan Helena, Kenzo sama sekali tidak menganggapnya.
***
Farhan dan Helena tetap datang berdua ke sekolahan Kenzo dan Freya, tentu saja mereka tidak datang bersamaan dengan keduanya, Freya dan Kenzo memilih berangkat bersama sang sopir, bahkan dengan pedanya Freya mengatakan jika ia tidak sudi berada di dalam satu mobil dengan Helena.
Farhan tidak mempermasalahkannya dan membiarkan anak-anaknya berangkat dengan sang sopir, ia juga tidak bisa memaksa atau malah dirinya akan menjadi ayah yang buruk untuk Freya dan Kenzo.
Helena berjalan dengan langkah pasti di sebelah Farhan, sepertinya banyak yang mengenal Farhan karena murid-murid di sekolah itu jelas-jelas me. perhatikan Helena juga Farhan.
"Eh, om punya istri baru?" tiba-tiba seorang gadis dengan kuncir kuda datang menghampiri Farhan dan berjalan di sebelah Farhan dengan kepala mendengar ke atas menatap Farhan, papa dari Freya yang juga teman sekelas gadis berkuncir kuda itu.
"Om, kok akunya di cuekin, aku bilang Freya nih, kalau om cuekin aku," gadis itu mencebikkan bibirnya kesal dan itu sukses membuat Helena terkekeh pelan, rasanya lucu sekali melihat gadis yang terus mengikuti Farhan berjalan itu.
"Tante, lihat om cuekin aku," gadis itu langsung berlari mendekati Helena dan menunjuk Farhan dengan jari telunjuknya.
Farhan menghela napas pelan, dan menatap kesal gadis yang merupakan teman dekat putrinya itu, tentu saja Farhan sangat sering bertemu gadis itu ketika di kantor, karena papanya yang merupakan bawahan di kantor.
"Kamu ini, seperti belum pernah melihat istri om saja, sudah sana pergi ke kelas, jangan malah bergosip di sini," usir Farhan membuat gadis itu semakin kesal dengan Farhan.
"Om sembarangan banget, aku tidak pernah bergosip, memangnya Freya, aku juga belum pernah melihat istri om, padahal aku sering loh datang ke kantor dengan Freya, tapi kok aku tidak pernah melihatnya, ya?" ocehnya tidak berhenti membuat Helena tertawa gemas.
Farhan yang melihatnya sedikit terpana, karena rasanya Helena tidak pernah tertawa setengah sekarang sekarang, bahkan saat di rumah pun, Hanya hanya tersenyum kecil dan langsung datar jika sedang makan bersama di meja maka. Ada rasa iri terselip di hatinya, karena gadis yang bukan anak tiri dari Helena saja bisa membuat Helena tertawa seringan itu. Sedangkan Kenzo dan Freya hanya bisa membuat Helena terluka, tiba-tiba rasa bersalah itu kembali datang, menghantam kuat dadanya.
"Om kenapa malah bengong sih? Lihat tante kadang aku bingung loh sama Freya, dia dapat sifat jelek itu dari siapa sih, setelah aku perhatikan memang sifatnya dapat dari papanya sendiri,"
Helena kembali tertawa, ternyata teman Freya ini orang yang sangat cerewet dan juga banyak bicara, Helena sampai tidak bisa menahan tawanya ketika gadis itu dengan beraninya memukul tangan Farhan yang hendak menarik dirinya karena Helena yang jalan terpisah dengan Farhan. Salahkan Farhan yang malah diam di tempat seperti sedang melihat hantu, jadilah gadis yang Helena belum tau namanya menarik Helena dan berjalan menjauh dari Farhan.
"Tante tau tidak, om Farhan kalau di kantor kerjaannya tidak benar loh," Gadis itu mulai mengajak Helena bergosip, Farhan hanya diam saja di ketika tahu dirinya menjadi topik hangat istrinya dan juga anak dari bawahannya di kantor.
"Oh ya?" tanya Helena menatap wajah gadis tiang itu dengan senang.
Gadis itu mengangguk, lalu mulai bercerita bagaimana Farhan ketika ada di kantor, sebenarnya Helena sudah tau, karena dulu dia pun sering ke kantor suaminya untuk mengantarkan makanan, tapi mendengar gadis itu bercerita heboh, membuat hati Helena menghangat.