Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembunuh Karakter
Ruang Kerja Pribadi GKR Dhaning.
Pukul 07.00 WIB.
Aroma kopi Arabika Gayo yang baru digiling memenuhi ruangan berpendingin udara itu.
Namun, pagi ini, aroma kemewahan itu terganggu oleh bau keringat dingin dan ketakutan yang menguar dari tubuh Bu Sasmi.
Wanita paruh baya itu duduk di ujung kursi sofa kulit impor, tangannya meremas ujung kebaya luriknya hingga kusut.
Di hadapannya, GKR Dhaning duduk dengan kaki disilangkan anggun, menyesap cangkir teh porselen Inggris.
Sementara KMA Rangga, sepupu Arya yang flamboyan itu, berdiri menyandar di meja kerja mahoni, memutar-mutar ponsel milik Bu Sasmi di tangannya.
"Jadi..." Rangga memecah keheningan. Suaranya rendah, geli, namun berbahaya. "Bude Sasmi yakin dia tidak bernapas?"
"Sumpah mati, Gusti," suara Bu Sasmi bergetar hebat.
"Saya lihat sendiri lewat lubang kunci. Kulitnya putih pucat seperti mayat yang sudah dimandikan. Dada tidak naik turun. Saya tunggu sepuluh menit, tidak ada gerakan sama sekali."
Rangga terkekeh pelan. Dia mengetuk layar ponsel, memutar ulang video buram berdurasi lima belas detik yang direkam Bu Sasmi semalam.
Kualitas videonya buruk, low-light, dan goyang.
Namun, objeknya jelas.
Sekar Ayu. Terbaring kaku. Tangan bersedekap di dada. Wajahnya memantulkan cahaya bulan dengan cara yang tidak wajar.
"Lihat ini, Ning," Rangga menyodorkan ponsel itu ke hadapan Dhaning.
Dhaning melirik sekilas, lalu meletakkan cangkir tehnya.
Bunyi denting porselen terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.
"Ini bisa saja Sleep Apnea, Rangga," kata Dhaning datar. Sisi logisnya sebagai dokter masih bekerja. "Atau bradikardia ekstrem."
"Ah, Dokter Dhaning terlalu medis," Rangga menyeringai licik. Dia mengambil ponsel itu kembali.
"Rakyat Yogyakarta tidak peduli soal istilah medis, Ning. Mereka tidak peduli soal Sleep Apnea. Tapi mereka peduli soal Pesugihan."
Mata Dhaning menyipit. "Maksudmu?"
Rangga berjalan memutari kursi Bu Sasmi, membuat wanita tua itu semakin menciut.
"Pikirkan, Ning. Gadis desa, miskin, tiba-tiba kulitnya mulus seperti porselen. Rambutnya hitam berkilau. Bisa menanam melon di lahan mati. Dia punya resep kosmetik yang mengalahkan brand Prancis. Dan sekarang... dia membuat kain yang tidak bisa kotor."
Rangga membungkuk, berbisik tepat di telinga Dhaning.
"Manusia biasa tidak bisa melakukan itu. Kecuali dia menukar nyawanya."
Dhaning terdiam. Kebenciannya pada Sekar menutupi logika medisnya.
"Tumbal nyawa sendiri?" gumam Dhaning.
"Tepat," sambar Rangga.
"Setiap malam dia mati. Dia menyerahkan jiwanya pada Ratu Kidul, atau siapapun danyang penunggu desa itu, untuk mendapatkan kecantikan dan kekayaan di pagi hari. Itu sebabnya dia cantik. Itu kecantikan mayat."
Rangga menatap Bu Sasmi.
"Bude Sasmi punya grup WhatsApp ibu-ibu, kan?"
Bu Sasmi mengangguk patah-patah. "Punya, Gusti. Ada lima grup."
"Bagus," Rangga tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. "Sebarkan cerita ini. Jangan kirim videonya dulu. Kirim ceritanya. Bilang kalau Bude Sasmi ketakutan setengah mati karena melayani majikan yang ternyata mayat hidup."
"Bumbui sedikit," tambah Rangga. "Bilang kalau di kamarnya tercium bau melati busuk tiap tengah malam."
Bu Sasmi menelan ludah. "T-tapi Gusti, itu fitnah..."
"Itu perintah," potong Dhaning dingin. Dia berdiri, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap alun-alun.
"Lakukan, Bu Sasmi. Atau utang judi anakmu di kasino bawah tanah akan ditagih hari ini juga oleh preman pasar."
Wajah Bu Sasmi memucat. Dia tidak punya pilihan.
"Sendiko dawuh, Gusti."
Toko 'Sekar Heritage'.
Kawasan Kotabaru.
Pukul 10.30 WIB.
Sekar merasakan ada anomali dalam data penjualan pagi ini.
Biasanya, pukul sepuluh pagi, grafik transaksi di tablet kasirnya sudah menunjukkan angka minimal lima juta rupiah. Wisatawan lokal dan ibu-ibu pejabat biasanya sudah antre untuk facial treatment atau membeli serum 'Royal Essence' racikannya.
Tapi hari ini, grafik itu datar.
Nol.
"Mbak Sekar..."
Suara Laras, asisten toko kepercayaannya, terdengar ragu dari arah pintu depan.
Sekar yang sedang memeriksa stok botol serum di rak belakang, menoleh.
Gerakannya tenang, namun matanya tajam menganalisis bahasa tubuh Laras.
Bahu tegang. Pupil mata melebar. Telapak tangan berkeringat yang digosokkan ke rok batik seragam.
Tanda-tanda kecemasan tingkat tinggi.
"Ada apa, Laras?" tanya Sekar. Suaranya stabil, kontras dengan kegugupan asistennya.
"Di depan... ada Bu Tejo dan rombongan arisan Perumahan Griya Asri.
Mereka..." Laras menggigit bibir bawahnya. "Mereka mau mengembalikan barang."
"Mengembalikan?" Sekar menutup tabletnya. "Produk kita ada yang cacat? Kedaluwarsa?"
"Bukan, Mbak. Mereka bilang..." Laras ragu. "Mereka bilang produk Mbak Sekar panas kalau dipakai."
Alis Sekar bertaut satu milimeter.
Secara farmakologis, itu tidak mungkin. Basis produknya adalah Aloe Vera dan Centella Asiatica yang bersifat mendinginkan, soothing agent. Reaksi panas hanya terjadi jika ada iritasi ekstrem atau... sugesti psikologis.
"Saya temui mereka," kata Sekar.
Dia merapikan kebaya kutubaru motif bunga kecil yang dipakainya, lalu melangkah menuju area toko utama.
Suasana di toko terasa berat.
Lima orang ibu-ibu sosialita berdiri di depan meja kasir. Di atas meja, menumpuk botol-botol skincare dan beberapa helai kain batik tulis sutra dagangan Sekar.
Mereka tidak terlihat marah.
Mereka terlihat... jijik.
Seperti sedang memegang benda terkutuk.
"Selamat pagi, Ibu-ibu," sapa Sekar ramah, menggunakan intonasi suara yang lembut dan njawani. "Ada yang bisa saya bantu? Kok dikembalikan semua?"
Bu Tejo, pemimpin rombongan itu, mundur selangkah saat Sekar mendekat. Dia menutupi hidungnya dengan sapu tangan sutra.
"Jangan dekat-dekat, Mbak Sekar," ketus Bu Tejo.
Sekar berhenti. Jarak dua meter. Zona aman sosial.
"Kenapa, Bu?"
"Kami tidak mau pakai barang pesugihan," sembur Bu Tejo, suaranya cukup keras hingga terdengar oleh pejalan kaki di trotoar depan toko.
Sekar terdiam sejenak. Otak jeniusnya memproses input data baru ini.
Pesugihan.
Variabel irasional. Tidak terhitung dalam logika bisnis modern, tapi sangat valid dalam sosiokultural masyarakat Jawa.
"Maaf, Bu Tejo. Pesugihan apa nggih?" tanya Sekar, nadanya tetap sopan namun sorot matanya mulai membedah situasi.
"Halah, jangan pura-pura!" Bu Tejo menunjuk wajah Sekar dengan jari telunjuk yang gemetar. "Satu kota sudah tahu! Pembantu di Keraton yang bilang sendiri. Tiap malam Mbak Sekar mati kan? Sukmanya keluar cari tumbal biar wajahnya cantik begini!"
Sekar menahan napasnya agar tetap teratur.
Hipotesis terkonfirmasi.
Sumber kebocoran: Internal Keraton.
Pelaku: Bu Sasmi.
Distribusi: Word of mouth via media sosial/grup chat.
Kecepatan viralitas tinggi.
"Itu kosmetikmu," lanjut Bu Tejo histeris. "Katanya dibuat dari air mandi mayatmu sendiri kan? Pantas saja kulit kami jadi bagus cepat sekali. Itu tidak wajar! Itu sihir setan!"
Seorang ibu lain di belakang Bu Tejo melempar kain batik yang baru dibelinya kemarin ke lantai.
"Ini juga! Kain ini dingin sekali kalau dipakai. Seperti kain kafan!"
Suasana memanas. Beberapa orang yang lewat mulai berhenti, merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.
Sekar menunduk, melihat kain batik tulis halus karyanya tergeletak di lantai keramik.
Kain itu dibuatnya dengan susah payah menggunakan teknik perendaman enzim alami di dalam Ruang Spasial.
Dia merasakan lonjakan adrenalin. Bukan rasa takut, tapi rasa tersinggung seorang ilmuwan yang karyanya direduksi menjadi takhayul murahan.
Sekar berjongkok perlahan. Punggungnya tegak.
Gerakannya anggun, tidak seperti orang yang bersalah.
Dia memungut kain itu, menepuk debunya pelan.
"Ibu-ibu," suara Sekar berubah.
Lebih rendah. Lebih dingin.
Mode Profesornya aktif.
Dia berdiri, menatap Bu Tejo tepat di manik mata. Tatapan yang mengintimidasi tanpa perlu melotot.
"Kain ini dingin karena serat selulosanya diproses dengan teknologi Nano-Enzymatic yang menyerap panas tubuh, Bu. Ini Fisika, bukan mistis."
"Soal kosmetik," Sekar berjalan perlahan mendekati meja kasir, mengambil satu botol serum yang dikembalikan.
"Ini mengandung Ekstrak Tremella Fuciformis. Jamur salju. Harganya lima juta per kilo kalau impor. Saya budidaya sendiri. Itu sebabnya kulit Ibu bagus. Karena nutrisi, bukan mayat."
"Alah! Omong kosong!" sergah Bu Tejo, meski suaranya mulai goyah ditatap sedemikian rupa oleh Sekar.
"Pokoknya kembalikan uang kami! Kami tidak sudi pakai uang setan!"
"Betul! Kembalikan!" seru ibu-ibu yang lain.
Sekar menghela napas panjang.
Menganalisis kerugian finansial jangka pendek vs reputasi jangka panjang.
Jika dia menolak pengembalian,.karena barang tidak cacat, rumor akan semakin liar: "Setan pelit", "Uangnya untuk sesajen".
Jika dia mengembalikan uang, itu dianggap pengakuan bersalah.
Dilema.
Namun, Sekar melihat Laras yang gemetar di pojok ruangan. Karyawannya ketakutan.
Prioritas utama: Keamanan staf dan aset.
"Laras," panggil Sekar tenang.
"Y-ya, Mbak?"
"Hitung total pengembalian mereka. Kembalikan uangnya 100%. Tunai. Sekarang."
Bu Tejo tersenyum menang. "Nah, gitu dong. Takut kan ketahuan belangnya?"
Sekar tidak menjawab provokasi itu. Dia hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat Bu Tejo merasa bulu kuduknya meremang.
"Uang bisa saya cari lagi, Bu Tejo. Tapi ilmu pengetahuan tidak bisa dipaksakan pada mereka yang memilih untuk menutup mata."
Sekar berbalik badan, memunggungi mereka.
"Laras, setelah transaksi selesai, tutup toko. Kita libur hari ini."
Pukul 19.00 WIB.
Hari itu adalah hari terpanjang dalam hidup baru Sekar.
Toko tutup. Akun Instagram Sekar Kedaton dibanjiri komentar pedas. Emoji api, emoji hantu, dan komentar-komentar kasar.
"Pantas cantik, terny
ata beauty blender-nya pakai kembang tujuh rupa."
"Boikot produk dukun!"
"Hati-hati, nanti wajahnya busuk kalau dia lupa kasih tumbal."
Sekar duduk di kursi kamarnya, membaca komentar-komentar itu di layar ponsel dengan wajah datar.
Cahaya layar menerangi wajahnya yang lelah.
Dia tidak marah pada netizen. Ini adalah fenomena Mass Psychogenic Illness atau Histeria Massa.
Masyarakat yang cemas mudah dimanipulasi oleh narasi ketakutan.
Masalahnya bukan pada rumornya. Masalahnya adalah validasi rumor itu.
Pintu rumahnya diketuk pelan.
Bukan Bu Sasmi. Ketukan Bu Sasmi selalu tiga kali dengan jeda ragu. Ini ketukan tegas dan ritmis.
Dua kali cepat, satu kali lambat.
Kode Arya.
Sekar beranjak membuka pintu.
Di sana berdiri Gusti Raden Mas Arya, masih mengenakan kemeja kerjanya yang lengan panjangnya digulung sesiku.
Wajah tampannya terlihat keruh. Rahangnya mengeras.
Di tangannya, dia memegang sebuah tablet.
"Kamu sudah lihat?" tanya Arya tanpa basa-basi.
"Komentar Instagram? Sudah," jawab Sekar tenang, mempersilakan Arya masuk.
"Bukan," suara Arya terdengar berat, menahan amarah yang meluap-luap.
"Grup WhatsApp keluarga besar Keraton. Seseorang menyebarkan ini."
Arya memutar layar tabletnya ke arah Sekar.
Itu video yang direkam Bu Sasmi.
Video Sekar yang terbaring kaku seperti mayat.
Di bawah video itu, ada caption panjang yang ditulis dengan gaya bahasa Jawa halus tapi mematikan:
"Mohon doa restu untuk keselamatan Keraton. Calon istri Gusti Arya tertangkap kamera sedang melakukan ritual 'Pati Rogo' untuk ilmu hitam. Pantas saja dia bisa memikat pangeran kita. Waspadalah."
Darah Sekar berdesir.
Ini bukan sekadar gosip ibu-ibu pasar lagi. Ini serangan politik tingkat tinggi.
Mereka menggunakan kondisi biologisnya, sebagai senjata pembunuh karakter.
"Ayahanda sudah melihat ini," kata Arya pelan.
Sekar menatap mata Arya. "Lalu?"
"Beliau memanggil Tim Audit Syariah dan Dokter Forensik Keraton besok pagi," Arya mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mereka akan memeriksa tokomu. Dan mereka akan memeriksa tubuhmu, Sekar. Untuk mencari tanda-tanda... persekutuan dengan gaib."
Sekar tersenyum miris.
Dia adalah seorang Profesor Bio-hayati. Penulis puluhan jurnal ilmiah internasional.
Dan besok, dia akan diadili seperti penyihir di abad pertengahan.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄