Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.
Di sanalah Qing Lin tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 - mata yang tidak pernah tidur
Langit di atas jalan kekaisaran berwarna kelabu pucat.
Qing Lin berjalan sendirian, langkahnya stabil, napasnya tenang. Jalan batu panjang membentang di depannya, diapit ladang gandum dan pos penjagaan kecil setiap beberapa li.
Sejak meninggalkan Kota Heishui, ada perasaan aneh yang terus menempel di punggungnya.
Bukan bahaya langsung.
Lebih seperti… diperhatikan.
Ia tidak menoleh. Tidak mempercepat langkah. Sutra Darah Sunyi berputar pelan di dantiannya, menekan seluruh auranya hingga hampir tak terasa.
Tenang… jangan bereaksi.
Pengalaman Wei Shun memberinya lebih dari sekadar kekuatan. Ia kini tahu—
di dunia ini, yang panik mati lebih cepat.
Beberapa li di belakangnya, di atas pohon pinus tinggi, seorang pria berjubah hitam membuka mata.
Matanya dingin, tanpa emosi.
“Menarik,” gumamnya pelan.
Pria itu bernama Han Mu.
Pengawas tingkat rendah dari Biro Bayangan Kekaisaran Tianlu—organisasi yang bertugas memantau kultivator liar, pembunuh, dan segala hal yang bisa mengganggu stabilitas kekaisaran.
Ia sudah mengikuti Qing Lin sejak Heishui.
“Tidak tercatat. Tidak terafiliasi sekte. Teknik aneh,” gumam Han Mu sambil menutup gulungan informasi tipis.
Yang membuatnya waspada bukan jumlah korban.
Melainkan… cara membunuhnya.
“Tidak ada sisa aura. Tidak ada ledakan energi. Seolah darahnya sendiri yang menghilang.”
Han Mu menyipitkan mata.
“Teknik terlarang?”
Ia tidak yakin.
Dan justru karena tidak yakin, ia memilih mengamati.
Qing Lin tiba di sebuah pos peristirahatan kecil.
Beberapa pedagang, dua tentara kekaisaran, dan satu kultivator tua duduk di sana. Aroma sup panas dan kayu bakar memenuhi udara.
Qing Lin duduk di sudut, memesan semangkuk sup.
Ia menunduk, seperti pemuda desa biasa.
Namun telinganya menangkap percakapan dua tentara.
“Kau dengar? Di Heishui, buronan Wei Shun mati.”
“Ya. Katanya cepat sekali. Bahkan tidak ada perlawanan.”
“Pengawas kekaisaran pasti turun tangan.”
Qing Lin mengaduk supnya perlahan.
Pengawas…
Tangannya tidak bergetar.
Ia sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat.
Ia hanya tidak menyangka… secepat ini.
Malam hari.
Qing Lin berkemah di hutan kecil, beberapa li dari jalan utama. Api kecil menyala, cukup untuk mengusir binatang liar, tidak cukup untuk menarik perhatian.
Ia duduk bersila, berkultivasi.
Sutra Darah Sunyi kini terasa… berbeda.
Setelah membunuh Wei Shun, sutra itu seperti menambahkan satu lapisan tipis baru—bukan kekuatan murni, melainkan pemahaman gerak.
Qing Lin mencoba menggerakkan pedangnya.
Satu tebasan.
Udara terbelah lebih rapi dari sebelumnya.
Ia membuka mata, terkejut kecil.
Aku belajar dari mereka…
Pikiran itu membuat dadanya terasa berat.
Ia tidak menikmati ini.
Namun ia juga tidak menolak.
Karena jika ia menolak, ia akan mati.
Di kejauhan, Han Mu mengamati dari balik bayangan pohon.
“Kultivasi tahap awal Pengumpulan Qi… tapi kualitas energinya aneh.”
Ia mengerutkan kening.
“Tidak agresif. Tidak berdarah.”
Namun nalurinya berteriak.
Pemuda ini… berbahaya jika dibiarkan tumbuh.
Tiga hari kemudian, Qing Lin tiba di wilayah Prefektur Yunhe.
Kota lebih besar. Lebih teratur. Lebih… menekan.
Formasi kekaisaran terasa jelas di udara. Setiap kultivator yang masuk akan otomatis “tersentuh” oleh deteksi halus.
Qing Lin melangkah melewati gerbang.
Formasi menyentuhnya.
…lalu berlalu.
Tidak ada reaksi.
Qing Lin tetap berjalan, wajahnya tenang.
Namun di menara pengawas, Han Mu berdiri kaku.
“Lolos?”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Tidak mungkin.”
Ia sendiri yang mengatur ulang formasi semalam.
“Kecuali…” napasnya sedikit berat, “…dia menyembunyikan auranya lebih dalam dari dugaanku.”
Untuk pertama kalinya, Han Mu merasa ragu.
Dan di Biro Bayangan, keraguan adalah tanda bahaya.
Malam itu, Qing Lin menginap di penginapan kecil dekat pasar.
Ia makan sederhana, lalu naik ke kamar.
Saat menutup pintu—
“Tok.”
Ada ketukan pelan.
Qing Lin berhenti bergerak.
Sutra Darah Sunyi bergetar kecil.
Ia membuka pintu.
Seorang pria berjubah hitam berdiri di sana, wajah biasa, aura tenang.
“Maaf mengganggu,” kata pria itu ramah. “Aku tersesat. Apa ini penginapan Awan Hijau?”
Qing Lin menatapnya.
Dua detik.
Tiga detik.
“Benar,” jawabnya pelan.
Han Mu tersenyum tipis.
“Terima kasih.”
Ia berbalik pergi.
Qing Lin menutup pintu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dia… kuat.
Dan Han Mu, di ujung koridor, berpikir hal yang sama.
Dia… sadar.
Malam itu, dua orang tidur dengan mata setengah terbuka.
Karena mereka tahu—
ini bukan pertemuan terakhir.
Dan di bawah bendera Kekaisaran Tianlu,
roda takdir mulai berputar perlahan…
mengarah pada darah yang lebih dalam.