Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan di ambang badai
Udara di dalam markas Kencana Racing malam itu terasa statis, seolah oksigen telah habis tersedot oleh ketegangan yang memuncak. Jarum jam dinding baru saja melewati angka tiga pagi, namun tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda ingin memejamkan mata. Di tengah ruangan, Valkyrie-01 berdiri gagah di atas paddock stand. Fairing hitam karbonnya telah dilepas, memperlihatkan jeroan mesin yang kini terlihat sangat kompleks dengan tambahan kabel-kabel sensor baru yang berkilauan di bawah lampu neon.
Zelene duduk bersila di atas lantai, dikelilingi oleh tiga monitor portabel yang menampilkan ribuan baris kode berwarna hijau dan merah. Jari-jarinya bergerak secepat kilat, melakukan proses yang ia sebut sebagai "pembedahan digital".
"Cassie, ini bukan sekadar mesin lagi," suara Zelene terdengar serak, namun penuh gairah intelektual. "Algoritma Neural-Balance dari medali ibumu adalah sesuatu yang mendahului zamannya. Ini adalah sistem yang menghubungkan input sensor motor langsung dengan pusat gravitasi beban. Ibumu menciptakan cara agar motor ini bisa 'berpikir' dua langkah di depan aspal."
"Tapi, Zel, jelaskan bagian yang berbahaya itu lagi," sela Galaksi. Ia berdiri di samping motor, sedang mengencangkan baut pada sistem suspensi depan dengan tangan yang sedikit gemetar—sesuatu yang jarang terjadi pada mekanik sedingin dia.
Zelene menghela napas, ia menghentikan ketikannya dan menatap mereka semua dengan serius. "Secara teknis, motor ini akan mampu melewati tikungan dengan kecepatan 40% lebih tinggi dari batas normal. Namun, hukum fisika tidak bisa dihilangkan, hanya dipindahkan. Gaya sentrifugal yang seharusnya membuat motor tergelincir akan dialihkan sepenuhnya menjadi gaya tekan ke bawah (downforce). Masalahnya, tubuh Cassialah yang akan menjadi tumpuan utama tekanan itu."
"Artinya?" Kalingga bertanya, wajahnya tampak sangat cemas.
"Artinya, saat Cassia melakukan cornering, dia akan merasakan beban gravitasi yang setara dengan pilot jet tempur. Darah akan dipaksa turun ke kaki, dan jika otot perut serta pernapasannya tidak kuat, dia bisa mengalami G-LOC—kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen di otak. Dan di kecepatan 200 km/jam, pingsan berarti maut."
Hening menyelimuti ruangan. Kalingga berjalan mendekati adiknya, memegang bahu Cassia yang terasa jauh lebih tangguh dari beberapa bulan lalu. "Cass, kita punya bukti untuk menjatuhkan Marco tanpa harus melakukan ini. Kita bisa lapor polisi sekarang."
Cassia menggeleng pelan, ia menatap medali perak yang kini tergantung di lehernya. "Kalau kita lapor sekarang, Marco akan menghapus semua jejak digitalnya dan kabur ke Eropa. Dia punya kekebalan diplomatik perusahaan. Satu-satunya cara adalah memancing dia untuk membuka servernya sendiri saat aku melewati garis finis. Aku harus menunjukkan bahwa teknologi ini bekerja, supaya dia merasa menang sebelum kita hancurkan."
Galaksi mendekat, ia menarik sebuah kursi kecil dan duduk di depan Cassia. Ia mengambil tangan gadis itu, memeriksa jemari Cassia yang kini memiliki kapalan tipis akibat terlalu sering memegang stang gas. "Gue udah modifikasi racing suit lo. Gue pasang katup kompresi pneumatik di bagian paha dan perut. Setiap kali sensor motor mendeteksi gaya G tinggi, baju itu bakal otomatis mengencang buat nahan aliran darah lo supaya tetep di dada dan kepala. Tapi tetep, Cass... kuncinya ada di lo. Lo harus sadar sepenuhnya."
"Aku percaya sama motor ini, Kak. Dan aku percaya sama kalian," ucap Cassia mantap.
Sisa malam itu dihabiskan dengan latihan fisik yang ekstrem. Tante Arini memandu Cassia melakukan teknik pernapasan Anti-G Straining Maneuver (AGSM), sebuah teknik yang biasa digunakan oleh pilot tempur. Sementara itu, Galaksi dan Kalingga bekerja seperti orang kesurupan, memastikan setiap baut, setiap tetes oli, dan setiap sambungan kabel pada Valkyrie-01 berada dalam kondisi sempurna.
Di sudut lain, Zelene memasang enkripsi tingkat tinggi pada sistem siaran sirkuit. Mereka sedang menyiapkan sebuah "bom informasi" yang akan meledak tepat saat bendera kotak-kotak dikibarkan. Mereka bukan hanya menyiapkan sebuah motor balap; mereka sedang merakit senjata kebenaran.
Saat cahaya fajar pertama mulai menyelinap masuk melalui celah jendela markas, Cassia berdiri di depan cermin, mengenakan jaket balapnya. Ia melihat pantulan seorang gadis yang bukan lagi "Bunga Sekolah" yang rapuh, melainkan seorang Valkyrie yang siap menjemput takdirnya.
"Gue di belakang lo, Cass. Selalu," bisik Galaksi sambil memasangkan pelindung punggung pada baju balap Cassia.
Cassia mengangguk, menghirup aroma oli dan keringat yang kini terasa seperti aroma kebebasan. Badai itu sudah di depan mata, dan mereka tidak akan lari darinya. Mereka adalah badai itu sendiri.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...