tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: API DI ATAS AIR
Asap hitam yang pekat mulai bergulung-gulung memenuhi langit-langit silinder Mercusuar St. Jude. Bau plastik terbakar dan ozon menyengat indra penciuman Elara, membuatnya terbatuk hebat. Di depannya, meja kontrol yang selama bertahun-tahun menjadi altar obsesi Arlo kini telah berubah menjadi tumpukan logam yang membara. Pita-pita kaset—rekaman suara Elara selama sepuluh tahun—melilit dan meleleh seperti kulit yang terbakar, menciptakan suara desis yang mengerikan seolah-olah memori itu sendiri sedang menjerit kesakitan.
"Arlo! Tinggalkan itu! Kita harus pergi sekarang!" Elara berteriak, suaranya serak karena asap. Ia mencengkeram lengan jaket denim Arlo, menariknya dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Namun Arlo tetap bergeming. Ia berdiri di depan kobaran api dengan tatapan terpaku pada monitor yang mulai retak karena panas. "Tidak... El, lihat! Gelombangnya... mereka akhirnya lurus. Tidak ada lagi distorsi. Ini keheningan yang kucari."
"Ini bukan keheningan, Arlo! Ini kematian!" Elara menampar pipi Arlo, sebuah tindakan nekat yang lahir dari keputusasaan murni. "Lihat aku! Aku hidup! Aku bukan gelombang di monitor itu! Jika kau tidak keluar sekarang, kau tidak akan pernah menyelesaikan lagu apa pun!"
Sentuhan fisik itu, dibarengi dengan rasa perih dari tamparan Elara, seolah-olah memutus sirkuit pendek di otak Arlo. Ia berkedip, air mata mulai mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga. Untuk pertama kalinya sejak Elara tiba di mercusuar itu, ia melihat pria yang ia cintai—Arlo yang rapuh, bukan musisi gila yang terobsesi pada frekuensi.
"El...?" suara Arlo lemah, hampir tenggelam oleh deru api di belakang mereka.
"Ya, ini aku. Ayo, Arlo. Ikuti aku!"
Elara menarik Arlo menuju tangga melingkar. Namun, saat mereka mencapai pinggiran tangga, sebuah ledakan kecil kembali terjadi di sistem kelistrikan bawah, menyebabkan bagian dari tangga besi itu runtuh ke lantai dasar yang sudah terendam air laut. Jalan keluar mereka terputus.
Di bawah mereka, air laut yang dingin mulai masuk melalui celah-celah pintu yang jebak oleh tekanan ombak, bertemu dengan api yang merambat turun. Uap panas mengepul, menciptakan kabut putih yang menyesakkan. Mereka terjebak di balkon atas, di antara api yang melahap masa lalu dan air yang mengancam masa depan.
"Kita tidak bisa turun," bisik Arlo, ia bersandar pada pagar besi yang mulai panas. Ia menatap ke luar jendela kecil ke arah laut yang mengamuk. "Ini akhirnya, El. Lagu ini selalu berakhir dengan cara seperti ini. Aku seharusnya tahu."
"Tidak! Aku tidak mengizinkan lagu ini berakhir sekarang!" Elara mencari-cari jalan keluar lain. Matanya tertuju pada jendela besar di ruang lampu mercusuar yang sudah pecah. Di luarnya terdapat balkon eksterior yang sempit. "Kita harus melompat ke air. Jika kita tetap di sini, kita akan mati lemas karena asap."
Arlo menatap laut yang hitam dan bergolak di bawah sana. "Itu terlalu jauh, El. Dan airnya... air itu akan membekukan suaramu."
"Biarkan suaraku beku, asal kau tetap hidup!" Elara menarik Arlo menuju jendela. Mereka memanjat keluar ke balkon eksterior. Angin laut yang kencang langsung menyambar mereka, memberikan sedikit oksigen segar di tengah sesaknya asap.
Di ketinggian itu, Elara bisa melihat daratan Lancashire yang jauh, kerlip lampu jalan yang tampak seperti bintang-bintang yang pernah mereka gambar di atap Manchester. Ia menyadari betapa kecilnya obsesi mereka dibandingkan dengan luasnya semesta. Semua drama tentang frekuensi dan gema terasa tidak berarti saat dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka hanyalah dua manusia di atas menara yang terbakar.
"Arlo, dengarkan aku," Elara memegang kedua bahu Arlo, memaksa pria itu untuk menatap matanya di tengah badai. "Kau bilang lagu ini tentang aku. Jika itu benar, maka kau harus membiarkan aku yang menulis bait terakhirnya. Dan bait terakhirnya bukan tentang kematian di mercusuar. Bait terakhirnya adalah tentang kita yang berjalan pergi."
Arlo menatap Elara, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia tersenyum. Bukan senyum gila, tapi senyum sedih yang penuh dengan pengertian. "Kau selalu menjadi penulis lagu yang lebih baik dariku, El."
Arlo mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kaset tape terakhir, yang paling kecil dan paling usang. "Ini adalah vokal aslimu. Yang tidak pernah aku distorsi. Ambil ini. Jika aku tidak berhasil..."
"Jangan bicara seperti itu! Kita melompat bersama!" Elara menggenggam tangan Arlo erat-erat.
Mereka berdiri di tepi balkon. Di bawah mereka, ombak menghantam dinding mercusuar dengan suara seperti guntur. Api di dalam ruangan sudah mulai menjilat pintu balkon. Tidak ada waktu lagi.
"Satu... dua... tiga!"
Mereka melompat.
Rasa jatuh itu terasa abadi. Elara merasa jantungnya tertinggal di atas menara saat tubuhnya melesat menembus kegelapan malam. Dan kemudian, *SPLASH*.
Dingin yang luar biasa menghantamnya. Air laut yang asin masuk ke mulut dan hidungnya, menyentak kesadarannya. Kegelapan air terasa mencekik. Elara berusaha berenang ke permukaan, paru-parunya serasa mau meledak. Saat kepalanya berhasil keluar dari air, ia terbatuk-batuk, menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Ia melihat ke sekeliling, mencari Arlo di antara ombak yang tinggi. "ARLO! ARLO!"
Mercusuar di belakangnya kini menjadi obor raksasa di tengah laut, menerangi permukaan air dengan warna oranye yang mengerikan. Di sana, beberapa meter darinya, ia melihat kepala Arlo muncul. Pria itu tampak kesulitan berenang, jaket denimnya yang berat menyeretnya ke bawah.
Elara berenang menuju Arlo dengan sisa-sisa tenaganya. Ia berhasil meraih kerah jaket Arlo tepat saat pria itu mulai tenggelam lagi. "Pegang aku, Arlo! Tetaplah bernapas!"
Mereka terombang-ambing di tengah laut yang dingin, berpegangan pada satu sama lain seolah-olah mereka adalah satu-satunya benda padat di dunia yang cair ini. Mercusuar St. Jude perlahan-lahan mulai runtuh, bagian atasnya jatuh ke laut dengan suara debuman yang memekakkan telinga, memadamkan api dan menyisakan kegelapan total.
Kini hanya ada mereka berdua, suara napas yang terengah-engah, dan suara ombak. Tidak ada musik. Tidak ada synthesizer. Tidak ada distorsi. Hanya kesunyian yang jujur.
"El..." bisik Arlo di sela-sela giginya yang bergemeletuk karena hipotermia. "Kau dengar itu?"
"Apa? Aku tidak mendengar apa-apa, Arlo."
"Tepat sekali," Arlo tersenyum dalam kegelapan. "Kesunyian yang sempurna."
Namun Elara tahu mereka tidak boleh menyerah pada kesunyian itu. Ia melihat cahaya lampu senter dari daratan. Jamie. Itu pasti Jamie yang telah memanggil bantuan.
"Tetaplah terjaga, Arlo. Lagunya belum selesai. Kita masih harus menulis bagian *outro*-nya."
Elara terus memeluk Arlo, menggunakan kehangatan tubuhnya sendiri untuk menjaga pria itu tetap hidup, sementara mereka menunggu tim penyelamat datang menembus kegelapan. Di tangannya, kaset kecil yang diberikan Arlo masih tergenggam erat. Sebuah fragmen masa lalu yang selamat dari api, siap untuk dibawa menuju masa depan yang baru saja mereka rebut kembali dari maut.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐