NovelToon NovelToon
Mau Tapi Malu

Mau Tapi Malu

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Nikahmuda / Dunia Masa Depan / Keluarga / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mas...pulang...aku rindu

Malam itu aku memandangi langit-langit kamar cukup lama. Pikiran tentangnya tidak berhenti berputar.

Besok.

Bukannya dia bilang dua hari?

Berarti besok sudah hari kedua.

Kalau begitu… mungkin besok dia pulang.

Kalau memang besok dia pulang, lebih baik aku tidur sekarang saja. Biar cepat pagi. Biar waktu berlalu tanpa terasa.

Aku memeluk bantal erat.

“Mas… pulang…” bisikku pelan sebelum akhirnya tertidur.

“Zahra… bangun, Nak. Subuh.”

Suara Ibu terdengar lembut di telingaku. Aku mengerjap pelan, masih setengah sadar.

“Enggak, Buk… lagi datang bulan,” jawabku lirih sambil menarik selimut.

“Iya sudah. Lanjut tidur, tapi jangan kesiangan,” kata Ibu sebelum melangkah pergi.

Aku kembali terlelap.

Saat benar-benar bangun lagi, cahaya matahari sudah cukup terang. Aku menoleh ke jam dinding.

Jam delapan.

Aku langsung duduk tegak.

Hari ini hari kedua.

Jantungku berdegup lebih cepat. Tanpa sempat merapikan diri dengan benar, aku turun dari kasur, membuka pintu kamar, lalu berjalan cepat ke ruang depan.

Aku membuka pintu rumah dan hampir berlari ke halaman.

Udara pagi masih segar, embun belum sepenuhnya mengering. Mataku langsung menyapu jalan di depan rumah.

Kosong.

Tidak ada mobil yang kukenal.

Tidak ada tanda-tanda ia sudah pulang.

Aku melangkah sedikit lebih maju, berdiri dekat pagar, berharap mungkin aku hanya terlambat melihatnya.

“Zahra!”

Aku menoleh. Ayah bergegas keluar menyusulku.

“Kamu mau ke mana pagi-pagi begini?” tanyanya.

Aku menunduk sedikit. “Cuma… ngecek.”

“Ngecek apa?” tanya Ayah lagi, meski raut wajahnya seperti sudah tahu jawabannya.

“Siapa tahu sudah pulang,” jawabku jujur.

Ayah berdiri di sampingku, ikut melihat jalan yang masih sepi.

“Katanya dua hari,” lanjut Ayah santai. “Belum tentu pagi sudah sampai… atau mungkin besok baru pulang.”

Aku langsung menoleh cepat.

“Besok?” suaraku terdengar lebih pelan dari yang kuinginkan.

“Iya. Perjalanan kan bisa saja molor. Atau ada urusan tambahan.”

Dadaku terasa seperti ditarik pelan.

Berarti… bisa saja bukan hari ini?

Semangat yang tadi membuncah tiba-tiba meredup.

Ayah menatapku sekilas. “Sabar. Nunggu itu memang berat.”

Aku tidak menjawab. Hanya menggigit bibir pelan agar tidak terlihat terlalu kecewa.

“Kangen ya?” tanya Ayah lembut.

Aku terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil.

Ayah tersenyum tipis. “Dulu waktu kecil, kamu juga begini kalau Ayah pergi. Berdiri di depan rumah, nunggu motor Ayah kelihatan dari ujung jalan.”

Aku tersenyum samar mengingatnya.

“Sekarang cuma beda orangnya saja,” tambah Ayah.

Aku menunduk malu.

Angin pagi menyentuh wajahku, tapi rasanya tidak sedingin rasa hampa yang tiba-tiba muncul di dada.

Kalau bukan hari ini… berarti aku harus menunggu lagi.

Dan menunggu satu hari saja sudah terasa panjang.

“Masuk dulu,” kata Ayah akhirnya. “Sarapan.”

Aku mengangguk pelan.

Saat melangkah kembali ke dalam rumah, aku masih sempat menoleh sekali lagi ke arah jalan.

Kosong.

Seperti hatiku yang sedang menahan rindu sendirian.

Aku duduk di meja makan, tapi pikiranku tidak di sana. Ponselku tergeletak di samping piring.

Tidak ada pesan baru.

Aku menarik napas panjang.

Hari kedua baru saja dimulai.

Dan ternyata… mendengar kemungkinan ia pulang besok saja sudah cukup membuat dadaku terasa lebih berat.

Tapi tetap saja—Aku akan menunggu.

Karena hatiku… masih setia pada satu nama.

Lalu aku mengambil ponselku dengan tangan sedikit gemetar.

Aku menarik napas pelan sebelum menekan namanya di layar.

Panggilan tersambung…

Satu detik.

Dua detik.

Lalu—

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”

Kalimat itu terdengar begitu datar. Begitu singkat. Tapi entah kenapa, rasanya seperti menjatuhkan sesuatu tepat di tengah dadaku.

Aku mencoba lagi.

Hasilnya sama.

Tidak aktif.

Dan saat itulah air mataku langsung terjatuh.

Awalnya hanya satu tetes.

Lalu dua.

Lalu tanpa sadar, aku sudah terisak pelan.

Ayah dan Ibu yang tadi ada di ruang tengah langsung mendatangiku dengan wajah cemas.

“Zahra? Kenapa?” tanya Ibu cepat.

“Ada apa?” sambung Ayah.

Aku mengangkat wajahku yang sudah basah.

“Nomornya… tidak aktif…” suaraku bergetar.

Ayah dan Ibu saling pandang, lalu sama-sama menghela napas panjang.

Ibu mendekat, lalu mencubit pipiku pelan.

“Kamu ini yaaa… cengeng banget,” katanya setengah gemas, setengah menenangkan. “Namanya juga orang lagi sibuk.”

Aku langsung mengangkat wajahku.

“Emang kalau sibuk nggak perlu ngabarin istrinya ya?” ucapku spontan, masih dengan suara bercampur tangis.

Suasana hening satu detik.

Lalu—

Ayah dan Ibu justru tertawa bersamaan.

“Istri loh, Bu,” kata Ayah sambil menahan tawa. “Ibu dengar nggak tadi?”

Ibu ikut tertawa kecil. “Iya, istri.”

Aku hanya diam.

Entah kenapa, mendengar mereka menertawakan kata itu justru membuat dadaku makin sesak.

Air mataku semakin deras.

“Kenapa malah diketawain…” gumamku pelan.

Tangisku berubah jadi lebih keras. Bukan karena marah. Bukan karena mereka menertawakan. Tapi karena rindu yang dari tadi kutahan akhirnya pecah juga.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Aku cuma pengen dia ngabarin… cuma itu aja…” suaraku tercekat.

Ibu langsung panik melihatku menangis semakin histeris.

“Eh, eh, sudah… sudah…” Ibu memelukku cepat, mengusap punggungku pelan. “Maaf, Ibu nggak bermaksud ngetawain kamu.”

Ayah juga langsung mendekat, wajahnya berubah lembut.

“Zahra,” ucapnya pelan. “Ayah nggak ngetawain perasaan kamu. Ayah cuma… kaget saja dengar kamu bilang ‘istri’ dengan penuh keyakinan begitu.”

Aku tetap terisak.

Ibu mengelus rambutku. “Kamu rindu, ya?”

Aku mengangguk dalam pelukannya.

Rasanya aneh. Baru dua hari. Tapi kenapa seperti dua bulan?

“Kadang sinyal di jalan memang susah,” kata Ayah menenangkan. “Atau mungkin baterainya habis. Atau dia sedang di perjalanan pulang.”

Kata terakhir itu membuatku sedikit berhenti menangis.

“Di perjalanan pulang?” tanyaku pelan.

“Bisa saja,” jawab Ayah.

Ibu mengangkat wajahku perlahan, menghapus air mataku dengan ujung jilbabnya.

“Kamu percaya sama dia, kan?”

Aku terdiam sebentar.

Percaya.

Iya, aku percaya.

Hanya saja… rindu membuat pikiranku jadi ke mana-mana.

“Aku cuma takut…” bisikku.

“Takut apa?” tanya Ibu lembut.

“Takut dia lupa kalau ada aku yang nunggu.”

Ayah langsung menggeleng pelan. “Orang yang punya tempat pulang… nggak akan lupa jalan.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Ibu tersenyum kecil. “Dan kamu ini terlalu berharga untuk dilupakan.”

Tangisku mulai mereda, tinggal sisa-sisa isak kecil.

Ayah lalu duduk di depanku. “Sekarang begini. Daripada kamu menangis terus, lebih baik kamu siapkan diri. Siapa tahu benar dia pulang hari ini. Masa pas dia datang, kamu matanya bengkak?”

Aku refleks menyentuh pipiku.

Ibu tertawa kecil. “Nah, baru sadar.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

Mungkin benar.

Kalau dia benar-benar pulang hari ini, aku tidak mau menyambutnya dengan wajah sembab dan hidung merah.

Aku berdiri pelan.

“Aku ke kamar dulu,” kataku lirih.

Ibu mengangguk. “Cuci muka. Tenangkan hati.”

Aku melangkah kembali ke kamar, duduk di tepi kasur, memandangi ponsel di tanganku.

Tidak aktif.

Aku menatap namanya lama.

“Mas…” bisikku pelan. “Aku nunggu.”

Kali ini aku tidak menelepon lagi.

Aku hanya memeluk ponsel itu, menenangkan diri.

Di luar kamar, aku masih bisa mendengar suara Ayah dan Ibu berbicara pelan, mungkin membicarakanku.

Aku merebahkan tubuh ke kasur, menatap langit-langit yang sama seperti semalam. Rasanya aneh. Padahal tadi pagi aku masih penuh harap. Sekarang harap itu berubah jadi sesuatu yang lebih sunyi… dan lebih berat.

Siang datang perlahan.

Cahaya matahari masuk lewat jendela, membelah lantai kamarku jadi dua bagian terang dan teduh. Perutku sebenarnya lapar, tapi aku tidak benar-benar ingin makan.

Ibu mengetuk pintu.

“Zahra, makan dulu.”

“Iya, Buk…” jawabku pelan.

Aku keluar kamar dengan langkah pelan. Di meja makan, Ayah melirikku sebentar, lalu tersenyum kecil seolah memastikan aku sudah lebih tenang.

Aku duduk, tapi lagi-lagi pikiranku melayang.

Setiap beberapa menit, tanganku refleks membuka layar ponsel.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada pesan.

Tidak ada panggilan masuk.

Kosong.

Selesai makan, aku kembali ke kamar. Mencoba membaca buku, tapi tidak satu kalimat pun benar-benar masuk ke kepalaku.

Aku berjalan ke jendela.

Jalan di depan rumah masih sama. Kadang ada motor lewat. Kadang mobil tetangga keluar masuk.

Tapi bukan dia.

Sore datang lebih cepat dari yang kuinginkan.

Langit mulai berubah warna, jingga tipis menyentuh awan. Angin sore berhembus lembut, membawa suara anak-anak bermain di ujung gang.

Biasanya aku suka suasana sore.

Tapi hari ini, sore terasa seperti pengingat bahwa satu hari hampir habis… dan dia belum juga pulang.

Aku kembali mencoba menelepon.

Sekali.

Dua kali.

Tetap tidak aktif.

Dadaku mulai terasa sesak lagi.

“Kenapa sih…” gumamku lirih.

Aku duduk di lantai kamar, bersandar di sisi kasur, memeluk lutut sendiri. Rasanya seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti.

Padahal Ayah sudah bilang—mungkin besok.

Tapi hati ini tetap berharap hari ini.

Malam pun tiba.

Suasana rumah jadi lebih sunyi. Lampu-lampu dinyalakan. Suara televisi terdengar pelan dari ruang tengah.

Aku duduk di kasur dengan ponsel di tangan. Menunggu bunyi yang tak kunjung datang.

Semakin malam, semakin gelisah.

Pikiranku mulai ke mana-mana.

Apa dia baik-baik saja?

Apa ada sesuatu di jalan?

Apa dia lupa?

Air mataku kembali menggenang.

Aku tidak kuat lagi menahan semuanya sendirian.

Aku bangkit dari kasur dan keluar kamar. Ayah sedang duduk di ruang tengah, menonton televisi. Ibu di sampingnya, melipat pakaian.

Aku berjalan mendekat.

Tanpa berkata apa-apa, aku langsung memeluk Ayah erat.

Ayah sedikit terkejut. “Lho? Kenapa lagi?”

Aku memeluknya makin erat, wajahku kusandarkan di dadanya.

Tangisku pecah lagi.

“Yah…” suaraku bergetar. “Kapan dia pulang?”

Ayah langsung mematikan televisi. Ibu berhenti melipat pakaian dan mendekat.

“Aku capek nunggu…” lanjutku sambil terisak. “Dari pagi aku lihat jalan terus… tapi nggak ada…”

Ayah mengusap punggungku perlahan.

“Nunggu itu memang melelahkan,” katanya lembut.

“Tapi kenapa lama banget…” aku semakin terisak. “Kan katanya dua hari…”

Ayah menarik napas pelan. “Dua hari itu bukan berarti tepat jamnya, Nak. Bisa saja besok pagi. Bisa saja tengah malam. Kita nggak pernah tahu.”

Aku menggeleng pelan di dadanya. “Aku takut dia nggak pulang…”

Ibu langsung mengusap kepalaku. “Jangan berpikir begitu. Kamu terlalu jauh membayangkannya.”

Ayah sedikit menjauhkan tubuhku agar bisa menatap wajahku.

“Zahra,” ucapnya serius tapi lembut. “Cinta itu bukan cuma soal rindu. Tapi juga soal percaya.”

Aku terdiam.

“Kalau kamu percaya dia akan pulang, maka tunggulah dengan hati yang tenang. Bukan dengan ketakutan.”

Air mataku masih mengalir, tapi tangisku mulai mereda.

“Ayah yakin dia akan pulang?” tanyaku lirih.

Ayah tersenyum kecil. “Orang yang punya tempat untuk kembali… pasti akan kembali.”

Kalimat itu terdengar sama seperti tadi pagi. Tapi kali ini, rasanya lebih dalam.

Ibu memelukku dari samping. “Sekarang kamu istirahat. Jangan begadang cuma buat menunggu. Kalau memang dia pulang malam ini, pasti kita dengar.”

Aku mengangguk pelan.

Ayah mencubit pipiku ringan. “Dan kalau besok pun belum, kita tunggu lagi. Kamu tidak sendirian.”

Aku memeluk Ayah sekali lagi sebelum akhirnya kembali ke kamar.

Kamar terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Aku duduk di kasur, memandangi ponsel yang masih diam.

“Mas…” bisikku lagi, lebih pelan. “Aku di sini.”

Aku merebahkan tubuh perlahan, memeluk bantal.

Malam semakin larut.

Dan di tengah gelisah yang masih tersisa, aku mencoba menutup mata—dan akhirnya aku pun tertidur....

1
Tati Hartati
semangat terus kakak
checangel_
Nah, itu baru benar ... menjauh untuk menjaga 😇
checangel_: semangat/Determined/
total 2 replies
checangel_
Bagus itu/Good/
yanzzzdck
👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Tati Hartati
lanjut terus kak
Reenuctee 🐈‍⬛🐱
/Good//Good/
Tati Hartati
mantap kak... lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!