NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 RETAKAN PERTAMA DI PERMUKAAN ISTANA

Pagi di ibu kota Yin tidak datang dengan suara.

Kabut tipis menggantung rendah di antara bangunan istana. Formasi pelindung berdenyut pelan, hampir tak terasa, namun cukup untuk membuat siapa pun yang peka merasa tidak nyaman.

Chen Long berjalan menyusuri koridor batu putih bersama dua pengawal istana.

Langkahnya tenang. Bahunya lurus. Tatapannya lurus ke depan.

Secara luar, tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

Namun sejak itu berakhir, sesuatu telah berubah.

Ia bisa merasakannya dari cara pelayan menunduk sedikit lebih dalam. Dari jeda singkat sebelum pejabat menjawab pertanyaan sederhana. Dari tatapan-tatapan yang terlalu cepat dialihkan.

Namanya telah keluar dari ruang tertutup.

Dan kini, ia mulai dipakai.

“Pangeran Chen Long,” ucap seorang pejabat muda saat mereka berpapasan, suaranya terdengar hormat namun terlalu keras.

Chen Long mengangguk singkat.

Ia tidak berhenti.

Ia tahu... suara keras seperti itu bukan untuknya.

Itu untuk orang lain yang sedang mendengar.

Ruang latihan istana pagi itu lebih ramai dari biasanya.

Beberapa pemuda bangsawan berkumpul di sisi lapangan. Sebagian berlatih. Sebagian hanya menonton. Aura mereka beragam, namun ada satu kesamaan.

Mereka semua menoleh saat Chen Long masuk.

Tidak ada ejekan. Tidak ada tantangan langsung.

Hanya penilaian.

Chen Long berdiri di sudut lapangan. Ia mulai latihan dasar. Gerakan lambat. Terukur. Tidak menunjukkan kekuatan berlebih.

Ia sudah belajar satu hal penting di istana ini.

Menonjol terlalu cepat sama berbahayanya dengan terlihat lemah.

Di balkon atas, Yin Sunxin berdiri diam.

Ia tidak memakai jubah resmi hari ini. Hanya pakaian latihan ringan berwarna pucat. Rambutnya diikat sederhana.

Tatapannya mengikuti Chen Long tanpa ekspresi.

“Apa pendapatmu?” tanya seorang wanita tua di belakangnya.

Pengawas Etiket Istana.

Yin Sunxin tidak langsung menjawab.

“Gerakannya bersih,” katanya akhirnya. “Namun ia sengaja menahan ritme.”

Wanita tua itu tersenyum tipis. “Cerdas.”

Sunxin mengalihkan pandangannya. “Atau terpaksa.”

Di sisi lain istana, sebuah pertemuan kecil sedang berlangsung.

Tidak resmi. Tidak tercatat.

Empat pejabat duduk mengelilingi meja rendah.

“Saksi dari kasus gudang selatan sudah goyah,” kata salah satu dari mereka. “Jika ditekan lagi, ia bisa mencabut pernyataannya.”

“Itu berbahaya,” sahut yang lain. “Jika ia berubah sekarang, perhatian akan beralih.”

“Justru itu tujuannya,” kata pejabat ketiga dengan suara tenang. “Perhatian harus dialihkan... ke orang yang tepat.”

Mereka saling pandang.

Nama itu tidak diucapkan.

Namun semua memikirkannya.

Kembali ke lapangan latihan, sebuah suara akhirnya memecah ketenangan.

“Pangeran Chen Long.”

Seorang pemuda melangkah maju dari kerumunan. Usianya sekitar delapan belas. Nadi terbuka jelas. Aura stabil.

Putra salah satu pejabat Dewan Dalam.

“Ada apa?” tanya Chen Long.

“Saya ingin menguji,” kata pemuda itu. “Sebagai sesama yang berada di bawah pengamatan kekaisaran.”

Alasannya rapi. Tidak kasar. Tidak bisa ditolak.

Beberapa orang menahan napas.

Chen Long mengangguk. “Baik.”

Mereka berdiri berhadapan.

Tidak ada taruhan. Tidak ada saksi resmi.

Namun semua orang tahu... hasilnya akan menyebar.

Pertarungan dimulai sederhana.

Satu langkah. Satu serangan lurus.

Chen Long menghindar setengah langkah. Tidak lebih.

Serangan kedua datang lebih cepat. Lebih berat.

Ia menangkis dengan lengan. Tubuhnya bergetar pelan.

Bukan karena lemah.

Melainkan karena ia menahan sesuatu di dalam.

Pertarungan berlangsung singkat.

Terlalu singkat.

Chen Long mundur satu langkah dan memberi hormat. “Aku kalah.”

Lapangan sunyi.

Pemuda itu tertegun. “Apa?”

“Aku kalah,” ulang Chen Long. “Seranganmu bersih. Aku tidak bisa melanjutkan.”

Ia berbalik dan pergi.

Bisik-bisik langsung muncul.

Ada yang mencibir. Ada yang bingung. Ada yang mulai berpikir terlalu jauh.

Di balkon, Yin Sunxin mengerutkan kening.

“Itu disengaja,” gumamnya.

“Ya,” sahut wanita tua. “Dan itu membuatnya lebih berbahaya.”

Malam turun perlahan di ibu kota.

Chen Long duduk sendirian di kamar penginapan istana. Ia membuka perban di lengannya. Di bawahnya, kulitnya memerah dan retak halus... seperti garis tipis yang hampir tak terlihat.

Nadi pertama.

Belum terbuka.

Namun tekanan istana membuatnya kembali berdenyut.

Di kejauhan, lonceng malam berbunyi.

Dan di ruang-ruang gelap yang tidak tersentuh cahaya bulan, beberapa keputusan kecil mulai dibuat.

Keputusan yang akan menyeret nama Chen Long lebih dalam.

Bukan sebagai orang.

Melainkan sebagai alat.

Percakapan di Balik Tirai

Undangan itu datang menjelang malam.

Bukan melalui utusan resmi. Bukan melalui segel kekaisaran.

Hanya seorang pelayan wanita istana yang datang dengan kepala tertunduk dan suara datar.

“Putri Yin Sunxin meminta waktu Pangeran Chen Long.”

Tidak disebutkan alasan.

Itu sudah cukup sebagai alasan.

Chen Long mengikuti pelayan itu melewati jalur dalam istana. Lorong-lorong yang jarang dilewati. Tidak ada obor besar. Hanya lampu dinding kecil yang menjaga cahaya tetap lembut.

Semakin dalam mereka berjalan, semakin tipis kehadiran penjaga.

Ini bukan wilayah publik.

Ini wilayah keputusan.

Mereka berhenti di depan paviliun kecil menghadap kolam hitam. Permukaan airnya tenang. Tidak ada ikan. Tidak ada teratai.

Pelayan itu menunduk sekali lagi. “Putri menunggu di dalam.”

Chen Long masuk sendirian.

Yin Sunxin berdiri di dekat jendela terbuka. Angin malam menggerakkan tirai tipis di belakangnya. Ia tidak mengenakan pakaian resmi. Jubah sederhana berwarna abu terang.

Ia tidak langsung menoleh.

“Kau sengaja kalah hari ini,” katanya pelan.

Bukan pertanyaan.

Chen Long berhenti tiga langkah di belakangnya. “Ya.”

“Kenapa?”

“Agar namaku berhenti dipakai terlalu cepat.”

Sunxin akhirnya berbalik.

Tatapannya tenang. Tajam. Tidak ada emosi berlebih.

“Justru sebaliknya,” katanya. “Mulai hari ini, namamu akan dipakai lebih sering.”

Chen Long mengangguk. “Aku sudah memperkirakan itu.”

Sunxin melangkah mendekat. Jarak mereka kini cukup dekat untuk merasakan aura satu sama lain. Yin yang dingin dan stabil. Tubuh Chen Long yang menahan denyut dari dalam.

“Kau tahu apa yang sedang terjadi di istana ini?” tanyanya.

“Sebagian,” jawab Chen Long. “Ada fraksi yang ingin mengalihkan tekanan. Ada fraksi yang ingin mengujiku. Dan ada fraksi yang ingin melihat reaksiku.”

“Dan ayahmu?”

“Ia tidak akan turun tangan,” jawab Chen Long. “Selama aku masih bernapas.”

Sunxin terdiam sejenak.

“Itu keputusan yang kejam,” katanya.

“Itu cara Benteng Utara bertahan.”

Sunxin menatapnya lebih lama kali ini. “Kau tidak cocok menjadi bidak.”

“Aku tahu,” jawab Chen Long. “Itulah sebabnya aku masih hidup.”

Ia berbalik dan berjalan menuju meja rendah di tengah paviliun. Di atasnya tergeletak beberapa gulungan tipis. Tidak bersegel.

Informasi mentah.

Sunxin menunjuk salah satunya. “Gudang selatan. Saksi yang mulai goyah. Besok atau lusa, namamu akan muncul sebagai alasan kenapa penyelidikan terhambat.”

Chen Long membuka gulungan itu. Ia membaca cepat.

“Mereka ingin aku terlihat seperti pusat masalah,” katanya.

“Mereka ingin memaksa kekaisaran memilih,” sahut Sunxin. “Antara Benteng Utara atau stabilitas istana.”

Chen Long menutup gulungan itu perlahan. “Dan posisi Putri?”

Sunxin menatap kolam hitam di luar jendela. “Aku tidak boleh berpihak.”

“Itu berarti kau sudah berpihak,” jawab Chen Long.

Sunxin tersenyum tipis. Sangat tipis. “Kau cepat belajar.”

Keheningan jatuh sejenak.

Angin menggerakkan air kolam. Riaknya kecil namun menyebar jauh.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Chen Long akhirnya.

Sunxin menoleh. “Kesalahan kecil.”

Chen Long mengangkat alisnya. “Kesalahan?”

“Ya,” kata Sunxin. “Kesalahan yang terlihat cukup nyata untuk memancing mereka bergerak.”

“Namun tidak cukup besar untuk menjatuhkan mu.”

Chen Long berpikir.

Ia tidak bertanya bagaimana caranya. Ia tahu Putri Yin tidak akan menjelaskan sebelum ia setuju.

“Jika aku melakukannya,” katanya pelan, “apa yang kau janjikan?”

Sunxin menatapnya lurus. “Aku akan memastikan... ketika tuduhan muncul, ia datang terlalu cepat.”

Chen Long mengangguk pelan. “Itu akan membuat pelakunya terlihat gugup.”

“Dan ceroboh.”

Chen Long menghela napas pelan. “Baik.”

Sunxin sedikit terkejut. “Kau tidak ragu?”

“Aku sudah berada di dalam permainan sejak aku melangkah ke ibu kota,” jawab Chen Long. “Menolak hanya akan membuatku target pasif.”

Sunxin menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah.

Bukan dingin.

Bukan politis.

Melainkan serius.

“Hati-hati,” katanya. “Jika salah langkah, bukan hanya namamu yang hancur.”

“Tapi Benteng Utara.”

Chen Long menunduk sedikit. “Aku mengerti.”

Ia berbalik untuk pergi.

Saat tangannya menyentuh pintu, suara Sunxin terdengar lagi.

“Chen Long.”

Ia berhenti.

“Kau belum membuka Nadi,” kata Sunxin. “Namun istana ini akan memaksamu lebih keras daripada medan perang.”

Chen Long tidak menoleh. “Kalau begitu...”

“Retakan itu akan segera menentukan bentuknya.”

Ia pergi.

Paviliun kembali sunyi.

Sunxin berdiri sendirian menatap kolam hitam.

Di kejauhan, satu lonceng kecil berbunyi.

Dan di dalam istana, benang-benang halus mulai ditarik lebih kencang.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧᴇɴᴋ ᴠɪᴠɪᴀɴ🥑⃟ⰼ⃞☪
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!