Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Media dalam genggaman politik
Pagi di Kota Sagara dibuka dengan hiruk-pikuk pemberitaan. Namun, alih-alih membahas skandal aliran dana mencurigakan yang mengguncang sendi pemerintahan, sebagian besar media lokal justru menampilkan judul-judul yang mencurigakan: Isu Dana Gelap Diduga Hoaks, Kelompok Anarkis Di Balik Tuduhan Korupsi, dan Stabilitas Kota Terancam oleh Provokator.
Bima menatap layar ponselnya dengan perasaan muak. Dalam semalam, narasi kebenaran telah dipelintir. Fakta-fakta yang sebelumnya disajikan lengkap kini dipotong, dibingkai ulang, bahkan dibalik maknanya. Seolah ada tangan raksasa yang mengendalikan arus informasi.
“Ini sudah diduga,” kata Naya pelan. “Sebagian besar media lokal berada di bawah kepemilikan orang-orang yang berafiliasi langsung dengan penguasa.”
Raka menghela napas berat. “Mereka tidak perlu membungkam kita. Cukup membuat publik ragu.”
Di ruang sempit markas kecil mereka, layar televisi menampilkan konferensi pers wali kota. Dengan senyum tenang, ia menyebut laporan yang beredar sebagai upaya sistematis untuk menjatuhkan pemerintah menjelang pemilihan. Tak ada bantahan detail. Tak ada penjelasan data. Hanya retorika, tapi cukup untuk memecah opini publik.
“Dan media memakannya bulat-bulat,” gumam Sinta.
Bima mematikan televisi. “Mereka menguasai ruang bicara. Kalau kita kalah di sana, semua bukti akan tampak seperti cerita fiksi.”
Naya bangkit dari kursinya. “Masih ada media nasional dan platform independen. Tapi kita harus bergerak cepat. Mereka pasti sedang berusaha membungkam semuanya.”
Seolah mengonfirmasi ucapan itu, ponsel Sinta berdering. Wajahnya langsung menegang.
“Apa?” tanyanya singkat.
Beberapa detik ia terdiam, lalu menutup telepon dengan wajah pucat. “Redaksi tempat aku biasa mengirim tulisan… akunnya dibekukan. Server mereka disita. Alasannya: audit pajak mendadak.”
Raka mengumpat pelan. “Serangan sistematis.”
Tekanan semakin terasa ketika sore harinya, sejumlah akun anonim menyebarkan fitnah di media sosial. Bima dituduh sebagai provokator bayaran asing. Naya dicap sebagai wartawan pesanan. Raka disebut preman berkedok aktivis. Foto-foto lama mereka dipelintir, riwayat hidup dikaburkan, seolah seluruh hidup mereka hanyalah skenario busuk.
“Ini pembunuhan karakter,” ujar Naya lirih. “Dan sangat efektif.”
Bima mengepalkan tangan. “Kalau reputasi hancur, suara kita akan hilang.”
Di tengah keputusasaan itu, sebuah email masuk ke kotak surat rahasia mereka. Pengirimnya anonim, tapi isinya singkat dan jelas: Aku bisa membantu membuka topeng permainan media ini. Jika kalian berani.
Sinta menatap layar dengan alis berkerut. “Bisa jebakan.”
“Atau peluang,” sahut Raka.
Setelah perdebatan panjang, mereka sepakat bertemu. Lokasi yang ditentukan adalah sebuah percetakan tua di pinggiran kota. Bangunannya kumuh, nyaris runtuh, tapi jauh dari pantauan.
Di sana, mereka bertemu seorang pria paruh baya bernama Amran, mantan redaktur senior salah satu koran terbesar di Kota Sagara. Wajahnya penuh garis lelah.
“Aku keluar karena tak sanggup lagi,” katanya tanpa basa-basi. “Ruang redaksi sudah menjadi kantor propaganda.”
Amran membuka tasnya, mengeluarkan sejumlah dokumen. “Ini kontrak kerja sama media dengan perusahaan milik kroni wali kota. Ada klausul yang mengatur framing berita, pemilihan narasumber, bahkan sudut pengambilan gambar.”
Bima menahan napas. “Mereka membeli kebenaran.”
“Lebih dari itu,” jawab Amran pahit. “Mereka membentuknya.”
Dokumen itu menunjukkan bagaimana dana iklan pemerintah digunakan untuk mengontrol isi pemberitaan. Media yang patuh mendapat kontrak besar. Yang membangkang dipangkas, ditekan, atau dimatikan.
“Kalau ini kita publikasikan…” ujar Sinta.
“Efeknya akan besar,” sambung Naya. “Tapi risikonya juga berlipat.”
Amran menatap mereka satu per satu. “Aku sudah kehilangan segalanya. Reputasi, pekerjaan, bahkan keluarga. Tapi aku tidak mau mati sebagai pengecut.”
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Lalu Bima mengangguk. “Kami juga.”
Malam itu, mereka bekerja tanpa henti. Laporan disusun, bukti diverifikasi, narasi diperjelas. Mereka menyiapkan paket investigasi khusus, lengkap dengan kontrak, rekaman percakapan, dan kesaksian anonim jurnalis lain.
Ketika laporan itu dirilis ke jaringan media nasional dan internasional, dampaknya seketika. Tagar tentang manipulasi media melonjak. Organisasi pers turun tangan. Diskusi publik meledak.
Namun reaksi balik tak kalah cepat.
Markas kecil mereka dilempari bom molotov. Api melahap sebagian ruangan sebelum berhasil dipadamkan warga. Tak ada korban, tapi pesan itu jelas: hentikan.
Bima berdiri di antara sisa-sisa arang, napasnya berat. “Mereka semakin panik.”
“Artinya kita semakin dekat,” ujar Raka.
Di luar, warga mulai berdatangan, menawarkan bantuan, makanan, dan tempat berlindung. Dukungan itu kecil, tapi nyata.
Untuk pertama kalinya sejak badai dimulai, Bima merasakan secercah harapan.
Media mungkin dalam genggaman politik, tapi suara rakyat belum sepenuhnya bisu.
Dan selama masih ada satu orang yang berani bersuara, kebenaran akan terus mencari jalannya sendiri.
Malam semakin larut ketika kalimat itu terus terngiang di benak Bima. Ia berdiri di depan bangunan markas kecil yang setengah hangus, menatap dinding-dinding gosong yang masih mengeluarkan aroma asap. Di sanalah mereka merancang perlawanan, dan di sanalah pula pesan teror dikirimkan.
Namun ketakutan yang sempat menghantam dadanya perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin.
“Kalau mereka pikir ini akan menghentikan kita, mereka salah besar,” ucap Bima lirih.
Naya berdiri di sampingnya, menatap sisa-sisa puing dengan mata yang berkaca-kaca. “Justru ini bukti bahwa kita menyentuh saraf mereka. Mereka tidak akan sekejam ini jika kita tidak benar.”
Raka menepuk bahu Bima. “Sekarang, pertanyaannya adalah langkah berikutnya apa?”
Mereka berpindah ke rumah kontrakan sempit milik seorang relawan, seorang ibu paruh baya bernama Bu Ratna yang tanpa ragu membuka pintunya. Di ruang tamu sederhana itu, mereka kembali menyusun strategi. Listrik seadanya, sinyal internet yang naik-turun, dan keterbatasan peralatan tak mengurangi kesungguhan mereka.
Sinta membuka laptop, menampilkan grafik lonjakan percakapan publik di media sosial. “Laporan kita menyebar luas. Tapi media lokal tetap bungkam. Bahkan ada yang memuat artikel bantahan tanpa konfirmasi.”
“Framing mereka rapi,” gumam Naya. “Mereka tidak menyerang data, tapi menyerang kredibilitas kita.”
Seolah menyambung ucapan itu, ponsel Bima kembali bergetar. Sebuah pesan anonim masuk.
Hentikan semua ini. Kalian tidak akan menang.
Tak ada ancaman langsung. Justru ketenangan kalimat itu yang membuat bulu kuduk meremang.
“Ini permainan psikologis,” ujar Raka. “Mereka ingin kita ragu.”
“Dan kita tidak boleh memberi mereka kepuasan itu,” jawab Bima tegas.
Di sudut ruangan, Amran mantan redaktur yang kini menjadi sekutu mereka terdiam sejak tadi. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara.
“Ada satu cara untuk mematahkan kendali mereka atas media,” katanya perlahan.
Semua mata tertuju padanya.
“Kita harus bicara langsung kepada publik, tanpa perantara. Siaran langsung. Testimoni korban. Bukti ditampilkan real time.”
Naya mengangguk pelan. “Live streaming.”
“Ya,” sahut Arman. “Tak bisa disensor. Tak bisa diedit.”
Namun risiko cara itu sangat besar. Mereka akan membuka identitas sepenuhnya, berdiri telanjang di hadapan kekuasaan.
“Kalau kita lakukan ini, tidak ada jalan kembali,” kata Sinta.
Bima menatap wajah-wajah di sekelilingnya, Naya dengan tatapan penuh idealisme, Raka dengan keteguhan, Sinta dengan kecerdasan yang tajam, dan Amran dengan luka masa lalu yang masih menganga.
“Sejak toko ayahku ditutup, aku sudah tak punya jalan pulang,” ucap Bima lirih. “Yang tersisa hanya jalan maju.”
Malam itu, mereka mempersiapkan segalanya. Data dipilah. Bukti diverifikasi ulang. Video rekaman diperiksa keasliannya. Sinta mengatur koneksi ke beberapa platform sekaligus. Raka memastikan keamanan lokasi.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari, siaran langsung dimulai.
Wajah Bima muncul di layar, diterangi lampu seadanya. Suaranya bergetar di awal, tapi segera menguat.
“Kepada seluruh warga Kota Sagara, dan siapa pun yang menyaksikan ini. Kami di sini bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengungkap. Karena kebenaran telah dikubur terlalu lama.”
Grafik penonton melonjak cepat. Ribuan, lalu puluhan ribu.
Satu per satu, bukti ditampilkan. Kontrak media, aliran dana, rekaman percakapan, kesaksian korban fitnah. Naya menjelaskan kronologi, Arman memaparkan mekanisme manipulasi berita, Sinta menampilkan data transaksi.
Komentar membanjiri layar. Ada dukungan, ada makian, ada ancaman. Tapi arus simpati semakin besar.
Kemudian Bima menutup siaran dengan suara bergetar, “Kami bukan pahlawan. Kami hanya keluarga yang ingin keadilan. Jika kami bisa berdiri, maka siapa pun bisa.”
Siaran itu meledak.
Pagi harinya, Kota Sagara gempar. Diskusi terjadi di pasar, warung kopi, terminal, hingga sekolah. Untuk pertama kalinya, narasi resmi pemerintah goyah. Media nasional mengangkat liputan lanjutan. Tekanan publik meningkat tajam.
Namun bersamaan dengan itu, tekanan terhadap mereka berlipat ganda.
Rumah kontrakan Bu Ratna diawasi orang tak dikenal. Nomor-nomor asing menelepon tanpa henti. Seseorang menguntit Naya hingga ke ujung gang.
“Ini sudah masuk tahap berbahaya,” ujar Raka.
“Justru sekarang kita tidak boleh berhenti,” sahut Bima.
Di tengah situasi genting itu, sebuah kejutan muncul. Seorang jurnalis televisi nasional menghubungi mereka, menawarkan liputan eksklusif.
“Jika kalian bersedia tampil,” katanya, “seluruh Indonesia akan mendengar kisah ini.”
Tawaran itu menggetarkan.
Namun di balik peluang besar, bahaya mengintai lebih dekat.
Karena semakin terang cahaya kebenaran, semakin besar bayangan yang berusaha memadamkannya.
Dan di tengah pertarungan ini, Bima tahu: babak yang lebih kelam baru saja dimulai.