Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rantai Penjagal dan Gerbang Kematian
Angin di Lembah Gema Hantu menderu kencang, membawa suara samar yang memuakkan. Namun, suara itu tenggelam oleh penyok logam yang mengerikan.
DENTANG!
Rantai hitam legam setebal lengan orang dewasa melesat bagaikan ular piton raksasa. Ujungnya yang berbentuk kait tajam menghantam tanah tempat Ye Chen berdiri sedetik sebelumnya.
Batu granit di titik itu meledak menjadi debu.
Ye Chen melompat mundur, kakinya mendarat ringan di atas pilar batu yang roboh. Mata menatap tajam ke arah Han Yun.
"Cepat," batin Ye Chen.
Han Yun, Si Jagal Rantai, tidak bergerak dari tempatnya. Dia hanya menggerakkan pergelangan tangannya sedikit, namun rantai sepanjang sepuluh meter itu seolah hidup, meliuk di udara dan kembali menyerang Ye Chen dengan sudut yang mustahil.
"Lari, Tikus Kecil! Lari!" Han Yun tertawa, suara tawanya berat dan kasar. "Mari kita lihat berapa lama kau bisa menari!"
Rantai itu menyapu secara horizontal. Ye Chen tidak bisa menghindar ke samping karena tebing di kiri-kanannya.
Ye Chen mengangkat Pedang Pemecah Gunung.
"Hancurkan!"
Otot lengan Ye Chen membesar, dialiri listrik biru. Dia mengayunkan pedang raksasa itu untuk menangkis rantai.
BODOH SEKALI!
Benturan antara pedang seberat 500 kilogram dan rantai Han Yun menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan kerikil.
Ye Chen merasakan getaran kuat merambat dari pedang ke bahunya. Tulang-tulangnya berderit. Tenaga Han Yun—seorang Pemadatan Qi Tingkat 9—ternyata jauh lebih padat dan berat daripada dugaannya. Qi Han Yun seperti lumpur hisap yang lengket, meredam daya ledak Ye Chen.
"Oh? Kamu bisa menahannya?" Han Yun mengangkat alis tebalnya, sedikit mengejutkan. Biasanya, musuh di bawah Tingkat 5 akan langsung hancur tangannya saat mencoba menangkis rantainya.
"Tapi itu baru pemanasan."
Han Yun menghentakkan kakinya. Aura merah pekat meledak dari tubuhnya.
Teknik Rantai: Penjara Ular Besi!
Rantai di tangan Han Yun tiba-tiba membelah diri. Bukan sihir, melainkan kecepatan gerakannya yang begitu tinggi hingga menciptakan ilusi belasan rantai yang menyerang dari segala arah secara bersamaan.
Atas, bawah, kiri, kanan. Semua tertutup bayangan rantai.
"Mati kau!" teriak Han Feng dari pinggir lapangan, wajahnya penuh euforia melihat Ye Chen terdesak.
Ye Chen membuka mata. Dia terjebak.
Jika dia bertahan, dia akan berusaha. Jika dia mundur, dia akan menabrak dinding tebing dan menjadi sasaran empuk.
"Kalau begitu... maju!"
Ye Chen melakukan hal gila. Dia tidak menangkis rantai itu.
Tubuh Guntur Asura: Aktivasi Penuh!
ZZZTTT!
Kulit Ye Chen berubah menjadi warna perunggu gelap. Arus listrik biru melingkari seluruh tubuhnya, membentuk Armor Guntur tenda-tenda.
Dia menerjang lurus ke depan, menembus badai rantai itu.
CTAR! CTAR! CTAR!
Rantai-rantai itu menghantam tubuh Ye Chen. Baju jubahnya hancur berkeping-keping.
Rasa sakit yang luar biasa menghantamnya. Meskipun demikian Tubuh Guntur melindunginya dari luka potong, hantaman tumpul rantai itu tetap membuat organ di dalamnya terguncang. Ye Chen mengeluarkan darah segar, tapi dia tidak berhenti.
"Kau gila?!" Han Yun terkejut melihat Ye Chen yang berlumuran darah namun terus maju seperti banteng gila.
Jarak mereka kini tinggal tiga meter.
“Sekarang giliranmu merasakan sakit!”
Ye Chen melompat, melemparkan pedang beratnya ke udara untuk mengalihkan perhatian, lalu mengepalkan tangan yang dibalut petir dan Qi darah.
Tinju Ganda Yin-Yang Asura: Diluncurkan Guntur!
Han Yun meremehkannya. "Bocah bodoh."
Han Yun melepaskan rantainya dan melapisi dadanya dengan Perisai Qi tebal berwarna merah.
BUMMM!
Tinju Ye Chen menghantam dada Han Yun.
Waktu seolah berhenti sejenak.
Mata Han Yun memelotot. Dia merasakannya bukan hanya kekuatan fisik, tapi arus listrik pembohong yang menembus perisai Qi-nya dan menyengat jantungnya.
"Ugh!"
Han Yun terdorong mundur dua langkah. Kaki besarnya menyeret tanah, meninggalkan parit dalam.
Hanya dua langkah.
Itu adalah prestasi luar biasa bagi Tingkat 3 melawan Tingkat 9. Tapi bagi Ye Chen, itu kabar buruk.
Serangan terkuatnya hanya membuat monster ini mundur dua langkah?
Han Yun mengangkat dadanya yang sedikit hangus. Wajahnya yang tadi diremehkan, kini berubah menjadi murka. Benar-benar marah. Seorang murid inti dipermalukan oleh seekor semut?
"Kau... menyakitiku," geram Han Yun. Suaranya rendah dan berbahaya. "Bagus. Sangat bagus. Aku tidak akan membunuhmu dengan cepat. Aku akan mematahkan setiap tulangmu satu per satu."
Han Yun menarik napas panjang. Otot-otot tubuhnya menggelembung, memecahkan baju zirahnya. Dia berubah menjadi raksasa otot setinggi dua setengah meter.
Teknik Terlarang: Transformasi Iblis Darah!
Kecepatan dan kekuatannya melonjak dua kali lipat.
Han Yun menghilang.
"Di belakang!" Insting Ye Chen berteriak.
Ye Chen mencoba berbalik, tapi terlambat.
Sebuah tangan besar mencengkeram lehernya dari belakang dan mengangkatnya ke udara seperti mengangkat boneka kain.
"Ketangkap kau," bisik Han Yun di telinga Ye Chen.
BAM!
Han Yun menghantamkan tubuh Ye Chen ke tanah dengan brutal.
Tanah berbatu itu retak parah. Ye Chen merasakan tulang rusuknya patah. Darah menyembur dari mulutnya.
Sebelum Ye Chen bisa bangkit, Han Yun menginjak dada Ye Chen, menahannya di tanah.
"Di mana kesombonganmu tadi, Asura?" Han Yun menekan kakinya, membuat Ye Chen sulit bernapas. "Kau punya bakat. Tubuhmu kuat. Tapi di hadapan kekuatan mutlak, bakat hanyalah lelucon."
Han Feng berjalan mendekat sambil tertawa puas. Dia menendang wajah Ye Chen yang sudah babak belur.
"Hahaha! Lihat dia sekarang! Seperti anjing yang dipukuli!" Han Feng meludah ke wajah Ye Chen. "Kakak, jangan bunuh dia dulu. Potong tangan dan kakinya. Aku ingin dia melihatku mengambil harta Dewa Pedang itu."
Ye Chen terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya. Matanya yang bengkak menatap Han Feng dan Han Yun bergantian.
Sakit. Seluruh tubuhnya menjerit kesakitan. Perbedaan kekuatan ini terlalu jauh.
Tapi, di dalam Dantian-nya, Mutiara Penelan Surga berputar tenang, seolah menunggu perintah.
Dan tangan kanan Ye Chen, yang tergeletak di tanah, diam-diam bergerak menyentuh Kantong Penyimpanan di pinggangnya.
"Kalian..." suara Ye Chen serak, terputus-putus. "...terlalu banyak bicara."
"Apa?" Han Yun mengerutkan kening.
Ye Chen tiba-tiba tersenyum. Senyuman berdarah yang mengerikan.
"Kalian pikir aku datang ke sini hanya untuk bertarung konyol?"
Tangan Ye Chen menarik sesuatu dari kantongnya. Bukan senjata. Melainkan secarik kulit binatang purba yang robek.
Peta Reruntuhan Dewa Pedang.
Ye Chen mengalirkan sisa Qi terakhirnya, termasuk Qi Guntur dan Qi Darah, ke dalam peta itu.
"Buka!" teriak Ye Chen.
Peta di tangannya bersinar terang dengan cahaya keemasan yang menyilaukan.
WUUUNG!
Reruntuhan gerbang batu kuno di belakang Han Yun tiba-tiba bergetar hebat. Simbol-simbol kuno di permukaan batu yang tadinya mati, kini menyala satu per satu, merespons panggilan dari peta di tangan Ye Chen.
"Apa yang dia lakukan?!" teriak Han Feng silau.
"Dia mengaktifkan formasi gerbang!" sadar Han Yun. "Hentikan dia!"
Han Yun mengangkat kakinya, berniat menginjak hancur kepala Ye Chen sebelum formasi itu aktif.
Tapi terlambat.
Gerbang batu kuno itu terbuka. Bukan membuka secara fisik, melainkan menciptakan sebuah pusaran Vortex energi berwarna abu-abu yang memiliki gaya hisap luar biasa.
ZUUUUUNG!
Angin kencang bertiup ke arah gerbang. Batu-batu, debu, dan pohon tumbang tersedot masuk.
Han Yun, yang bertubuh besar, merasakan tarikan kuat itu. Dia kehilangan keseimbangan sesaat dan kakinya terlepas dari dada Ye Chen.
Ye Chen memanfaatkan momen itu.
"Selamat tinggal!"
Ye Chen tidak melawan hisapan itu. Dia justru membiarkan tubuhnya terseret oleh vortex tersebut.
"TIDAK! Peta itu milikku!" teriak Han Feng panik. Tanpa pikir panjang, dia melompat mengejar Ye Chen. Keserakahan mengalahkan akal sehatnya.
"Feng! Jangan!" teriak Han Yun. Dia mencoba meraih adiknya dengan rantai, tapi vortex itu terlalu kuat. Rantainya terhisap, menarik tubuh besarnya ikut melayang ke arah gerbang.
Tiga sosok—Ye Chen, Han Feng, dan Han Yun—tertelan ke dalam pusaran cahaya abu-abu itu secara bersamaan.
Sesaat kemudian, gerbang itu tertutup kembali dengan suara dentuman keras, meninggalkan Lembah Gema Hantu yang kembali sunyi dan berkabut, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Di Dalam Reruntuhan.
Ye Chen merasa seperti dimasukkan ke dalam gilingan daging. Ruang dan waktu berputar kacau di sekelilingnya.
BRUK!
Dia jatuh keras di atas lantai batu yang dingin dan lembap.
"Uhuk..."
Ye Chen memuntahkan sisa darah kotor. Dia mencoba bangkit, tapi seluruh tubuhnya terasa remuk. Tulang rusuknya yang patah menusuk daging.
Dia melihat sekeliling.
Ini bukan gua biasa. Ini adalah sebuah koridor raksasa yang dibangun dari batu giok hitam. Di dinding-dindingnya, terdapat ukiran relief yang menggambarkan pertempuran antara seorang pendekar pedang melawan ribuan iblis.
Obor-obor api biru menyala sendiri saat mendeteksi kehidupan, menerangi jalan panjang yang suram itu.
"Di mana mereka?" Ye Chen waspada.
Dia melihat ke belakang. Tidak ada pintu. Hanya dinding batu solid. Mekanisme teleportasi tadi memisahkan mereka secara acak, atau mungkin menjatuhkan mereka di titik yang berbeda di dalam labirin ini.
"Bagus," desis Ye Chen lega. "Setidaknya aku punya waktu napas."
Ye Chen segera mengeluarkan Inti Bunga Teratai Es (sisa potongan kecil yang dia simpan) dan beberapa pil penyembuh. Dia menelan semuanya sekaligus.
Dia harus pulih. Cepat.
Karena dia tahu, di dalam reruntuhan ini, bahaya bukan hanya berasal dari Han bersaudara.
Krak... Krak...
Suara tulang beradu terdengar dari kegelapan di ujung koridor.
Sepasang mata merah menyala di kegelapan. Lalu dua pasang. Tiga pasang.
Dari bayang-bayang, muncul sosok-sosok prajurit kerangka yang mengenakan baju zirah berkarat dan memegang pedang patah. Aura mereka dingin dan mati.
Penjaga Makam (Grave Guardians). Tingkat kekuatan: Setara Pemadatan Qi Tingkat 4.
Dan ada lusinan dari mereka.
Ye Chen tertawa kecil, meski dadanya sakit. Dia memungut Pedang Pemecah Gunung yang untungnya ikut terteleportasi bersamanya.
"Di luar ada jagal, di dalam ada mayat hidup."
Ye Chen berdiri tegak, percikan listrik biru kembali menyelimuti tubuhnya yang babak belur.
"Tempat ini benar-benar surga bagi Asura."
Ye Chen mengangkat pedangnya. Latihan bertahan hidup babak kedua dimulai.
(Akhir Bab 21)