Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - PERMAINAN DIPERCEPAT
HARI PERTAMA - KAFE DEKAT KANTOR KEVIN
Akselia duduk di kafe yang sama seperti minggu lalu. Bukan kebetulan, tapi dia sengaja datang setiap hari di jam yang sama. Membangun pola, membuat Kevin terbiasa menemukannya di sini.
Dan seperti yang diprediksi, Kevin datang.
"Lagi?" Kevin tersenyum lebar saat melihatnya. "Kita seperti ditakdirkan terus bertemu."
"Atau kamu yang sengaja lewat sini setiap hari," balas Akselia sambil menutup laptop.
Kevin tertawa, duduk tanpa izin. "Tertangkap basah. Tapi kamu tidak usir aku, berarti kamu tidak keberatan?"
Akselia mengangkat bahu. "Kafe ini tempat umum. Siapa pun bisa duduk di mana pun."
"Dingin sekali." Kevin memesan kopi. "Tapi aku suka tantangan."
Mereka ngobrol ringan, tentang pekerjaan, cuaca, film yang baru tayang. Akselia sengaja membuka sedikit diri... cerita tentang "masa lalu palsu" di Yogyakarta, tentang kenapa dia pindah Jakarta, tentang mimpinya punya dojo sendiri suatu hari.
Semua bohong yang sudah Diana persiapkan dengan rapi.
Kevin mendengarkan dengan penuh perhatian, mata tidak pernah lepas dari wajah Akselia, sesekali tersenyum, sesekali mengangguk.
"Kamu menarik sekali, Selia," katanya saat percakapan mulai senyap. "Setiap kali aku pikir aku sudah mengenalmu, kamu tunjukkan sisi baru."
"Manusia itu kompleks, Kevin. Tidak bisa dipahami dalam beberapa pertemuan."
"Lalu berapa lama yang kubutuhkan untuk benar-benar mengenalmu?"
Akselia menatapnya langsung. "Mungkin seumur hidup, atau mungkin tidak akan pernah."
Kevin tersenyum, senyum yang berbeda. Lebih lembut. "Aku mau coba. Seumur hidup kalau perlu."
Jantung Akselia berdetak lebih cepat, bukan karena senang. Tapi karena menyadari... Kevin benar-benar terjerat.
Dan itu membuatnya merasa... bersalah?
Tidak... Dia tidak boleh merasa bersalah, ini Kevin Pratama. Pria yang membuangnya seperti sampah.
"Aku harus pergi," kata Akselia tiba-tiba, mengemas laptopnya. "Pak Arjuna ada jadwal sore."
"Tunggu..." Kevin berdiri, menahan lengannya lembut. "Besok? Sama waktu, sama tempat?"
Akselia pura-pura ragu, lalu mengangguk pelan. "Mungkin."
"Aku akan tunggu. Meski kamu tidak datang, aku akan tetap tunggu."
***
HARI KETIGA - RESTORAN JEPANG
Kevin mengajak Akselia makan malam lagi, kali ini di restoran Jepang eksklusif yang butuh reservasi sebulan sebelumnya. Tapi Kevin dapat meja dengan satu panggilan telepon.
"Kekuasaan punya banyak keuntungan," katanya sambil menarik kursi untuk Akselia.
"Atau kekuasaan bikin kamu lupa cara hidup normal," balas Akselia.
Kevin tertawa. "Mungkin. Tapi aku mau belajar lagi, belajar dari kamu."
Mereka makan dengan percakapan yang lebih dalam kali ini. Kevin mulai terbuka, cerita tentang tekanan dari keluarga, tentang ekspektasi sebagai anak tunggal pewaris perusahaan, tentang bagaimana dia tidak pernah punya pilihan sejak kecil.
"Semua sudah diatur," katanya sambil menatap sake di gelasnya. "Sekolah di mana, kuliah di mana, kerja di mana, bahkan nikah sama siapa. Aku cuma boneka yang digerakkan keluarga."
"Lalu kenapa tidak memberontak?" tanya Akselia.
"Karena aku pengecut." Kevin tersenyum pahit. "Aku pilih jalan mudah... nurut, dapat semua yang aku mau, tapi kehilangan diri sendiri."
Ada sesuatu di suara Kevin yang terdengar... tulus. Seperti dia benar-benar membuka luka lama.
Dan Akselia hampir... hampir merasa kasihan.
Tapi lalu dia ingat, tentang malam dia tergeletak berdarah. Ingat suara dingin Kevin di telepon, "Kamu cuma hiburan."
Semua rasa kasihan menguap.
"Tidak pernah terlambat untuk memberontak," katanya dingin. "Kalau kamu benar-benar mau."
Kevin menatapnya lama. "Kamu benar, dan aku mulai sekarang." Dia meraih tangan Akselia. "Aku akan batalkan pertunangan dengan Karina, minggu depan di depan kedua keluarga."
Akselia tersentak, benar-benar terkejut. "Kevin, itu... kamu serius?"
"Sangat serius." Kevin menggenggam tangannya erat. "Dan aku mau kamu ada di sana. Aku mau kamu lihat aku akhirnya punya keberanian berkat kamu."
Ini terlalu cepat, terlalu sempurna. Pasti ada jebakan.
Tapi Akselia tidak punya pilihan selain bermain terus.
"Aku... aku akan pikirkan," katanya pelan.
"Itu sudah cukup." Kevin tersenyum. "Aku tidak minta lebih."
***
HARI KELIMA - KANTOR MAHENDRA GROUP
Arjuna memanggil Akselia ke ruangannya dengan wajah serius.
"Aku dapat laporan, Kevin benar-benar akan batalkan pertunangan dengan Karina."
Akselia mengangguk. "Dia bilang padaku."
"Ini bahaya, Selia." Arjuna berdiri, berjalan mondar-mandir. "Kalau Kevin benar-benar batalkan pertunangan, itu berarti dia sudah jatuh cinta padamu. Dan kalau dia jatuh cinta, dia akan lebih posesif, lebih obsesif. Kamu akan sulit lepas."
"Aku tidak mau lepas. Belum... belum sampai aku dapat semua yang kubutuhkan."
"Apa yang kamu butuhkan? Bukti? Kita sudah punya cukup bukti untuk laporkan dia!"
"Bukan cuma bukti." Akselia menatap Arjuna tajam. "Aku mau dia merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan. Aku mau dia kehilangan segalanya, bisnis, reputasi, harga diri. Semuanya."
Arjuna menatapnya lama. "Kamu mulai kehilangan kontrol, Selia. Ini bukan lagi soal keadilan. Ini obsesi."
"Mungkin." Akselia berbalik ke pintu. "Tapi aku sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang."
Sebelum keluar, Arjuna memanggilnya. "Selia, kalau pada akhirnya kamu yang hancur gara-gara permainan ini, jangan bilang aku tidak peringatkan."
Akselia tidak menjawab. Dia keluar, menutup pintu pelan.
Di koridor, dia bersandar di dinding, menutup mata. Arjuna benar, dia mulai kehilangan kontrol. Mulai terlalu terlibat.
Tapi tidak ada jalan mundur.
***
HARI KETUJUH - APARTEMEN KEVIN
Kevin mengundang Akselia ke apartemennya, penthouse mewah di kawasan elite Jakarta Selatan. Akselia datang dengan hati berdebar dan pisau kecil tersembunyi di balik jaket, berjaga-jaga.
Tapi yang dia temukan bukan Kevin yang agresif. Justru Kevin yang rapuh?
"Terima kasih sudah datang," kata Kevin saat membukakan pintu. Dia mengenakan kaos santai dan celana training, penampilan yang sangat berbeda dari biasanya.
Di dalam, apartemen tertata rapi tapi terasa... kosong. Seperti tidak pernah benar-benar dihuni.
"Aku masak sendiri," kata Kevin sambil menunjuk meja makan. "Pasta. Mungkin tidak sebagus restoran, tapi aku coba."
Akselia menatap meja yang sudah disiapkan dengan lilin dan bunga... terlalu romantis, terlalu intim.
"Kevin, aku tidak yakin ini ide bagus..."
"Please." Kevin menatapnya dengan tatapan memohon. "Cuma makan malam, tidak ada maksud lain. Aku cuma... aku cuma mau kamu lihat aku sebagai manusia biasa. Bukan CEO, bukan pewaris. Cuma Kevin."
Ada sesuatu di suaranya yang membuat Akselia tidak bisa menolak.
Mereka makan dalam diam yang tidak canggung. Sesekali Kevin bercerita tentang bagaimana dia belajar masak dari video internet, gagal berkali-kali, sampai akhirnya berhasil bikin pasta yang layak dimakan.
"Kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Akselia akhirnya.
Kevin menatapnya lama. "Karena aku mau buktikan, aku bisa berubah. Demi orang yang tepat."
"Dan kamu pikir aku orang yang tepat?"
"Aku tahu kamu orang yang tepat." Kevin mengulurkan tangan melintasi meja. "Selia, aku... aku jatuh cinta padamu."
Hening.
Kata-kata yang Akselia tunggu. Kata-kata yang seharusnya membuat dia senang, karena berarti rencananya berhasil.
Tapi yang dia rasakan... kebingungan.
"Kamu tidak kenal aku dengan baik, Kevin," katanya pelan.
"Aku kenal cukup untuk tahu kamu spesial. Cukup untuk tahu, kamu perempuan pertama yang bikin aku mau jadi orang lebih baik."
Persis kata-kata yang Kevin bilang pada Akselia setahun lalu. Dan kali ini, Akselia tidak tahu apakah itu bohong atau tulus.
"Aku butuh waktu," katanya akhirnya. "Ini terlalu..."
"Aku mengerti, ambil waktu sebanyak yang kamu mau." Kevin tersenyum lembut. "Aku tidak akan kemana-mana."
***
TENGAH MALAM - DI MOBIL PULANG
Akselia duduk di taksi pulang, menatap keluar jendela dengan pikiran kacau.
Ponselnya bergetar, pesan dari Diana. [Detektif Karina menemukan sesuatu, mereka tahu Selia Ananta bukan nama aslimu. Besok mereka akan laporkan ke Karina, kamu harus bertindak SEKARANG.]
Jantung Akselia berhenti sedetik.
Besok... besok Kevin akan tahu siapa dia sebenarnya. Besok semua rencana akan hancur. Kecuali, kecuali dia bertindak lebih dulu.
Akselia mengetik balasan dengan tangan gemetar. [Siapkan semua bukti yang kita punya. Besok kita serang, sebelum terlambat.]
Dia menutup mata, menarik napas panjang.
Ini hari terakhir.
Besok, entah Kevin yang hancur, atau dia. Dan Akselia tidak tahu lagi mana yang lebih dia takuti.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?