NovelToon NovelToon
Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Air Mata Seorang Istri: Kakakku, Perebut Suamiku

Status: tamat
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.

Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.

"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.

"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kirana duduk di kursi meja makan sambil menghitung uang hasil jualannya selama enam hari terakhir. Lembaran uang itu ia susun rapi di atas meja kayu, satu per satu, dengan hati-hati seperti sedang menghitung harapan.

Satu juta rupiah.

Angka itu mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi Kirana, jumlah itu adalah bukti bahwa ia masih bisa berdiri meski tanpa sandaran yang dulu ia percayai sepenuh hati.

Awalnya, uang itu ingin ia gunakan untuk menyewa jasa detektif. Ia ingin bukti kuat, bukti yang tak bisa dipatahkan oleh kebohongan atau drama air mata dari Rafka. Namun, pesanan yang terus berdatangan membuat rencananya bergeser.

Dengan uang ini, Kirana bisa menambah modal. Bisa membeli bahan lebih banyak. Bisa bertahan lebih lama.

Kirana membuka buku catatan kecilnya, membaca daftar pesanan untuk minggu depan.

“Bu RT pesan tiga puluh porsi. Bu Bidan seratus porsi. Haji Soleh seratus porsi. Lalu, Mamanya Zaki dua puluh lima porsi,” gumam Kirana pelan.

Kirana tersenyum kecil. Dia masih tidak menyangka para tetangga banyak yang mendukung usahanya. Tetangga-tetangga yang selama ini hanya menyapanya sekilas, kini mempercayakan konsumsi untuk acara mereka padanya. Mereka tahu masakan Kirana bukan sekadar enak, tapi dibuat dengan hati, sehingga cocok di lidah siapa pun.

Hari ini, Kirana memutuskan libur jualan. Ia ingin menemani Gita. Hari yang ditunggu-tunggu putrinya sudah tiba, pergi ke Timezone bersama Rafka.

Setidaknya, pikir Kirana, permasalahan orang dewasa tidak boleh merampas kebahagiaan anak.

“Ma, Papa mana?” tanya Gita dengan wajah berbinar.

Gadis kecil itu sudah siap sejak pagi. Rambutnya dikepang rapi, bajunya bersih dan wangi. Senyumnya penuh harap.

“Coba lihat di kamar,” jawab Kirana sambil mengusap pipi Gita. “Papa dari tadi bilang mau siap-siap.”

“Yeay!” Gita langsung berlari, langkahnya ringan dan penuh semangat.

Kirana tersenyum melihatnya. Ada perasaan hangat dan takut yang beradu di dadanya.

Dengan semangat empat lima, Gita berlari menuju kamar kedua orang tuanya. Dia mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak terdengar sahutan ayahnya.

“Papa, aku masuk, ya!”

Tak ada jawaban.

Pintu kamar terbuka perlahan. Gita melongok ke dalam, matanya menyapu ruangan. Lemari tertutup. Tempat tidur rapi. Kamar mandi kosong.

“Papa…?” panggil Gita lagi.

Hening.

“Kok Papa-nya enggak ada?” gumam Gita, kebingungan. Tangis kecil mulai menggetarkan suaranya.

Di waktu yang sama, di rumah lain, Rafka sedang berjongkok di sisi ranjang Kinanti. Ara berdiri di dekat pintu, wajahnya panik.

“Om, Mama enggak apa-apa, kan?” tanya Ara dengan mata berkaca-kaca.

Rafka menepuk bahu bocah itu. “Tidak ada luka. Semoga mamamu cuma pingsan sebentar.”

Kinanti terbaring dengan wajah pucat. Beberapa detik kemudian, matanya terbuka perlahan.

“Aku senang kamu datang,” ucap Kinanti lemah. “Tadi kepalaku pusing… sepertinya kecapekan.”

Rafka mengangguk. Di dadanya, ada rasa bersalah yang berdesakan dengan rasa kasihan.

Tangisan Ara pecah lagi.

“Kalau Mama sakit, aku tidak jadi pergi ke wahana bermain,” ucap Ara yang menangis keras.

Kinanti mengelus rambut anaknya. “Maafkan Mama, Ara.”

“Aku mau naik kuda poni!” teriak Ara, menangis semakin kencang.

Kinanti menoleh ke Rafka. Tatapannya lembut, namun ada tekanan di sana.

“Mas, bisa antarkan kami ke wahana bermain?” pintanya pelan. “Ara enggak akan tenang kalau keinginannya enggak dituruti.”

Rafka terdiam. Bayangan Gita muncul di benaknya. Janji yang sudah ia ucapkan.

“Sepertinya tidak bisa,” katanya ragu. “Aku sudah janji ke Gita.”

Kinanti menghela napas, lalu berbicara dengan suara yang lebih dalam, lebih menusuk.

“Mas, kamu bisa ajak Gita kapan saja. Tapi Ara ....” Kinanti melirik ke arah anaknya. “Saat ini Ara membutuhkan kamu. Dia bisa sakit jika nagis lama,” ujar Kinanti. “Kasihan Ara, Mas. Dia anak yatim yang kehilangan kasih sayang seorang ayah. Ara sudah menganggap kamu papanya.”

Tangisan Ara menjadi-jadi.

Rafka menutup mata sejenak.

“Baiklah,” ucap pria itu akhirnya. “Tapi sampai jam sepuluh. Jam sebelas aku harus sudah di rumah.”

Wajah Kinanti langsung berbinar. Ara melompat kegirangan.

“Terima kasih, Mas,” ucap Kinanti sambil tersenyum. Ada sesuatu dalam senyum itu,, kepuasan.

Mereka berangkat bersama. Di wahana bermain, orang-orang yang melihat akan mengira mereka keluarga kecil yang bahagia.

Di rumah, Gita akhirnya menangis di pelukan Kirana.

“Mama, Papa ke mana?” Gita terisak tangis.

Kirana mencoba menghubungi Rafka. Panggilan tak diangkat. Pesan tak dibalas.

Kesabaran Kirana runtuh.

“Kamu itu pergi ke mana, sih, Mas!” gumam Kirana kesal.

Gita mengusap matanya. “Ma, apa Papa ke rumah Ara?”

Kirana tersentak. Pertanyaan polos itu menghantam tepat di dadanya.

“Bukannya Mas Rafka tahu hari ini kita mau ke Timezone” batin Kirana bergetar.

“Ma, telepon Tante Kinanti saja,” pinta Gita lirih. “Tanya Papa ada di sana, atau enggak.”

Dengan tangan gemetar, Kirana menekan nomor Kinanti.

“Halo, Ki?” suara Kinanti terdengar riuh oleh suara anak-anak dan musik. “Ada apa?”

“Mbak, apa Mas Rafka ada sama kalian?” tanya Kirana, menahan napas.

“Oh, Rafka?” jawab Kinanti ringan. “Iya. Lagi naik komedi putar sama Ara.”

Dunia Kirana seakan runtuh. Dia memejamkan mata. Dadanya sesak. Janji itu bukan hanya pada dirinya, tetapi pada anak mereka.

“Memangnya ada apa, Ki?”

“Tidak apa-apa, Mbak,” ucap Kirana akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Terima kasih.”

Telepon ditutup.

Gita menatap ibunya dengan mata basah.

“Papa lagi sama Ara, ya, Ma?”

Kirana menarik putrinya ke dalam pelukan. Tangannya gemetar hebat.

Di saat itulah Kirana tahu bukan hanya kepercayaan dan kesetiaan yang dihancurkan oleh Rafka, tetapi juga rasa bahagia anaknya. Itu adalah luka yang tidak akan pernah bisa ia maafkan dengan mudah.

***

Jangan tunda baca bab 20 nanti, ya. Biar retensi bisa tercapai. Atas perhatiannya aku ucapkan terima kasih.

1
Titien Prawiro
Kaya kamu orang suci saja Rafka gimana perlakuanmu terhadap Gita, anak sendiri diabaikan anak orang lain disayang.
Titien Prawiro
Saya gk suka sama Arjuna, jangan didekatkan sama Gita thor. dia itu pemaksa orangnya
Ds Phone
pergi juga meraka
Ds Phone
buah hati datang
Ds Phone
banyak rintangan yang pelu dia tempoh
Ds Phone
pernoban nya tak sia sia
Ds Phone
kebahagian menati
Ds Phone
dah ada kepastian nya dalam bercinta
Ds Phone
nak luah kan perasan la tu semoga semua nya berjalan lancar
Ds Phone
apa dia ambil kesah atau biar kan aja
Ds Phone
bagus lawan lawan dia dia ingat dia siapa besar sangat dia
Titien Prawiro
Belajarlah melupakan masa lalu Raja, dan membangun rumah tangga, dan sayangilah anak2 dan mencintai Ara. cobalah mencintai Ara.
Ds Phone
ada apa ya
Ds Phone
akhir nya lahir juga
Ds Phone
dah sayang bini nya
Ds Phone
azam seorang suami
Ds Phone
selama ini hidup penuh derita sekarang dia nya dengan damai
Ds Phone
menenal hati budi masing masing
Ds Phone
teroma belum hikang
Ds Phone
mula hidup baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!