Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.
Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.
Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vaksin Level 1
Pagi itu di Rumah Sakit Pusat Argena, aktivitas laboratorium dimulai lebih awal dari biasanya.
Lampu ruang penelitian sudah menyala bahkan sebelum matahari benar-benar naik di balik gedung-gedung kota.
Di luar jendela kaca besar, ambulans masih datang silih berganti.
Sirene terdengar samar dari kejauhan.
Di dalam laboratorium Level 3, para peneliti berdiri mengelilingi layar utama yang menampilkan grafik data terbaru mengenai wabah.
Beberapa wajah terlihat tegang.
Beberapa lainnya terlihat lelah karena kurang tidur.
Namun satu hal yang sama dari semuanya—mereka tahu situasinya semakin serius.
Profesor Amatsuki Hiroshi berdiri di depan meja analisis, menatap grafik mutasi virus yang terus berubah di layar.
Struktur RNA yang mereka pelajari tidak pernah stabil.
Setiap sampel baru menunjukkan sedikit perbedaan.
Kadang kecil.
Kadang cukup signifikan untuk membuat model analisis mereka tidak lagi relevan.
Seorang peneliti muda menghela napas panjang.
“Profesor… kita tidak bisa mengejar mutasinya.”
Ia menunjuk grafik yang bergerak cepat.
“Virus ini berubah terlalu cepat. Setiap kali kita mencoba mengisolasi struktur stabilnya, sampel berikutnya sudah berbeda.”
Seorang dokter lain menyela.
“Kalau begitu vaksin konvensional tidak mungkin dibuat.”
Suasana ruangan menjadi hening beberapa detik.
Semua orang memahami arti kalimat itu.
Jika vaksin tidak bisa dibuat…
maka wabah ini akan terus menyebar tanpa penghalang.
Namun Hiroshi tidak terlihat panik.
Ia masih menatap grafik itu dengan ekspresi tenang.
Tangannya terlipat di depan dada.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Kita tidak perlu mengejar virusnya.”
Semua orang menoleh.
Peneliti muda itu mengerutkan kening.
“Maksud Anda?”
Hiroshi menunjuk grafik lain di layar.
Grafik respons imun tubuh pasien.
“Jika virus terus berubah, maka membuat vaksin spesifik akan selalu terlambat.”
Ia berjalan mendekati layar.
“Tapi tubuh manusia memiliki mekanisme lain.”
Ia mengetuk layar.
“Sistem antibodi.”
Beberapa peneliti mulai memahami arah pikirannya.
Namun salah satu dari mereka masih ragu.
“Profesor… Anda ingin membuat vaksin yang tidak menargetkan virus secara langsung?”
Hiroshi mengangguk.
“Benar.”
Ia menatap semua orang di ruangan itu.
“Kita membuat vaksin level satu.”
Peneliti muda itu bertanya lagi.
“Level satu?”
Hiroshi menjelaskan dengan tenang.
“Vaksin yang tidak bertujuan menghancurkan virus secara langsung.”
Ia mengambil stylus dan menulis di layar digital.
Formulasi Level 1: Stimulan Antibodi Umum
“Vaksin ini hanya memperkuat sistem imun tubuh secara spesifik terhadap pola infeksi virus.”
Seorang dokter berkata pelan.
“Artinya… kita tidak menyerang virusnya.”
Hiroshi mengangguk.
“Kita memperkuat tubuh manusia.”
Ia melanjutkan.
“Jika antibodi meningkat cukup cepat, tubuh bisa menahan virus sebelum mutasi berikutnya terjadi.”
Peneliti muda itu mengangguk perlahan.
“Semacam perisai sementara…”
“Ya.”
Hiroshi menjawab singkat.
“Bukan solusi akhir.”
“Tapi cukup untuk menahan laju kematian.”
---
Diskusi Laboratorium
Salah satu peneliti senior membuka data pasien di layar lain.
“Jika kita meningkatkan produksi antibodi alami… kemungkinan pasien bertahan hidup naik hampir dua puluh persen.”
Dokter lain menyela.
“Namun kita harus memastikan tidak terjadi reaksi imun berlebihan.”
“Badai sitokin.”
Semua orang di ruangan itu tahu istilah tersebut.
Jika sistem imun terlalu kuat merespons virus, tubuh justru bisa merusak dirinya sendiri.
Hiroshi mengangguk.
“Itulah sebabnya formulasi ini harus sangat stabil.”
Ia berjalan ke meja kerja.
Mengambil tablet penelitian.
“Mulai dengan peptida stimulan ringan.”
Ia membuka file struktur molekul.
“Dan gunakan pembawa protein yang sudah terbukti aman.”
Peneliti muda itu berkata.
“Kita bisa menggunakan basis teknologi vaksin rekombinan.”
Hiroshi menjawab.
“Ya. Tapi modifikasi sedikit.”
Ia menampilkan model molekul di layar.
“Targetkan reseptor imun tingkat awal.”
Beberapa peneliti mulai mengetik data.
Diskusi menjadi lebih hidup.
Meskipun situasi di luar semakin kacau, di dalam ruangan itu para ilmuwan bekerja dengan fokus yang hampir sunyi.
---
Percakapan di Sisi Ruangan
Di sudut ruangan, dua tenaga medis berbicara pelan.
“Kau dengar kabar dari lantai dua?”
“Yang mana?”
“Beberapa pasien yang dinyatakan meninggal… tubuhnya belum mengalami pembusukan normal.”
Yang lain mengerutkan kening.
“Itu aneh.”
“Ya. Dokter jaga juga bingung.”
Mereka tidak tahu bahwa fenomena itu sebenarnya bagian dari rencana lain.
Sesuatu yang bahkan belum mereka bayangkan.
---
Kembali ke Meja Hiroshi
Hiroshi sedang memeriksa lagi hasil analisis cairan yang ia ambil dari jarum suntik misterius.
Grafik komposisi kimianya masih terbuka di layar kecil.
Ia memperbesarnya lagi.
Molekul itu…
tidak cocok dengan vaksin mana pun yang pernah ia pelajari.
Namun anehnya, beberapa komponennya justru memiliki fungsi yang mirip dengan stimulan antibodi.
Seolah seseorang mencoba membuat sesuatu yang serupa.
Namun dengan tujuan berbeda.
Hiroshi menyipitkan mata.
“Menarik…”
Ia bergumam pelan.
Ia tidak mengatakan apa pun kepada peneliti lain.
Untuk saat ini, ia hanya mencatat temuannya secara pribadi.
---
Rapat Singkat
Beberapa jam kemudian, kepala departemen masuk ke ruang laboratorium.
“Kita akan mengadakan rapat singkat.”
Para peneliti berkumpul.
“Pemerintah meminta laporan perkembangan vaksin.”
Seorang dokter berkata.
“Kita belum punya vaksin final.”
Hiroshi berbicara dengan tenang.
“Kami sedang mengembangkan formulasi vaksin level satu.”
Kepala departemen mengangkat alis.
“Penjelasan nya?”
Hiroshi menjawab singkat.
“Semacam Vaksin penguat antibodi.”
“Kita tidak bisa mengejar mutasi virus.”
“Tapi kita bisa memperkuat pertahanan tubuh manusia.”
Beberapa detik hening.
Lalu kepala departemen mengangguk.
“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk vaksin ini?”
Hiroshi menjawab tanpa ragu.
“Jika tidak ada hambatan… tiga hari untuk prototipe.”
Beberapa peneliti terlihat terkejut.
Tiga hari adalah waktu yang sangat cepat.
Namun jika ada satu orang yang mampu melakukannya…
itu adalah Profesor Amatsuki Hiroshi.
---
Sore Hari
Menjelang sore, aktivitas laboratorium mulai melambat.
Namun penelitian masih berlangsung.
Beberapa peneliti mulai menyiapkan bahan untuk formulasi awal vaksin level satu.
Protein pembawa.
Peptida stimulan.
Larutan stabilisasi.
Semua dicatat dengan teliti.
Hiroshi berdiri di depan jendela kaca.
Menatap kota yang terlihat lebih sunyi dari biasanya.
Ia tahu wabah ini tidak lah sederhana.
Data yang ia temukan tadi sudah cukup untuk menimbulkan beberapa kecurigaan.
Struktur Virus yang terus berubah.
Cairan misterius dari jarum suntik.
Ruangan rahasia di lorong Level 3.
Semua itu seperti potongan puzzle yang belum lengkap.
Namun satu hal jelas.
Jika kita tidak melakukan apa pun maka…
jumlah korban akan terus meningkat dan angka kematian akan terus bertambah setiap harinya.
Ia menatap layar sekali lagi.
Formulasi vaksin level satu hampir selesai.
Sebuah langkah kecil.
Namun mungkin cukup untuk memberi waktu bagi dunia.
Tanpa diketahui oleh Hiroshi…
di tempat lain, seseorang sedang mengamati pergerakan dan energi gelap di rumah sakit itu.
Seseorang yang sudah mengetahui bahwa wabah ini bukan sekadar penyakit menular biasa.
Dan orang itu… adalah Douma.