Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Hal Kecil Yang Tidak Kecil
Pagi itu, Senja bangun tanpa alarm. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, jatuh tepat di wajahnya. Ia tidak langsung bangun. Tidak juga langsung menutup mata lagi. Ia hanya diam, merasakan detak jantungnya sendiri.
Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada mimpi indah. Hanya tidur yang… biasa.
Dan entah kenapa, itu terasa cukup.
Ia turun ke dapur. Ibunya sedang menyeduh teh, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.
“Kamu bangun lebih pagi,” kata ibunya.
Senja mengangguk. “Kebangun aja.”
Ibunya tersenyum, lalu menuangkan teh ke cangkir lain dan mendorongnya ke arah Senja. Mereka duduk berhadapan, tanpa topik besar, tanpa percakapan berat.
Hanya dua orang yang saling ada di ruangan yang sama.
Senja menyadari sesuatu yang sederhana: ia sudah lama tidak menikmati momen seperti ini tanpa merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa.
Di kampus, ia duduk di bangku taman, membuka laptop. Bukan untuk mengerjakan tugas. Ia hanya membuka dokumen kosong.
Judulnya: Catatan yang Tidak Harus Rapi.
Ia menulis:
“Aku selalu mikir hidup harus jelas arahnya. Tapi mungkin hidup itu lebih mirip kabut. Kita nggak lihat jauh, tapi kita tetap bisa melangkah.”
Ia berhenti. Menghapus satu kalimat. Menulis ulang. Tidak peduli tata bahasa. Tidak peduli bagus atau tidak. Ia menulis bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk mendengar dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Kay.
“Kamu lagi di mana?”
“Taman belakang.”
Beberapa menit kemudian, Kay datang dengan ransel di punggung.
“Kamu kelihatan… lebih hidup,” kata Kay sambil duduk.
Senja tertawa kecil. “Aku nggak tau itu pujian atau observasi ilmiah.”
Kay tersenyum. “Dua-duanya.”
Mereka duduk diam lagi. Tapi kali ini bukan diam yang berat. Lebih seperti jeda di antara dua napas.
“Aku ngerasa aneh,” kata Senja. “Dulu aku nunggu perubahan besar. Sekarang aku malah sadar… yang berubah itu hal kecil.”
Kay mengangguk. “Kayak apa?”
“Kayak aku berani balas chat. Berani datang ke kampus. Berani bilang capek.”
Senja menatap tangannya sendiri. “Dulu aku nganggep itu sepele. Tapi ternyata susah banget.”
Kay tersenyum pelan. “Hal kecil itu cuma kelihatan kecil kalau kita nggak yang menjalaninya.”
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Sore hari, Senja membuka pesan lama dari dosennya. Ia menulis ulang, lebih jujur dari sebelumnya.
“Pak, saya sedang berusaha memperbaiki kondisi saya. Saya belum bisa maksimal, tapi saya tidak ingin menyerah.”
Mengirim pesan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena untuk pertama kalinya ia mengakui keterbatasannya tanpa merasa rendah.
Malamnya, ia membuka lagi catatan ponselnya.
Dulu isinya penuh keluhan. Sekarang, isinya mulai bercampur: lelah, takut, tapi juga hal-hal kecil yang ia syukuri.
“Hari ini minum teh sama ibu.”
“Hari ini nulis tanpa merasa kosong.”
“Hari ini nggak kabur.”
Ia tersenyum tipis.
Senja mulai sadar, mungkin hidup tidak berubah lewat satu momen besar. Tidak lewat satu keputusan heroik. Tapi lewat serangkaian pilihan kecil yang sering kita anggap tidak berarti.
Bangun dari kasur.
Membalas pesan.
Datang walau ingin menghindar.
Mengakui lelah tanpa drama.
Semua itu tidak akan terlihat di luar. Tidak ada yang bertepuk tangan. Tidak ada yang memberi penghargaan.
Tapi di dalam dirinya, sesuatu bergerak.
Bukan kebahagiaan yang meledak.
Bukan kesedihan yang hilang.
Tapi rasa: aku masih di sini, dan itu cukup untuk hari ini.
Senja menutup mata malam itu dengan satu pikiran yang terasa asing tapi menenangkan:
“Aku tidak harus menjadi versi terbaik dari diriku. Aku hanya harus tetap menjadi versiku yang hidup.”
Dan mungkin, di dunia yang selalu menuntut lebih, memilih untuk tetap hidup dengan jujur adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.