NovelToon NovelToon
Bos Jutek Itu Suamiku

Bos Jutek Itu Suamiku

Status: tamat
Genre:CEO / Duda / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Edelweis Namira

Ayra tak pernah menyangka bahwa hidupnya bisa seabsurd ini. Baru saja ia gagal menikah karena sang tunangan-Bima berselingkuh dengan sepupunya sendiri hingga hamil, kini ia harus menghadapi kenyataan lain yang tak kalah mengejutkan: bos barunya adalah Arsal—lelaki dari masa lalunya.

Arsal bukan hanya sekadar atasan baru di tempatnya bekerja, tetapi juga sosok yang pernah melamarnya dulu, namun ia tolak. Dulu, ia menolak dengan alasan prinsip. Sekarang, prinsip itu entah menguap ke mana ketika Arsal tiba-tiba mengumumkan di hadapan keluarganya bahwa Ayra adalah calon istrinya, tepat saat Ayra kepergok keluar dari kamar apartemen Arsal.

Ayra awalnya mengelak. Hingga ketika ia melihat Bima bermesraan dengan Sarah di depan matanya di lorong apartemen, ia malah memilih untuk masuk ke dalam permainan Arsal. Tapi benarkah ini hanya permainan? Atau ada perasaan lama yang perlahan bangkit kembali?

Lantas bagaimana jika ia harus berhadapan dengan sifat jutek dan dingin Arsal setiap hari?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edelweis Namira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA MASA LALU

Setelah perkenalan singkat antara Kalya dan Ayra pagi itu, hubungan dua perempuan beda generasi itu sedikit mengalami perubahan. Walaupun Kalya masih kerap ketus pada Ayra dan Ayra yang meresponnya dengan santai, namun beberapa kali Arsal sering menangkap kebersamaan mereka berdua.

Entah Kalya yang lebih senang dibacakan dongeng oleh Ayra atau Kalya yang tiba-tiba jadi senang masak, lebih tepatnya mengganggu Ayra di dapur.

Namun berbeda dengan hubungan dirinya dan Ayra. Keduanya masih sama seperti awal menikah. Padahal usia pernikahan sudah menginjak hampir dua bulan pernikahan. Arsal masih saja gengsi menunjukkan sikap hangat dan perhatian pada Ayra dan Ayra sama sekali tidak mempermasalahkan itu.

Ayra lebih menyibukkan dirinya ke acara kantor yang akan diadakan besok. Ayra bahkan jarang berbicara padanya, kecuali di rumah dan membahas urusan pekerjaan ketika di kantor. Selain itu, Ayra lebih banyak diam dan merespon seadanya.

Karena acaranya akan diadakan besok, maka banyak yang lembur di lokasi acara malam ini. Karena ruang pertemuan kantor juga begitu luas, maka acara akan diadakan disana.

Seperti malam sebelumnya, Arsal akan memantau langsung persiapan acara. Malam ini, setelah ia mengantarkan Kalya ke rumah mamanya, ia segera menuju kantor kembali. Kini ia sudah berada di ruangan besar tersebut.

Arsal berdiri di sudut ruangan, kedua tangannya terselip di saku celana. Matanya fokus pada satu titik di antara keramaian panitia yang sedang sibuk mempersiapkan acara peringatan Hari Anak esok. Tepatnya, pada seorang wanita yang tampak serius membahas sesuatu dengan seorang pria di dekat panggung.

Keduanya terlihat akrab, terkadang Ayra mengangguk dengan ekspresi serius, terkadang tertawa pelan saat Bima mengatakan sesuatu. Arsal tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi dari cara pria itu bersikap, jelas sekali bahwa Bima cukup nyaman berada di dekat Ayra. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang serasi.

Arsal mengetatkan rahangnya tanpa sadar. Namun, sebelum ia bisa menarik napas panjang untuk mengabaikan rasa tak nyaman yang merayapi dadanya, suara seseorang menyela pikirannya.

“Daripada cuma ngeliatin dari jauh sambil menahan cemburu, mendingan disamperin aja itu istrinya, Pak,” goda Haikal, tiba-tiba muncul di sampingnya dengan senyum jahil.

Arsal melirik sekilas, wajahnya tetap datar. "Saya hanya memantau semuanya. Kamu salah paham."

“Benarkah?” Haikal terkekeh, menatap ke arah yang sama. “Cemburu juga nggak apa-apa, Pak. Apalagi Ayra dan Bima kan pernah ada hubungan." goda Haikal.

Arsal tidak menanggapi, tetapi ekspresi wajahnya semakin kaku.

Haikal tertawa kecil, lalu menepuk bahu Arsal. “Kalau saya jadi Bapak, saya samperin langsung. Kalau perlu saya umumin deh, Ayra itu istri saya."

"Diam kamu!"

Bukannya diam, Haikal semakin gencar menggoda Arsal. "Saya kasih tahu ya, Pak, si Bima itu kalau bukan karena udah terlanjur menghamili sepupunya Ayra, mana mau dia ngelepasin Ayra gitu aja. Dapetinnya aja susah."

Arsal menoleh dan menatap Haikal dengan tajam. "Kamu ngapain disini? Bukannya bantu-bantu yang lain." kata Arsal dingin.

"Saya bantu ngawasin. Sama kayak Bapak." kekeh Haikal yang sama sekali tidak takut pada tatapan tajam Arsal. "Bapak mau saya bantu pisahin Ayra dan Bima?"

"Jangan-jangan kamu yang cemburu. Kamu suka sama Ayra, kan?"

Haikal melongo mendengar pertanyaan Arsal. "Saya? Dulu sih, iya. Sekarang sih masih 40 persen lah." jawab Haikal dengan serius.

Arsal berdecih. "Berarti benar kamu yang cemburu."

"Dikit, Pak." Haikal bukannya mengelak justru mengiyakan dugaan Arsal.

"Bisa-bisanya kamu mengakui itu di depan saya." Arsal masih memasang wajah datar di depan Haikal. Tangannya ia lipat di depan dada.

"Lah kalau suaminya anteng kayak Bapak, ya saya biasa aja."

Arsal baru saja akan membalas perkataan Haikal saat suara Ayra terdengar memanggil Haikal.

"Mas Haikal!" Perempuan itu kini berjalan menghampiri Haikal bersama Bima.

Arsal masih diam di tempatnya. Matanya masih menatap lurus pada Ayra. Wajah istrinya itu masih setenang biasanya. Raut bahagia itu begitu tampak jelas.

"Kenapa, Ra?" tanya Haikal terdengar ramah.

"Selamat malam, Pak Arsal." Bima menyapa Arsal, yang hanya dibalas anggukan oleh Arsal.

"Selamat malam, Pak." Ayra ikut menyapa Arsal dan sama dengan Bima, hanya dibalas anggukan oleh Arsal.

"Jadi kenapa, Ayra?" tanya Haikal lagi dengan lembut.

"Mas, tolong bantu Bima, ya. Tadi kita masih ragu sama bacaan tahap klimaks ceritanya. Dia bilang grogi kalau aku yang latih." ujar Ayra dengan santai.

Ia tidak menyadari bahwa perkataannya itu membuat Arsal terkejut. Terlalu gamblang menyebutkan bahwa Bima seperti masih menyimpan perasaan untuk perempuan itu.

"Tapi dari tadi kalian kayak nyaman-nyaman aja. Nggak ada groginya." Arsal menatap Ayra dan Bima bergantian dengan datar.

Arsal tidak peduli dengan tatapan tiga orang itu tampak terkejut mendengar pernyataannya.

"Iya. Biar nanti biar sama saya aja, Bim." Haikal tampak mengerti Arsal itu cemburu. "Ayo, Bim. Kita latihan lagi." Haikal lalu berjalan lebih dulu ke panggung.

"Aku kesana dulu, ya, Ay." Bima tersenyum lembut pada Ayra.

"Iya." Ayra menjawab kalem. Hanya ada senyum tipis tanpa niat apapun.

"Kamu memang terbiasa tersenyum begitu ya sama semua lelaki?" tanya Arsal sinis.

"Maksud, Pak Arsal?"

"Sikap kamu bisa membuat lelaki salah paham. Ntah itu Haikal, Bima dan lelaki yang lain."

"Pak Arsal kenapa? Ada masalah sama saya?" Nada bicara Ayra terdengar tidak seramah biasanya.

Arsal menatap Ayra dengan tajam. Ia lalu tersenyum. Namun bukan senyum senang.

"Sikap kamu ke suami kamu bahkan tidak seperti itu. Kenapa sikap kamu dengan lelaki lain justru seramah dan secair itu?"

"Suami saya nggak suka dekat-dekat saya. Dia risih dengar saya bicara lembut. Suami saya juga jarang merespon saya bicara." sahut Ayra dengan pelan namun terdengar begitu kesal.

Mendengar penuturan Ayra, Arsal semakin kesal. Istrinya itu sedang menyindir dirinya. Ayra bahkan dengan berani menatapnya dengan tajam.

"Tapi itu seharusnya tidak membuat kamu menjadi begitu cair dengan lelaki lain." Arsal tidak mau kalah. Ia balas menatap Ayra dengan tatapan penuh intimidasi.

"Saya melakukan itu hanya bentuk untuk menghargai lawan bicara saya. Tanpa maksud apapun. Anda saja yang melihatnya dengan pandangan negatif. Hati anda terlalu banyak prasangka buruk." balas Ayra lalu hendak berlalu dari hadapan Arsal.

Namun belum sempat Ayra pergi, Arsal lebih dulu menarik pergelangan tangannya. Ia bahkan menggenggam erat tangan itu dan membawa Ayra keluar ruangan.

Ia tahu sebenarnya Ayra ingin teriak, namun urung dilakukan karena takut mengundang perhatian orang-orang yang berada di ruangan. Akhirnya Ayra pun tidak punya pilihan selain mengikuti langkah Arsal.

Arsal masih menggenggam tangan Ayra meskipun kini berada di depan lift. Arsal bahkan tidak peduli dengan tatapan beberapa karyawan yang berada di sekitar lift.

"Pak, tangan saya lepas dulu," cicit Ayra.

Namun itu tidak digubris Arsal. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Ayra. Ketika pintu lift terbuka, ia segera masuk bersama Ayra.

"Kalian masuk ke lift berikutnya." Suara Arsal yang tegas membuat beberapa orang yang hendak masuk mengurungkan niatnya.

Sementara itu, Ayra masih diam. Arsal sama sekali tidak melihat ke arahnya. Hingga lift tertutup dan bergerak turun ke lantai ruangan Arsal, keduanya masih diam.

Arsal membawa Ayra ke ruangannya. "Duduk." kata Arsal dingin.

Ayra menurut. Ia segera duduk di sofa ruangan Arsal namun sama sekali tidak melihat Arsal.

"Mengapa sekarang kamu diam? Tadi bahkan kamu sudah berani mendikte saya." tanya Arsal menatap Ayra yang kini justru menatap ke arah lain.

"Saya bicara sama kamu. Mengapa kamu diam? Sikapmu terlihat berbeda saat sedang bersama Haikal dan Bima."

"Karena mereka tidak memperlakukan saya seperti anda memperlakukan saya." jawab Ayra.

"Maksud kamu?"

Ayra tersenyum miring. Matanya menatap tepat pada mata hitam Arsal. "Saya tidak tahu mengapa anda begitu ingin menikahi saya. Saya juga tidak mengerti mengapa ajakan konyol saya justru anda tanggapi dengan serius. Sampai sekarang pun, saya tidak mengerti mengapa anda menikahi saya namun memperlakukan saya seperti orang asing. Tujuan anda apa?"

Arsal terdiam. Separuh hatinya sakit melihat wajah kecewa Ayra. Namun separuhnya lagi berusaha menahan egonya untuk tidak peduli.

"Karena saya ingin kamu merasakan bagaimana sakitnya dicampakkan tanpa alasan yang jelas."

1
Elizabeth Zulfa
pantesan ayra bilang klo kalya gak mirip sama arshal...
tpi itu si arshal masi ori/ udah diperawanin sama ilana
amilia indriyanti
bima mungkin mencintainya tapi jengah ayra orangnya kaku suka memperumit masalah yang sebenarnya sederhana
Elizabeth Zulfa
ini mereka nikahnya udah dah secara negara blm sih... prasaan mreka nikahnya di RS cuma dngn penghulu aja dech wktu itu... gak niat ngeSAJin secara agama dan negara gitu
...
kayaknya bau² si adik ipar nya ini rada ingin pedekate deh
...
anak si duda nih🤭
Eni Luthfia Ardiani
dasar amandemiiiit ulet bulu
Elizabeth Zulfa
trnyata bneran dah prnah nikah.. ada buntutnya pula 😅😅
Elizabeth Zulfa: he'em 😁😁
total 2 replies
Meli Amaliyah
laaah ...kecewa ..teryta udah duda...
Yulia
Ceritanya bagus alurnya juga keren,terima kasih othoor🤗
Edelweis Namira: Terima kasih yaaa
total 1 replies
nanik sriharyuniati
Luar biasa
Aulia Widya Sakina
/Drool//Drool//Drool//Drool/
RithaMartinE
luar biasa
菲菲 Dwi L Arema
Suami istrinya sama oon kah
菲菲 Dwi L Arema
Munafik
菲菲 Dwi L Arema
Makanya rubah bicaramu
Hana Agustina
aku mah punya laki kaya arshal yg baperan, apa apa emosian.. malas banget... capek hati tiap hari.. ngimbanging mulu ama emosiny dia yg gampang kepancing...
Titien Prawiro
greget beneran
Titien Prawiro
Buat Arsal dan istrinya tegas dong thor, jadi gemes bacanya.
Titien Prawiro
Benerkan Amanda pura2 menyelamatkan Arsal dari tabrakan, jgn2kerja sama dgn Ibran, mau jadi pelakor.
Titien Prawiro
Jadi curiga sama Amanda, ada permainan apa dengan Arsal?jgn2 Arsal pacaran sama Amanda.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!